Ketika Salah Seorang bertanya “Sakit
apa?”, Salah Seorang yang lain bertanya “Masuk angin, ya?”, “Panas? Pusing
kepala?”, dan sebagainya. Adanya persamaan sikap atau penyikapan akan sesuatu,
yang antara lain, seperti dinukil di atas dapat diasumsikan sebagai salah satu
faktor yang dapat ‘mengikat’ sekelompok orang menjadi suatu masyarakat. Akan
tetapi, peleburan ciri pribadi menjadi satu kelompok yang berlaku pada
sekelompok masyarakat tertentu seringkali dapat menghapus individualitas dengan
tanpa mempedulikan bagaimana ideologi yang dianut mereka tersebut berdampak
pada pihak yang disebut Orang Luar. Pemakaian salah seorang pada drama
Putu ini memang tepat jika dianggap memetaforkan penyeragaman tersebut. Sampai
pada beberapa dialog sebelum babak satu berakhir, kita tidak dapat
mengidentifikasi siapa-siapa yang berkata. Identitas meretas buram.
Meskipun tiap individu mempunyai
persepsi masing-masing, hal tersebut akan karam kalau si orang tersebut ‘kalah
suara’. Pada babak satu, sepanjang Si Sakit mengerang mengerang, mengaduh,
mencoba bangun tapi gagal dan sampai dia terkapar, sekelompok orang tersebut
hanya melakukan debat kusir tak berhingga. Seorang yang akan menolong akan
ditimpali dengan keraguan apakah dia benar-benar sakit atau hanya berpura-pura.
Ketika yang satu mencurigai maka yang lain akan mengingatkan untuk segera
mengambil tindakan pertolongan. Demikian seterusnya. Tapi yang terjadi adalah
benar-benar debat kusir hingga Si Sakit meninggal sebelum sempat tertolong.
Dari pola laku kelompok masyarakat model itu,
bahkan sesama anggota kelompok pun saling mencurigai, nyinyir. Bisa jadi
itu adalah proyeksi dari dirinya atau kecemburuan akan sesuatu yang tidak dapat
ia lakukan. Dan, lagi-lagi kemunculannya akan selalu dibarengi dengan
provokasi. Seperti yang terjadi pada peristiwa balsem dan ketika seorang dari
mereka membuktikan hantu di rumpun bambu. Tidak ada salahnya kalau si
Pemilik Balsem ingin menggunakan botol balsemnya yang telah kosong sebagai
tempat jarum. Tetapi mereka—sengaja digunakan kata mereka karena
meskipun muncul dari satu orang, isu-isu yang dilontarkan akan juga
mempengaruhi yang lain—mencelanya dengan mengatakan pelitnya tidak pernah
sembuh,atau kalau dia tidak pelit, bukan dia namanya, atau mentang-mentang
punya toko, sok barat!, dan sebagainya. Padahal merekalah yang telah
menghabiskan balsem itu. Begitu pula dengan nasib kawan mereka yang melihat ke
rumpun bambu. Dia dibilang nekad, sok jago, dan seterusnya. Dengan hidup
bergerombol, seseorang cenderung mengkaver sikapnya dengan mengatasnamakan kebersamaan.
Sebelum akhir babak kedua, kita dapat
melihat sikap mereka yang sebenarnya karena kemudian terlihat kadar
kepengecutan mereka, keegoisan, timbunan perasaan was-was, dan kesetiakawanan
atau kebersamaan yang ternyata nol besar.
Sekelompok orang itu kembali berkumpul
pada babak ketiga. Sekali lagi pembeoan terjadi. Identitas personal pun hilang
lagi. Dan kejadian yang lalu pun terulang lagi.
Drama
Aduh ini diturutkan Putu Wijaya pada Sayembara Mengarang Drama
yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1973. Namun, pada saat
ini drama ini menjadi cukup representatif untuk memotret munculnya
kecenderungan gejala masyarakat yang bersifat massa, bergerombol, dan
kehilangan individualitas.
No comments:
Post a Comment