Namanya Henny juga.
Jangan lupa, double n pakai y. Sering aku lihat dia. Sekitar satu setengah
tahun lalu. Sejak kamar di sebelahku dihuni anak baru.
Aku tahu
dari ibu kos, besok penghuni baru kamar sebelahku akan pindah ke mari. Dia anak tanah.
Maksudku jurusan Ilmu Tanah. Asal Sumedang. Angkatan 2002.
Hari
pertama datang, dia mengetuk kamarku.
“Saya yang nempatin
kamar sebelah,” tangannya terulur padaku. “Nama saya Ahmad Huda.” Dia melihat
tangannya yang tidak mendapat sambutan. Aku mengatupkan kedua telapak tanganku
di dada sambil tersenyum, aku berdoa semoga dia melihat aku tersenyum.
Setidaknya aku berusaha. Dia menarik tangannya segera. Dia menunduk. Kakinya
gemetar sedikit. Aku bisa melihatnya meski dia menutupinya dengan
berpura-pura membersihkan celananya dari debu.
Seseorang
mengetuk pintuku. Setelah si anak baru tadi, ini yang kedua kali dalam sehari.
Padahal saat itu baru jam 8. Pintu kubuka. Dia lagi. “Boleh pinjam sapu, Teh?” Aku ambilkan saja
tanpa menyahut. Jam 8 lewat 12 menit, pintuku diketuk lagi. Kalau anak baru itu
lagi yang ketuk, aku berjanji nanti malam akan kuletakkan bangkai kucing di
depan kamarnya.
“Teh, ini ada
sedikit...” Keranjang anyaman berlapis koran meruapkan bau tahu Sumedang.
Mataku tidak bisa kukendalikan. Aku melirik sedikit ke sumber sedap itu.
“Makasih.”
Aku segera berbalik. Meninggalkan dia di depan pintu.
“Kalau
jemuran, ada di sebelah mana ya?” Aku pikir dia hanya cari-cari topik
pembicaraan denganku.
“Tuh.”
Daguku mengarah ke tangga yang terletak tepat dua langkah di belakangnya.
“O.
Nuhun.” Lekas kututup pintu. Selekas itu pula aku buka lagi. Aku lebih baik
keluar, jalan-jalan atau apa saja. Aku bisa sinting kalo dia mengetuk lagi.
{
Iqamat
dhuhur baru saja diakhiri ketika aku masuk pekarangan kosan. Anak baru itu sedang
duduk di teras, memegang poster N’Sync. Antene TV, karpet, buku-buku, masih
berserak di depan kamarnya. Tidak jauh beda seperti sebelum aku pergi. Aku
buru-buru masuk kamar sebelum dia menyapaku atau bertanya sesuatu.
Sial benar aku saat
itu. Empat makhluk lagi, penghuni lain kosan ini, pada
mudik. Aku sendirian.
Sebenarnya
hal ini tidak ingin kukatakan, tapi lebih baik kuberitahukan saja. Penyebab
terbesar keenggananku bertatap muka dengannya adalah, maaf, matanya. Mungkin
dia sendiri tidak ingin terlahir dengan mata seperti itu. Mata yang tidak bisa
fokus ke obyek pandangan. Matanya juling, kalau kamu tidak mengerti juga.
Mungkin dia sedang melihat mataku atau wajahku, tapi dia malah seperti menatap
payudaraku. Itu jelas menggangguku. Masih ditambah dengan tarikan bibirnya yang
mungkin dia pikir manis itu malah mirip senyum Sangkuni. Kalau itu tidak
terbayangkan olehmu aku punya perbandingan lain; senyum germo, misalnya. Nah,
sekarang konkret, bukan?
Sampai setahun dia tinggal di sini, mungkin, cukup satu
tangan untuk menghitung berapa kali kami bercakap. Sebagian
besar dia yang mengusahakan. Caranya? Kalau teman-temanku ke kosan dan aku
nggak ada, dia akan dengan girang gemilang menyampaikan pesan mereka. Tapi kalau kamu kenal
dia, kamu akan tahu dia tidak akan kehabisan akal untuk dapat sekedar say hey denganku. Kalau teman-temanku
tidak menitip pesan, maka dia akan berinisiatif memberitahuku. Teh, tadi ada
temannya datang. Yang pakai kerudung. Dan ucapan makasih-ku sangat dia pahami kata lain
dari “Mari kita sudahi pembicaraan ini. Aku tidak tertarik dengan informasimu.”
Atau kalau teman-teman perempuannya datang siap-siap saja melihat dia di depan
pintu; meminjam mukena. Atau kalau tukang pos datang dan aku melewatkannya, ibu
kos akan menitipkan suratku pada Brutus. Karena hanya dia yang selalu ada di
kosan dan kamar kami bersebelahan. Aku lupa bilang kalau aku memanggilnya
Brutus. Tidak ada alasan kenapa kupilih nama itu. Begitu saja terlintas. Semata
demi memudahkan aku dan teman-teman kosan lain ketika, diam-diam, membicarakan
dia. Tapi di antara dua Brutus yang kutahu, baik si penikam Caesar atau pun
kawan berantem Popeye, dua-duanya berperan antagonis. Boleh juga kalau
disambung-sambungin ke situ.
Setelah
setahun sekian bulan, virus Brutus tak jua tersembuhkan. Lebih-lebih setelah
dia datang, setiap bayar uang listrik ibu selalu mengeluh soal tagihan listrik
yang segembrot dirinya. Tadinya kukira ibu kos hanya memperhalus caranya
menaikkan uang listrik. Tahunya bukan. Sumbu konflik ternyata dinyalakan oleh
Brutus. Inti persoalan sebenarnya bukan Brutus benar, melainkan teman-temannya.
Tapi Brutus tok atau Brutus &
Friends, sama saja.
24
jam 7 hari, kamar Brutus tidak pernah sepi. Selalu ada saja kawan-kawannya yang
bertandang. Bahkan meskipun Brutusnya sendiri nggak ada. Yang menginap, ada
saja tiap malam. Hal itu tentu saja berkaitan dengan komputer, TV, atau tape
yang tidak pernah mati. Atau charger hp. Belum lagi soal air. Nyambung juga dia
dengan soal listrik ini.
Bukannya
aku nggak tau menau soal ini. Sekali lagi kubilang, kamar kami bersebelahan.
Aku dan penghuni lain kemudian memutuskan untuk bergerilya. Urusannya dengan
kami tentu bukan soal listrik. Tapi keributan yang terjadi, benar-benar sudah tidak
bisa ditoleransi. Suara-suara dari tujuh atau delapan mulut manusia masih
ditambah dengan gonjrang-gonjreng gitar atau winamp yang kekencengan. Atau soal kamar mandi. Aku heran juga,
teman-teman Brutus rajin sekali ke kamar mandi. Awalnya kami cuma bicara
keras-keras, kalau kamar mandi ada kotaknya kayaknya kita udah nggak perlu
bayar kosan ya. Nggak mempan! Kami memutuskan untuk melakukan kekerasan. Kami
berempat akan saling menjaga di depan kamar mandi. Jangan sampai ada satu pun
teman Brutus yang masuk kamar mandi duluan. Apalagi kalau kami ada kuliah pagi.
Oh, no.
Jangan harap. Jangan harap teman-teman Brutus dapat mengunjungi satu-satunya
kamar mandi kami. Pernah juga kami menyembunyikan tempat sabun Brutus. Tapi
cuma sekali kok.
Anehnya,
aku hafal semua teman Brutus. Yang jangkung itu selalu datang dengan pacarnya.
Rambut kriwilnya selalu ditutup topi pet yang ada tulisan Jepangnya. Kalau
Yongki merah ukuran 39, itu sendal pacarnya. Ketawanya, dalam radius 100 meter,
masih akan membuat telinga berdenging. Yang ditindik hidungnya itu lain lagi.
Setiap datang Red Hot Chili Peppers. Kaos buntung. Ada lagi temen ceweknya yang
pake kaca mata. Celananya nggak pernah ganti, hipster gombrong. Puser ke
mana-mana. Kalau hari Jumat, anak-anak cowok itu pada Jumatan. Cewek-ceweknya
nongkrong depan kamar sambil cekakak-cekikik baca Cosmo. Pernah aku
lewat depan mereka, tiba-tiba dutt, dutt… serentak mereka ngakak. “Maaf, Teh.”
Kata salah satunya yang pake kerudung ditarik kencang ke belakang. Sok fashionable.
Mereka tuh lagi lomba kentut! Kalau cowoknya sudah pulang jumatan, mereka
keluar makan. Damai bentar dunia. Habis itu? Hregh. Nonton Spiderman 2
aja. Tririt. Spidy banget si lo. I don’t wanna rock dj… Hregh,
Tobey lucu tau. Ih, nggak ada macho-machonya. King Arthur aja… Tririt. I don’t
wanna rock dj… Catch Me If U Can aja. Dekaprio, Guyzz. Basi deh lu…
Kamu pusing kan, mana suara siapa mana suara sms. Yang
ngajak nonton itu cewek kecil yang pake kerudung itu. Dia yang suka mengeluarkan
suara-suara dahak. Yang nolak itu pasti Brutus. Dia memang sok macho. Kalau
yang ngerusak lagu Rock Dj itu kayaknya yang suka genjrang-genjreng gitaran.
Kasihan Robbie Williams. Nah, si Cabe-Merah-Pedas-mania itu yang tidak pernah
lepas dari hp. Tiap ke mari, pasti duduk di depan kamar. Smsan.
Jebret-jebretan. Jadi dia yang layak kita tuduh suaranya hpnya bikin dunia
makin bising. Dosa anak itu, di atas segalanya, adalah merk hpnya sama kayak
punyaku. Ring
tone yang
dipilih sama pula. Kirain aku yang dapet sms, taunya hp dia yang bunyi.
Semakin
mereka menyebalkan semakin juga aku hafal mereka. Seperti lagu dangdut. Benciku
tiada akhir. Tapi, tanpa dapat kukendalikan, beberapa liriknya dapat kuingat di
luar kepala.
Suatu hari, aku sedang di warteg bersama dua teman.
Kami hobi makan di sini bukan karena masakannya yang yahud. Tapi dengan sedikit
bla bla bla bahasa Jawa, kami akan mendapat harga mahasiswa. Di sana, aku
bertemu salah seorang teman Brutus. Dia sendirian. Aku sedikit tersenyum.
Sekedar basa basi. Tapi melihatku fasih ber-kromo
inggil, dia malah tanya macam-macam padaku. “Mbak memang asalnya dari
mana?” Aku pura-pura tidak mendengar. Toh
di sini banyak orang. Aku berharap dia sedang menegur orang lain. Rupanya dia
sama gigihnya dengan Brutus. Dia menyentuh lenganku. Tuhan, kenapa doaku tidak
kau kabulkan? keluhku dalam hati. “Dari Jawa ya, Mbak?” dia mengulangi
pertanyaannya. Iya, aku menjawab dengan wajah penuh senyum. Atau karena saking
berlebihannya mungkin aku tampak seperti orang yang kakinya terinjak. “Saya
juga dari Jawa lho.” Dengan tekanan pada kata lho. Bangga sekali, kataku,
lagi-lagi, cuma berani dalam hati. “Oh.” Itu saja yang keluar dari mulutku. Aku
beruntung karena makananku telah selesai dibungkus. “Nanti ngobrol lagi aja di
kosan.” Itulah
kalimat yang paling kusesali sepanjang semester ini. Dua temanku cekikikan.
Mereka tahu tentang Brutus dan teman-temannya.
Aku sedang membaca Istriku,
Madame Schlitz, dan Sang Raksasa ketika jendelaku beradu dengan suara
logam. Kuintip
sedikit jendela. Hekgk. Ada lemari menimpa kepalaku. Adegan ini menculik dari
film Bugs Bunny. Teman Brutus berdiri depan pintuku dengan matanya yang
berbinar seperti anggur tanpa hama. Aku buka pintu. Mempersilakan dia masuk.
Kututupi tank top yang kupakai dengan kain pantai. “Biasa aja, Mbak. Nggak papa
kok.” Dia membuatku lebih malu lagi. “Kalau di kamar saya
juga pakai baju pendek.” Ini masih kalimatnya. Sebelum aku terkena radang
tenggorokan karena saking malunya, lebih baik kudeskripsikan saja teman Brutus
ini. Tentang matanya tadi sudah kubilang kan? Berbinar seperti anggur tanpa
hama. Bukan
anggur hijau tentu saja. Dia mengenakan jam di tangan kanannya. Lumayan fashionable. Kemeja polos pas badan warna
genteng. Rompinya motif bunga sepatu yang mulai layu. Kerudungnya ditarik ke
belakang sampai memunculkan liontin huruf H di antara kerah. Dia tidak begitu
tinggi, tapi jins model basic yang dipakainya mencuatkan efek jenjang pada
kakinya. Kulitnya terang. Tanpa riasan, membuat wajahnya sesegar buah pir.
“Jawanya
di mana?” Aku membuyarkan kekagumannya pada interior kamarku. “Kamarnya asik
ya, Mbak? Luas lagi.” Hehehe. Benar kan? Puas menelisik setiap dinding, dia
mencari tempat yang nyaman buat duduk. Dia memilih menyandar ke lemari. Aku
membereskan buku dan koran yang berserak.
“Saya
Jawa Timur. Mbak? Hregh.”
“Aku
Jawa Timur juga.” Aku hampir berteriak. “Jawa Timurnya mana?”
“Gresik.”
“Aku yo Gresik
juga lho.”
“Gresiknya mana?” Dia mengucapkan pertanyaan yang akan
kutanyakan juga. Matanya mengerjap-ngerjap seperti sedang kelilipan.
“Pinian
Kidul.” Kami menyebut daerah yang sama. Kecamatan Pinian Kidul. Aku tertawa.
Sampai tidak menyadari kain pantai yang melorot gara-gara guncangan pundak dan
punggungku. Dia juga tertawa. Kami tertawa. Mukanya memerah. Hampir saja
kepalanya terantuk gagang pintu lemari.
“Hregh.
Sampeyan Pinianè endi, Mbak?” Dia lebih
dulu menguasai diri. “Lek omahku kulonè
prapatan. Cedakè terminal. Sebrangè pas.”
“Kalo mau minum ambil sendiri ya?”
“Wis gampang. Sampeyan terminal nang ‘ndi?”
“Aku numpak maneh. Sukasari. “
“Aku
punya teman Sukasari. Namanya, hregh, Arif. Kenal?”
“Yang
anaknya kecil itu kan? Pake kaca mata. Rumahnya belakang masjid.”
“Saya
nggak tahu rumahnya. Tapi bener. Arif yang itu. Dulu dia, hregh, temen
SMP saya.”
“Aku sih sebenarnya nggak terlalu kenal sama Arifnya. Dia
adik kelasku di Madrasah. Cuman cacakè temenku.”
Kami tertawa lagi. Dunia seperti hanya sebesar balon. “Padahal tiap pulang
rumahmu tak lewati ya.”
“Kalo nggak kenal sih tetangga kamar juga nggak kan
tahu.” Dari bulu mata dan alisnya aku tahu, dia tidak sedang
menyindirku. “Nanti
kalo Lebaran dolen-dolen po’o, Mbak.
Atau janjian? Telpon aja dulu.”
“Wis cateten nomermu.” Kuberikan hpku
padanya. Dia menyimpan nomornya untukku.
“Sekalian
nomer hpku ya, Mbak?” Aku tersenyum saja. Sekian menit dia kembalikan hp
padaku. Aku membaca namanya. Henny. Catat; double n pakai y.
No comments:
Post a Comment