Klik Bila Perlu

Thursday, April 17, 2014

Surat dari Emak

Sengaja laki-laki itu memilih duduk di ujung bangku panjang. Dihelanya nafas dalam-dalam. Kepenatannya sedikit menguap bersama udara yang dihembusnya kembali. Sejenak diarahkan pandangannya ke depan, hijau daun dan atap-atap rumah membuat matanya agak teduh. Namun merah bougenville kembali meriakkan hatinya. Masih digenggamnya surat dari Emak yang datang seminggu lalu. Dibacanya lagi, entah untuk ke berapa kali.
Emak sudah dengar kabar kelulusanmu dari Paklik Tarjo, Le. Sudah 7 bulan lalu. Kok nggak ndang pulang tho, Le...
Awan di langit berpencar. Kehilangan bentuk dan memudar. Dia menyandarkan punggungnya. Meletakkan lengannya di atas sandaran itu. Dihirupnya lagi udara banyak-banyak, sampai-sampai seperti dapat  meledakkan dadanya. Sekian detik laki-laki itu baru sadar, surat di tangannya terlepas dari genggaman. Dia menunduk. Mengambil surat yang hampir diinjak orang lewat. Tiba-tiba kepalanya seperti ditindih loko kereta. Matanya dikelilingi kelebat-kelebat cahaya. Dia mengangkat kakinya dari lantai. Menyejajarkan kepala dengan pantat. Di bangku panjang itu, dia meringkuk seperti bayi. Ditatapinya betis-betis yang melintas. Satu terbungkus jins. Disusul dengan yang terang kecoklatan dan dibiarkan terbuka di bawah rok merah. Lalu lengang. Beberapa menit. Pandangannya melekat pada bangku bercat putih di depannya yang serupa dengan yang sedang  ditidurinya. Di depannya ada tong sampah di tepi taman. Tong sampah. Rel kereta. Bangku bercat putih. Rel lagi. Tong sampah lagi. Hanya bola mata laki-laki itu yang bergerak-gerak, sebelum bau tanah dari taman membawanya ke udara lembab yang pernah diakrabinya. Pematang sawah di belakang rumah. Suara tangis melengking ditingkahi tawa ejekan yang lain. “Ayo kalo berani, nggak ‘kan ada yang belain. “ “Mana bapakmu. Ayo mana? Nggak punya bapak, ye...” “Anak lonte.” Tiga anak laki-laki bertelanjang dada. Yang satu, tangan kanannya mengacungkan tinju, tangan kirinya memegang layangan robek. Anak yang lain memamerkan pantat penuh bekas bisul padanya. Pintu bilik terbuka. Keluar perempuan, rambutnya bergelung. Rok kembang-kembangnya sejengkal dari lutut dan berlipit lebar. “Anak bajing, ayo sana pergi! Siapa ngajari kalian ngomong kayak gitu? Ayo-ayo sana pergi!” anak-anak itu berlarian, menjauh. Muka mereka meringis. Cekikikan.
Perempuan itu menyentuh lengan anak laki-laki yang dari tadi diam saja. Lengan anaknya. Usianya baru sepuluh tahun, jago kelahi, tapi kalau teman-temannya mulai mengejeknya seperti itu, dia diam saja. Hanya pundaknya yang naik turun tak beraturan dan urat lehernya yang menegang. “Peermu udah dikerjain tho, Le? Besok Mak beliin. Layangan dah sobek gitu aja kok direbutin.”
“Mak, bapak mana sih Mak?” Mata anak laki-laki itu mencari mata Emaknya yang bersembunyi di balik kelopaknya. Seingatnya, belum pernah didapatnya jawaban atas pertanyaannya itu. Dia hanya ingat air mengalir dari mata yang terpejam itu. Hangat dalam sentuhan jari-jarinya. Dipeluknya perempuan itu.
Apa kamu nggak pengen pulang, Le? Emak memang nggak punya apa-apa. Tapi barang seperak dua perak, Emak masih ada. Cukup untuk modal, kalo kamu mau jualan di pasar. Atau kita beli motor saja? Kamu udah lama tho pengen. Memang duitnya nggak cukup. Tapi pak Mansur bisa ngasi kredit kok, Le. Paklikmu juga pasti mau ngutangi kurangnya. Nanti kan bisa ngojek. Kalau kamu nggak mau bawa, bisa Udin atau Soleh. Kamu kemaren ditanyain Pak Guru. Kalau Aryo pulang nanti, mau nggak ya dia  ngajar di Madrasah, begitu katanya. Sri juga ngajar di sana. Atau kamu sudah ayem di Bandung?
Ayem di Bandung? Pertanyaan dalam surat ini membuat laki-laki yang dipanggil Aryo dalam surat itu bangun dari tidurnya. Duduk dengan kaki masih di atas bangku. Dia merasa kerongkongannya menyempit. Jam lima masih 29 menit lagi. Dia merogoh saku celananya. Membuka lipatan karcis. 12B. Kereta berangkat pukul 17.00 WIB. Ruang tunggu yang beberapa menit lalu masih menyisakan beberapa bangku kosong mulai penuh sesak. Empat anak muda bercelana cargo dengan tas super besar yang tidak lagi kebagian bangku, memilih masuk ke Dunkin Donat. Seorang bapak-bapak memilih menjaga tas di bawah plang sebuah rumah makan dan membiarkan anaknya berlari mengikuti ibunya yang sedang menuju tukang koran.
Laki-laki itu mengeluarkan rokok dari saku kaosnya. Membakar ujungnya dengan api dari korak gas yang ia pinjam dari bapak di sebelahnya. Orang berlalu lalang semakin banyak. Berjalan di depannya tanpa permisi. Membaur dengan asap rokok. Dia seperti mengenali sebuah sketsa. Sketsa wajah. Tapi, bukan. Itu hanya bayangannya. Bayangan rambut keriting yang coba disembunyikan dalam kepangan. Padahal kalau rambutnya dikepang begitu, pipi tembamnya makin seperti kue serabi.
“Ada yang bisa bantu saya selepas kuliah nanti?” Perempuan yang bertanya itu bernama Dewi. Sebagai dosen baru, baru asisten dosen sebenarnya, dia beruntung karena teman-teman Aryo tidak mengganggunya. Mungkin hanya menggodanya, sedikit. Apalagi Dewi yang cuma terpaut 4 tahun dengan mereka, tidak pernah menganggap serius keisengan mereka. Anak-anak lain tidak mendengar ucapan Dewi, karena bahkan dalam jam-jam kuliah mereka memang tidak pernah memperhatikannya. Aryo mendekat ke meja dosen, “Saya.”
“Oh, kau, Aryo.” Dewi terkesiap. Suara itu terlalu dekat. Bahkan hembusan nafas Aryo menggerakkan beberapa rambut di poninya. Tidak ada suara yang ditekan atau intonasi yang berbeda. Siang itu untuk pertama kali Dewi bersama Aryo. Berbeda dengan..
Aryo merasakan kantung celananya bergetar. Dibarengi dengan mengalunnya lagu senorita yang dia download menjadi ring tone-nya. Di layar hpnya nampak tanda hati sedang bergerak-gerak. “Rio, kamu di mana, Sayang?” Suara Dewi terdengar sengau. Dua hari ini dia terserang flu. “Hari ini kamu ada interview lho? Nggak lupa, kan?” Aryo diam saja. “Kamu di mana sih? Aku jemput ya? Kamu kan sudah lama ngincer kerja di sana. Tinggal interview sekali lagi. Sayang kalo dilewatin.” Dewi bukan perempuan yang cerewet. Tetapi setiap kali berhadapan dengan Aryo, dia seperti baling-baling. Mengulangi kalimat yang sama berkali-kali.
“Kayaknya kalau kamu nggak jalan lagi sama aku, kamu pasti cepat dapat pacar lagi ya.” Dewi sudah mengulagi kalimat yang sama 3 kali. Siang itu, mereka bertemu di hotel. Aryo menunjukkan pada Dewi surat dari kampung yang dia terima dua hari lalu. Dewi duduk di sofa berhadapan dengan Aryo yang bersila di pinggir tempat tidur. Dia menjulurkan kakinya sampai ke pinggir kasur. Sofa itu tampak kebesaran untuknya. Dia tampak seperti anak 9 tahun. Dewi yang diwarnai merah marun. Serasi dengan bajunya yang bermodel kimono dengan motif bunga sepatu. Kuku-kukunya sengaja dipanjangkan dan dipotong meruncing. Dua kali dalam sebulan, dia merawatnya di salon. Pedikur, menikur, kutikula, atau apalah. Dunia yang jauh dari bayangannya, sebelum dia berhubungan Dewi. Aryo memainkan jari kaki Dewi yang terulur sampai di pangkal pahanya. Biasanya, Dewi melakukannya tiap kali mereka akan bercinta. Dewi suka kalau Aryo mulai menciumi jari-jari kakinya. Tapi kali ini Aryo sibuk menatap kusen jendela bercat biru itu. “Kamu mau berapa lama pulangnya?” Beberapa menit Aryo membiarkan tanya itu tidak berjawab. “Sri itu dulu pacarmu ya? Jangan-jangan sekarang masih?” Aryo tetap tak ingin menanggapi pertanyaan Dewi. “Nanti kalau kita putus, apa kamu akan kawin sama dia?” Aryo memejamkan matanya. Merasakan angin yang masuk dari jendela, yang mengalun seperti gumaman lagu yang dia dengar dari mulut emak kalau sesekali dia pulang. Dia menyandarkan punggungnya ke tembok. “Honey, kamu pulangnya jangan lama-lama ya. Apalagi sampai nggak balik.” Dewi mengakhiri kalimat bersamaan dengan tangannya melingkari leher Aryo. Kaki kanannya menimpa paha Aryo. Aryo memegang tangan Dewi. “Kita pulang, yuk.”
“Honey, aku nggak bisa denger kamu. Kamu di mana sih? Kok berisik banget.”
Loko kereta Gambir-Gubeng mulai nampak. Sedetik kemudian berhenti tepat di depannya. “Kamu marah ya? Oke deh, kamu boleh aja pulang. Tapi bilang dulu berapa lama?”
Langit menapaki hitungan detik-menit.
Perhatian-perhatian! Kereta api ekspres jurusan Gubeng-Surabaya akan segera berangkat. Kepada penumpang yang masih berada di bawah harap segera naik kembali.
Lelaki itu berdiri. “Aduh, Yang, hpku lobet ni. Nanti aku telepon lagi deh. Atau kamu kabarin aku kek. Ya?” Aryo berjalan keluar. Surat dari emak yang dipegangnya tertiup angin.
Dia membuka pintu dari teralis. “Mas, mau ke mana? itu keretanya...” Aryo membiarkan peringatan pria berseragam itu diterbangkan angin.  

No comments: