kami duduk di beranda sore itu.
hujan baru saja berlalu. apa yang tampak di matamu ketika mendengar kata kulit
manggis? tiba-tiba ia bertanya. pandangannya tak beralih dari sisa hujan yang
menempel di pagar putih, bentuknya mirip cat yang mengelupas. sebuah lebam. aku
jadi ikut-ikutan menatap sisa hujan itu. ia sudah meleleh kini. apa pula kata
anak muda dari gresik yang sajaknya dimuat di kortem minggu lalu? sepertinya
dia berpikiran sama. aku mengenalmu dari kulit manggis//ketika senyum kembang
kempis,// dan wajahmu ungu, bagai kubur yang// menunggu. apa lagi? dia cukup konsisten. masih di
sajak yang sama dia menulis … mengapa langit jadi ungu dan tebal,// seperti
kulit manggis? karena aku melukaimu,// dan kau tak menangis… kenapa sih
selalu sesedih itu mengingat kulit manggis? dia kan bisa saja bibir seorang
gadis. warna kesukaan teman kita. gelas yang kuberikan padamu tahun lalu. kulit
tangan ibu. sampul novel liana. langit kalau tidak sedang habis hujan begini.
kalimat terakhir kau ucapkan sambil menendang sampah kacang di kakimu. seperti sisa
kecupan di dada? aku menambahkan satu dengan suara yang tidak lebih keras dari
bisikan. ya. ya, itu juga bisa. seperti sisa kecupan di dada. kau memandangku
sekarang, agak gugup. seakan tak percaya aku yang mengatakannya. tapi kau cepat
berdiri, secepat matamu beralih. aku ada janji sama teman. aku mengantarmu
sampai pagar putih. memang cuma hujan yang menahanmu lebih lama.
No comments:
Post a Comment