Pendidikan yang diberikan kaum
kolonial pada negara jajahannya bagai pedang bermata dua. Di satu sisi, ia
sukses menanamkan perasaan rendah diri pada si terjajah, ia sekaligus dapat
membuat bangsa yang diinjaknya selama tiga ratus tahun mengagung-agungkan dan
menyembah bangsa penjajahnya. Dan yang bertindak sebagai pengendali, tetap kaum
kolonial itu, karena satu-satunya pendidikan, sekolah, didirikan olehnya. Pada
novel Anak Semua Bangsa karya Pramudya Ananta Toer, inferioritas yang berlebihan
dapat kita lihat pada beberapa cara pandang dan pikir Minke pada dunia
sekitarnya.
Dan pengajaran Eropa yang telah kuterima belum
sampai untuk dapat memahami Jepang, apa lagi kemuliaan Eropa. (penekanan
dari saya, hal.44)
Semakin lama aku semakin bingung dengan riuhnya pikiran
dan pendapat begitu banyak orang…. Sekolahan tetap paling sederhana. Orang
hanya mendengarkan dan percaya tak bercadang pada beberapa orang guru. (hal.52)
Kau dididik untuk menghormati dan mendewakan Eropa,
mempercayainya tanpa syarat. (hal.77)
Seluruh dunia mengagumi Eropa karena sejarahnya yang
gemilang, karena kehebatannya dalam jaman-jaman ini, karena karya-karyanya,
karena kemampuannya, karena kreasinya yang selalu baru, dan yang terbaru jaman
modern. (hal.77)
Meskipun mempunya latar
psikologis yang sama—sama-sama menanggung beban kepedihan dengan dimenangkannya
Annelis atas nama ir. Maurits Mellema oleh Pengadilan Putih, Nyai Ontosorohlah,
mewakili sosok yang tidak mendapat pendidikan kolonial, yang kemudian mendekonstruksi
habis-habisan pemikiran Minke tersebut.
Tak ada guna menyewa Eropa kalau Pribumi bisa melakukan.
(hal.44)
Dengan lebih memilih
mempekerjakan Pribumi daripada bangsa Eropa, Nyai Ontosoroh membuktikan bahwa
bangsa Pribumi pun punya kemampuan.
Sedangkan Jean Marais, sahabat
Minke, menggugat sikap Minke yang mendewakan kaum kolonial itu dengan cara
lain; yakni dengan mendorong Minke menulis dalam bahasa Melayu dan Jawa.
Berikut adalah sari perbincangan mereka.
Jean Marais: Ada yang masih aku sayangkan. Mungkin juga
disayangkan oleh ribuan orang: mengapa kau hanya menulis dalam bahasa Belanda?
Minke: Dia menghendaki aku menulis dalam
Melayu, biar dia sendiri bisa langsung baca, sebaliknya kemashuran dan prestasi
serta prestiseku hancur.
Jean Marais: Padahal bahasa Melayu yang paling banyak
dipergunakan di Hindia ini. Jauh lebih banyak daripada Belanda.
Minke: Hanya orang kurang atau tidak
berpendidikan saja membaca Melayu?
Jean Marais: Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu,
pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar.
(hal.54-55)
Nah, dari dialog di atas,
lagi-lagi diperlihatkan betapa mengakarnya perasaan ‘bukan apa-apa tanpa
penjajah’ pada Minke.
Akan tetapi, satu lagi mata
pedang itu akan mencungkil mata kaum kolonial itu sendiri. Kepandaian Minke
membaca—yang tentu saja didapat dari sekolah Eropanya—dan berbicara bahasa
Belanda dan Inggris membuka cakrawala pikirnya tentang perjuangan. Berikut
adalah kata-kata Khouw Ah Soe yang ditujukan pada Minke.
“Maka jangan harapkan pendidikan
modern akan diberikan di negeri-negeri jajahan seperti Tuan ini. Hanya bangsa
jajahan sendiri yang tahu kebutuhan negeri dan bangsanya sendiri. Negara
jajahan hanya akan menghisap madu bumi dan tenaga bangsa jajahannya.
Dibolak-balik akhirnya kaum terpelajar bangsa jajahan sendiri yang perlu tahu
kewajibannya.” (hal.90)
Perjuangan Jepang sangat mengagumkan bagi Minke. Tak terjabar dalam
pikirannya bagaimana jepang yang dimetaforkan seorang anak kecil, cerdik dan
kuat, itu dapat sedang merampas milik raksasa tua. (hal 43)
Semua bacaan itu
mengajarkan padaku tentang diriku pribadi di tengah-tengah lingkunganku, dunia
besar, dan peredaran waktu yang ogah bélot. (hal.42)
Aku hanya bisa bengong. Apa saja yang telah berkembang
dalam diri bangsa ini? (hal.43)
Meskipun masih menjejak
inferioritas, Minke jadinya mulai mempertanyakan keadaan bangsanya dan itulah
start bagi pergerakan perjuangan Indonesia di bidang tulis-menulis.
No comments:
Post a Comment