Klik Bila Perlu

Friday, July 11, 2014

Ia Bernama Gilli

Matahari di Atas Gilli (Bima Rodheta, 2004) adalah sebuah cerita cinta. Cerita cinta biasa, yang terjadi antara Suhada-Suamar. Akan tetapi, Lintang Sugianto, penulis novel ini, membuat novel ini kaya dan penuh warna dengan latar sosiologis yang kuat.

Adalah Gilli, yang semula sangka saya satu tempat di kedalaman Kalimantan atau Sulawesi, yang menjadi tempat berlangsungnya cerita. Pulau yang sangat kecil ini dapat dicapai dari Pelabuhan Probolinggo dengan menggunakan kapal penyeberangan selama 45 menit. Tak terdapat air tawar di sana. Matahari pun terasa dekat di atas kepala. Namun, itu tidak membuat Suhada menolak ajakan Suamar untuk menikah di pulau kelahirannya tersebut. Karena dia telah jatuh cinta pada ubur-ubur berwarna ungu dan putih, bahkan ada yang berbintil merah, yang akan memenuhi lautan setelah turun hujan.

Setelah menikah, Suhada dan Suamar tinggal bersama Buk No. Perempuan sebatang kara ini,             mulanya adalah keluarga terpandang di Gilli. Dari mulutnya mengalir cerita-cerita masa lalu, masa-masa kejayaan keluarganya yang berarti kejayaan Gilli juga. Tradisi-tradisi yang lain, seperti nasihat ataupun tembang, banyak juga yang dikenalkan Buk No kepada Suhada. Kelebihan Lintang, dia dapat meleburkan kekhasan Gilli ke dalam cerita tanpa membuat salah satu unsur, baik cerita atau Gilli, tampak berlebihan. Selain misal di atas, misal lainnya lagi adalah Suamar.

Di tanah kelahirannya, Suamar dikenal sebagai seorang pemberontak. Ketika semua orang berseru “Gilli pasti menolak pendatang, Amar…! Batalkan saja. Kasihan gadis itu, pasti mendapat petaka” (hlm. 31), dia tidak mengindahkannya. Dia tetap bulat menikahi Suhada. Tidak saja itu, ketika Pak Haji, seorang nelayan yang sukses-ditandai dengan beberapa kepergiannya ke tanah suci, memintanya untuk berlayar, dia menolak. Suamar lebih suka ikut ibunya kulakan ke Probolinggo. Kereta api dan sungai adalah impiannya. Dapat dirunut sumber gelegak yang membakar Suamar ini. Seperti yang telah dibilang, kondisi pulaunya yang tidak menyediakan air tawar membuat dia merindukan sungai. Suamar tidak seperti orang-orang Gilli lainnya yang dapat menerima keadaan begitu saja. Sedangkan kereta api, lebih merupakan simbol perlawanan. Suamar melawan kekerdilan masyarakat Gilli mengakui ketertinggalan mereka. Masyarakat Gilli lebih suka mendengarkan cerita-cerita Suamar daripada melihat sendiri ke luar. Untungnya, petualangan Suamar ke luar Gilli tidak dibaca meninggalkan (tradisi) Gilli. Pekerjaannya masih berkaitan dengan hal yang sangat dekat dengan Gillinya; membuat kapal kayu. Mungkin Lintang ingin bilang, kalau mengetahui ketinggalannya saja mereka enggan, bagaimana dapat memperbaikinya?

Gilli dalam novel ini memang tidak sekadar tempat. Religiusitas masyarakatnya adalah hal menarik lain yang juga dibicarakan dengan bagusnya oleh Lintang dalam novel ini. Ketika Suamar tidak juga datang dari Probolinggo, tidak cuma Suhada yang khawatir. Pak Haji yang juga gundah berjalan menyisir pantai sampai di ujung Delaok. Ujung Delaok adalah batas utara Pulau Gilli. Konon petilasan Syekh Maulana Iskhak. Sedangkan Umi Suamar yang sama gundahnya, pergi ke Goa Kucing. Masyarakat Gilli percaya kucing-kucing yang banyak berkeliaran dapat bertindak sebagai penjawab segala bentuk permasalahan yang menggantung dan tak terselesaikan (hlm. 61). Pada malam Jumat Manis Goa Kucing dipercaya memiliki energi magis untuk mendatangkan orang-orang dari luar pulau. Mereka menyembah, menebarkan kembang-kembang, dan menginap untuk menunggu wangsit yang akan menyelinap dalam mimpi mereka.

Menjelang kelahiran anak Suhada adalah bukti yang lain lagi. Para lelaki itu mengusung tandu yang berisi perempuan yang akan melahirkan, mereka juga memegang obor yang harus tetap menyala meski siang hari. Juga Salawat Badar yang baru akan berhenti setelah proses kelahiran selesai. (Satu-satunya) Perempuan lain yang dapat mengikuti upacara ini adalah ibu dari perempuan yang akan melahirkan atau ibu yang dituakan yang akan berada di baris depan dengan membawa air laut yang akan dipercikkan sepanjang jalan. Untuk orang di luar Gilli, mungkin, upacara adalah sebuah pertunjukkan ritual yang eksotis. Sebaliknya, masyarakat Gilli menganggap laki-laki sebagai “makhluk superio” yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap sebuah kelahiran. Para lelaki itu haruslah dalam keadaan berwudu sebagai penghormatan atas perjuangan sang perempuan. Dan air laut yang dipercikkan sepanjang jalan adalah simbol keselamatan.

**

MULANYA masyarakat Gilli memang menolak pendatang. Mungkin, menurut mereka pendatang tidak sekadar orang dari luar yang datang ke Gilli. Mereka, pendatang itu, juga membawa perubahan dengan menyertakan tradisi baru dalam keseharian mereka. Akan tetapi, setelah Suhada benar-benar datang tidak terjadi perbenturan antara Suhada dengan masyarakat setempat. Bahkan, sekalipun Suhada membawa “tradisi baru” yang artinya perlahan mengikis tradisi yang telah mereka jalankan turun temurun, tidak ada pergolakan sama sekali. Sebuah misal, Suhada dan Pak Karta, yang nota bene pendatang juga, mengkampanyekan kamar mandi plus (WC). Itu sama artinya menghapus apa yang telah dilakukan oleh, bahkan, beberapa keturunan sebelum mereka, membuang hajat ke laut dengan berdiri. Masyarakat Gilli berkeyakinan apa yang mereka masukkan adalah dari laut maka mereka harus membuangnya ke laut pula. Agar rezeki mereka kembali masuk, di keluarkan, dan dimasukkan lagi ke tempat yang sama (hlm. 70). Misal lain, bahasa. Masyarakat Gilli yang tidak mengerti bahasa lain selain bahasa Madura, didramatisasi dengan pernyataan aneh dua orang bule yang datang ke Gilli; mengapa mereka (orang Gilli) tidak mengerti bahasa bangsanya sendiri? Diharuskan berbahasa Indonesia pada hari Jumat. Demikian juga dengan itikad Pak Lurah yang ingin berkongsi dengan investor-investor asing.

Mengingat penolakan mereka terhadap pendatang. Saya merasa agak janggal dengan ketiadaan konflik ini. Apakah ini semacam pembuktian betapa lemahnya pertahanan yang dipunyai oleh sekelompok masyarakat yang, dikatakan, terbelakang sehingga apa pun yang datang dari luar tampak “menyilaukan” bagi mereka sehingga mereka manut saja? Atau ini adalah kepercayaan yang dipegang oleh Lintang, bahwa apa yang dibawa oleh pendatang melulu hal-hal yang baik sehingga Lintang meniadakan konflik dan perbenturan antara pemegang tradisi baru dan tradisi lama tersebut? Bahkan Suhada yang merasa “lucu melihat kakinya berat sebelah” karena memakai binggel emas atas permintaan umi Suamar, tetap memakai binggel emas itu. Apakah ini juga wujud komunikasi atau sebentuk keterbukaan?

Saya tidak akan menuntut lebih lanjut tentang benturan budaya yang, seperti (di)abai(kan), di sini. Seperti yang saya ungkap di atas, novel adalah sebuah cerita cinta. Karena itu konflik baru bersemai ketika Suamar menyatakan niatnya pergi ke Cilacap, meninggalkan Gilli untuk kembali menjalani profesinya sebagai pembuat kapal kayu. Alasannya kepergian Suamar, dia ingin segera mewujudkan cita-cita mereka, memperbesar rumah dan membeli sepeda agar setiap hari bisa mengelilingi Gilli. Alasan keberatan Suhada, dia ingin Suamar menemaninya merunuti perkembangan janin yang sedang berdenyut di rahimnya. Alasan kegigihan Suamar; justru itu, sekaranglah saatnya dia pergi. Setelah anaknya lahir nanti dia tidak akan ke mana-mana. Kalau dia laki-laki, aku akan mengajarinya berenang, dan aku akan membuat perahu khusus untuknya (hlm.26), dan aku akan membisikkan azan untuknya (hlm.27), janji Suamar.

Bulan-bulan pertama, melalui surat dan telefon Suamar berkabar. Bulan-bulan berikutnya, kabar hambar. Beberapa hari sebelum Suhada melahirkan, Suamar menelfonnya. Dia mengatakan sudah berada di Surabaya. Tunggu punya tunggu, sampai hari ke-4 setelah telefon diterima, Suamar tak kunjung datang. Suhada menyerah. Apalagi Suhada merasa Buk No, Pak Haji, Umi, Pak Lurah, mulai mengubah sikap mereka terhadap dirinya. Sebenarnya perasaan ini tak terlalu salah, Buk No dan yang lain-lain berdiam diri karena sedang menutupi keadaan Suamar. Ketika menyeberang menuju Gilli, kapal yang ditumpangi Suamar kandas dan benturan menghasilkan sebuah lutut yang retak, sehingga dia harus dirawat di rumah sakit di Probolinggo.

Apalah daya, Suhada yang tidak tahu keadaan Suamar itu seperti tidak ingin mempertahankan nyawanya ketika melahirkan. Suamar yang tidak dapat mempercayai kematian Suhada, gigih mengatakan Suhada masih hidup. Begitulah. Bagaimanapun keadaan             Suhada-Suamar, kehidupan harus tetap berlanjut.

Tapi tunggu dulu. Dalam bab kesepuluh ini, Lintang tidak lagi membicarakan Suhada-Suamar. Lintang malah membeberkan kemajuan yang dicapai Gilli dalam lima tahun belakang. Hal ini membuat saya menyebut Gilli, dengan meminjam istilah Goenawan Mohamad, tokoh utama yang tak nampak.

Khazanah, Pikiran Rakyat, 19 Februari 2005

No comments: