Sengaja laki-laki itu memilih duduk di ujung bangku panjang. Dihelanya
nafas dalam-dalam. Kepenatannya sedikit menguap bersama udara yang dihembusnya
kembali. Sejenak diarahkan pandangannya ke depan, hijau daun dan atap-atap
rumah membuat matanya agak teduh. Namun merah bougenville kembali meriakkan hatinya. Masih
digenggamnya surat dari Emak yang datang seminggu lalu. Dibacanya lagi, entah
untuk ke berapa kali.
Emak sudah dengar kabar kelulusanmu dari
Paklik Tarjo, Le. Sudah 7 bulan lalu. Kok nggak ndang pulang tho, Le...
Awan
di langit berpencar. Kehilangan bentuk dan memudar. Dia menyandarkan
punggungnya. Meletakkan lengannya di atas sandaran itu. Dihirupnya lagi udara
banyak-banyak, sampai-sampai seperti dapat
meledakkan dadanya. Sekian detik laki-laki itu baru sadar, surat di
tangannya terlepas dari genggaman. Dia menunduk. Mengambil surat yang hampir
diinjak orang lewat. Tiba-tiba kepalanya seperti ditindih loko kereta. Matanya
dikelilingi kelebat-kelebat cahaya. Dia mengangkat kakinya dari lantai. Menyejajarkan
kepala dengan pantat. Di bangku panjang itu, dia meringkuk seperti bayi.
Ditatapinya betis-betis yang melintas. Satu terbungkus jins. Disusul dengan
yang terang kecoklatan dan dibiarkan terbuka di bawah rok merah. Lalu lengang.
Beberapa menit. Pandangannya melekat pada bangku bercat putih di depannya yang
serupa dengan yang sedang ditidurinya.
Di depannya ada tong sampah di tepi taman. Tong sampah. Rel kereta. Bangku
bercat putih. Rel lagi. Tong sampah lagi. Hanya bola mata laki-laki itu yang bergerak-gerak,
sebelum bau tanah dari taman membawanya ke udara lembab yang pernah
diakrabinya. Pematang sawah di belakang rumah. Suara tangis melengking
ditingkahi tawa ejekan yang lain. “Ayo kalo berani, nggak ‘kan ada yang belain.
“ “Mana bapakmu. Ayo mana? Nggak punya bapak, ye...” “Anak lonte.” Tiga anak
laki-laki bertelanjang dada. Yang satu, tangan kanannya mengacungkan tinju,
tangan kirinya memegang layangan robek. Anak yang lain memamerkan pantat penuh
bekas bisul padanya. Pintu bilik terbuka. Keluar perempuan, rambutnya
bergelung. Rok kembang-kembangnya sejengkal dari lutut dan berlipit lebar.
“Anak bajing, ayo sana pergi! Siapa ngajari kalian ngomong kayak gitu? Ayo-ayo
sana pergi!” anak-anak itu berlarian, menjauh. Muka mereka meringis. Cekikikan.
Perempuan
itu menyentuh lengan anak laki-laki yang dari tadi diam saja. Lengan anaknya.
Usianya baru sepuluh tahun, jago kelahi, tapi kalau teman-temannya mulai
mengejeknya seperti itu, dia diam saja. Hanya pundaknya yang naik turun tak
beraturan dan urat lehernya yang menegang. “Peermu udah dikerjain tho, Le? Besok
Mak beliin. Layangan dah sobek gitu aja kok direbutin.”
“Mak,
bapak mana sih Mak?” Mata anak laki-laki itu mencari mata Emaknya yang
bersembunyi di balik kelopaknya. Seingatnya, belum pernah didapatnya jawaban
atas pertanyaannya itu. Dia hanya ingat air mengalir dari mata yang terpejam
itu. Hangat dalam sentuhan jari-jarinya. Dipeluknya perempuan itu.
Apa kamu nggak pengen pulang, Le? Emak
memang nggak punya apa-apa. Tapi barang seperak dua perak, Emak masih ada.
Cukup untuk modal, kalo kamu mau jualan di pasar. Atau kita beli motor saja?
Kamu udah lama tho pengen. Memang duitnya nggak cukup. Tapi pak Mansur bisa
ngasi kredit kok, Le. Paklikmu juga pasti mau ngutangi kurangnya. Nanti kan bisa
ngojek. Kalau kamu nggak mau bawa, bisa Udin atau Soleh. Kamu kemaren ditanyain
Pak Guru. Kalau Aryo pulang nanti, mau nggak ya dia ngajar di Madrasah, begitu katanya. Sri juga
ngajar di sana. Atau kamu sudah ayem di Bandung?
Ayem
di Bandung?
Pertanyaan dalam surat ini membuat laki-laki yang dipanggil Aryo dalam surat
itu bangun dari tidurnya. Duduk dengan kaki masih di atas bangku. Dia merasa
kerongkongannya menyempit. Jam lima masih 29 menit lagi. Dia merogoh saku
celananya. Membuka lipatan karcis. 12B. Kereta berangkat pukul 17.00 WIB. Ruang
tunggu yang beberapa menit lalu masih menyisakan beberapa bangku kosong mulai
penuh sesak. Empat anak muda bercelana cargo dengan tas super besar yang tidak
lagi kebagian bangku, memilih masuk ke Dunkin Donat. Seorang bapak-bapak
memilih menjaga tas di bawah plang sebuah rumah makan dan membiarkan anaknya
berlari mengikuti ibunya yang sedang menuju tukang koran.
Laki-laki
itu mengeluarkan rokok dari saku kaosnya. Membakar ujungnya dengan api dari
korak gas yang ia pinjam dari bapak di sebelahnya. Orang berlalu lalang semakin
banyak. Berjalan di depannya tanpa permisi. Membaur dengan asap rokok. Dia
seperti mengenali sebuah sketsa. Sketsa wajah. Tapi, bukan. Itu hanya
bayangannya. Bayangan rambut keriting yang coba disembunyikan dalam kepangan.
Padahal kalau rambutnya dikepang begitu, pipi tembamnya makin seperti kue
serabi.
“Ada
yang bisa bantu saya selepas kuliah nanti?” Perempuan yang bertanya itu bernama
Dewi. Sebagai dosen baru, baru asisten dosen sebenarnya, dia beruntung karena
teman-teman Aryo tidak mengganggunya. Mungkin hanya menggodanya, sedikit.
Apalagi Dewi yang cuma terpaut 4 tahun dengan mereka, tidak pernah menganggap
serius keisengan mereka. Anak-anak lain tidak mendengar ucapan Dewi, karena
bahkan dalam jam-jam kuliah mereka memang tidak pernah memperhatikannya. Aryo
mendekat ke meja dosen, “Saya.”
“Oh, kau, Aryo.”
Dewi terkesiap. Suara itu terlalu dekat. Bahkan hembusan nafas Aryo
menggerakkan beberapa rambut di poninya. Tidak ada suara yang ditekan atau
intonasi yang berbeda. Siang itu untuk pertama kali Dewi bersama Aryo. Berbeda
dengan..
Aryo merasakan
kantung celananya bergetar. Dibarengi dengan mengalunnya lagu senorita yang dia
download menjadi ring tone-nya. Di layar hpnya nampak
tanda hati sedang bergerak-gerak. “Rio, kamu di mana, Sayang?” Suara Dewi
terdengar sengau. Dua hari ini dia terserang flu. “Hari ini kamu ada interview
lho? Nggak lupa, kan?” Aryo diam saja. “Kamu di mana sih? Aku jemput ya? Kamu
kan sudah lama ngincer kerja di sana. Tinggal interview sekali lagi. Sayang
kalo dilewatin.” Dewi bukan perempuan yang cerewet. Tetapi setiap kali
berhadapan dengan Aryo, dia seperti baling-baling. Mengulangi kalimat yang sama
berkali-kali.
“Kayaknya kalau kamu nggak jalan lagi sama aku, kamu pasti cepat dapat
pacar lagi ya.” Dewi sudah mengulagi kalimat yang sama 3 kali. Siang itu,
mereka bertemu di hotel. Aryo menunjukkan pada Dewi surat dari kampung yang dia
terima dua hari lalu. Dewi duduk di sofa berhadapan dengan Aryo yang bersila di
pinggir tempat tidur. Dia menjulurkan kakinya sampai ke pinggir kasur. Sofa itu
tampak kebesaran untuknya. Dia tampak seperti anak 9 tahun. Dewi yang diwarnai
merah marun. Serasi dengan bajunya yang bermodel kimono dengan motif bunga
sepatu. Kuku-kukunya sengaja dipanjangkan dan dipotong meruncing. Dua kali
dalam sebulan, dia merawatnya di salon. Pedikur, menikur, kutikula, atau
apalah. Dunia yang jauh dari bayangannya, sebelum dia berhubungan Dewi. Aryo
memainkan jari kaki Dewi yang terulur sampai di pangkal pahanya. Biasanya, Dewi
melakukannya tiap kali mereka akan bercinta. Dewi suka kalau Aryo mulai
menciumi jari-jari kakinya. Tapi kali ini Aryo sibuk menatap kusen jendela
bercat biru itu. “Kamu mau berapa lama pulangnya?” Beberapa menit Aryo
membiarkan tanya itu tidak berjawab. “Sri itu dulu pacarmu ya? Jangan-jangan
sekarang masih?” Aryo tetap tak ingin menanggapi pertanyaan Dewi. “Nanti kalau
kita putus, apa kamu akan kawin sama dia?” Aryo memejamkan matanya. Merasakan
angin yang masuk dari jendela, yang mengalun seperti gumaman lagu yang dia
dengar dari mulut emak kalau sesekali dia pulang. Dia menyandarkan punggungnya
ke tembok. “Honey, kamu pulangnya jangan lama-lama ya. Apalagi sampai nggak
balik.” Dewi mengakhiri kalimat bersamaan dengan tangannya melingkari leher
Aryo. Kaki kanannya menimpa paha Aryo. Aryo memegang tangan Dewi. “Kita pulang,
yuk.”
“Honey, aku nggak bisa denger kamu. Kamu di mana sih? Kok berisik banget.”
Loko kereta Gambir-Gubeng mulai nampak. Sedetik kemudian berhenti tepat di
depannya. “Kamu marah ya? Oke deh, kamu boleh aja pulang. Tapi bilang dulu
berapa lama?”
Langit menapaki hitungan detik-menit.
Perhatian-perhatian! Kereta api ekspres jurusan Gubeng-Surabaya akan segera
berangkat. Kepada penumpang yang masih berada di bawah harap segera naik
kembali.
Lelaki itu berdiri. “Aduh, Yang, hpku lobet ni. Nanti aku telepon lagi deh.
Atau kamu kabarin aku kek. Ya?” Aryo berjalan keluar. Surat dari emak yang dipegangnya tertiup angin.
Dia membuka pintu dari teralis. “Mas, mau ke mana? itu keretanya...” Aryo
membiarkan peringatan pria berseragam itu diterbangkan angin.
No comments:
Post a Comment