Klik Bila Perlu

Friday, July 18, 2014

Aku Si Pendusta

Pada salah satu cerpennya yang berjudul Di Sebuah Hutan Kecil[1], Ryunosuke Akutagawa menghadirkan sebuah peristiwa berdasarkan beberapa kesaksian. Ada kesaksian penebang kayu, bhiksu pengembara, polisi, perempuan tua, Tajomaru, dan seorang perempuan yang datang ke kuil Shimizu. Dengan enam kesaksian enam sudut pandang sama artinya terdapat enam pilar yang menyokong kisah tersebut. Karenanya pembaca tidak diharuskan percaya pada satu (Sang) narator saja dan karena kesaksian siapa yang paling benar bukan menjadi suatu hal yang terpenting.
Berbeda dengan Akutagawa, Seno Gumira Ajidarma untuk cerpennya Clara atawa Wanita yang Diperkosa[2] menjatuhkan pilihan point of view pada tipe lain, yaitu first-person central. Si “aku” menjadi tokoh utama dan fokus, pusat kesadaran, pusat cerita. Dia (si tokoh aku) mengisahkan peristiwa, tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah, dalam dirinya sendiri, maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu di luar dirinya[3]. Dalam versi Novakovich, sudut pandang cerpen ini masuk dalam kategori narator orang-pertama yang tidak bisa dipercaya.
Maka cerita yang akan kau dengar ini bukan kalimatnya melainkan kalimatku. Sudah bertahun-tahun aku bertugas sebagai pembuat laporan dan hampir semua laporan itu tidak pernah sama dengan kenyataan. Aku sudah sangat ahli menyulap kenyataan yang pahit menjadi menyenangkan, dan sebaliknya perbuatan yang patriotik menjadi subversif—pokoknya selalu disesuaikan dengan kebutuhan. (Iblis tidak Pernah Mati [ITPM], hal. 70, penekanan dari penulis: 70)

Aku hampir-hampir terharu bahkan sebelum dia bercerita. (ITPM, hal. 69)

Mestinya aku terharu. Mestinya. Setidak-tidaknya aku bisa terharu kalau membaca roman picisan yang dijual di pinggir jalan. Tapi menjadi terharu tidak baik untuk seorang petugas seperti aku. (ITPM, hal. 74)

Pertama, si aku mengatakan hampir terharu padahal jelas-jelas dari ucapan-ucapannya selanjutnya yang (hanya bisa) dia ungkapkan dalam hati bahwa dia memang terharu[4].
…apa yang dialami dan dirasakannya seolah-olah tidak terkalimat-kan….Tidak pernah bisa kubayangkan bahwa manusia bisa mengalami beban penderitaan seberat itu justru karena dia lahir sebagai manusia. (ITPM, hal. 69-70)
Pada kutipan halaman 74, dia hanya mengatakan mestinya. Lagi-lagi si aku mengingkari perasaannya sendiri. Hal ini semakin mengukuhkan betapa sang narator adalah memang orang-pertama yang tidak bisa dipercaya. Atau bisa jadi ini adalah ketidakkonsistenan Seno menggambarkan tokohnya?

Kedua, si aku mengukur kesedihan yang dialami oleh Clara tidak lebih dramatis dari cerita dalam ‘roman picisan yang dijual di pinggir jalan’. Sedangkan sebelumnya dia menggumam—lagi-lagi hanya dalam hati—kan sebuah penderitaan yang beratnya tidak pernah bisa ia terbayangkan.
Dengan posisinya, narator jenis ini memang tidak ‘membiarkan’ kita mengecek kebenaran akan apa yang disampaikannya. Karena di sini ia adalah satu-satunya orang yang bercerita. Semua yang kita dapatkan adalah tafsiran atas penglihatan dari si aku.
Aku harus mencatat dengan rinci, obyektif, deskriptif, masih ditambah mencari tahu jangan-jangan ada maksud lain di belakangnya. Aku tidak boleh langsung percaya…. (ITPM, hal. 74, penekaan dari penulis)
Si aku yang mengaku dirinya objektif toh tetap dalam kerangka subjektivitas dirinya. Pemaknaan rangkaian kejadian dan tanda-ikon-simbol, semuanya berdasarkan perbendaharaan pengetahuan dan pengalamannya. Kita sebagai pembaca pun mungkin akan mengambil sikap yang sama dengannya; tidak boleh langsung percaya.
Rambutnya dicat merah. Coklat sebetulnya….padahal merah punya arti lain bagiku. Sudah bertahun-tahun aku dicekoki pikiran bahwa orang-orang merah adalah orang-orang berbahaya. (ITPM, hal. 69, penekaan dari penulis)
Doktrin yang melekat pada benaknya adalah merah yang berarti orang-orang yang berbahaya. Itu berkait juga dengan Clara yang dihadirkan dengan rambut merahnya yang dalam konteks cerita ini adalah kaum minoritas dari etnis tertentu yang divonis serakah, mengeksploitasi kekayaan pribumi[5] sehingga layak dianggap sebagai orang-orang yang berbahaya. Sedangkan Clara digambarkan sebagai manusia yang sama lahir dan besar di Indonesia, hanya saja (sialnya) matanya sipit.
Saya hanya tahu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk urusan bisnis…saya tidak bisa bahasa Cina sama sekali dari dialek mana pun…saya cuma seorang wanita Cina yang lahir di Jakarta dan sejak kecil tenggelam dalam urusan dagang. (ITPM, hal. 76)
Akan tetapi, si aku adalah seseorang yang telah kehilangan eksistensi dirinya. Pendoktrinan-pendoktrinan yang dibenamkan pada benaknya itu menghidupkan perasaan tertekan, menjelmakan represi yang tumbuh menggerogoti—bahkan—penghargaan kepada dirinya sendiri. Dia melihat dirinya tak ubah hanya sebuah alat, sebuah robot. Pun seragamnya, dapat juga kita lihat sebagai belenggu suatu yang mengikat, satu bentuk penghilangan identitas.  
Sedangkan aku bukan subyek di sini. Aku cuma alat. Aku cuma robot. (ITPM, hal. 75)
Termasuk penyubur perasaan tertekannya adalah ambisinya; dia bercita-cita menjadi orang kaya dan karena harapannya itu tak jua tercapai maka kompensasinya dia membenci orang kaya. Di samping itu, rupanya Seno melengkapi si aku ini dengan sikap dan sifat segolongan orang yang telah memperkosa Clara—dia juga ingin memperkosanya—yaitu kebenciannya pada Cina.
Aku juga ingin kaya, tapi meskipun sudah memeras dan menerima sogokan di sana-sini, tetap begini-begini saja dan tidak pernah bisa kaya…aku memang punya sentimen kepada orang-orang kaya—apalagi kalau dia Cina. Aku benci sekali. (ITPM, hal. 77-78)
Clara sungguh representatif untuk dua hal: sesuatu yang sangat dia inginkan dan sesuatu yang sangat tidak dia inginkan; kaya dan Cina. Walaupun begitu toh dia tetap tidak bisa melaksanakan niatnya.
Barangkali aku seorang anjing. Barangkali aku seorang babi—tapi aku memakai seragam. Kau tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya. (ITPM, hal. 69)

Sudah kubilang tadi, barangkali aku seorang anjing, barangkali aku seorang babi—tapi aku mengenakan seragam. Kau tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya. (ITPM, hal 78-79)






[1] Akutagawa, Ryunosuke. 2003. Rashomon. Terjemahan Suparno. Jakarta: Akubaca.
[2] Lih. Seno Gumira Ajidarma, “Clara atawa Wanita yang Diperkosa ” dalam Iblis tidak Pernah Mati, Yogyakarta, Galang Press, 1999: 69-79.
[3] Lih. Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, Agustus 2000: 263.
[4] Teknik Ekspositori/teknik analitis; pelukisan tokoh yang dilakukan pengarang dengan deskripsi kediriannya berupa sikap, sifat, watak, dan sebagainya. (Burhan Nurgiyantoro, 2000: 195).
[5] Orang-orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang dengan suku bangsa asli Indonesia (?), lahir di Indonesia, ber-KTP WNI.

No comments: