Klik Bila Perlu

Wednesday, July 09, 2014

kulitmanggis

kami duduk di beranda sore itu. hujan baru saja berlalu. apa yang tampak di matamu ketika mendengar kata kulit manggis? tiba-tiba ia bertanya. pandangannya tak beralih dari sisa hujan yang menempel di pagar putih, bentuknya mirip cat yang mengelupas. sebuah lebam. aku jadi ikut-ikutan menatap sisa hujan itu. ia sudah meleleh kini. apa pula kata anak muda dari gresik yang sajaknya dimuat di kortem minggu lalu? sepertinya dia berpikiran sama. aku mengenalmu dari kulit manggis//ketika senyum kembang kempis,// dan wajahmu ungu, bagai kubur yang// menunggu. apa lagi? dia cukup konsisten. masih di sajak yang sama dia menulis … mengapa langit jadi ungu dan tebal,// seperti kulit manggis? karena aku melukaimu,// dan kau tak menangis… kenapa sih selalu sesedih itu mengingat kulit manggis? dia kan bisa saja bibir seorang gadis. warna kesukaan teman kita. gelas yang kuberikan padamu tahun lalu. kulit tangan ibu. sampul novel liana. langit kalau tidak sedang habis hujan begini. kalimat terakhir kau ucapkan sambil menendang sampah kacang di kakimu. seperti sisa kecupan di dada? aku menambahkan satu dengan suara yang tidak lebih keras dari bisikan. ya. ya, itu juga bisa. seperti sisa kecupan di dada. kau memandangku sekarang, agak gugup. seakan tak percaya aku yang mengatakannya. tapi kau cepat berdiri, secepat matamu beralih. aku ada janji sama teman. aku mengantarmu sampai pagar putih. memang cuma hujan yang menahanmu lebih lama.

No comments: