Klik Bila Perlu

Thursday, July 03, 2014

Pendidikan Kolonial

Pendidikan yang diberikan kaum kolonial pada negara jajahannya bagai pedang bermata dua. Di satu sisi, ia sukses menanamkan perasaan rendah diri pada si terjajah, ia sekaligus dapat membuat bangsa yang diinjaknya selama tiga ratus tahun mengagung-agungkan dan menyembah bangsa penjajahnya. Dan yang bertindak sebagai pengendali, tetap kaum kolonial itu, karena satu-satunya pendidikan, sekolah, didirikan olehnya. Pada novel Anak Semua Bangsa karya Pramudya Ananta Toer, inferioritas yang berlebihan dapat kita lihat pada beberapa cara pandang dan pikir Minke pada dunia sekitarnya.

Dan pengajaran Eropa yang telah kuterima belum sampai untuk dapat memahami Jepang, apa lagi kemuliaan Eropa. (penekanan dari saya, hal.44)

Semakin lama aku semakin bingung dengan riuhnya pikiran dan pendapat begitu banyak orang…. Sekolahan tetap paling sederhana. Orang hanya mendengarkan dan percaya tak bercadang pada beberapa orang guru. (hal.52)

Kau dididik untuk menghormati dan mendewakan Eropa, mempercayainya tanpa syarat. (hal.77)

Seluruh dunia mengagumi Eropa karena sejarahnya yang gemilang, karena kehebatannya dalam jaman-jaman ini, karena karya-karyanya, karena kemampuannya, karena kreasinya yang selalu baru, dan yang terbaru jaman modern. (hal.77)

Meskipun mempunya latar psikologis yang sama—sama-sama menanggung beban kepedihan dengan dimenangkannya Annelis atas nama ir. Maurits Mellema oleh Pengadilan Putih, Nyai Ontosorohlah, mewakili sosok yang tidak mendapat pendidikan kolonial, yang kemudian mendekonstruksi habis-habisan pemikiran Minke tersebut.

Tak ada guna menyewa Eropa kalau Pribumi bisa melakukan. (hal.44)

Dengan lebih memilih mempekerjakan Pribumi daripada bangsa Eropa, Nyai Ontosoroh membuktikan bahwa bangsa Pribumi pun punya kemampuan.

Sedangkan Jean Marais, sahabat Minke, menggugat sikap Minke yang mendewakan kaum kolonial itu dengan cara lain; yakni dengan mendorong Minke menulis dalam bahasa Melayu dan Jawa. Berikut adalah sari perbincangan mereka.

Jean Marais:   Ada yang masih aku sayangkan. Mungkin juga disayangkan oleh ribuan orang: mengapa kau hanya menulis dalam bahasa Belanda?
Minke:           Dia menghendaki aku menulis dalam Melayu, biar dia sendiri bisa langsung baca, sebaliknya kemashuran dan prestasi serta prestiseku hancur.
Jean Marais:   Padahal bahasa Melayu yang paling banyak dipergunakan di Hindia ini. Jauh lebih banyak daripada Belanda.
Minke:           Hanya orang kurang atau tidak berpendidikan saja membaca Melayu?
Jean Marais:   Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. (hal.54-55)

Nah, dari dialog di atas, lagi-lagi diperlihatkan betapa mengakarnya perasaan ‘bukan apa-apa tanpa penjajah’ pada Minke.

Akan tetapi, satu lagi mata pedang itu akan mencungkil mata kaum kolonial itu sendiri. Kepandaian Minke membaca—yang tentu saja didapat dari sekolah Eropanya—dan berbicara bahasa Belanda dan Inggris membuka cakrawala pikirnya tentang perjuangan. Berikut adalah kata-kata Khouw Ah Soe yang ditujukan pada Minke.

“Maka jangan harapkan pendidikan modern akan diberikan di negeri-negeri jajahan seperti Tuan ini. Hanya bangsa jajahan sendiri yang tahu kebutuhan negeri dan bangsanya sendiri. Negara jajahan hanya akan menghisap madu bumi dan tenaga bangsa jajahannya. Dibolak-balik akhirnya kaum terpelajar bangsa jajahan sendiri yang perlu tahu kewajibannya.” (hal.90)

Perjuangan Jepang sangat mengagumkan bagi Minke. Tak terjabar dalam pikirannya bagaimana jepang yang dimetaforkan seorang anak kecil, cerdik dan kuat, itu dapat sedang merampas milik raksasa tua. (hal 43)

Semua bacaan itu mengajarkan padaku tentang diriku pribadi di tengah-tengah lingkunganku, dunia besar, dan peredaran waktu yang ogah bélot. (hal.42)

Aku hanya bisa bengong. Apa saja yang telah berkembang dalam diri bangsa ini? (hal.43)

Meskipun masih menjejak inferioritas, Minke jadinya mulai mempertanyakan keadaan bangsanya dan itulah start bagi pergerakan perjuangan Indonesia di bidang tulis-menulis.


No comments: