Klik Bila Perlu

Tuesday, July 15, 2014

Catatan 19 Jam di Malang

Tepat tujuh malam ketika aku melewati gerbang Kota Malang. Jaya Utama membawaku melampaui Lawang, Singosari, kemudian Arjosari. Di Terminal Arjosari aku turun. Menunggu kawan di rumah-makan-dekat-pintu-masuk-bis-yan-ada-wartelnya. Ditemani Nina Simone dan Brouwer yang sedang cerita tentang San Fransisco. Aku membuat kesalahan bodoh—memesan minuman dingin—dan baru sadar ketika angin Malang menerobos kaos, menggigilkan punggung, setelah ia membekukan kaki. Biarpun sepupuku yang pernah kuliah di Malang bilang “Malang udah nggak dingin lagi”, aku menyesal tidak membawa syal dan sarung tangan.

Kawanku datang. Unoy. Dia tampak jauh lebih kurus semenjak kami terakhir ketemu, entah kapan itu-kami sudah lupa. “Banyak peristiwa.” Ya, banyak peristiwa. Sebelum membeberkan peristiwa-peristiwa, kami sepakat makan dulu. Pilihan jatuh ke Soto Lombok. “Bukan soto penuh dengan cabe, kan?” tanyaku, setengah penasaran setengah khawatir. Aku terbayang rawon setan yang ada di Surabaya dan baru saja membuka cabangnya di Bandung. Dingin memang, tapi nggak lucu kan jalan-jalan sambil nahan perut mules. “Nggak.” Unoy menertawakan kepanikanku.

Soto Lombok yang Libur Tiap Kamis
Soto Lombok bermula dari soto laris yang dijual di Jalan Lombok. Penjual soto mencoba peruntungannya dengan membuka cabang di beberapa tempat dengan nama sama. Melihat Soto Lombok menguasai rimba persotoan, tukang soto, dan calon tukang soto mencoba meniru resep berikut namanya: Soto Lombok. Lama-lama Soto Lombok jadi merek tersendirisemacam soto Lamongan, soto Kudus, atau soto sulungdan marak di Malang.

Kami memilih Soto Lombok dekat rumah Unoy di Jalan Sempu (baca Sampo, terang Unoy. Kok bisa? Soalnya di sini banyak orang Madura. Oke deh, di Jalan Sampo). Soto Lombok yang kami datangi ini tergolong laku keras. Biarpun begitu, mereka tidak sayang tutup tiap Hari Kamis. Kenapa begitu? tanyaku. Unoy hanya mengangkat bahu. Dia bilang, udah dari sononya begitu. Kata “sono ini bermakna dukun. “Di sini (Andalas) banyak tukang makanan tapi tiap Kamis siap-siap aja kelaparan. Mereka kompak libur,” tambahnya. Benar saja. Dari kejauhan aku sudah dapat melihat plang menyala bertulisan Soto Lombok Jalan Sempu Hari Kamis Libur.

Kami musti meneliti ruangan agar dapat tempat duduk. Setelah menunggu sebentar, kami dapat kursi dekat pintu keluar. Bukan pintu keluar sebenarnya sebab warung makan ini seolah menumpang di teras rumah orang. Toh itu tak mengganggu.

Sotonya memang canggih. Kutebak penggugah seleranya adalah koya yang tadinya kupikir serundeng yang ditumbuk halus. Membuat Soto Lombok menjadi lebih sedap dari bermangkok-mangkok soto yang pernah kumakan seumur hidupku. Makin lezat dengan potongan jeroan. Asam urat, rematik, menguap dari ingatan. Yang penting tancap ini dulu. Urusan sakit belakangan.

Dua mangkok soto Lombok porsi setengah dan dua teh tawar mereka hargai Rp9.500. Sewaktu bayar, aku masih penasaran dengan pertanyaan kenapa tiap Kamis libur. “Tanya aja,” saran Unoy sambil menunjuk ibu pemilik warung yang bertugas sebagai kasir. Aku pun benar-benar bertanya, “Kenapa sih tiap hari Kamis libur, Bu?” Si ibu tak langsung jawab. Dengan pandangan mencela dia menjawab pendek, Tahlil.” Ouch. Kami sungguh tampak tak beriman. Kenapa nggak kepikiran, ya? “Kayaknya, mbak, ibu itu mikir, yaelah masak gitu aja nggak tahu. Ke mana aja.” Kami ngakak sepanjang jalan. Ngakak untuk menutupi malu.     

Wisata Apa
Sejak di sms, sebelum kami benar-benar bertemu, Unoy sudah menanyaiku, aku mau perjalanan macam apa. Wisata alam? Tur budaya? Atau aku mau bagaimana? Ditodong pertanyaan seperti itu aku malah bingung. Aku tidak pernah menetapkan model liburan tertentu. Aku hanya mau ketemu dia dan melihat kotanya. Itu saja. Aku sebenarnya pernah ke Malang tapi dulu sekali, waktu masih TK. Yang tersisa di ingatanku cuma rumah besar putih dan udara di halamannya yang dingin. Waktu itu aku datang ke kota ini sebagai keluarga mempelai pria sepupuku. Sekarang, anak sulung sepupuku itu baru saja diterima di universitas. Ya, sudah berpuluh tahun lalu memang.

Kalau ditanya pengen, aku pengen ke Bromo, pengen ke Sempu, dan sebagainya, dan sebagainya,” begitu kubilang ke Unoy. “Sementara di sininya cuma sehari?” Kami menertawakan kemustahilan ini dan tentu aku cuma bergurau. Interupsi, bukan sehari, melainkan 19 jam. Terhitung sejak aku masuk Kota Malang jam 7 tadi, keretaku akan berangkat pukul 2 besok. “Aku sudah lama tidak tertarik dengan alam-alaman gitu, Nduk,” kataku pada Unoy yang baru saja menawarkan Coban Rondo dan Songgoriti. “Aku cuma mau lihat kotanya.”

Unoy menolak pergi ke alun-alun. Rawan, katanya. Kalau sedang sendiri, aku akan tetap pergi, berhubung bersama tuan rumah, aku mengangguk saja. “Oke, kalau gitu kita ke Payung saja,” usulnya. Sip.

Kami berkendara ke Payung bertiga. Mobil disopiri kawannya, Ninu. “Payung itu puncaknya Jakarta,” terang mereka selama kami melaju ke arah Batu. Bedanya di sini tak ada vila-vila. Hanya warung-warung di pinggir ajlan yang lebih digarap timbang di Puncak. Lapak-lapak dibangun dari anyaman bamboo berserak di sepanjang jalan. Lampu merah kuning hijau mengundang nuansa remang-remang. Menurut mereka, di sini tak ada warung remang-remang. Semoga mereka benar. Kami memilih salah satunya.

Turun mobil, aku seketika mengigil, berjalan ke warung menggigil. Ke kamar mandi dengan menggigil. Melepas sandal—karena lesehan—dengan menggigil. Memilih menu dengan menggigil. Pesan dengan menggigil. Menunggu makanan datang dengan menggigil. Makan dengan menggil. Dan ngobrol dengan menggigil.

Tapi senang rasanya masih ada tempat seperti ini. Malang memang berbeda dengan Jakarta. Ritme hidup terasa lebih lambat di sini. “Buat sekolah asik, ya,” kataku. Tapi kalau buat kerja kayaknya mending cari tempat lain,” pendapat Unoy. Sebagai orang yang tinggal di Jakarta, aku masih belum mengerti apa enaknya hidup dengan putaran yang sedemikian cepat dan dinamis. Tidak banyak waktu untuk mengendapkan kejadian-kejadian.

Sebagai orang yang tinggal di Jakarta, aku sedih waktu melihat factory outlet (FO) mulai beranak pinak di Malang. “Udah terkena wabah FO ya, nduk?” “Itu, sih, udah lama, mbak,” terang Unoy, “apalagi rukonya. Malang kan kota ruko.” Dia terdengar kesal. “Kalau malam Minggu, anak mudanya nongkrong di mana?” “Di mana, ya?” Unoy menoleh pada kawannya. Dia menggeleng. “Malang Town Square!” katanya seperti tiba-tiba teringat, juga setengah tak percaya itu benar terjadi, “Town square yang konsepnya nggak town square.” “Badai town square.” “Mo dianter ke sana?” oh nggak nggak nggak. Itu tempat terakhir yang pengen kudatangi.

Kalimat pengujungku disusul kedatangan pesanan kami. Standar, pisang coklat keju, roti bakar, dan milo panas. Yang tidak biasa adalah jagung bakar serut. “Ini makanan untuk orang males,” kata Unoy. “Jagungnya dipipil?” “Iya, jadi tinggal makan.” “Aku baru nemu deh.” Tiba-tiba Unoy menyodorkan telapak tangannya padaku. “Selamat, ya, mbak. Aku juga baru tahu 4 bulan yang lalu.” Hihihi.

Kami pulang dari Payung, hampir jam satu. Keesokan harinya, sebelum mencapai kereta pukul 2, kami menyempatkan diri ke Pasar Buku Wilis, tempat cari-cari buku antik di Malang, dan makan tahwa di Merbabu. 19 jam yang berharga.

No comments: