Teriakan di Pagi Buta adalah salah satu cerita pendek
yang terdapat pada kumpulan cerita pendek Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Dunia
Sukab. Dalam cerpen ini dikisahkan seorang pemuda kampung bernama Mintuk kepincut
pada keberhasilan Ngatiyo yang berjudi atas nasibnya di Jakarta. Ngatiyo
yang berjaket tebal, rambut pendek klimis, sepatu kulit berujung lancip, tape
recorder yang ditenteng ke mana-mana, dan kacamata hitam berkilat
sampai-sampai bisa dipakai untuk becermin adalah cita-cita Mintuk.
Seperti apa Jakarta? Sang tokoh
utama belum tahu pasti. Meskipun sering mendengar nama kota itu pada radio atau
televisi pak lurah.
Perjalanan Mintuk ke Jakarta
dimulai pada hari lebaran kedua.
Dalam bis itulah, dan dalam seribu bis yang lain, berjejal-jejal, berbondong-bondong,
Dalam bis itulah, dan dalam seribu bis yang lain, berjejal-jejal, berbondong-bondong,
berduyun-duyun bagai
semut menuju madu ke arah Jakarta. (hal. 75)
Mintuk tidak sendiri. Ada banyak Mintuk yang mempunyai
pendapat seragam; Jakarta memang surga.
Dini hari, bis yang dinaiki Mintuk sampai di terminal.
Seperti ayam masuk perangkap ular, bis itu berguncang
memasuki stanplat. (hal. 79)
Pulo gadung memang seperti kalajengking raksasa kalau pagi masih gelap. (hal.
77)
Jakarta
di depan mata Mintuk ternyata agak meleset dengan Jakarta yang ada dalam peta
pikirannya. Bintang-bintang di langit sana masih sama saja dengan yang
bertaburan di desanya. Bagaimanapun, Jakarta dipijaknya kini. Selanjutnya
Mintuk tidak tahu hendak ke mana arah perjalanannya. Kemudian ia bertanya pada
orang-orang yang ternyata adalah komplotan pencoleng terminal.
…agaknya komplotan ini seperti kawanan anjing kurus yang malihat cap cay di tengah
padang pasir, menjilat piringnya sampai tandas tanpa sisa seperti baru dicuci kembali. (hal.
81)
…agaknya komplotan ini seperti kawanan anjing kurus yang malihat cap cay di tengah
padang pasir, menjilat piringnya sampai tandas tanpa sisa seperti baru dicuci kembali. (hal.
81)
Mintuk yang lugu dan naif tidak menyadari dirinya menjadi
sarapan buat penjahat-penjahat itu. Mendapati Mintuk seorang yang miskin,
mereka kesal. Mintuk dikerjai habis-habisan hingga hanya tersisa celana dalam
berwarna hijau muda bermerk Crocodile. Setelah puas menelanjangi Mintuk,
“…Ayo cepat! Lari! Haiya!
Haiyaaaah!” Pamuji berteriak-teriak seperti menggebah angsa tolol. (hal. 83)
Mintuk
yang senewen melesat dan mendarat di Tugu Selamat Datang. Lalu terdengar suara
teriakan Tarzan yang membahana.
“HOOOOOOooooiiiiiiiiii yyaaaaaAAAAA iiiiiiiiiiyyyyy
YYYYOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!!”
***
Gorys Keraf dalam Diksi dan
Gaya Bahasa menjelaskan bahwa dari sekian banyak gaya bahasa, salah satu di
antaranya adalah simile, yaitu membandingkan satu hal dengan sesuatu
yang lain. Simile bersifat eksplisit. Untuk itu memerlukan kata bantu yang
menunjukkan kesamaan itu, misalnya seperti, bagaikan, laksana, dan sebagainya.
Dalam cerpen Teriakan di
Pagi Buta, Seno banyak menggunakan gaya bahasa tersebut. Beberapa
di antaranya membandingkan konteks cerita dengan binatang.
Dalam bis itulah, dan dalam seribu bis yang lain, berjejal-jejal, berbondong-bondong,
berduyun-duyun bagai semut menuju madu ke arah Jakarta. (hal. 75)
Dalam bis itulah, dan dalam seribu bis yang lain, berjejal-jejal, berbondong-bondong,
berduyun-duyun bagai semut menuju madu ke arah Jakarta. (hal. 75)
Semut adalah jenis binatang yang suka bergerombol,
melakukan satu hal beramai-ramai. Rupanya isu surga pindah ke Jakarta menarik
perhatian penduduk kampung yang bosan dengan keadaan desanya macam Mintuk. Tak
ubahnya semut, penduduk kampung itu berbaris pergi ke Jakarta yang dipikirnya
semanis madu.
Pulo gadung memang seperti kalajengking raksasa kalau pagi masih gelap. (hal.
77)
Sebagai binatang berbisa,
kalajengking memang tepat dipilih menjadi pembanding terminal, apalagi terminal
Pulo Gadung, apalagi kalau pagi masih gelap. Siapa pun yang apes, ia akan
menambah hitungan korban sengatan di tempat pencopet, tukang todong, preman,
calo, dan sejenisnya itu bersarang.
Seperti ayam
masuk perangkap ular,
bis itu berguncang memasuki stanplat. (hal. 79)
Bis itu berisi orang-orang
kampung yang lugu seperti anak ayam namun tetap gigih dan berharapan besar akan
nasib yang lebih baik atau setidaknya bertahan hidup. Dan ayam selalu merupakan
makanan yang lezat bagi sang ular yang akan mematuk atau melilitnya sampai
remuk tulang-tulang. Stanplat sebagai gerbang terminal adalah gerbang juga bagi
si ayam kampung untuk memulai mewaspadakan setiap langkah dan barang miliknya.
Karena kalau tidak, tahu-tahu ia akan berada di perut ular.
…agaknya
komplotan ini seperti
kawanan anjing kurus yang melihat cap cay di
tengah padang pasir, menjilat piringnya sampai tandas tanpa sisa seperti baru
dicuci kembali. (hal. 81)
Ngadul, Pamuji, dan Warno adalah
komplotan yang dimaksud seperti kawanan anjing kurus di atas. Melihat Mintuk
yang baru melek akan kota Jakarta sebenarnya adalah hal yang biasa, karena
mereka bertiga tinggal di terminal dan setiap hari menyaksikan ribuan bahkan
lebih orang-orang udik yang berdatangan ke Jakarta. Akan tetapi, Mintuk yang
menjadi mangsanya kali ini adalah gembel melarat yang untuk pergi ke Jakarta
saja harus patungan dengan seluruh penduduk desa. Kecewa dengan hasil yang
didapatnya, mereka sepakat mengerjai Mintuk.
Pamuji berteriak-teriak seperti menggebah angsa
tolol. (hal. 83)
Tak ada ampun buat gembel Mintuk.
Setelah dihabisi hartanya dan ditelanjangi, Mintuk malang disuruh pergi seperti
angsa, binatang yang pada kalimat sebelumnya diceritakan bagaimana Mintuk diakhiri
dengan suara teriakan tarzan yang membahana.
“HOOOOOOooooiiiiiiiiii
yyaaaaaAAAAA iiiiiiiiiiyyyyy YYYYOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!!”
No comments:
Post a Comment