Klik Bila Perlu

Wednesday, July 02, 2014

Lebih Baik Putih Mata daripada Putih Tulang

            “Kasiken anakmu jang angkau terlebih saijang
dari kahormatan namaku jang tentoe bakalan ilang
dikaloe akoe masih ada di doenia.”
           
Kata-kata Raden Beij itu belum sempat tercerna oleh anak laki dan istrinya, kebahagiaan mereka atas uang f 500 itu telah menutup telinga mereka. Raden Beij kemudian memilih untuk mengakhiri hidupnya daripada menanggung malu atas pengkhianatannya terhadap kepercayaan yang diberikan padanya. Lebih baik putih mata daripada putih tulang. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup menanggung malu.

Pada tahun 1901, F. Wiggers seorang Belanda telah menulis naskah drama Lelakon Raden Beij Soerio Retno ini. Hal ini tidak saja menggugurkan Bebasari sebagai drama pertama yang ditulis di Indonesia, melainkan juga mengguguskan sebuah pertanyaan; sudah sedemikiankah sikap hidup yang dianut orang Indonesia? Wiggers sebagai orang yang bukan-Indonesia tentu tidak merasakan bagaimana orang Indonesia, macam Raden Ongko, sebagai bangsa terjajah harus membukti-kan dirinya sebanding dengan yang ‘anak-anak orang kaja dan besar pangkat, sama anak-anak regent’. Tapi justru, sebagai yang bukan-Indonesia, Wiggers memahami benar permasalahan yang sedang berkecamuk pada masa itu. 

Saya, tentu saja, tidak akan membicarakan pesan moral yang disampaikan oleh naskah ini. Tapi dari terdapat tiga tokoh pada naskah ini yang dalam masing-masing perbuatannya mempunyai hubungan kausalitas dengan berbagai hal di sekitarnya.

Raden Beij, kata cerita, adalah seorang collecteur yang dipercaya oleh pemerintah Belanda sebagai pengumpul pajak sekaligus uang tersebut menjadi tanggung jawabnya. Kejujurannya terbukti dengan Bintang Emas yang ia dapatkan. Lebih dari itu, hubungannya dengan, selain pemerintah Belanda, juga terjalin dengan tanpa keluhan dan ‘main belakang’. Setiap catatan administrasi ia ketahui dengan tanpa cela. Untuk itu sangat mungkin, ketika mengetahui persekongkolan Raden Ongko dengan istrinya, dia  memutuskan dialah yang mengambil uang itu lantas mengakhiri hidupnya dengan pistol. Apabila dia menghalang-halangi anak laki dan istrinya untuk mengambil uang itu, mereka berdua akan tetap mencari akal dan melakukan segala cara untuk mendapatkan uang itu. dan pastinya cara yang mereka gunakan bukanlah cara yang baik. Ujung-ujungnya, Raden Beij tetap akan kedodoran mempertahankan kehormatannya. 

Jadi, menurut dia, itu hanya masalah waktu. Tetap saja kehormatannyalah taruhannya. Sebegitu Raden Beij menjaga kehormatan dan kepercayaan yang dia dapatkan. Pada umumnya, zaman itu jabatan collecteur adalah sebuah jabatan yang terpandang. Bahkan tidak semua orang belanda dipercaya menduduki jabatan ini. Sebab itulah, jabatan/kehormatan/ke-percayaan ini, menurut Raden Beij, lebih berharga, bahkan jika, dibanding keluarga dan nyawanya. Raden Beij bukan tokoh sentral dalam naskah ini. Konflik yang terjadi dalam dirinya disulut oleh putra tertuanya, Raden Ongko.

Raden Ongko perannya sebanding besarnya dengan Raden Beij. Lebih besar malah. Salah gaul, itu dugaan pertama. tapi tentu saja hal tersebut tidak muncul begitu saja. Raden Ongko, si sulung ini adalah kesayangan ibunya. Apa pun permintaan Raden Ongko akan selalu dikabulkan ibunya. Terbiasa dengan dengan segala fasilitas, membuat Raden Ongko tidak dapat lagi mengontrol ‘kemauan’ dirinya. Bersenang-senang dengan perempuan, judi, dan ‘kejahatan-kejahatan’ serupa terlaksana atas dana ibunya. Raden Ongko tahu bagaimana ‘menggunakan’ kasih sayang ibunya. 

Sebenarnya kesilapan Raden Ongko tidak melulu dari dirinya. Pergaulannya dengan teman-temannya di sekolah, dapat juga menajdi salah satu penyulutnya. Seperti juga ayahnya, anak muda kelas menengah ini merasa perlu menunjukkan eksistensinya. Pakejan perlente pake toepi murid sekola doktor dengan memegang toengkatket ketjil serta pake katja mata jang djepit idoeng. Sayang memang, cara yang dipilihnya adalah pusaran yang menyeretnya dalam pergaulan miring. Akibatnya? Jelas. Dia berhutang f 500, kalau tidak segera membayar dia akan di keluarkan dari sekolah. Itu pun setelah dia menjual nama ayahnya di sana-sini.

Konflik yang timbul tidak hanya berkelindan Raden Beij dan Raden Ongko sebagai orang pribumi yang harus mempertahankan harga diri dan image yang ingin mereka bentuk. Priyayi, sebagai kelas menengah, ibarat manusia dua kaki yang berdiri di dua dunia (pula). Sebelah kakinya, sebagian dirinya hidup sebagai bangsa Indonesia dengan kejelataannya. Sebagian kakinya lagi, berpijak pada keberadaan dirinya yang seakan-akan setara dengan kaum belanda sehingga harus menyamakan gaya hidup dengan mereka.

Kalau benar, Wiggers jitu mengisahkan kehidupan priyayi masa itu. mengapa bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Rendah?

No comments: