Klik Bila Perlu

Thursday, July 10, 2014

Masyarakat Ala Putu Wijaya

Ketika Salah Seorang bertanya “Sakit apa?”, Salah Seorang yang lain bertanya “Masuk angin, ya?”, “Panas? Pusing kepala?”, dan sebagainya. Adanya persamaan sikap atau penyikapan akan sesuatu, yang antara lain, seperti dinukil di atas dapat diasumsikan sebagai salah satu faktor yang dapat ‘mengikat’ sekelompok orang menjadi suatu masyarakat. Akan tetapi, peleburan ciri pribadi menjadi satu kelompok yang berlaku pada sekelompok masyarakat tertentu seringkali dapat menghapus individualitas dengan tanpa mempedulikan bagaimana ideologi yang dianut mereka tersebut berdampak pada pihak yang disebut Orang Luar. Pemakaian salah seorang pada drama Putu ini memang tepat jika dianggap memetaforkan penyeragaman tersebut. Sampai pada beberapa dialog sebelum babak satu berakhir, kita tidak dapat mengidentifikasi siapa-siapa yang berkata. Identitas meretas buram.
Meskipun tiap individu mempunyai persepsi masing-masing, hal tersebut akan karam kalau si orang tersebut ‘kalah suara’. Pada babak satu, sepanjang Si Sakit mengerang mengerang, mengaduh, mencoba bangun tapi gagal dan sampai dia terkapar, sekelompok orang tersebut hanya melakukan debat kusir tak berhingga. Seorang yang akan menolong akan ditimpali dengan keraguan apakah dia benar-benar sakit atau hanya berpura-pura. Ketika yang satu mencurigai maka yang lain akan mengingatkan untuk segera mengambil tindakan pertolongan. Demikian seterusnya. Tapi yang terjadi adalah benar-benar debat kusir hingga Si Sakit meninggal sebelum sempat tertolong.
 Dari pola laku kelompok masyarakat model itu, bahkan sesama anggota kelompok pun saling mencurigai, nyinyir. Bisa jadi itu adalah proyeksi dari dirinya atau kecemburuan akan sesuatu yang tidak dapat ia lakukan. Dan, lagi-lagi kemunculannya akan selalu dibarengi dengan provokasi. Seperti yang terjadi pada peristiwa balsem dan ketika seorang dari mereka membuktikan hantu di rumpun bambu. Tidak ada salahnya kalau si Pemilik Balsem ingin menggunakan botol balsemnya yang telah kosong sebagai tempat jarum. Tetapi mereka—sengaja digunakan kata mereka karena meskipun muncul dari satu orang, isu-isu yang dilontarkan akan juga mempengaruhi yang lain—mencelanya dengan mengatakan pelitnya tidak pernah sembuh,atau kalau dia tidak pelit, bukan dia namanya, atau mentang-mentang punya toko, sok barat!, dan sebagainya. Padahal merekalah yang telah menghabiskan balsem itu. Begitu pula dengan nasib kawan mereka yang melihat ke rumpun bambu. Dia dibilang nekad, sok jago, dan seterusnya. Dengan hidup bergerombol, seseorang cenderung mengkaver sikapnya dengan mengatasnamakan kebersamaan
Sebelum akhir babak kedua, kita dapat melihat sikap mereka yang sebenarnya karena kemudian terlihat kadar kepengecutan mereka, keegoisan, timbunan perasaan was-was, dan kesetiakawanan atau kebersamaan yang ternyata nol besar.
Sekelompok orang itu kembali berkumpul pada babak ketiga. Sekali lagi pembeoan terjadi. Identitas personal pun hilang lagi. Dan kejadian yang lalu pun terulang lagi.

Drama  Aduh ini diturutkan Putu Wijaya pada Sayembara Mengarang Drama yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1973. Namun, pada saat ini drama ini menjadi cukup representatif untuk memotret munculnya kecenderungan gejala masyarakat yang bersifat massa, bergerombol, dan kehilangan individualitas.

No comments: