Klik Bila Perlu

Thursday, July 17, 2014

Simile pada Cerpen “Teriakan di Pagi Buta”

Teriakan di Pagi Buta adalah salah satu cerita pendek yang terdapat pada kumpulan cerita pendek Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Dunia Sukab. Dalam cerpen ini dikisahkan seorang pemuda kampung bernama Mintuk kepincut pada keberhasilan Ngatiyo yang berjudi atas nasibnya di Jakarta. Ngatiyo yang berjaket tebal, rambut pendek klimis, sepatu kulit berujung lancip, tape recorder yang ditenteng ke mana-mana, dan kacamata hitam berkilat sampai-sampai bisa dipakai untuk becermin adalah cita-cita Mintuk.
Seperti apa Jakarta? Sang tokoh utama belum tahu pasti. Meskipun sering mendengar nama kota itu pada radio atau televisi pak lurah.
Perjalanan Mintuk ke Jakarta dimulai pada hari lebaran kedua.
Dalam bis itulah, dan dalam seribu bis yang lain, berjejal-jejal, berbondong-bondong,
berduyun-duyun bagai semut menuju madu ke arah Jakarta. (hal. 75)
Mintuk tidak sendiri. Ada banyak Mintuk yang mempunyai pendapat seragam; Jakarta memang surga.
Dini hari, bis yang dinaiki Mintuk sampai di terminal.
Seperti ayam masuk perangkap ular, bis itu berguncang memasuki stanplat. (hal. 79)
Pulo gadung memang seperti kalajengking raksasa kalau pagi masih gelap. (hal. 77)
Jakarta di depan mata Mintuk ternyata agak meleset dengan Jakarta yang ada dalam peta pikirannya. Bintang-bintang di langit sana masih sama saja dengan yang bertaburan di desanya. Bagaimanapun, Jakarta dipijaknya kini. Selanjutnya Mintuk tidak tahu hendak ke mana arah perjalanannya. Kemudian ia bertanya pada orang-orang yang ternyata adalah komplotan pencoleng terminal.
…agaknya komplotan ini seperti kawanan anjing kurus yang malihat cap cay di tengah 
padang pasir, menjilat piringnya sampai tandas tanpa sisa seperti baru dicuci kembali. (hal. 
81)
Mintuk yang lugu dan naif tidak menyadari dirinya menjadi sarapan buat penjahat-penjahat itu. Mendapati Mintuk seorang yang miskin, mereka kesal. Mintuk dikerjai habis-habisan hingga hanya tersisa celana dalam berwarna hijau muda bermerk Crocodile. Setelah puas menelanjangi Mintuk,
“…Ayo cepat! Lari! Haiya! Haiyaaaah!” Pamuji berteriak-teriak seperti menggebah angsa tolol. (hal. 83)
Mintuk yang senewen melesat dan mendarat di Tugu Selamat Datang. Lalu terdengar suara teriakan Tarzan yang membahana.
“HOOOOOOooooiiiiiiiiii yyaaaaaAAAAA iiiiiiiiiiyyyyy YYYYOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!!”
***
Gorys Keraf dalam Diksi dan Gaya Bahasa menjelaskan bahwa dari sekian banyak gaya bahasa, salah satu di antaranya adalah simile, yaitu membandingkan satu hal dengan sesuatu yang lain. Simile bersifat eksplisit. Untuk itu memerlukan kata bantu yang menunjukkan kesamaan itu, misalnya seperti, bagaikan, laksana, dan sebagainya.
Dalam cerpen Teriakan di Pagi Buta, Seno banyak menggunakan gaya bahasa tersebut. Beberapa di antaranya membandingkan konteks cerita dengan binatang.
Dalam bis itulah, dan dalam seribu bis yang lain, berjejal-jejal, berbondong-bondong, 
berduyun-duyun bagai semut menuju madu ke arah Jakarta. (hal. 75) 
Semut adalah jenis binatang yang suka bergerombol, melakukan satu hal beramai-ramai. Rupanya isu surga pindah ke Jakarta menarik perhatian penduduk kampung yang bosan dengan keadaan desanya macam Mintuk. Tak ubahnya semut, penduduk kampung itu berbaris pergi ke Jakarta yang dipikirnya semanis madu.
Pulo gadung memang seperti kalajengking raksasa kalau pagi masih gelap. (hal. 77)
Sebagai binatang berbisa, kalajengking memang tepat dipilih menjadi pembanding terminal, apalagi terminal Pulo Gadung, apalagi kalau pagi masih gelap. Siapa pun yang apes, ia akan menambah hitungan korban sengatan di tempat pencopet, tukang todong, preman, calo, dan sejenisnya itu bersarang.
Seperti ayam masuk perangkap ular, bis itu berguncang memasuki stanplat. (hal. 79)
Bis itu berisi orang-orang kampung yang lugu seperti anak ayam namun tetap gigih dan berharapan besar akan nasib yang lebih baik atau setidaknya bertahan hidup. Dan ayam selalu merupakan makanan yang lezat bagi sang ular yang akan mematuk atau melilitnya sampai remuk tulang-tulang. Stanplat sebagai gerbang terminal adalah gerbang juga bagi si ayam kampung untuk memulai mewaspadakan setiap langkah dan barang miliknya. Karena kalau tidak, tahu-tahu ia akan berada di perut ular.
…agaknya komplotan ini seperti kawanan anjing kurus yang melihat cap cay di tengah padang pasir, menjilat piringnya sampai tandas tanpa sisa seperti baru dicuci kembali. (hal. 81)
Ngadul, Pamuji, dan Warno adalah komplotan yang dimaksud seperti kawanan anjing kurus di atas. Melihat Mintuk yang baru melek akan kota Jakarta sebenarnya adalah hal yang biasa, karena mereka bertiga tinggal di terminal dan setiap hari menyaksikan ribuan bahkan lebih orang-orang udik yang berdatangan ke Jakarta. Akan tetapi, Mintuk yang menjadi mangsanya kali ini adalah gembel melarat yang untuk pergi ke Jakarta saja harus patungan dengan seluruh penduduk desa. Kecewa dengan hasil yang didapatnya, mereka sepakat mengerjai Mintuk.
Pamuji berteriak-teriak seperti menggebah angsa tolol. (hal. 83)
Tak ada ampun buat gembel Mintuk. Setelah dihabisi hartanya dan ditelanjangi, Mintuk malang disuruh pergi seperti angsa, binatang yang pada kalimat sebelumnya diceritakan bagaimana Mintuk diakhiri dengan suara teriakan tarzan yang membahana.

“HOOOOOOooooiiiiiiiiii yyaaaaaAAAAA iiiiiiiiiiyyyyy YYYYOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!!” 

No comments: