Klik Bila Perlu

Monday, June 30, 2014

Tentang Kopi dalam Botol


Keriaan tahun baru tak berumur panjang di kota ini. Baru pukul 3 dan kembang api sudah tinggal remah-remah. Aku merapatkan jaket. Merapatkan tubuh pada pelukan. Lalu lalang orang hampir hilang. Tinggal 1-2 pasangan berkendara pulang.

Kami tidak berniat menikmati tahun baru. Kami lebih suka diam-diam di kamar hotel. Bukan, bukan hotel, hanya penginapan sederhana. Dengan membayar Rp50.000, aku mendapatkan 2 tempat tidur, kamar mandi luas, dan sebuah teras. Sarapan disediakan di pagi hari.

"Kenapa nggak menginap di rumah aja? Ibu tanya." Dia duduk di ujung kasur, memijat kakiku. Tidak ada nada menyelidik atau mendesak dalam pertanyaannya. Dia memang begitu, supersantai, terkesan tidak peduli.

"Nggak enak, ah. Lagian, kan, kemarin udah." Ini kali pertama aku datang ke kota ini. Bukan dalam rangka bekerja. Cuma pengen aja, pengen ketemu dia. Ketika aku mengabarkan rencana ini, aku tidak ingat reaksinya seperti apa. Aku cuma ingat dia menjemputku di stasiun. Tiga tahun, sepertinya lebih, kami tidak bertemu. Wajar aku berdebar. Tidak ada yang berubah tentangnya.

Di motor, dia memerangkapku dengan pernyataan, "Kata ibu, nginep aja di rumah." "Eh, sejak kapan ada ibu di antara kita?" "Kemarin aku bilang ada teman mau datang. Ibu bilang ajak ke rumah, nginep aja di rumah." Aku tidak mendebatnya. Datang saja, cium tangan, lalu pamitan, begitu rencanaku.

Ibunya menyambutku dengan senyum. Juga bapak. Bapak bilang, coba ke sini beberapa minggu lalu, pasti diajakin ke tempatnya kerja, sebuah hotel agro di Malang. Entah harus bersikap bagaimana dengan sambutan ramah ini. Aku mencoba tidak terlalu girang. Berusaha menjadi tamu yang sopan.

"Ini tanaman bapak," katanya sambil menunjuk strawberry yang mulai panen di pekarangan samping. Menjelang pensiun, bapak coba-coba berkebun di rumah. Pun aku baru tahu kemudian, kota ini cukup dingin untuk menumbuhkan segerombol strawberry. Kami berkeliling di rumahnya yang asri. Melihat tanaman ibu di dekat garasi dan berakhir di ruang makan menghadap kebun. Meski tak begitu luas, di kebun ini berserak pohon rambutan, salak, duren, mangga... Aku bahkan sempat mencicip durennya.

Aku diperkenalkan pada mbah yang mengasuhnya. Kebersamaannya dengan keluarga ini, seumur dengan kakak sulungnya. Mereka berbincang bahasa Madura. Aku di luar arena perbincangan itu. Semasa tinggal di Surabaya, aku tahu sedikit kosakata bahasa Madura. Sekarang, lupa semua. "Nanti sore kita ke sawah, ya," ajaknya sembari menyendokkan tumis pakis ke piringku. "Pakis ini kesukaan ibu," tuturnya di antara suapan, "Ibu selalu minta dibawakan kalau bapak pulang dari Malang. Di sini tidak ada." Aku merasakan dinginnya sendok di tanganku. Wangi salak yang tertimbun di tampah terbawa angin dan mengendap di antara kata-katanya siang itu.

Kejadian ini nyata. Dia yang sedang di depanku, yang berkisah tentang pupuk dan mata kuliah di kampus barunya, ini pun nyata. Bisa kurasakan kuat genggamannya ketika menolongku yang hampir terpeleset di pematang sawah. Aku baru tahu, duduk di gubuk di tengah sawah sembari mendengarkan suara air kali mengalir dan memandangi matahari tenggelam perlahan bukan sekadar adegan di cerita pendek Anita Cemerlang. Bisa kudengar nada antusias dalam suaranya ketika bercerita bagaimana bapak mempercayai dia untuk mengurus sawahnya. Aku sudah mendengar cerita ini, di antara percakapan di telepon yang terkadang sampai 7 jam. Bedanya, aku bisa melihat nada antusias itu terpancar dari matanya, dari senyumnya, dari caranya menunjuk padi-padi yang mulai menguning. Bisa kurasakan tubuhnya menularkan hangat dan napasnya di tengkukku menguarkan ha... Aku beringsut dari pelukannya.

"Aku lapar."

"Yuk keluar."

"Yuk."

Suara terompet memenuhi jalan. 3 jam kemudian, tetap tak satupun dari kami beranjak dari kasur. Kami tidur bersisian. Mata kami terpejam. Tapi tidak tidur. Tidak ada kata terlontar. Keheningan menguasai waktu. Aku ingin tahu apa yang sedang dia pikirkan. Tapi aku tidak bertanya. Aku ingin cerita, teman kami di Malang, diundang konser tahun-baruan di depan balai kota. Tapi aku tidak bersuara. Betapa anehnya jarak. Ketika ribuan kilometer terentang, mudah saja ia terlipat dalam obrolan di telepon genggam. Ketika rentang itu tak ada lagi, kami memilih diam.  

Toh kami keluar juga akhirnya. Hawa dingin terasa berkali-kali lipat di atas laju kendaraan. Tak ada rumah makan buka. Warung-warung pinggir jalan sudah kehabisan. Warung Indomie penolong kami. Indomie kuah memang sanggup menghangatkan malam yang membekukan jemari ini. Namun, apakah yang dapat menghangatkan kebekuan kami? Aku memesan segelas kopi. Dia juga.

"Kopinya abis, dik," terang mas penjual Indomie, "ini saja, mau?" Dia menunjuk kopi dalam botol beling. Kami berpandangan. Saling melempar senyum. Lalu menggeleng bersamaan. Tetap tanpa kata.

Jember, 2009

***

Hanya dengan dua perjalanan, Jember menjadi antologi cerita. Cerita di atas baru salah satunya. Perjalanan pertama ini lebih personal dibandingkan dengan perjalanan kedua. Bersama Em dan Boy, perjalanan kedua menjadi kisah ngebolang yang seru tiada tara. Jember bukan satu-satunya tujuan. Tujuan awal: Surabaya. Bergabunglah Dhinie dan Dimas, duo bersaudara yang membawa kami ke Bromo (lewat Probolinggo?). Baru setelah itu kami menuju Jember. Di Jember, kami berkenalan dengan Pakdhe yang bersahaja dan baik luar biasa. Ia membawa kami menembus jalan setapak yang bersisian dengan jurang, menuju Bande Alit di Taman Nasional Merubetiri. Aku mengunggah beberapa fotonya.  

Edisi 16 ini aku persembahkan untuk kawan-kawan yang membuat perjalanan ke sana tidak sekadar perjalanan hura-hura. Doa dan rindu yang dalam untuk Pakdhe yang telah mendahului kami.

No comments: