Klik Bila Perlu

Tuesday, July 01, 2014

Tetangga

Namanya Henny juga. Jangan lupa, double n pakai y. Sering aku lihat dia. Sekitar satu setengah tahun lalu. Sejak kamar di sebelahku dihuni anak baru.

Aku tahu dari ibu kos, besok penghuni baru kamar sebelahku akan pindah ke mari. Dia anak tanah. Maksudku jurusan Ilmu Tanah. Asal Sumedang. Angkatan 2002.
Hari pertama datang, dia mengetuk kamarku.

“Saya yang nempatin kamar sebelah,” tangannya terulur padaku. “Nama saya Ahmad Huda.” Dia melihat tangannya yang tidak mendapat sambutan. Aku mengatupkan kedua telapak tanganku di dada sambil tersenyum, aku berdoa semoga dia melihat aku tersenyum. Setidaknya aku berusaha. Dia menarik tangannya segera. Dia menunduk. Kakinya gemetar sedikit. Aku bisa melihatnya meski dia menutupinya dengan berpura-pura membersihkan celananya dari debu.

Seseorang mengetuk pintuku. Setelah si anak baru tadi, ini yang kedua kali dalam sehari. Padahal saat itu baru jam 8. Pintu kubuka. Dia lagi. “Boleh pinjam sapu, Teh?” Aku ambilkan saja tanpa menyahut. Jam 8 lewat 12 menit, pintuku diketuk lagi. Kalau anak baru itu lagi yang ketuk, aku berjanji nanti malam akan kuletakkan bangkai kucing di depan kamarnya.

“Teh, ini ada sedikit...” Keranjang anyaman berlapis koran meruapkan bau tahu Sumedang. Mataku tidak bisa kukendalikan. Aku melirik sedikit ke sumber sedap itu.

“Makasih.” Aku segera berbalik. Meninggalkan dia di depan pintu.

“Kalau jemuran, ada di sebelah mana ya?” Aku pikir dia hanya cari-cari topik pembicaraan denganku.

“Tuh.” Daguku mengarah ke tangga yang terletak tepat dua langkah di belakangnya.

“O. Nuhun.” Lekas kututup pintu. Selekas itu pula aku buka lagi. Aku lebih baik keluar, jalan-jalan atau apa saja. Aku bisa sinting kalo dia mengetuk lagi.
{

Iqamat dhuhur baru saja diakhiri ketika aku masuk pekarangan kosan. Anak baru itu sedang duduk di teras, memegang poster N’Sync. Antene TV, karpet, buku-buku, masih berserak di depan kamarnya. Tidak jauh beda seperti sebelum aku pergi. Aku buru-buru masuk kamar sebelum dia menyapaku atau bertanya sesuatu.     

Sial benar aku saat itu. Empat makhluk lagi, penghuni lain kosan ini, pada mudik. Aku sendirian.  

Sebenarnya hal ini tidak ingin kukatakan, tapi lebih baik kuberitahukan saja. Penyebab terbesar keenggananku bertatap muka dengannya adalah, maaf, matanya. Mungkin dia sendiri tidak ingin terlahir dengan mata seperti itu. Mata yang tidak bisa fokus ke obyek pandangan. Matanya juling, kalau kamu tidak mengerti juga. Mungkin dia sedang melihat mataku atau wajahku, tapi dia malah seperti menatap payudaraku. Itu jelas menggangguku. Masih ditambah dengan tarikan bibirnya yang mungkin dia pikir manis itu malah mirip senyum Sangkuni. Kalau itu tidak terbayangkan olehmu aku punya perbandingan lain; senyum germo, misalnya. Nah, sekarang konkret, bukan?             

Sampai setahun dia tinggal di sini, mungkin, cukup satu tangan untuk menghitung berapa kali kami bercakap. Sebagian besar dia yang mengusahakan. Caranya? Kalau teman-temanku ke kosan dan aku nggak ada, dia akan dengan girang gemilang menyampaikan pesan mereka. Tapi kalau kamu kenal dia, kamu akan tahu dia tidak akan kehabisan akal untuk dapat sekedar say hey denganku. Kalau teman-temanku tidak menitip pesan, maka dia akan berinisiatif memberitahuku. Teh, tadi ada temannya datang. Yang pakai kerudung. Dan ucapan makasih-ku sangat dia pahami kata lain dari “Mari kita sudahi pembicaraan ini. Aku tidak tertarik dengan informasimu.” Atau kalau teman-teman perempuannya datang siap-siap saja melihat dia di depan pintu; meminjam mukena. Atau kalau tukang pos datang dan aku melewatkannya, ibu kos akan menitipkan suratku pada Brutus. Karena hanya dia yang selalu ada di kosan dan kamar kami bersebelahan. Aku lupa bilang kalau aku memanggilnya Brutus. Tidak ada alasan kenapa kupilih nama itu. Begitu saja terlintas. Semata demi memudahkan aku dan teman-teman kosan lain ketika, diam-diam, membicarakan dia. Tapi di antara dua Brutus yang kutahu, baik si penikam Caesar atau pun kawan berantem Popeye, dua-duanya berperan antagonis. Boleh juga kalau disambung-sambungin ke situ.

Setelah setahun sekian bulan, virus Brutus tak jua tersembuhkan. Lebih-lebih setelah dia datang, setiap bayar uang listrik ibu selalu mengeluh soal tagihan listrik yang segembrot dirinya. Tadinya kukira ibu kos hanya memperhalus caranya menaikkan uang listrik. Tahunya bukan. Sumbu konflik ternyata dinyalakan oleh Brutus. Inti persoalan sebenarnya bukan Brutus benar, melainkan teman-temannya. Tapi Brutus tok atau Brutus & Friends, sama saja.

24 jam 7 hari, kamar Brutus tidak pernah sepi. Selalu ada saja kawan-kawannya yang bertandang. Bahkan meskipun Brutusnya sendiri nggak ada. Yang menginap, ada saja tiap malam. Hal itu tentu saja berkaitan dengan komputer, TV, atau tape yang tidak pernah mati. Atau charger hp. Belum lagi soal air. Nyambung juga dia dengan soal listrik ini.

Bukannya aku nggak tau menau soal ini. Sekali lagi kubilang, kamar kami bersebelahan. Aku dan penghuni lain kemudian memutuskan untuk bergerilya. Urusannya dengan kami tentu bukan soal listrik. Tapi keributan yang terjadi, benar-benar sudah tidak bisa ditoleransi. Suara-suara dari tujuh atau delapan mulut manusia masih ditambah dengan gonjrang-gonjreng gitar atau winamp yang kekencengan. Atau soal kamar mandi. Aku heran juga, teman-teman Brutus rajin sekali ke kamar mandi. Awalnya kami cuma bicara keras-keras, kalau kamar mandi ada kotaknya kayaknya kita udah nggak perlu bayar kosan ya. Nggak mempan! Kami memutuskan untuk melakukan kekerasan. Kami berempat akan saling menjaga di depan kamar mandi. Jangan sampai ada satu pun teman Brutus yang masuk kamar mandi duluan. Apalagi kalau kami ada kuliah pagi. Oh, no. Jangan harap. Jangan harap teman-teman Brutus dapat mengunjungi satu-satunya kamar mandi kami. Pernah juga kami menyembunyikan tempat sabun Brutus. Tapi cuma sekali kok.

Anehnya, aku hafal semua teman Brutus. Yang jangkung itu selalu datang dengan pacarnya. Rambut kriwilnya selalu ditutup topi pet yang ada tulisan Jepangnya. Kalau Yongki merah ukuran 39, itu sendal pacarnya. Ketawanya, dalam radius 100 meter, masih akan membuat telinga berdenging. Yang ditindik hidungnya itu lain lagi. Setiap datang Red Hot Chili Peppers. Kaos buntung. Ada lagi temen ceweknya yang pake kaca mata. Celananya nggak pernah ganti, hipster gombrong. Puser ke mana-mana. Kalau hari Jumat, anak-anak cowok itu pada Jumatan. Cewek-ceweknya nongkrong depan kamar sambil cekakak-cekikik baca Cosmo. Pernah aku lewat depan mereka, tiba-tiba dutt, dutt… serentak mereka ngakak. “Maaf, Teh.” Kata salah satunya yang pake kerudung ditarik kencang ke belakang. Sok fashionable. Mereka tuh lagi lomba kentut! Kalau cowoknya sudah pulang jumatan, mereka keluar makan. Damai bentar dunia. Habis itu? Hregh. Nonton Spiderman 2 aja. Tririt. Spidy banget si lo. I don’t wanna rock dj… Hregh, Tobey lucu tau. Ih, nggak ada macho-machonya. King Arthur aja… Tririt. I don’t wanna rock dj… Catch Me If U Can aja. Dekaprio, Guyzz. Basi deh lu…

Kamu pusing kan, mana suara siapa mana suara sms. Yang ngajak nonton itu cewek kecil yang pake kerudung itu. Dia yang suka mengeluarkan suara-suara dahak. Yang nolak itu pasti Brutus. Dia memang sok macho. Kalau yang ngerusak lagu Rock Dj itu kayaknya yang suka genjrang-genjreng gitaran. Kasihan Robbie Williams. Nah, si Cabe-Merah-Pedas-mania itu yang tidak pernah lepas dari hp. Tiap ke mari, pasti duduk di depan kamar. Smsan. Jebret-jebretan. Jadi dia yang layak kita tuduh suaranya hpnya bikin dunia makin bising. Dosa anak itu, di atas segalanya, adalah merk hpnya sama kayak punyaku. Ring tone yang dipilih sama pula. Kirain aku yang dapet sms, taunya hp dia yang bunyi.     

Semakin mereka menyebalkan semakin juga aku hafal mereka. Seperti lagu dangdut. Benciku tiada akhir. Tapi, tanpa dapat kukendalikan, beberapa liriknya dapat kuingat di luar kepala.

Suatu hari, aku sedang di warteg bersama dua teman. Kami hobi makan di sini bukan karena masakannya yang yahud. Tapi dengan sedikit bla bla bla bahasa Jawa, kami akan mendapat harga mahasiswa. Di sana, aku bertemu salah seorang teman Brutus. Dia sendirian. Aku sedikit tersenyum. Sekedar basa basi. Tapi melihatku fasih ber-kromo inggil, dia malah tanya macam-macam padaku. “Mbak memang asalnya dari mana?” Aku pura-pura tidak mendengar. Toh di sini banyak orang. Aku berharap dia sedang menegur orang lain. Rupanya dia sama gigihnya dengan Brutus. Dia menyentuh lenganku. Tuhan, kenapa doaku tidak kau kabulkan? keluhku dalam hati. “Dari Jawa ya, Mbak?” dia mengulangi pertanyaannya. Iya, aku menjawab dengan wajah penuh senyum. Atau karena saking berlebihannya mungkin aku tampak seperti orang yang kakinya terinjak. “Saya juga dari Jawa lho.” Dengan tekanan pada kata lho. Bangga sekali, kataku, lagi-lagi, cuma berani dalam hati. “Oh.” Itu saja yang keluar dari mulutku. Aku beruntung karena makananku telah selesai dibungkus. “Nanti ngobrol lagi aja di kosan.” Itulah kalimat yang paling kusesali sepanjang semester ini. Dua temanku cekikikan. Mereka tahu tentang Brutus dan teman-temannya.

Aku sedang membaca Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa ketika jendelaku beradu dengan suara logam. Kuintip sedikit jendela. Hekgk. Ada lemari menimpa kepalaku. Adegan ini menculik dari film Bugs Bunny. Teman Brutus berdiri depan pintuku dengan matanya yang berbinar seperti anggur tanpa hama. Aku buka pintu. Mempersilakan dia masuk. Kututupi tank top yang kupakai dengan kain pantai. “Biasa aja, Mbak. Nggak papa kok.” Dia membuatku lebih malu lagi. “Kalau di kamar saya juga pakai baju pendek.” Ini masih kalimatnya. Sebelum aku terkena radang tenggorokan karena saking malunya, lebih baik kudeskripsikan saja teman Brutus ini. Tentang matanya tadi sudah kubilang kan? Berbinar seperti anggur tanpa hama. Bukan anggur hijau tentu saja. Dia mengenakan jam di tangan kanannya. Lumayan fashionable. Kemeja polos pas badan warna genteng. Rompinya motif bunga sepatu yang mulai layu. Kerudungnya ditarik ke belakang sampai memunculkan liontin huruf H di antara kerah. Dia tidak begitu tinggi, tapi jins model basic yang dipakainya mencuatkan efek jenjang pada kakinya. Kulitnya terang. Tanpa riasan, membuat wajahnya sesegar buah pir.

“Jawanya di mana?” Aku membuyarkan kekagumannya pada interior kamarku. “Kamarnya asik ya, Mbak? Luas lagi.” Hehehe. Benar kan? Puas menelisik setiap dinding, dia mencari tempat yang nyaman buat duduk. Dia memilih menyandar ke lemari. Aku membereskan buku dan koran yang berserak.

“Saya Jawa Timur. Mbak? Hregh.

“Aku Jawa Timur juga.” Aku hampir berteriak. “Jawa Timurnya mana?”

“Gresik.”

“Aku yo Gresik juga lho.”

“Gresiknya mana?” Dia mengucapkan pertanyaan yang akan kutanyakan juga. Matanya mengerjap-ngerjap seperti sedang kelilipan.

“Pinian Kidul.” Kami menyebut daerah yang sama. Kecamatan Pinian Kidul. Aku tertawa. Sampai tidak menyadari kain pantai yang melorot gara-gara guncangan pundak dan punggungku. Dia juga tertawa. Kami tertawa. Mukanya memerah. Hampir saja kepalanya terantuk gagang pintu lemari.

Hregh. Sampeyan Pinianè endi, Mbak?” Dia lebih dulu menguasai diri. “Lek omahku kulonè prapatan. Cedakè terminal. Sebrangè pas.

“Kalo mau minum ambil sendiri ya?”

Wis gampang. Sampeyan  terminal nang ‘ndi?

Aku numpak maneh. Sukasari. “

“Aku punya teman Sukasari. Namanya, hregh, Arif. Kenal?”

“Yang anaknya kecil itu kan? Pake kaca mata. Rumahnya belakang masjid.”

“Saya nggak tahu rumahnya. Tapi bener. Arif yang itu. Dulu dia, hregh, temen SMP saya.”

“Aku sih sebenarnya nggak terlalu kenal sama Arifnya. Dia adik kelasku di Madrasah. Cuman cacakè temenku.” Kami tertawa lagi. Dunia seperti hanya sebesar balon. “Padahal tiap pulang rumahmu tak lewati ya.”

“Kalo nggak kenal sih tetangga kamar juga nggak kan tahu.” Dari bulu mata dan alisnya aku tahu, dia tidak sedang menyindirku. “Nanti kalo Lebaran dolen-dolen po’o, Mbak. Atau janjian? Telpon aja dulu.”

Wis cateten nomermu.” Kuberikan hpku padanya. Dia menyimpan nomornya untukku.

“Sekalian nomer hpku ya, Mbak?” Aku tersenyum saja. Sekian menit dia kembalikan hp padaku. Aku membaca namanya. Henny. Catat; double n pakai y. 

No comments: