Klik Bila Perlu

Thursday, April 17, 2014

Piah

Kau pernah bilang kalau kau bosan dengan cerita-cerita fiksi yang bertebaran di majalah, tabloid, atau koran di hari minggu. Katamu, kebohongan kok dipelihara. Lahan uang pula. Maaf, kalo waktu itu aku ngetawain. Untukmu, aku punya sebuah cerita. Bukan fiksi. Bener.
Ketawamu kok melecehkan gitu? Ini serius.
Memang sih dia nggak masuk kategori orang yang ceritanya layak dimuat di Mama O Papa. Atau jadi cerita bersambung di tabloid langgananmu. (Berkali kau caci maki itu tabloid-tabloid dan majalah. Tapi langganan juga.) Tapi kau pasti nggak kan nyangka peristiwa di balik hilangnya kuku kelingking mang es doger yang setiap hari lewat depan rumahmu. Atau tukang catet listrik yang setiap datang selalu berantem dengan ibumu.   
Oke. Oke. Aku mulai ceritaku.
Perempuan itu tiap hari datang ke rumah. Kalau Mbak yang bantuin di rumah sudah mulai ngangkatin jemuran. Kalau adikku sudah pulang sekolah. Masuk halaman. Naruh gendongan deket kursi teras. Duduk nyandar ke kaki meja. Sebentar. Kalau ibu keluar dan mulai ngaduk-ngaduk isi plastiknya, dia mulai panggil-panggil, “Nit, Tiar, mama Wulan, jamu nggak?”    
Dia masih muda. Sekitar 25an. Kau pasti kagum melihat kondenya. Rapi jali. Mula-mula semua rambutnya dikumpulin ke belakang. Dan entah gimana selanjutnya. Pokoknya diputar-putar. Disusup-susupin. Sim salabim. Jadilah cepol sekepalan tangan. Aku nggak tahu yang sebenarnya. Cuma aku bayangin begitu prosesnya. Postur tubuhnya kecil. Tidak terlalu kurus ataupun gemuk. Kulitnya kencang dan kecoklatan seperti warna kardus. Urat-urat di punggung tanggannya hijau memanjang seperti kabel listrik. Di antara anak rambutnya ada dua tahi lalat bersebelahan.
Jarang sekali aku dengar dia bicara. Kalau ibu bilang laba-laba satu, yuk. Nggak usah pake telor. Segera dia ambil gelas di ember kecil yang berisi air. Dilap. Taruh di pangkuan. Disobeknya bungkus jamu, tuang air panas, madu, aduk. Terakhir, ambil cutter. Iris jeruk nipis. Peras sampai ujung jarinya memerah dan tulang-tulang jarinya menegang.
Kami biasa panggil dia Yuk Piah. Itu bukan namanya. Piah itu nama anak yang selalu ngekorin dia. Yang tidak pernah ketinggalan seperti ember kobokannya.
Sore itu adikku pulang sekolah. Aku dan ibu baru mulai ritual berjamu kami. Gebrukk. Serentak kami melihat dia dengan alis bertaut. Adik banting sepeda.
“Kenapa, An?”
“ Tuh kan, bu. Ane ditagih bu Khodijah lagi. Pokoknya besok Ane nggak mau sekolah kalo ibu nggak kasih uang Agustusan. Kata bu Khodijah besok paling telat.” Ane memberi tekanan pada tiga kata terakhirnya. Dia masuk rumah sambil menendangi apa saja di dekat kakinya. “
“Iya. Iya. Besok dikasih.”
“Udah bayaran mahal, tarikan terus-terusan,” gerutu ibu. Kata tarikan itu harus kau ucapkan dengan k glotal. Itu kata lain dari iuran. Bahasa ibuku.
“Laba-laba satu, Yuk. Campur pegel linu, ya.”
Yuk Piah mengambil dua bungkus jamu dari plastiknya.
“Kalo Piah sudah kelas berapa? Padahal si Ane itu sekolahnya negri lho.”
“Piah tidak sekolah, bu.”
“Kenapa?”
“Saya nggak tega ninggalin dia sendirian.”
“Yah pertama-tamanya emang gitu. Harus ditungguin. Dulu juga saya nungguin Ane sampe pulang. Kalo dia masuk kelas kan masih bisa ke tukang sayur. Nyempetin aja. Kadang gantian kalo mbaknya ini libur. Waktu Ane naik ke kelas 2, dia sudah nggak mau ditungguin lagi. Malah kemenyek mau berangkat sendiri sama mang becak katanya.”
Ibu tidak melihat Yuk Piah tidak jadi menyobek bungkus jamu.
-o-

Mak, masih lama, ya? Dari tadi Genduk menggaruki pahanya. Matanya tidak beranjak dari pintu kantor kecamatan ini terus.
Bentar lagi, Nduk. Ya kamu kalau ngantuk, tidur sajalah. Saya pandangi anak yang sekarang tidur di atas paha saya ini. Rambutnya sudah mulai nyentuh pundak. Seharusnya dua minggu kemarin dipotong. Kalau panjang, rambutnya suka kutuan. Kalau Bapak datang bangunin Piah ya, Mak. Bapak janji beliin baju yang ada gambar Teletabis itu lho, Mak.
Sekali dia duduk. Bangkit dari paha saya. Melihat sekeliling. Daun pisang di luar jendela. Patahan dahan lamtoro gung. Ibu-ibu gendut menggendong anaknya yang kemaren kena diare. Ada sarung yang sudah keinjak-injak di bawah kursi. Si Anti, pacarnya mas Mindring, tukang sayur yang dulu tinggal di sebelahku, ngelamun deket jendela. Engkongnya Mpok Estu selonjoran di kursi panjang ruang tunggu camat. Mpok Estunya sendiri sedang berantem anak laki-lakinya. Koran, kardus, kalender berserak setengah basah di atas ubin yang penuh jejak kaki. Pak RT mondar-mandir ngatur tiga pemuda, kaosnya seragam, dibantu bapak-bapak dan anak-anak laki yang tinggal di sini, ngangkat kardus-kardus yang numpuk di mobil bak.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, adek-adek sekalian, ini baju-baju sumbangan warga kampung Pinang. Kami sedang mengusahakan kalau kamp di sini dapet juga mi dan sabun,” kata orang yang kaosnya diwingkis. Kaosnya seragam dengan tiga pemuda. Genduk rebahan lagi. Menggaruk-garuk rambutnya. Betisnya.
“Mak?”
“Ehm...”
 Sampe orang-orang itu selesai ngangkut kardus-kardus, Genduk tidak ngomong apa-apa lagi.
Kalau saja, Nduk ... Kalau saja malam itu saya ndak tidur sore... Kalau saja malam itu bapakmu tidak kecapekan ... Kalau saja malam itu saya dengerin mas Mindring...
Kalau saja...“Nur, Nur, bangun!” Bapakè Genduk menggoyang-goyangkan badan saya kuat sekali. Saya sedang mimpi ibu kontrakan ngasih sayur lodeh.
Opo sih, Mas?”
“Lihat itu! Banyunè wis mlebu.”
Saya melongok bawah amben. Saya sudah tahu dari mas Mindring sejak kemaren, kalau banjir sudah mulai masuk komplek depan pasar. Tapi komplek itu dan komplek Puri masih Rp 700 naik angkot. Lihat orang-orang lain yang tinggal di belakang komplek Puri sini tenang-tenang saja. Saya ikutan tenang-tenang. Daerah ini lebih tinggi dari daerah di sekitarnya. Lihat aja di spanduknya “Komplek Puri Bebas Banjir”. Ngapain panik, kata mereka.
Memang rumah-rumah di komplek Puri sama sekali tidak kesentuh banjir. Tapi kan saya tinggal di belakangnya. Belakang komplek. Dan sekarang banjir sudah sampe di bawah amben yang kutiduri.
Nur! Picek tha matamu? Nggak liat apa. Ayo cepat. Sana gendong Piah! Biar aku yang nylametin barang-barang.
Bapakè Genduk mbentak saya. Saya baru sadar, dari tadi saya hanya melihat air itu mbawai sendal. Panci-pancian Piah. Piring plastik. Merendam TV. Kayu yang dipakai nambal pintu juga ngambang, kaki amben kerendem. Baru kemaren pintu itu ditambal bapakè Genduk.
Setelah Genduk lahir, semuanya habis. Kami harus pindah dan tinggal di rumah separuh tembok 2x5 meter, tanpa kamar. Kalo mau mandi, kami harus nimba dulu dari sumur pompa di belakang, setelah ngantri setengah, sering juga satu jam. Saya tidak menyesal. Kata orangtua dulu, setiap anak bawa rezekinya sendiri-sendiri. Bapakè Genduk juga tidak kecewa. Biarpun tabungan kami entek-entekan untuk mbayar Piah selama di kotakan kaca. Insulator atau apalah namanya.
Genduk lahir sebelum waktunya. Kandungan saya baru delapan bulan jalan. Sejak hamil si Genduk, bakso bapakè Genduk selalu kehabisan. Kami bahkan bisa nggedekno dagangan. Pagi itu, saya jatuh di kamar mandi. Kata bu bidan, saya kurang istirahat. Harus diopname. Tapi saya tidak mau. Siapa yang akan bantuin bapakè Genduk, apalagi sekarang daging yang kami giling nambah 5 kilo. Kasihan bapakè Genduk kalo harus kerja sendiri. Besoknya perutku malah mules-mules. Nyeri nggak ketulungan. Tulang rasanya remuk. Kami ke bidan lagi. 
Genduk lahir cuma sebesar betis. Cuma dari kelopak matanya yang gerak-gerak sedikit itulah saya dan bapaknya berharap. Bu bidan juga khawatir. Bawa ke Bhakti Ibu aja, Bu. Kami menurut saja. Kami tahu dan mulai ngitung-ngitung. Atau mungkin kami tidak sempat ngitung. Suster itu yang ngitung. Ngasi kami angka-angka yang bikin sesak dada. Benar saja. Buat mbayar itu bapakè Genduk mesti datang ke tetangga-tetangga. Nelpon saudara di kampung.
Kami pindah kontrakan lagi. Ya ke belakang komplek Puri itu. Yang lalu kami tinggali selama 5 tahun, sebelum banjir datang. Tempatnya agak jauh dari kontrakan kami dulu. Berarti lebih jauh lagi dari kampung Sasak. Padahal di situ biasanya Bapake Genduk keliling jualan. Melihat setiap pulang dia langsung buka baju, trus tidur, bikin saya nggak tega. Makan saja males, saking capeknya. Apalagi nonton bola. Atau nongkrong sama tetangga kontrakan. Saya ngusulin bapakè Genduk keliling di komplek saja. Nyari langganan baru.
Bapaknya Genduk, saya juga, tidak berani mengeluh. Apalah arti tinggal sumpek di sini dibanding yang Pengeran kasih pada kami. Nggih Genduk kuwi, Bu. Saya tahu, bapakè Genduk kecewa, setahun sebelumnya saya sempat keguguran. Ini yang kedua saya hamil, Bu.
Meskipun sedih, bapakè Genduk tidak pernah ngersulo. Sabar ya, Nur. Eling. Memang belum waktunya. Malah itu yang dia katakan sambil ngelus-ngelus pundak saya. Tapi saya tahu, Bu. Saya tahu bapaknya Genduk juga ngelingke awakè. Pernah pulang-pulang bapaknya Genduk bawa ayam jago. Dikasi Pak Haji, Nur. Katanya dengan girang. Itu setelah cabe-cabe yang dia tanam mati semua. Mangkanya, Bu, waktu si Genduk ada, kami ikhlas semuanya habis.Kata orang tua dulu benar juga ternyata. Bulan depannya, Pak RT bolehin bapake Genduk mbangun kios di depan ruko. Kios kecil-kecilan. Rokok, mie, aqua.
Kami mulai bisa nyicil utang. Kami bisa beli TV. Genduk pinter nyanyi. Niru-niru yang di TV. Setiap ke pasar, bapake Genduk beli kaset. Nitip muter ke tetangga. Seminggu sebelum puasa, pulang dari pasar dia bawa tip. Malu numpang terus, Nur.
Trus wonten banjir niku. Yang nyisa cuma tip, kalung—pengasih Mbok Jum di Pamulang waktu saya menikah, dan Genduk. Mbok Jum itu yang ngasuh saya sejak umur 7 tahun. Mbok saya meninggal. Bapak kawin lagi. Saya tidak mau tinggal dengan bapak. Setelah saya menikah, mbok Jum ikut bibi saya yang di Pamulang. Dia jualan jamu di sana.
Kulo nrimo mawon kersane Pengeran, Bu. Kulo tasik nggada Genduk. Waktu bapakè Genduk nyuruh saya untuk sementara tinggal di balai kantor kecamatan, saya diam saja. Pergi ke sana. Nurut apa yang dia bilang.
Berhari-hari. Berhari-hari, saya tidak bisa mikir apa-apa. “Kamu diam saja di ujung situ tuh. Deket tiang yang no. Anak lo aja kagak diwaro. Padahal dia nangis mulu,” begitu kata mpok Estu tiap kali nyritain pertama kali saya datang ke kantor kecamatan yang dijadiin tempat ngumpul orang-orang yang kena banjir kayak saya. Saya jadi malu sendiri. Saya tidak tahu ke mana pikiran saya waktu itu. Kadang saya melihat air itu sampai di balai kecamatan. Kadang saya melihat saya yang hanyut.
Dua minggu di sana kami mulai tidak kebagian jatah. Jatahnya kan dibagi, Bu. Bukan di sini saja yang mau makan. Yang kebanjiran kan semua Tangerang. Orang sampai Daan Mogot juga kok. Tiap petugas itu ngomong begitu, kami diam saja.
Ini minggu ketiga. Kami tidak lagi mengharap bantuan akan datang. Satu dua orang mulai pergi dari sana. Mau ikut saudara yang tidak kebanjiran. Atau mau pulang kampung saja. Kami, yang masih tinggal, persis anak yatim. Tidak punya saudara. Tidak juga rumah kampung. Atau kalaupun ada, terlalu gengsi sama tetangga dan saudara.
Saya bilang ke bapakè Genduk, sehari lagi di sini aku wis pasti gendeng, Mas. Ibu pasti bisa mbayangin. Mereka mulai ngomong yang nggak-nggak. Ada yang bilang punya sawah pirang-pirang kedok di kampung. Mpok Estu bilang anaknya diambil mantu menteri. Bapaknya Rusti bilang sebulan lagi dia diminta kerja di Telkom. Semua njladur. Tapi bapaknya Genduk melarang saya pergi. Selagi kita belum dapet tempat, kamu di sini aja. Biar aku saja yang cari makan. Nggak usah dengerin omongan orang-orang.
Karena kami sudah tidak bisa mengharapkan bantuan lagi bapaknya Genduk dan anak laki atau bapak-bapak pergi. Nyari kerjaan entah di mana. Ada yang bilang mereka ojek gerobak di jalan tol. Ada yang bilang mereka jadi maling di pasar. Saya sudah nggak mau dengerin omongan mereka lagi.
Orang-orang yang duduk di trotoar misuh-misuh waktu muka, baju, dan rambut mereka kecipratan air dari lubang jalan depan kantor kecamatan. Mereka baru pulang dari pasar. Mereka nguli di sana. Bapaknya Genduk juga ada. Mereka tidak jadi marah waktu tahu truk itu datang dari Darma Wanita Kotamadya. Sekejap orang-orang orang yang masih tinggal di kantor kecamatan ini berkumpul di pantat truk itu. Bapake Genduk juga. Didorongnya Genduk yang sedang main-mainin kerah bajunya. Jaga Piah! Sedetik bapake Genduk melihatku. Diberikan Piah padaku. Kerumunan itu minggir ke pagar kecamatan. Truk itu baru mau markir. Mereka desak-desakkan. Genduk nangis. Saya nepuk-nepuk pahanya. Biasanya dia akan tenang kalau ditepuk-tepuk gitu. Kerumunan itu makin desek-desekan. Mereka pada injek-injekan. Genduk tak mau diam. Sekarang dia menjerit-jerit. Berontak dari gendongan saya. Petugas itu mulai membuka pantat truk. Bungkusan tas kresek warna-warni itu tidak sempat dibagikan. Dari tangan petugas, isi bungkusan itu beterbangan direbut tangan-tangan di bawahnya. Mie instan kelempar sampai di bawah truk. Roti-roti sudah tidak utuh lagi. Plastik kresek robek terinjak. Beras-beras berceceran.
Orang rame-rame itu makin rame ditambah suara jejeritan. Saya gendong Genduk ke deket orang-orang. Orang-orang pada berantem. Pukul-pukulan. Tendang. Darah. Saya peluk Genduk makin erat. Tangisnya semakin kenceng. Saya tidak tahu apa yang dipingininya. Matanya keluar air mata tapi tidak bersuara. Hanya sesenggukan. Memukul-mukul pundak saya.

Akhirnya orang-orang itu dipisahin petugas Kecamatan. Tiga orang tergeletak. Di samping ban. Di pinggir trotoar. Satu lagi di pojok pagar. Hanya dari baju, mereka dapat dikenali. Muka mereka penuh darah campur becekan dan beras. Seorang, nggak tahu siapa. Padli yang tadi pake kaos merah. Dan bapake Genduk. Saya tidak tahu ada yang punya dendam ke bapake Genduk. Gosipnya Munir, preman depan komplek, dan teman-temannya itu pelakunya. Dia dendam karena bapakè Genduk melaporkan dia waktu maling di pasar.
            Saya tidak mau membawa jenazah bapakè Genduk pulang kampung, Bu. Saya juga tidak memberitahu saudara-saudara. Sehari setelah bapaknya Genduk dikubur di pemakaman umum, saya pergi dari sana. Ke tempat bibi di Pamulang. Saya bantu jualan sayur di pasar. Setiap pagi Genduk saya bawa. Dia tidur di samping saya. Alas kain gendongan. Sorenya saya bantu mbok Jum nyiapin jamu. Ngupas kunyit. Sambiloto. Asem. Nyuci botol. Ndeplok. Nyaring.
Sebulan di sana, badan Genduk panas. Dia nangis terus. Siangnya Bibi ngomong ke saya, bukannya keberatan kamu ikut di pasar, Nur. Aku malah seneng ada yang nemenin. Tapi kasihan anakmu. Masih kecil. Kasihan kalo kena angin subuh terus. Tapi kalo ditinggal di rumah, siapa yang jaga? Apa nggak lebih baik kamu cari kerjaan lain? Mbok Jum nggak mau saya pergi. Tapi saya nggak enak sama bibi.
Bibi ngasih alamat temannya di Kebayoran. Teman Bibi itu menerima cucian dan memang lagi butuh buruh cuci. Hampir 2 tahun saya kerja di Kebayoran. Upahnya tidak banyak. Tapi cukup. Buat makan sehari-hari atau mainan Genduk. Yang paling penting, saya tidak perlu meninggalkan Genduk.
Saya sedang njemur cucian waktu Genduk yang lagi makan nunjuk-nunjuk kaos kuning yang baru akan saya gantung di hanger. Kenapa, Nduk? Genduk menunjuk kaos itu lagi. Kaos kuning yang ada gambar teletabisnya itu. Itu baju mbak Rina, Nduk. Saya tahu Genduk pengen kaos itu. Saya bilang besok kita akan pasar. Beli kaos yang ada gambar teletabisnya juga. Tidak cuma kuning. Merah. Hijau. Biru. Kita akan beli semuanya. Genduk menangis. Dia tetap tidak mau. Tangisnya semakin kuat. Piring yang dipegangnya dilempar. Dia menangis. Memukul-mukul pintu. Saya biarkan saja Genduk seperti itu.
Besoknya saya tidak mengambil cucian lagi. Genduk panas tinggi. Saya bawa dia ke puskesmas.
Saya ingat mbok Jum. Saya ingat semua yang diajarkan pada saya. Lalu saya milih jualan jamu saja. Supaya Genduk bareng terus sama saya.

Yuk Piah menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian dia menyobek bungkus jamu laba-laba yang sedari tadi dipegangnya. Memasukkannya ke dalam gelas yang sudah dilap. Menuang air panas, madu, aduk. Terakhir, mengambil cutter. Iris jeruk nipis. Dia peras sampai ujung jarinya memerah dan tulang-tulang jarinya menegang.


Kesamaan tempat dan nama di luar tanggung jawabku ya. Yang jelas, cerita ini, yang kusampaikan padamu, kudengar darinya suatu sore.

No comments: