“Kasiken
anakmu jang angkau terlebih saijang
dari kahormatan namaku jang
tentoe bakalan ilang
dikaloe akoe masih ada di
doenia.”
Kata-kata Raden Beij itu belum sempat
tercerna oleh anak laki dan istrinya, kebahagiaan mereka atas uang f 500 itu
telah menutup telinga mereka. Raden Beij kemudian memilih untuk mengakhiri
hidupnya daripada menanggung malu atas pengkhianatannya terhadap kepercayaan
yang diberikan padanya. Lebih baik putih mata daripada putih tulang. Lebih baik
mati berkalang tanah daripada hidup menanggung malu.
Pada tahun 1901, F. Wiggers
seorang Belanda telah menulis naskah drama Lelakon Raden Beij Soerio Retno ini.
Hal ini tidak saja menggugurkan Bebasari sebagai drama pertama yang
ditulis di Indonesia, melainkan juga mengguguskan sebuah pertanyaan; sudah
sedemikiankah sikap hidup yang dianut orang Indonesia? Wiggers sebagai orang
yang bukan-Indonesia tentu tidak merasakan bagaimana orang Indonesia, macam
Raden Ongko, sebagai bangsa terjajah harus membukti-kan dirinya sebanding
dengan yang ‘anak-anak orang kaja dan besar pangkat, sama anak-anak regent’.
Tapi justru, sebagai yang bukan-Indonesia, Wiggers memahami benar permasalahan
yang sedang berkecamuk pada masa itu.
Saya, tentu saja, tidak akan
membicarakan pesan moral yang disampaikan oleh naskah ini. Tapi dari terdapat
tiga tokoh pada naskah ini yang dalam masing-masing perbuatannya mempunyai
hubungan kausalitas dengan berbagai hal di sekitarnya.
Raden Beij, kata cerita, adalah seorang collecteur yang dipercaya
oleh pemerintah Belanda sebagai pengumpul pajak sekaligus uang tersebut menjadi
tanggung jawabnya. Kejujurannya terbukti dengan Bintang Emas yang ia dapatkan.
Lebih dari itu, hubungannya dengan, selain pemerintah Belanda, juga terjalin
dengan tanpa keluhan dan ‘main belakang’. Setiap catatan administrasi ia
ketahui dengan tanpa cela. Untuk itu sangat mungkin, ketika mengetahui
persekongkolan Raden Ongko dengan istrinya, dia
memutuskan dialah yang mengambil uang itu lantas mengakhiri hidupnya
dengan pistol. Apabila dia menghalang-halangi anak laki dan istrinya untuk
mengambil uang itu, mereka berdua akan tetap mencari akal dan melakukan segala
cara untuk mendapatkan uang itu. dan pastinya cara yang mereka gunakan bukanlah
cara yang baik. Ujung-ujungnya, Raden Beij tetap akan kedodoran mempertahankan
kehormatannya.
Jadi, menurut dia, itu hanya masalah waktu. Tetap saja
kehormatannyalah taruhannya. Sebegitu Raden Beij menjaga kehormatan dan
kepercayaan yang dia dapatkan. Pada umumnya, zaman itu jabatan collecteur adalah
sebuah jabatan yang terpandang. Bahkan tidak semua orang belanda dipercaya
menduduki jabatan ini. Sebab itulah, jabatan/kehormatan/ke-percayaan ini,
menurut Raden Beij, lebih berharga, bahkan jika, dibanding keluarga dan
nyawanya. Raden Beij bukan tokoh sentral dalam naskah ini. Konflik yang terjadi
dalam dirinya disulut oleh putra tertuanya, Raden Ongko.
Raden Ongko perannya sebanding besarnya dengan Raden Beij. Lebih besar
malah. Salah gaul, itu dugaan pertama. tapi tentu saja hal tersebut tidak
muncul begitu saja. Raden Ongko, si sulung ini adalah kesayangan ibunya. Apa
pun permintaan Raden Ongko akan selalu dikabulkan ibunya. Terbiasa dengan dengan
segala fasilitas, membuat Raden Ongko tidak dapat lagi mengontrol ‘kemauan’
dirinya. Bersenang-senang dengan perempuan, judi, dan ‘kejahatan-kejahatan’
serupa terlaksana atas dana ibunya. Raden Ongko tahu bagaimana ‘menggunakan’
kasih sayang ibunya.
Sebenarnya kesilapan Raden Ongko tidak melulu dari
dirinya. Pergaulannya dengan teman-temannya di sekolah, dapat juga menajdi
salah satu penyulutnya. Seperti juga ayahnya, anak muda kelas menengah ini
merasa perlu menunjukkan eksistensinya. Pakejan perlente pake toepi murid
sekola doktor dengan memegang toengkatket ketjil serta pake katja mata jang
djepit idoeng. Sayang memang, cara yang dipilihnya adalah pusaran yang
menyeretnya dalam pergaulan miring. Akibatnya? Jelas. Dia berhutang f 500,
kalau tidak segera membayar dia akan di keluarkan dari sekolah. Itu pun setelah
dia menjual nama ayahnya di sana-sini.
Konflik yang timbul tidak hanya berkelindan Raden Beij dan Raden Ongko
sebagai orang pribumi yang harus mempertahankan harga diri dan image yang ingin
mereka bentuk. Priyayi, sebagai kelas menengah, ibarat manusia dua kaki yang
berdiri di dua dunia (pula). Sebelah kakinya, sebagian dirinya hidup sebagai
bangsa Indonesia dengan kejelataannya. Sebagian kakinya lagi, berpijak pada
keberadaan dirinya yang seakan-akan setara dengan kaum belanda sehingga harus
menyamakan gaya hidup dengan mereka.
Kalau benar, Wiggers jitu mengisahkan kehidupan priyayi masa itu. mengapa
bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Rendah?
No comments:
Post a Comment