Martha Christina Tiahahu lahir 4 Januari 1800. 17 tahun setelah kelahirannya, Perang Saparua pecah. Bersama sang ayah dan pasukan Pattimura, ia bergerilya dari satu hutan ke hutan lainnya. Ia turut berunding di Gunung Saniri, bahkan ikut dalam penyerbuan Benteng Beverwijk. Belanda tentu tidak tinggal diam melihat perlawanan ini. Mereka mengerahkan segala daya upaya untuk meredamnya dan kemenangan pasukan Pattimura tak bertahan lama. Sebagian pasukan dihukum mati, sebagian lagi diasingkan ke Pulau Jawa. Ayah Martha Christina termasuk yang pertama. Sedangkan Martha Christina diangkut dengan Kapal Eversten untuk dibawa ke Batavia bersama 39 tawanan perang lainnya.
Menjadi tawanan perang tak menyurutkan perlawanan Martha Christina. Ia menolak tunduk pada Belanda. Ia menolak berkomunikasi. Ia menolak makan. Ia menolak minum. Ia menolak semua yang disodorkan padanya. Bertambah hari kondisinya tambah payah. Ketika kapal sampai di Tanjung Alang, 2 Januari 1818, Martha Christina Tiahahu menghembuskan nafas terakhirnya. Jenazahnya dibuang di Laut Banda. Tak keliru sama sekali ketika ia dijuluki Mutiara dari Nusalaut.
Sebuah monumen perunggu dibangun di Bukit Karangpanjang, Ambon, untuk memberi penghormatan pada Martha Christina. Kali kedua ke Maluku, aku beruntung dapat mengunjungi satu lagi Monumen Martha Christina Tiahahu yang dibangun di negeri kelahirannya, Nusalaut.
| Benteng Beverwijk. Di sinilah Kapitan Paulus Tiahahu dibunuh di depan rakyatnya. |
No comments:
Post a Comment