Kau pernah bilang kalau kau bosan dengan cerita-cerita fiksi yang
bertebaran di majalah, tabloid, atau koran di hari minggu. Katamu, kebohongan
kok dipelihara. Lahan uang pula. Maaf, kalo waktu itu aku ngetawain. Untukmu,
aku punya sebuah cerita. Bukan fiksi. Bener.
Ketawamu kok melecehkan gitu? Ini serius.
Memang sih dia nggak masuk kategori orang yang ceritanya layak dimuat di Mama O Papa. Atau jadi cerita bersambung
di tabloid langgananmu. (Berkali kau caci maki itu tabloid-tabloid dan majalah.
Tapi langganan juga.) Tapi kau pasti nggak kan nyangka peristiwa di balik
hilangnya kuku kelingking mang es doger yang setiap hari lewat depan rumahmu.
Atau tukang catet listrik yang setiap datang selalu berantem dengan ibumu.
Oke. Oke. Aku mulai ceritaku.
Perempuan itu tiap hari datang ke rumah. Kalau Mbak yang bantuin di rumah
sudah mulai ngangkatin jemuran. Kalau adikku sudah pulang sekolah. Masuk
halaman. Naruh gendongan deket kursi teras. Duduk nyandar ke kaki meja.
Sebentar. Kalau ibu keluar dan mulai ngaduk-ngaduk isi plastiknya, dia mulai
panggil-panggil, “Nit, Tiar, mama Wulan, jamu nggak?”
Dia masih muda. Sekitar 25an. Kau pasti kagum melihat kondenya. Rapi jali.
Mula-mula semua rambutnya dikumpulin ke belakang. Dan entah gimana selanjutnya.
Pokoknya diputar-putar. Disusup-susupin. Sim salabim. Jadilah cepol sekepalan
tangan. Aku nggak tahu yang sebenarnya. Cuma aku bayangin begitu prosesnya.
Postur tubuhnya kecil. Tidak terlalu kurus ataupun gemuk. Kulitnya kencang dan
kecoklatan seperti warna kardus. Urat-urat di punggung tanggannya hijau memanjang
seperti kabel listrik. Di antara anak rambutnya ada dua tahi lalat
bersebelahan.
Jarang sekali aku dengar dia bicara. Kalau ibu bilang laba-laba satu, yuk.
Nggak usah pake telor. Segera dia ambil gelas di ember kecil yang berisi air.
Dilap. Taruh di pangkuan. Disobeknya bungkus jamu, tuang air panas, madu, aduk.
Terakhir, ambil cutter. Iris jeruk
nipis. Peras sampai ujung jarinya memerah dan tulang-tulang jarinya menegang.
Kami biasa panggil dia Yuk Piah. Itu bukan namanya.
Piah itu nama anak yang selalu ngekorin dia. Yang tidak pernah ketinggalan
seperti ember kobokannya.
Sore itu adikku pulang sekolah. Aku dan ibu baru
mulai ritual berjamu kami. Gebrukk. Serentak kami melihat dia dengan alis
bertaut. Adik banting sepeda.
“Kenapa, An?”
“ Tuh kan, bu. Ane ditagih bu Khodijah lagi.
Pokoknya besok Ane nggak mau sekolah kalo ibu nggak kasih uang Agustusan. Kata
bu Khodijah besok paling telat.” Ane memberi tekanan pada tiga kata
terakhirnya. Dia masuk rumah sambil menendangi apa saja di dekat kakinya. “
“Iya. Iya. Besok dikasih.”
“Udah bayaran mahal, tarikan terus-terusan,” gerutu ibu. Kata tarikan itu harus kau ucapkan dengan k glotal. Itu kata lain dari
iuran. Bahasa ibuku.
“Laba-laba satu, Yuk. Campur pegel linu, ya.”
Yuk Piah mengambil dua bungkus jamu dari plastiknya.
“Kalo Piah sudah kelas berapa? Padahal si Ane itu
sekolahnya negri lho.”
“Piah tidak sekolah, bu.”
“Kenapa?”
“Saya nggak tega ninggalin dia sendirian.”
“Yah pertama-tamanya emang gitu. Harus ditungguin.
Dulu juga saya nungguin Ane sampe pulang. Kalo dia masuk kelas kan masih bisa
ke tukang sayur. Nyempetin aja. Kadang gantian kalo mbaknya ini libur. Waktu
Ane naik ke kelas 2, dia sudah nggak mau ditungguin lagi. Malah kemenyek mau berangkat sendiri sama mang
becak katanya.”
Ibu tidak melihat Yuk Piah tidak jadi menyobek
bungkus jamu.
-o-
“Mak, masih lama,
ya?”
Dari tadi Genduk menggaruki pahanya. Matanya tidak beranjak dari pintu
kantor kecamatan ini terus.
“Bentar lagi, Nduk. Ya kamu kalau ngantuk, tidur
sajalah.”
Saya pandangi anak yang sekarang tidur di atas paha saya ini. Rambutnya sudah
mulai nyentuh pundak. Seharusnya dua minggu kemarin dipotong. Kalau panjang,
rambutnya suka kutuan. “Kalau
Bapak datang bangunin Piah ya, Mak. Bapak janji beliin baju yang ada gambar
Teletabis itu lho, Mak.”
Sekali dia duduk. Bangkit dari paha saya. Melihat sekeliling. Daun
pisang di luar jendela. Patahan dahan lamtoro gung. Ibu-ibu gendut menggendong
anaknya yang kemaren kena diare. Ada sarung yang sudah keinjak-injak di bawah
kursi. Si Anti, pacarnya mas Mindring, tukang sayur yang dulu tinggal di
sebelahku, ngelamun deket jendela. Engkongnya Mpok Estu selonjoran di kursi
panjang ruang tunggu camat. Mpok Estunya sendiri sedang berantem anak
laki-lakinya. Koran, kardus, kalender berserak setengah basah di atas ubin yang
penuh jejak kaki. Pak RT mondar-mandir ngatur tiga pemuda, kaosnya seragam,
dibantu bapak-bapak dan anak-anak laki yang tinggal di sini, ngangkat
kardus-kardus yang numpuk di mobil bak.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, adek-adek sekalian, ini baju-baju sumbangan
warga kampung Pinang. Kami sedang mengusahakan kalau kamp di sini dapet juga mi
dan sabun,” kata orang yang kaosnya diwingkis. Kaosnya seragam dengan tiga
pemuda. Genduk rebahan lagi. Menggaruk-garuk rambutnya. Betisnya.
“Mak?”
“Ehm...”
Sampe orang-orang itu selesai
ngangkut kardus-kardus, Genduk tidak ngomong apa-apa lagi.
Kalau saja, Nduk ... Kalau saja malam itu saya ndak tidur sore... Kalau
saja malam itu bapakmu tidak kecapekan ... Kalau saja malam itu saya dengerin
mas Mindring...
Kalau saja...“Nur, Nur, bangun!” Bapakè Genduk
menggoyang-goyangkan badan saya kuat sekali. Saya sedang mimpi ibu kontrakan
ngasih sayur lodeh.
“Opo sih, Mas?”
“Lihat itu! Banyunè
wis mlebu.”
Saya melongok bawah amben. Saya sudah tahu dari mas
Mindring sejak kemaren, kalau banjir sudah mulai masuk komplek depan pasar.
Tapi komplek itu dan komplek Puri masih Rp 700 naik angkot. Lihat orang-orang
lain yang tinggal di belakang komplek Puri sini tenang-tenang saja. Saya ikutan
tenang-tenang. Daerah ini lebih tinggi dari daerah di sekitarnya. Lihat aja di
spanduknya “Komplek Puri Bebas Banjir”. Ngapain panik, kata mereka.
Memang
rumah-rumah di komplek Puri sama sekali tidak kesentuh banjir. Tapi kan saya
tinggal di belakangnya. Belakang komplek. Dan sekarang banjir sudah sampe di
bawah amben yang kutiduri.
“Nur!
Picek tha matamu? Nggak liat apa. Ayo
cepat. Sana gendong Piah! Biar aku yang nylametin barang-barang.”
Bapakè
Genduk mbentak saya. Saya baru sadar, dari tadi saya hanya melihat air itu mbawai sendal.
Panci-pancian Piah. Piring plastik. Merendam TV. Kayu yang dipakai nambal pintu
juga ngambang,
kaki amben kerendem.
Baru
kemaren pintu itu ditambal
bapakè Genduk.
Setelah
Genduk lahir, semuanya habis. Kami harus pindah dan tinggal di rumah separuh
tembok 2x5 meter,
tanpa kamar. Kalo mau mandi, kami harus nimba dulu dari sumur pompa di belakang,
setelah ngantri setengah, sering juga satu jam. Saya
tidak menyesal. Kata orangtua dulu, setiap anak bawa rezekinya
sendiri-sendiri. Bapakè
Genduk juga tidak kecewa. Biarpun tabungan kami entek-entekan untuk mbayar Piah selama di kotakan kaca. Insulator atau
apalah namanya.
Genduk
lahir sebelum waktunya. Kandungan saya baru delapan bulan jalan. Sejak hamil si
Genduk, bakso bapakè Genduk selalu
kehabisan. Kami bahkan bisa nggedekno
dagangan. Pagi itu, saya jatuh di kamar mandi. Kata bu bidan, saya kurang
istirahat. Harus diopname. Tapi saya tidak mau. Siapa yang akan bantuin bapakè
Genduk, apalagi
sekarang daging yang kami giling nambah 5 kilo. Kasihan bapakè Genduk kalo harus kerja sendiri.
Besoknya perutku malah mules-mules. Nyeri nggak ketulungan. Tulang rasanya
remuk. Kami ke bidan lagi. Genduk lahir cuma sebesar betis. Cuma dari kelopak matanya yang gerak-gerak sedikit itulah saya dan bapaknya berharap. Bu bidan juga khawatir. Bawa ke Bhakti Ibu aja, Bu. Kami menurut saja. Kami tahu dan mulai ngitung-ngitung. Atau mungkin kami tidak sempat ngitung. Suster itu yang ngitung. Ngasi kami angka-angka yang bikin sesak dada. Benar saja. Buat mbayar itu bapakè Genduk mesti datang ke tetangga-tetangga. Nelpon saudara di kampung.
Kami
pindah kontrakan lagi. Ya ke belakang komplek Puri itu. Yang lalu kami tinggali
selama 5 tahun, sebelum banjir datang. Tempatnya agak jauh dari kontrakan kami
dulu. Berarti lebih jauh lagi dari kampung Sasak. Padahal di situ biasanya
Bapake Genduk keliling jualan. Melihat setiap pulang dia langsung buka baju,
trus tidur, bikin saya nggak tega. Makan saja males, saking capeknya. Apalagi
nonton bola. Atau nongkrong sama tetangga kontrakan. Saya ngusulin bapakè
Genduk keliling di
komplek saja. Nyari langganan baru.
Bapaknya
Genduk, saya juga, tidak berani mengeluh. Apalah arti tinggal sumpek di sini
dibanding yang Pengeran kasih pada
kami. Nggih Genduk kuwi, Bu. Saya tahu, bapakè Genduk kecewa, setahun sebelumnya
saya sempat keguguran. Ini yang kedua saya hamil, Bu.
Meskipun sedih, bapakè Genduk tidak pernah ngersulo. Sabar ya, Nur. Eling. Memang belum waktunya. Malah itu
yang dia katakan sambil ngelus-ngelus pundak saya. Tapi saya tahu, Bu. Saya
tahu bapaknya Genduk juga ngelingke awakè. Pernah pulang-pulang bapaknya
Genduk bawa ayam jago. Dikasi Pak Haji, Nur. Katanya dengan girang. Itu setelah
cabe-cabe yang dia tanam mati semua. Mangkanya, Bu, waktu si Genduk ada, kami
ikhlas semuanya habis.Kata orang tua dulu benar juga ternyata. Bulan depannya, Pak RT bolehin bapake
Genduk mbangun kios di depan ruko. Kios kecil-kecilan. Rokok, mie, aqua.
Kami mulai bisa nyicil utang. Kami bisa beli TV. Genduk pinter nyanyi.
Niru-niru yang di TV. Setiap ke pasar, bapake Genduk beli kaset. Nitip muter ke
tetangga. Seminggu sebelum puasa, pulang dari pasar dia bawa tip. Malu numpang
terus, Nur.
Trus wonten banjir niku. Yang nyisa cuma tip, kalung—pengasih
Mbok Jum di Pamulang waktu saya menikah, dan Genduk. Mbok Jum itu yang ngasuh
saya sejak umur 7 tahun. Mbok saya meninggal. Bapak kawin lagi. Saya tidak mau
tinggal dengan bapak. Setelah saya menikah, mbok Jum ikut bibi saya yang di
Pamulang. Dia jualan jamu di sana.
Kulo nrimo mawon kersane Pengeran,
Bu. Kulo tasik nggada Genduk. Waktu bapakè Genduk nyuruh saya untuk
sementara tinggal di balai kantor kecamatan, saya diam saja. Pergi ke sana.
Nurut apa yang dia bilang.
Berhari-hari. Berhari-hari, saya tidak bisa mikir apa-apa. “Kamu diam saja
di ujung situ tuh. Deket tiang yang no. Anak lo aja kagak diwaro. Padahal dia
nangis mulu,” begitu kata mpok Estu tiap kali nyritain pertama kali saya datang
ke kantor kecamatan yang dijadiin tempat ngumpul orang-orang yang kena banjir
kayak saya. Saya jadi malu sendiri. Saya tidak tahu ke mana pikiran saya waktu
itu. Kadang saya melihat air itu sampai di balai kecamatan. Kadang saya melihat
saya yang hanyut.
Dua
minggu di sana kami mulai tidak kebagian jatah. Jatahnya kan dibagi, Bu. Bukan
di sini saja yang mau makan. Yang kebanjiran kan semua Tangerang. Orang sampai
Daan Mogot juga kok. Tiap petugas itu ngomong begitu, kami diam saja.
Ini
minggu ketiga. Kami tidak lagi mengharap bantuan akan datang. Satu dua orang
mulai pergi dari sana. Mau ikut saudara yang tidak kebanjiran. Atau mau pulang
kampung saja. Kami, yang masih tinggal, persis anak yatim. Tidak punya saudara.
Tidak juga rumah kampung. Atau kalaupun ada, terlalu gengsi sama tetangga dan
saudara.
Saya
bilang ke bapakè Genduk,
sehari lagi di sini aku wis pasti gendeng, Mas. Ibu pasti bisa mbayangin.
Mereka mulai ngomong yang nggak-nggak. Ada yang bilang punya sawah pirang-pirang kedok di kampung. Mpok
Estu bilang anaknya diambil mantu menteri. Bapaknya Rusti bilang sebulan lagi
dia diminta kerja di Telkom. Semua njladur.
Tapi bapaknya Genduk melarang saya pergi. Selagi kita belum dapet tempat, kamu
di sini aja. Biar aku saja yang cari makan. Nggak usah dengerin omongan
orang-orang.
Karena
kami sudah tidak bisa mengharapkan bantuan lagi bapaknya Genduk dan anak laki
atau bapak-bapak pergi. Nyari kerjaan entah di mana. Ada yang bilang mereka
ojek gerobak di jalan tol. Ada yang bilang mereka jadi maling di pasar. Saya
sudah nggak mau dengerin omongan mereka lagi.
Orang-orang
yang duduk di trotoar misuh-misuh
waktu muka, baju, dan rambut mereka kecipratan air dari lubang jalan depan
kantor kecamatan. Mereka baru pulang dari pasar. Mereka nguli di sana. Bapaknya
Genduk juga ada. Mereka tidak jadi marah waktu tahu truk itu datang dari Darma
Wanita Kotamadya. Sekejap orang-orang orang yang masih tinggal di kantor
kecamatan ini berkumpul di pantat truk itu. Bapake Genduk juga. Didorongnya Genduk
yang sedang main-mainin kerah bajunya. Jaga Piah! Sedetik bapake Genduk
melihatku. Diberikan Piah padaku. Kerumunan itu minggir ke pagar kecamatan.
Truk itu baru mau markir. Mereka desak-desakkan. Genduk nangis. Saya
nepuk-nepuk pahanya. Biasanya dia akan tenang kalau ditepuk-tepuk gitu.
Kerumunan itu makin desek-desekan. Mereka pada injek-injekan. Genduk tak mau
diam. Sekarang dia menjerit-jerit. Berontak dari gendongan saya. Petugas itu
mulai membuka pantat truk. Bungkusan tas kresek warna-warni itu tidak sempat
dibagikan. Dari tangan petugas, isi bungkusan itu beterbangan direbut
tangan-tangan di bawahnya. Mie instan kelempar sampai di bawah truk. Roti-roti
sudah tidak utuh lagi. Plastik kresek robek terinjak. Beras-beras berceceran.
Orang rame-rame itu makin rame ditambah suara jejeritan. Saya gendong Genduk ke
deket orang-orang. Orang-orang pada berantem. Pukul-pukulan. Tendang.
Darah. Saya peluk Genduk makin erat. Tangisnya semakin kenceng. Saya tidak tahu
apa yang dipingininya. Matanya keluar air mata tapi tidak bersuara. Hanya
sesenggukan. Memukul-mukul pundak saya.
Akhirnya orang-orang itu dipisahin petugas Kecamatan. Tiga orang
tergeletak. Di samping ban. Di pinggir trotoar. Satu lagi di pojok pagar. Hanya
dari baju, mereka dapat dikenali. Muka mereka penuh darah campur becekan dan
beras. Seorang, nggak tahu siapa. Padli yang tadi pake kaos merah. Dan bapake
Genduk. Saya tidak tahu ada yang punya dendam ke bapake Genduk. Gosipnya Munir, preman
depan komplek, dan teman-temannya itu pelakunya. Dia dendam karena bapakè Genduk
melaporkan dia waktu maling di pasar.
Saya tidak mau membawa jenazah bapakè Genduk pulang
kampung, Bu. Saya juga tidak memberitahu saudara-saudara. Sehari setelah
bapaknya Genduk dikubur di pemakaman umum, saya pergi dari sana. Ke tempat bibi
di Pamulang. Saya bantu jualan sayur di pasar. Setiap pagi Genduk saya bawa.
Dia tidur di samping saya. Alas kain gendongan. Sorenya saya bantu mbok Jum
nyiapin jamu. Ngupas kunyit. Sambiloto. Asem. Nyuci botol. Ndeplok.
Nyaring.
Sebulan di sana, badan Genduk panas. Dia nangis terus. Siangnya Bibi
ngomong ke saya, bukannya keberatan kamu ikut di pasar, Nur. Aku malah seneng
ada yang nemenin. Tapi kasihan anakmu. Masih kecil. Kasihan kalo kena angin
subuh terus. Tapi kalo ditinggal di rumah, siapa yang jaga? Apa nggak lebih
baik kamu cari kerjaan lain? Mbok Jum nggak mau saya pergi. Tapi saya nggak
enak sama bibi.
Bibi ngasih alamat temannya di Kebayoran. Teman Bibi itu menerima cucian
dan memang lagi butuh buruh cuci. Hampir 2 tahun saya kerja di Kebayoran.
Upahnya tidak banyak. Tapi cukup. Buat makan sehari-hari atau mainan Genduk.
Yang paling penting, saya tidak perlu meninggalkan Genduk.
Saya sedang njemur cucian waktu Genduk yang lagi makan nunjuk-nunjuk kaos
kuning yang baru akan saya gantung di hanger. Kenapa, Nduk? Genduk menunjuk
kaos itu lagi. Kaos kuning yang ada gambar teletabisnya itu. Itu baju mbak
Rina, Nduk. Saya tahu Genduk pengen kaos itu. Saya bilang besok kita akan
pasar. Beli kaos yang ada gambar teletabisnya juga. Tidak cuma kuning. Merah.
Hijau. Biru. Kita akan beli semuanya. Genduk menangis. Dia tetap tidak mau.
Tangisnya semakin kuat. Piring yang dipegangnya dilempar. Dia menangis.
Memukul-mukul pintu. Saya biarkan saja Genduk seperti itu.
Besoknya saya tidak mengambil cucian lagi. Genduk panas tinggi. Saya bawa
dia ke puskesmas.
Saya ingat mbok Jum. Saya ingat semua yang diajarkan pada saya. Lalu saya
milih jualan jamu saja. Supaya Genduk bareng terus sama saya.
Yuk Piah menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian dia menyobek bungkus jamu
laba-laba yang sedari tadi dipegangnya. Memasukkannya ke dalam gelas yang sudah
dilap. Menuang air panas, madu, aduk. Terakhir, mengambil cutter. Iris jeruk
nipis. Dia peras sampai ujung jarinya memerah dan tulang-tulang jarinya menegang.
Kesamaan tempat dan nama di luar tanggung jawabku ya. Yang jelas, cerita
ini, yang kusampaikan padamu, kudengar darinya suatu sore.
No comments:
Post a Comment