Lampu kamar
sudah dimatikan sejam lalu. Sedang Lindu, tetap membuka matanya dalam
gelap.
“Itu bulan yang sama.
Aku yakin, itu bulan yang sama. Bulan yang waktu itu, kau masih ingat?” dia
menoleh ke lelaki di sampingnya. Pertanyaannya disambut dengkuran halus.
“Ketika itu kita mau ke rumah bude. Malam kedua lebaran. Bapak ibu jalan di
depan. Kita di belakang mereka. Tiba-tiba tanganku kau seret ke pinggir
selokan. Dik, dik, lihat,“ Lindu membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Dia
menghampiri teko di atas meja. Mengisi gelas sampai setengah. Sisa dingin
kulkas membuat gelas itu berembun.
Lampu teras yang masuk
lewat jendela sekilas mengenai tubuhnya yang telanjang.
“Ada bulan di situ. Dia
mengambang di selokan,” Lindu berjalan bolak balik antara meja dan kursi
samping ranjang. “Kadang dia tampak tenggelam. Bulatnya koyak sebab riak
selokan.” Lindu bertelekan di tepi meja. Gelas di tangannya dia goyang-goyang,
membayangkan bulan yang sedang dia bicarakan itu ada di situ. “Untung saja air
di selokan itu tidak keruh. Kita bisa lihat dia menggerak-gerakkan bulan,
seperti ini,” sekali lagi Lindu mengoyang-goyangkan gelasnya. Menentangkan
gelas itu dengan cahaya dari jendela. “Saking asiknya, kita tidak sadar bapak
ibu telah jauh meninggalkan kita.” Lindu tertawa.
Dia kembali berjalan ke
kursi. Kursi sebelah ranjang, tepat di sisi lelaki itu tidur. “Kamu tahu nggak
apa yang dikatakan Yu Masri?” dia berkata setengah berbisik di telinga lelaki
yang sedang terlelap membelakanginya. “Ya, kita ketemu mereka, Yu Masri dan
suaminya, waktu itu suaminya masih Lek Kas, di rumah bude. Wah, Tun ini
beruntung sekali. Anaknya dua, lanang-wedhok.
Sing wedhok uayu, sing lanang ngguanteng. Irunge
mbangir koyo Arab. Kelas berapa Lindu? Kalau Masnya kelas berapa? Kamu
tidak tahu. Kamu sedang di depan. Di ruang tv, bareng bapak, pakde, dan
teman-teman pakde. Kamu sih enak. Aku benci harus selalu bareng ibu. Duduk di
tempat ibu-ibu itu. Ketemu Yu Masri, temen-temen ibu, temen bude. Mereka suka
megang memekku. Megang susuku. Katanya, ini anak perawan susunè ngendhi.
Bla bla bla.” Lindu terdiam. Hanya memandangi embun di gelas. Suara jarum jam
menggantikan suara Lindu. Trek. Trek. Trek. Jarum panjang di angka tujuh. Trek.
Trek. Trek. Jarum panjang di angka satu.
“Kamu tahu sekarang.
Kenapa aku lebih suka ke rumah bude kalau sama bapak saja. Apa aku sudah
bilang? O ya, aku sudah katakan alasanku tadi. Kenapa kita tidak bareng ibu?”
Lindu berpaling ke lelaki itu. Lelaki itu tidak menanggapi Lindu. Hanya dengkur
halus yang lagi-lagi menyahut pertanyaannya. “Ya kenapa ibu waktu tidak bersama
kita ke rumah bude? Yang kuingat, sepulang taraweh aku lihat ibu banting...”
Lindu melempar gelas di tangannya. Gelas itu membentur foto Lindu yang sedang
memegang piala. Foto itu telah 16 tahun menyimpan kenangan untuknya. Piala
dalam foto itu didapat Lindu setelah pengumuman nilai ujiannya tertinggi
tingkat sekolah dasar di kecamatan. Dialah pemenang itu. Rambut sepanjang
sekarang. Sepinggang, dan dalam foto itu rambutnya digerai ke depan. Menutupi
tangan bapak yang sedang merangkulnya. Ada mas Maru dan ibu yang sedang membawa
piagam perhargaan punya mas Maru di belakang Lindu. Nilai mas Maru tertinggi
ketiga di sekolahnya. Mangkanya dia cuma mendapat piagam. Tapi mas Maru bisa
masuk ke SMU Negeri tanpa tes. Foto itu jatuh bersama pecahan gelas.
Lelaki itu menggeliat.
Selimutnya yang tersibak menampakkan hampir separuh tubuhnya yang telanjang.
Lindu menempelkan bibirnya di antara bibir yang setengah terbuka milik lelaki
itu sebelum membenahi selimutnya. “Aku ingat sekarang. Ibu menendang kursi di
depannya. Tapi kursi itu tidak bergerak. Lalu ibu berteriak sambil melempar
gelas ke bapak. Bapak cuma berkelit. Dia tidak membalas teriakan ibu, seperti
kemarin. Waktu dibangunin sahur, aku tahu ibu tidak makan bersama kita. Lebaran
ibu juga tidak makan ketupat di rumah. Ibu makan ketupatnya di rumah mbah
kakung, karena ibu kemudian tinggal di sana. Waktu ke rumah bude, ibu juga
tidak ikut. Baru sepulang kita dan bapak dari rumah mbah kakung, kita
menghabiskan ketupat itu bersama ibu di rumah.”
“Tahu nggak, Mas?
Sehabis mendengar kata Yu Masri di rumah bude, waktu pulangnya aku berpikir
benar juga yang dikatakan Yu Masri itu. Orang tua kita memang beruntung
sekali,” Lindu berhenti untuk tertawa. Hanya sebentar. “Tapi kita? Sepulang
dari rumah bude, kau tidak melepaskan tanganmu dari pundakku. Waktu itu aku
berpikir kalau saja aku bisa jadi pacarmu. Setidaknya nanti kalau aku punya
pacar, aku mau yang seganteng dan sebaik kamu.”
“Aku masih ingat waktu
itu, bapak mendorong meja ke arah ibu. Aku takut sekali. Waktu ibu bilang
setan, bapak menamparnya. Aku menggigil. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi
kemudian. Tiba-tiba aku telah merasa sangat capek karena berlari. Aku lari.
Lari terus ke rumah bude. Malamnya, bersama hujan dan angin yang mengamuk
sampai-sampai seakan bisa merobohkan pohon jambu kita, kau datang menjemputku.
Bude nanya padamu, wong payungan kok teles meges, Le?[1] Kau tidak
menjawab. Di balik bibirmu yang merapat, gemeletuk gigimu terdengar seperti
suara gundu beradu. Lalu kita pulang, setelah hujan reda.
Seminggu setelah
kejadian itu aku baru tahu. Bapak yang menceritakannya, mas, kurasa aku
setengah tertidur saat itu. Bapak bilang, kau yang menjemputku, karena bapak
harus berangkat kerja dan ibu entah ke mana. Bapak minta maaf padaku. Dia
bilang betapa kau berjuang mempertahankan payung yang kau bawa. Dan tubuh
kecilmu itu ternyata tidak mampu menahan gigil, sekaligus memegangi payung.
Sempat payungmu diterbangkan angin dan kau harus mengejarnya sampai selokan.
Ya, payung itu terjerembab di sana. Pasti bulan tidak ada waktu itu. Hujan
pasti melumatnya bersama petir-petir. Tentu tidak selancar ini bapak cerita.
Dia banyak berhenti di tengah kalimatnya. Berkali minta maaf. Aku seperti
melihat bapak menitikkan air mata. Tapi entahlah. Mungkin itu cuma hayalanku
saja. Lagipula aku sudah sangat mengantuk, bahkan setengah tertidur waktu itu.”
Lindu sendiri seperti tidak dapat mendengar beberapa kalimat terakhirnya. Suara
mobil yang melintas depan kamar meningkahi suaranya yang makin pelan. Lama-lama
hanya gumaman yang keluar dari mulutnya.
“Cuma kau yang baik
padaku. Setiap aku ke rumahnya, bude selalu manyuruhku pulang. Nanti dicari
ibu, begitu selalu bilangnya. Padahal aku justru tidak ingin ketemu ibu. Dia
suka banting apa saja di rumah. Jam, sapu, mug hadiah ulang tahun darimu juga.
Mug itu dia pakai lempar kaca bufet. Cobek. Apa saja? Apa yang nggak? Mas?” dia
menoleh ke lelaki itu. Dengkurannya masih tetap. Dadanya teratur naik turun.
Lindu menyusup kakinya ke bawah selimut. Lelaki itu bergerak sedikit, seperti
terkejut. Kemudian dia mengubah posisinya. Berhadapan dengan Lindu kini. Lindu merasa hangat menjalari telapak
kakinya.
“Kamu tahu nggak, mas?
Bapak sering datang ke kamarku sepulang kerja. Ya, tentu saja. Tentu saja aku
saja sudah tidur. Aku tahu karena bapak sering menaikkan guling ke ranjang.
Padahal aku sengaja meletakkannya di lantai. Kamu tahu, aku takut memakainya.
Ibu pernah melemparkan guling itu dulu. Kalau bapak ke kamar, kadang aku terbangun. Aku pura-pura tidur dengan memejamkan
mata. Bapak memegang tanganku. Bilang maaf berkali-kali. Di sudut matanya
setitik air mat..” akhir kata itu tercekat di tenggorokannya. Lindu
menengadahkan kepalanya ke langit-langit. Empat anak sepantaran sedang merubung
dirinya. Mereka bilang bapak suka gendakan. Mereka mengatakan itu
berkali, sambil mencubiti tubuhnya. Lindu tidak membalasnya. Hanya air mata di
sudut matanya. Menggantung seperti embun di ujun daun.
“Apa benar bapak punya
pacar?” Lindu berkata sambil menyembunyikan wajah di balik lengannya. Suara
yang keluar menjadi seperti erangan kucing yang kedinginan.
“Kamu pasti juga tidak
tahu. Kalau kamu tahu, pasti sudah bilang padaku. Yang jelas kutahu bapak jadi
pemarah juga. Jadi suka melempar, menampar. Kalau mereka sudah saling melempar,
biasanya kita buru-buru manjat pohon jambu. Kalau tidak, kita bersembunyi di
bawah selimut. Bapak pasti tahu kita menangis. Aku merasa punggungku diawasi.
Bapak, mungkin juga ibu, melihat kita sesenggukkan. Meskipun kita telah
membenamkan kepala kita ke bantal, selimut itu pasti mengkhianati kita. Karena dada
kita yang bergerak-gerak masih terlihat oleh mereka. Kamu..” sesak di dada
Lindu menghentikan kalimatnya. Air mata yang mengalir itulah yang agak
melegakannya, “tahu, Mas?” Kepala Lindu terkulai ke sisi kursi. Rambutnya
mengenai wajah lelaki itu. Lelaki itu menyingkirkan rambut Lindu dari wajahnya.
“Ada apa, dik? Kenapa
belum tidur? Sini.” Jemari lelaki itu menelusup ke rambut Lindu sebelum
mencari-cari tangannya. Lindu menurunkan kakinya. Bangkit dari kursi. Berjalan
mengitari ranjang. Beberapa pecahan gelas terinjak kakinya. Dia seperti tidak
merasakan sakit. Darah menjadi jejaknya sebelum mencapai ranjang. Lelaki itu
menunggu dengan selimut terbuka. Lindu lalu menenggelamkan kepalanya di bawah
selimut.
Tidak ada lagi mobil
melintas di depan kamar mereka. Tinggal suara jam yang menggantikan suara
Lindu. Trek. Trek. Jarum panjang di sepuluh. Trek. Trek. “Mas,” kepala Lindu
tersembul dari balik selimut. “Mas Maru masih ingat nggak bulan itu?”
“Ehm,” lelaki itu telah
kembali membelakangi Lindu. Pertanyaan Lindu hanya disambutnya dengan
gumaman.

No comments:
Post a Comment