Pada salah satu
cerpennya yang berjudul Di Sebuah Hutan Kecil[1],
Ryunosuke Akutagawa menghadirkan sebuah peristiwa berdasarkan beberapa
kesaksian. Ada kesaksian penebang kayu, bhiksu pengembara, polisi, perempuan
tua, Tajomaru, dan seorang perempuan yang datang ke kuil Shimizu. Dengan enam
kesaksian enam sudut pandang sama artinya terdapat enam pilar yang menyokong
kisah tersebut. Karenanya pembaca tidak diharuskan percaya pada satu (Sang)
narator saja dan karena kesaksian siapa yang paling benar bukan menjadi suatu
hal yang terpenting.
Berbeda dengan
Akutagawa, Seno Gumira Ajidarma untuk cerpennya Clara atawa Wanita yang
Diperkosa[2]
menjatuhkan pilihan point of view pada tipe lain, yaitu first-person
central. Si “aku” menjadi tokoh utama dan fokus, pusat kesadaran, pusat
cerita. Dia (si tokoh aku) mengisahkan peristiwa, tingkah laku
yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah, dalam dirinya sendiri, maupun
fisik, hubungannya dengan sesuatu di luar dirinya[3]. Dalam versi Novakovich, sudut pandang cerpen ini masuk dalam kategori narator orang-pertama yang tidak bisa dipercaya.
Maka cerita yang akan kau dengar ini
bukan kalimatnya melainkan kalimatku. Sudah bertahun-tahun aku bertugas sebagai
pembuat laporan dan hampir semua laporan itu tidak pernah sama dengan kenyataan.
Aku sudah sangat ahli menyulap kenyataan yang pahit menjadi
menyenangkan, dan sebaliknya perbuatan yang patriotik menjadi
subversif—pokoknya selalu disesuaikan dengan kebutuhan. (Iblis tidak Pernah Mati [ITPM], hal. 70,
penekanan dari penulis: 70)
Aku hampir-hampir terharu bahkan sebelum dia bercerita. (ITPM, hal. 69)
Mestinya aku terharu. Mestinya.
Setidak-tidaknya aku bisa terharu kalau membaca roman picisan yang dijual di
pinggir jalan. Tapi menjadi terharu tidak baik untuk seorang petugas seperti
aku. (ITPM, hal. 74)
Pertama, si aku mengatakan hampir
terharu padahal jelas-jelas dari ucapan-ucapannya selanjutnya yang (hanya
bisa) dia ungkapkan dalam hati bahwa dia memang terharu[4].
…apa yang dialami dan
dirasakannya seolah-olah tidak terkalimat-kan….Tidak pernah bisa kubayangkan bahwa manusia bisa mengalami
beban penderitaan seberat itu justru karena dia lahir sebagai manusia. (ITPM, hal. 69-70)
Pada kutipan halaman 74, dia
hanya mengatakan mestinya. Lagi-lagi si aku mengingkari perasaannya
sendiri. Hal ini semakin mengukuhkan betapa sang narator adalah memang
orang-pertama yang tidak bisa dipercaya. Atau bisa jadi ini adalah
ketidakkonsistenan Seno menggambarkan tokohnya?
Kedua, si aku mengukur kesedihan yang dialami oleh Clara tidak lebih dramatis dari cerita dalam ‘roman picisan yang dijual di pinggir jalan’. Sedangkan sebelumnya dia menggumam—lagi-lagi hanya dalam hati—kan sebuah penderitaan yang beratnya tidak pernah bisa ia terbayangkan.
Kedua, si aku mengukur kesedihan yang dialami oleh Clara tidak lebih dramatis dari cerita dalam ‘roman picisan yang dijual di pinggir jalan’. Sedangkan sebelumnya dia menggumam—lagi-lagi hanya dalam hati—kan sebuah penderitaan yang beratnya tidak pernah bisa ia terbayangkan.
Dengan posisinya,
narator jenis ini memang tidak ‘membiarkan’ kita mengecek kebenaran akan apa
yang disampaikannya. Karena di sini ia adalah satu-satunya orang yang
bercerita. Semua yang kita dapatkan adalah tafsiran atas penglihatan dari si
aku.
Aku harus mencatat dengan rinci, obyektif,
deskriptif, masih ditambah mencari tahu jangan-jangan ada maksud lain di
belakangnya. Aku tidak boleh langsung percaya…. (ITPM, hal. 74, penekaan dari
penulis)
Si aku yang mengaku dirinya
objektif toh tetap dalam kerangka subjektivitas dirinya. Pemaknaan
rangkaian kejadian dan tanda-ikon-simbol, semuanya berdasarkan perbendaharaan
pengetahuan dan pengalamannya. Kita sebagai pembaca pun mungkin akan mengambil
sikap yang sama dengannya; tidak boleh langsung percaya.
Rambutnya dicat merah. Coklat sebetulnya….padahal
merah punya arti lain bagiku. Sudah bertahun-tahun aku dicekoki pikiran bahwa
orang-orang merah adalah orang-orang berbahaya. (ITPM, hal. 69, penekaan dari
penulis)
Doktrin yang melekat
pada benaknya adalah merah yang berarti orang-orang yang berbahaya. Itu
berkait juga dengan Clara yang dihadirkan dengan rambut merahnya yang dalam
konteks cerita ini adalah kaum minoritas dari etnis tertentu yang divonis
serakah, mengeksploitasi kekayaan pribumi[5]
sehingga layak dianggap sebagai orang-orang yang berbahaya. Sedangkan Clara
digambarkan sebagai manusia yang sama lahir dan besar di Indonesia, hanya saja
(sialnya) matanya sipit.
Saya hanya tahu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk
urusan bisnis…saya tidak bisa bahasa Cina sama sekali dari dialek mana pun…saya
cuma seorang wanita Cina yang lahir di Jakarta dan sejak kecil tenggelam dalam
urusan dagang. (ITPM, hal. 76)
Akan tetapi, si aku
adalah seseorang yang telah kehilangan eksistensi dirinya.
Pendoktrinan-pendoktrinan yang dibenamkan pada benaknya itu menghidupkan
perasaan tertekan, menjelmakan represi yang tumbuh menggerogoti—bahkan—penghargaan
kepada dirinya sendiri. Dia melihat dirinya tak ubah hanya sebuah alat, sebuah
robot. Pun seragamnya, dapat juga kita lihat sebagai belenggu suatu
yang mengikat, satu bentuk penghilangan identitas.
Sedangkan aku bukan subyek di
sini. Aku cuma alat. Aku cuma robot. (ITPM, hal. 75)
Termasuk penyubur
perasaan tertekannya adalah ambisinya; dia bercita-cita menjadi orang
kaya dan karena harapannya itu tak jua tercapai maka kompensasinya dia membenci
orang kaya. Di samping itu, rupanya Seno melengkapi si aku ini dengan sikap dan
sifat segolongan orang yang telah memperkosa Clara—dia juga ingin
memperkosanya—yaitu kebenciannya pada Cina.
Aku juga ingin kaya, tapi meskipun sudah memeras dan
menerima sogokan di sana-sini, tetap begini-begini saja dan tidak pernah bisa
kaya…aku memang punya sentimen kepada orang-orang kaya—apalagi kalau dia Cina.
Aku benci sekali. (ITPM, hal. 77-78)
Clara sungguh representatif untuk
dua hal: sesuatu yang sangat dia inginkan dan sesuatu yang sangat tidak dia
inginkan; kaya dan Cina. Walaupun begitu toh dia tetap tidak bisa
melaksanakan niatnya.
Barangkali aku seorang anjing. Barangkali aku seorang
babi—tapi aku memakai seragam. Kau tidak akan pernah tahu siapa diriku
sebenarnya. (ITPM, hal. 69)
Sudah kubilang tadi, barangkali aku seorang anjing,
barangkali aku seorang babi—tapi aku mengenakan seragam. Kau tidak akan pernah
tahu siapa diriku sebenarnya. (ITPM, hal 78-79)
[1] Akutagawa, Ryunosuke. 2003. Rashomon.
Terjemahan Suparno. Jakarta: Akubaca.
[2] Lih. Seno Gumira Ajidarma, “Clara atawa
Wanita yang Diperkosa ” dalam Iblis tidak Pernah Mati, Yogyakarta,
Galang Press, 1999: 69-79.
[3] Lih. Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian
Fiksi, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, Agustus 2000: 263.
[4] Teknik Ekspositori/teknik analitis;
pelukisan tokoh yang dilakukan pengarang dengan deskripsi kediriannya berupa
sikap, sifat, watak, dan sebagainya. (Burhan Nurgiyantoro, 2000: 195).
[5] Orang-orang yang mengidentifikasi dirinya
sebagai orang dengan suku bangsa asli Indonesia (?), lahir di Indonesia,
ber-KTP WNI.

No comments:
Post a Comment