![]() |
| antarafoto.com |
Sebelum kembali ke Jakarta, kawan lain, direktur sebuah LSM anak, mengajakku berkeliling kota yang dipenuhi makanan enak ini. Kami mencicip takjil yang dijual di kaki lima, lalu makan malam di Cahaya Baru, sebuah restoran India di Medan--aku hampir ketinggalan pesawat karenanya. Beberapa hari sebelumnya aku mampir ke kantornya. Kebetulan, tulisanku untuk Jurnal Perempuan berkaitan dengan isu yang ditekuninya selama bertahun-tahun. Aku juga bertemu dengan beberapa aktivis anak lainnya. Salah hal yang kupegang kemudian: tidak semua anak yang turun ke jalan melulu karena kemiskinan. Sebagian sedang belajar dan membuat pembuktian. Semoga ini juga dimengerti oleh pihak-pihak yang terkait dengan mereka, katakanlah, Dinas Sosial atau dinas-dinas lainnya. Memaksa mereka kembali ke bangku sekolah bukan satu-satunya solusi. Pun rumah singgah.
Aku bersenang-senang di Rumah Musik, studio tempat anak-anak dampingan berkarya. Sayang sekali aku kehilangan album rekaman mereka. Nongkrong di warung remang-remang dan mendapat kawan baru, Erni (baca kisahnya di sini). Satu lagi yang tak terlupakan: melipir ke Samosir! Suatu hari nanti aku harus ke sana lagi. Pada edisi ke-15 ini aku mengunggah ulasan tentang cerpen milik Sitor Situmorang, penyair dan cerpenis kelahiran Harianboho, Samosir. Cerpen tersebut, Salju di Paris", sekaligus menjadi judul kumpulan cerpen yang memuatnya. Sedangkan kartu pos yang terkirim berasal dari perkawinan kawan kuliah, Kristi Panjaitan, yang kental dengan adat Batak. Terang saja, sepanjang prosesi, aku tidak mengerti satu pun kata yang diucapkan MC. Namun, itu tak membuatku menjauh dari kemeriahannya. Selamat, Kris.
Selamat juga untuk teman-teman yang minggu ini mulai menunaikan ibadah puasa. Semoga kita tidak hanya mendapat lapar dan dahaga.
Salam,
Rara

No comments:
Post a Comment