Erni
datang ke tempat saya menginap pukul 3. Ya, pukul 3 dini hari. Pada jam-jam
seperti itu dia biasa pulang dari kerja. “Ini lebih cepat, Kak,” terang Erni
setiba di lobi, “biasanya kita pulang jam 5.” Erni datang bersama tiga
kawannya—Winda, Lia, dan Kiki. Sekilas tak ada beda antara mereka dengan
anak-anak ABG lain yang sepulang sekolah, bersama gengnya, mencari pernak-pernik
gantungan kunci atau sekedar mejeng di mal.
Erni
mengenakan kaos oblong pendek berwarna hijau. Teman-temannya mengenakan kaos
dengan model serupa. Bersama mereka, saya menuju warung makan untuk bersantap
sahur. Pekerjaan yang mereka lakukan selama 12 jam sehari tidak menghalangi
mereka berpuasa. “Bulan puasa tidak ada beda buat kami dengan bulan-bulan
lainnya. Setiap hari kita cuma makan sekali. Apa bedanya sekarang?” dia berkata
tanpa beban, tetap tekun menghadapi piring makannya. Winda, Lia, Kiki
mengiyakan dengan tawa. Meski baru beberapa jam berkawan dengan mereka, saya
mulai hafal cara mereka menjalani keseharian hidup yang sering kali getir.
Mereka
membuatnya sesantai mungkin, meski kewaspadaan tetap tak bisa mereka tutupi.
Kesan itu saya tangkap sejak perkenalan singkat saya dengan mereka di Warung
Harapan, sebuah kawasan nongkrong anak muda di Medan. Bang Alley, Komandan
Rumah Musik[1],
yang membawa saya ke sana. Ketika kami di sana, Erni tidak leluasa berbicara
dengan kami karena dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai penjaga
warung begitu saja. Namun, sesekali dia berusaha mengunjungi meja kami. Dari
tempat saya duduk, saya melihat Erni dan ketiga kawannya menghabiskan malam.
Dalam
keremangan warung mereka tertawa-tawa, tak jarang berjoget dan menirukan lagu
Kucing Garong dan Ketahuan milik Matta Band. Kaki mereka naik ke atas kursi,
tangan kanan mereka menyimpan rokok yang menyala. Biarpun begitu, ketika ada
tamu datang, mereka gegas melayani pesanan. Sejatinya saya miris melihat
mereka. Pekat malam yang tetap tak bisa menghalangi rona belia yang memancar
dari wajah mereka mengundang godaan laki-laki iseng yang melintas.
“Memang
banyak om-om yang naik mobil itu bunyikan klakson. Tin tin,” kisah Erni
sekembalinya kami ke kamar.
“Ada
juga perempuan yang suka ajak kami ke diskotik, ada tamu katanya. Dulu, dia
itu,” katanya sambil menunjuk Kiki. Kiki yang baru berusia 14 tahun memang
paling sering mendapat ajakan seperti itu.
“Tapi
setelah kenal kami, tidak lagi, Kak.”
Prostitusi,
bahkan trafiking, barulah sebagian bahaya yang mengintip anak-anak remaja ini.
Mereka bukannya tak tahu itu. Juga Erni. Keinginan saling menjaga begitu kuat
tumbuh dalam diri mereka. Kehendak ini semakin berakar ketika mereka sama-sama
merasakan bagaimana tinggal dan besar di jalanan.
Erni
mulai turun ke jalan setelah ibunya meninggal karena sakit liver. Kala itu,
Erni yang baru berusia 12 tahun itu mengamen sendirian. Ia berangkat jam 8
pagi, kembali ke rumah jam 8 malam. Erni memanfaatkan penghasilannya untuk
membiayai sekolah adiknya, selain untuk biaya hidupnya sehari-hari. Jangan tanyakan
sekolah padanya, karena itu telah menjadi kemewahan semenjak ibunya sakit.
“Mamak sakit cuma sebulan, Kak. Sejak itu Erni berhenti sekolah karena uangnya
dipakai untuk biaya rumah sakit.”
Sebelum
ini, bertahun-tahun silam, ibu Erni membesarkan anak-anaknya seorang diri. Dia
mengerjakan apa saja yang bisa dia kerjakan demi memenuhi kebutuhan keenam
anaknya. Pekerjaan seperti mencari barang bekas, menjual tampi beras dan
barang-barang kelontong, pernah ibu Erni lakukan. Tanpa segan, kalau ada yang
minta mencarikan sebidang tanah atau meminta menjualkan rumah, ia pun
mengerjakannya. Bapak tak ada tanggung jawab, itu saja penjelasan Erni.
Mula-mula
anak kelima dari enam bersaudara ini mengamen di Babura. Penghasilannya, kurang
lebih, 20 ribu sehari. Malam Minggu bisa mencapai 50 ribu. “Waktu itu adik
belum ikut.” Mengamen bersama si bungsu membuat penghasilan Erni meningkat.
“Orang lebih baik ngasih yang kecil daripada yang besar.” Erni bertahan selama
setahun di Babura. Semenjak itu, ‘wilayah kerja’-nya berpindah-pindah. Lampu
merah Polonia, berbagai SPBU, Pringgan, sampai kemudian Warung Harapan.
Masa
itu tahun 2004, Erni yang mulai berumur 16 tahun mulai memilih untuk mengamen
di Warung Harapan. Bukan sebuah pilihan yang mudah dijalani. Di sana, Erni sering
mendapat ejekan dari orang-orang yang dikenalnya. “Sudah besar masih ngamen,”
ucap Erni menirukan salah satunya. Lebih parah lagi, lanjut Erni, kalau tidak
mengamen “Kita dibilangnya pelacur.” Terus menerus mendapat ejekan membuat dia
menerima tawaran bekerja di salah satu warung. Dia berusaha lapang menerimanya
biarpun penghasilan yang ia dapatkan lebih sedikit.
Pangkal
persoalannya tidak melulu uang buat Erni. Meskipun tidak mengatakannya, dia
tahu betapa besar resiko yang diterima seorang perempuan muda tidur di taman
dan bekerja di jalanan. “Erni sempat mau diperkosa, Kak.” Nafasnya masih
memburu sewaktu mengulang cerita ini. Selepas dipesan lagu, Erni ditawari
makan, ditawari minum. Sewaktu dipaksa berbuat tak senonoh Erni menolak. Si
pemesan lagu yang ternyata sedang mabuk berat tidak terima. Dia memaksa Erni.
Erni lari. Dia mengejarnya. Erni terus berlari ke taman, tempat teman-teman
laki-lakinya yang lain sedang nongkrong.
Dengan
terbata, Erni menjelaskan kejadian yang menimpanya. Bang Ganda, salah satu anak
laki-laki itu, marah seketika mendengarnya. Dia datangi si Pemabuk. Pemabuk
melawan dengan pisau dan botol. Tak terhindarkan perkelahian. “Mau ditikamnya
Bang Ganda dari belakang. Sama Bang Ganda ditunjanglah (ditendang) orang mabuk
itu.” Tak pelak keramaian mengundang polisi setempat. Itu baru sebagian kecil.
Hidup di jalan sama halnya berkawan dengan kejahatan yang membuntuti setiap
hari. Meskipun membuat hati ketar- ketir, Erni juga seakan tidak khawatir.
Dia
mengenang masa-masa menjadi anak jalanan sebagai saat yang membahagiakan.
“Senanglah jadi anak jalanan. Sama yg lain, sama anak lakipun udah macam abang-
adik. Kalau ada dekat-dekat sama orang, diperingati sama kakak angkat, ‘ngapa
tu dekat-dekat, jauh-jauhlah’.” Serupa kejahatan, kekerasan juga menjadi
bayang-bayang kehidupan mereka di jalan. Namun, Erni mengaku tidak pernah
dikompas pengamen-pengamen senior atau anak laki-laki yang lebih besar. “Ada
Lia,” Erni menunjuk kawannya yang sedang duduk di kursi sebelahnya. “Tak ada
takut dia sama orang-orang. Teman laki-laki pun semua kenal sama Bang Alley.
Mereka segan dengan Bang Alley.” Kalau kita tidur di taman, tambah Erni, Tak
ada satupun dari mereka yg tidur. “Saling menjagalah.”
Kehidupan
di jalan pulalah yang memperkenalkan Erni dengan Herman. Pada tahun 2001,
mereka mulai pacaran. Mereka menikah empat tahun kemudian, tahun 2005. “Itupun
karena ketahuan udah hamil duluan,” papar Erni. Keluarga Erni tidak setuju dia
menikah dengan Herman. Alasannya, “Orang Banjar, tukang pukul.” Karena Erni
tidak mendengarkan larangan keluarganya, Erni pernah dipukul, pernah juga
dibotakin. “Kalau keluarga melarang, memukul itu karena sayang ke Erni, Kak.
Nyatanya yang mereka bilang betul semua.” Kamu tidak pernah dipukul suami, kan?
Setelah mengucap pertanyaan ini, saya merasa bodoh sekali. Erni hanya
menyahutnya dengan tawa. Tidak langsung menjawab. “Sering, Kak,” dia tertawa
lagi, suaranya sedingin AC yang membekukan kami pagi itu, “Kalau dia emosi dia
main tangan. Hampir setiap hari dipukul, ditendang.”
Sejak
pacaran Erni sudah tahu kalau calon suaminya itu suka memukul. Saat ini pun,
bahkan ketika Erni sedang mengandung anaknya yang kedua, dia tetap menjadi
sasaran kekerasan suaminya. Bedanya, kalau sudah tak tahan, Erni membalas
perlakuan tidak menyenangkan suaminya itu. Erni tinggal bersama suami dan
keluarga suaminya di Kampung Baru. Di sana pun dia tak luput dari hinaan.
Dianggap menumpang hidup pada suaminya, dan sebagainya. Itu pula yang mendesak
Erni berkeras untuk tetap bekerja di Warung Harapan dengan segala keinsyafan
resiko. “Kalau ada pekerjaan lebih bagus, maulah Erni pindah, Kak.” Dengan
tetap bekerja, Erni merasa bisa menegakkan kepalanya di hadapan suami dan
keluarga suaminya. Kalau dulu dia menikahi suaminya karena cinta, sekarang
keadaannya “Dibilang nggak seneng, ya gimana. Keadaan awak kayak gitu. Yah
disenengin aja.”
Erni
mengajak ketiga temannya tinggal di rumah keluarga suaminya. Untung saja mereka
tidak keberatan. Buat Erni, teman-temannya inilah yang menjadi sumber hiburan
buatnya. “Apapun yang terjadi, jangan sampai pisahlah. Lebih bagus anak jalanan
daripada orang-orang kaya yang kita kawani. Anak jalanan persatuannya panjang.”
Mereka berempat berjanji, kalau ada satu di antara mereka yang diusir, maka
keempatnya keluar dari rumah itu. “Percuma kalau kita senangnya aja, susahnya
kita tinggal. Percuma berkawan seperti itu,” tandasnya.
Adzan
Subuh menerobos lubang jendela kamar, pertanda Erni harus kembali. Sungguhpun
saya telah meminta izin pada suaminya untuk mengajak dia berbincang di kamar saya,
tak urung perasaan terburu-buru menghantui. Sesudah cuci muka dan berkaca,
Erni, juga tiga kawannya menjabat tangan saya. Ucapan selamat tinggal pun
mengembang di antara kita.
Medan
boleh jadi memang memiliki karakter anak jalanan yang berbeda dengan kota-kota
lain. Kemiskinan barangkali bukan penyebab utama anak-anak ini berada di jalan
selama 12 jam, bahkan sampai 24 jam sehari. Akan tetapi, bukan berarti lantas
tidak ada sama sekali anak-anak yang harus bekerja karena orang tua mereka tidak
sanggup membiayai kehidupan mereka. Seorang Erni telah cukup menjadi tamsil.
Tahun 2006, Sanggar, majalah yang
diterbitkan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) melansir, fakta-fakta
masalah anak yang berkembang di Sumatra Utara. Ada 1,2 juta anak yang putus
sekolah setiap tahunnya karena tidak mampu membayar uang sekolah dan membeli
perlengkapan belajar, ada 4.525 anak jalanan dan sekitar 2.000 berada di
seputar kota Medan, jumlah anak yang dipaksa masuk ke dalam prostitusi setiap
tahunnya mencapai 400 orang, dan lebih dari 570 anak mengalami kekerasan dalam
rumah.
Sumber: Jurnal Perempuan Edisi 55
Catatan:
- Judul asli tulisan ini adalah "Erni, Persahabatan yang Tumbuh di Jalan"
- Erni tidak keberatan fotonya dicantumkan (di jurnal). Saya saya tidak memilikinya lagi dan entah mengapa, pun andai masih punya, saya segan mengunggahnya.
[1]Rumah
milik KKSP (Child Rights Education and Information Center) yang didiami
anak-anak jalanan sebagai tempat mereka berkarya. 2 Sanggar, Edisi 3, Juli
2006-Oktober 2006.
No comments:
Post a Comment