Klik Bila Perlu

Wednesday, July 16, 2014

Bulan dalam Selokan

Lampu kamar sudah dimatikan sejam lalu. Sedang Lindu, tetap membuka matanya dalam gelap.  

“Itu bulan yang sama. Aku yakin, itu bulan yang sama. Bulan yang waktu itu, kau masih ingat?” dia menoleh ke lelaki di sampingnya. Pertanyaannya disambut dengkuran halus. “Ketika itu kita mau ke rumah bude. Malam kedua lebaran. Bapak ibu jalan di depan. Kita di belakang mereka. Tiba-tiba tanganku kau seret ke pinggir selokan. Dik, dik, lihat,“ Lindu membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Dia menghampiri teko di atas meja. Mengisi gelas sampai setengah. Sisa dingin kulkas membuat gelas itu berembun.

Lampu teras yang masuk lewat jendela sekilas mengenai tubuhnya yang telanjang.

“Ada bulan di situ. Dia mengambang di selokan,” Lindu berjalan bolak balik antara meja dan kursi samping ranjang. “Kadang dia tampak tenggelam. Bulatnya koyak sebab riak selokan.” Lindu bertelekan di tepi meja. Gelas di tangannya dia goyang-goyang, membayangkan bulan yang sedang dia bicarakan itu ada di situ. “Untung saja air di selokan itu tidak keruh. Kita bisa lihat dia menggerak-gerakkan bulan, seperti ini,” sekali lagi Lindu mengoyang-goyangkan gelasnya. Menentangkan gelas itu dengan cahaya dari jendela. “Saking asiknya, kita tidak sadar bapak ibu telah jauh meninggalkan kita.” Lindu tertawa.

Dia kembali berjalan ke kursi. Kursi sebelah ranjang, tepat di sisi lelaki itu tidur. “Kamu tahu nggak apa yang dikatakan Yu Masri?” dia berkata setengah berbisik di telinga lelaki yang sedang terlelap membelakanginya. “Ya, kita ketemu mereka, Yu Masri dan suaminya, waktu itu suaminya masih Lek Kas, di rumah bude. Wah, Tun ini beruntung sekali. Anaknya dua, lanang-wedhok. Sing wedhok uayu, sing lanang ngguanteng. Irunge mbangir koyo Arab. Kelas berapa Lindu? Kalau Masnya kelas berapa? Kamu tidak tahu. Kamu sedang di depan. Di ruang tv, bareng bapak, pakde, dan teman-teman pakde. Kamu sih enak. Aku benci harus selalu bareng ibu. Duduk di tempat ibu-ibu itu. Ketemu Yu Masri, temen-temen ibu, temen bude. Mereka suka megang memekku. Megang susuku. Katanya, ini anak perawan susunè ngendhi. Bla bla bla.” Lindu terdiam. Hanya memandangi embun di gelas. Suara jarum jam menggantikan suara Lindu. Trek. Trek. Trek. Jarum panjang di angka tujuh. Trek. Trek. Trek. Jarum panjang di angka satu.

“Kamu tahu sekarang. Kenapa aku lebih suka ke rumah bude kalau sama bapak saja. Apa aku sudah bilang? O ya, aku sudah katakan alasanku tadi. Kenapa kita tidak bareng ibu?” Lindu berpaling ke lelaki itu. Lelaki itu tidak menanggapi Lindu. Hanya dengkur halus yang lagi-lagi menyahut pertanyaannya. “Ya kenapa ibu waktu tidak bersama kita ke rumah bude? Yang kuingat, sepulang taraweh aku lihat ibu banting...” Lindu melempar gelas di tangannya. Gelas itu membentur foto Lindu yang sedang memegang piala. Foto itu telah 16 tahun menyimpan kenangan untuknya. Piala dalam foto itu didapat Lindu setelah pengumuman nilai ujiannya tertinggi tingkat sekolah dasar di kecamatan. Dialah pemenang itu. Rambut sepanjang sekarang. Sepinggang, dan dalam foto itu rambutnya digerai ke depan. Menutupi tangan bapak yang sedang merangkulnya. Ada mas Maru dan ibu yang sedang membawa piagam perhargaan punya mas Maru di belakang Lindu. Nilai mas Maru tertinggi ketiga di sekolahnya. Mangkanya dia cuma mendapat piagam. Tapi mas Maru bisa masuk ke SMU Negeri tanpa tes. Foto itu jatuh bersama pecahan gelas.  

Lelaki itu menggeliat. Selimutnya yang tersibak menampakkan hampir separuh tubuhnya yang telanjang. Lindu menempelkan bibirnya di antara bibir yang setengah terbuka milik lelaki itu sebelum membenahi selimutnya. “Aku ingat sekarang. Ibu menendang kursi di depannya. Tapi kursi itu tidak bergerak. Lalu ibu berteriak sambil melempar gelas ke bapak. Bapak cuma berkelit. Dia tidak membalas teriakan ibu, seperti kemarin. Waktu dibangunin sahur, aku tahu ibu tidak makan bersama kita. Lebaran ibu juga tidak makan ketupat di rumah. Ibu makan ketupatnya di rumah mbah kakung, karena ibu kemudian tinggal di sana. Waktu ke rumah bude, ibu juga tidak ikut. Baru sepulang kita dan bapak dari rumah mbah kakung, kita menghabiskan ketupat itu bersama ibu di rumah.”

“Tahu nggak, Mas? Sehabis mendengar kata Yu Masri di rumah bude, waktu pulangnya aku berpikir benar juga yang dikatakan Yu Masri itu. Orang tua kita memang beruntung sekali,” Lindu berhenti untuk tertawa. Hanya sebentar. “Tapi kita? Sepulang dari rumah bude, kau tidak melepaskan tanganmu dari pundakku. Waktu itu aku berpikir kalau saja aku bisa jadi pacarmu. Setidaknya nanti kalau aku punya pacar, aku mau yang seganteng dan sebaik kamu.”

“Aku masih ingat waktu itu, bapak mendorong meja ke arah ibu. Aku takut sekali. Waktu ibu bilang setan, bapak menamparnya. Aku menggigil. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi kemudian. Tiba-tiba aku telah merasa sangat capek karena berlari. Aku lari. Lari terus ke rumah bude. Malamnya, bersama hujan dan angin yang mengamuk sampai-sampai seakan bisa merobohkan pohon jambu kita, kau datang menjemputku. Bude nanya padamu, wong payungan kok teles meges, Le?[1] Kau tidak menjawab. Di balik bibirmu yang merapat, gemeletuk gigimu terdengar seperti suara gundu beradu. Lalu kita pulang, setelah hujan reda.
Seminggu setelah kejadian itu aku baru tahu. Bapak yang menceritakannya, mas, kurasa aku setengah tertidur saat itu. Bapak bilang, kau yang menjemputku, karena bapak harus berangkat kerja dan ibu entah ke mana. Bapak minta maaf padaku. Dia bilang betapa kau berjuang mempertahankan payung yang kau bawa. Dan tubuh kecilmu itu ternyata tidak mampu menahan gigil, sekaligus memegangi payung. Sempat payungmu diterbangkan angin dan kau harus mengejarnya sampai selokan. Ya, payung itu terjerembab di sana. Pasti bulan tidak ada waktu itu. Hujan pasti melumatnya bersama petir-petir. Tentu tidak selancar ini bapak cerita. Dia banyak berhenti di tengah kalimatnya. Berkali minta maaf. Aku seperti melihat bapak menitikkan air mata. Tapi entahlah. Mungkin itu cuma hayalanku saja. Lagipula aku sudah sangat mengantuk, bahkan setengah tertidur waktu itu.” Lindu sendiri seperti tidak dapat mendengar beberapa kalimat terakhirnya. Suara mobil yang melintas depan kamar meningkahi suaranya yang makin pelan. Lama-lama hanya gumaman yang keluar dari mulutnya.

“Cuma kau yang baik padaku. Setiap aku ke rumahnya, bude selalu manyuruhku pulang. Nanti dicari ibu, begitu selalu bilangnya. Padahal aku justru tidak ingin ketemu ibu. Dia suka banting apa saja di rumah. Jam, sapu, mug hadiah ulang tahun darimu juga. Mug itu dia pakai lempar kaca bufet. Cobek. Apa saja? Apa yang nggak? Mas?” dia menoleh ke lelaki itu. Dengkurannya masih tetap. Dadanya teratur naik turun. Lindu menyusup kakinya ke bawah selimut. Lelaki itu bergerak sedikit, seperti terkejut. Kemudian dia mengubah posisinya. Berhadapan dengan Lindu kini.  Lindu merasa hangat menjalari telapak kakinya.

“Kamu tahu nggak, mas? Bapak sering datang ke kamarku sepulang kerja. Ya, tentu saja. Tentu saja aku saja sudah tidur. Aku tahu karena bapak sering menaikkan guling ke ranjang. Padahal aku sengaja meletakkannya di lantai. Kamu tahu, aku takut memakainya. Ibu pernah melemparkan guling itu dulu. Kalau bapak ke kamar, kadang aku terbangun. Aku pura-pura tidur dengan memejamkan mata. Bapak memegang tanganku. Bilang maaf berkali-kali. Di sudut matanya setitik air mat..” akhir kata itu tercekat di tenggorokannya. Lindu menengadahkan kepalanya ke langit-langit. Empat anak sepantaran sedang merubung dirinya. Mereka bilang bapak suka gendakan. Mereka mengatakan itu berkali, sambil mencubiti tubuhnya. Lindu tidak membalasnya. Hanya air mata di sudut matanya. Menggantung seperti embun di ujun daun.   

“Apa benar bapak punya pacar?” Lindu berkata sambil menyembunyikan wajah di balik lengannya. Suara yang keluar menjadi seperti erangan kucing yang kedinginan.
“Kamu pasti juga tidak tahu. Kalau kamu tahu, pasti sudah bilang padaku. Yang jelas kutahu bapak jadi pemarah juga. Jadi suka melempar, menampar. Kalau mereka sudah saling melempar, biasanya kita buru-buru manjat pohon jambu. Kalau tidak, kita bersembunyi di bawah selimut. Bapak pasti tahu kita menangis. Aku merasa punggungku diawasi. Bapak, mungkin juga ibu, melihat kita sesenggukkan. Meskipun kita telah membenamkan kepala kita ke bantal, selimut itu pasti mengkhianati kita. Karena dada kita yang bergerak-gerak masih terlihat oleh mereka. Kamu..” sesak di dada Lindu menghentikan kalimatnya. Air mata yang mengalir itulah yang agak melegakannya, “tahu, Mas?” Kepala Lindu terkulai ke sisi kursi. Rambutnya mengenai wajah lelaki itu. Lelaki itu menyingkirkan rambut Lindu dari wajahnya.

“Ada apa, dik? Kenapa belum tidur? Sini.” Jemari lelaki itu menelusup ke rambut Lindu sebelum mencari-cari tangannya. Lindu menurunkan kakinya. Bangkit dari kursi. Berjalan mengitari ranjang. Beberapa pecahan gelas terinjak kakinya. Dia seperti tidak merasakan sakit. Darah menjadi jejaknya sebelum mencapai ranjang. Lelaki itu menunggu dengan selimut terbuka. Lindu lalu menenggelamkan kepalanya di bawah selimut.

Tidak ada lagi mobil melintas di depan kamar mereka. Tinggal suara jam yang menggantikan suara Lindu. Trek. Trek. Jarum panjang di sepuluh. Trek. Trek. “Mas,” kepala Lindu tersembul dari balik selimut. “Mas Maru masih ingat nggak bulan itu?”

“Ehm,” lelaki itu telah kembali membelakangi Lindu. Pertanyaan Lindu hanya disambutnya dengan gumaman.          



[1] Pakai payung, kok basah kuyup?

No comments: