Klik Bila Perlu

Wednesday, June 25, 2014

Persahabatan yang Tumbuh di Jalan

Erni datang ke tempat saya menginap pukul 3. Ya, pukul 3 dini hari. Pada jam-jam seperti itu dia biasa pulang dari kerja. “Ini lebih cepat, Kak,” terang Erni setiba di lobi, “biasanya kita pulang jam 5.” Erni datang bersama tiga kawannya—Winda, Lia, dan Kiki. Sekilas tak ada beda antara mereka dengan anak-anak ABG lain yang sepulang sekolah, bersama gengnya, mencari pernak-pernik gantungan kunci atau sekedar mejeng di mal.

Erni mengenakan kaos oblong pendek berwarna hijau. Teman-temannya mengenakan kaos dengan model serupa. Bersama mereka, saya menuju warung makan untuk bersantap sahur. Pekerjaan yang mereka lakukan selama 12 jam sehari tidak menghalangi mereka berpuasa. “Bulan puasa tidak ada beda buat kami dengan bulan-bulan lainnya. Setiap hari kita cuma makan sekali. Apa bedanya sekarang?” dia berkata tanpa beban, tetap tekun menghadapi piring makannya. Winda, Lia, Kiki mengiyakan dengan tawa. Meski baru beberapa jam berkawan dengan mereka, saya mulai hafal cara mereka menjalani keseharian hidup yang sering kali getir.

Mereka membuatnya sesantai mungkin, meski kewaspadaan tetap tak bisa mereka tutupi. Kesan itu saya tangkap sejak perkenalan singkat saya dengan mereka di Warung Harapan, sebuah kawasan nongkrong anak muda di Medan. Bang Alley, Komandan Rumah Musik[1], yang membawa saya ke sana. Ketika kami di sana, Erni tidak leluasa berbicara dengan kami karena dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai penjaga warung begitu saja. Namun, sesekali dia berusaha mengunjungi meja kami. Dari tempat saya duduk, saya melihat Erni dan ketiga kawannya menghabiskan malam.

Dalam keremangan warung mereka tertawa-tawa, tak jarang berjoget dan menirukan lagu Kucing Garong dan Ketahuan milik Matta Band. Kaki mereka naik ke atas kursi, tangan kanan mereka menyimpan rokok yang menyala. Biarpun begitu, ketika ada tamu datang, mereka gegas melayani pesanan. Sejatinya saya miris melihat mereka. Pekat malam yang tetap tak bisa menghalangi rona belia yang memancar dari wajah mereka mengundang godaan laki-laki iseng yang melintas.

“Memang banyak om-om yang naik mobil itu bunyikan klakson. Tin tin,” kisah Erni sekembalinya kami ke kamar.

“Ada juga perempuan yang suka ajak kami ke diskotik, ada tamu katanya. Dulu, dia itu,” katanya sambil menunjuk Kiki. Kiki yang baru berusia 14 tahun memang paling sering mendapat ajakan seperti itu.

“Tapi setelah kenal kami, tidak lagi, Kak.”

Prostitusi, bahkan trafiking, barulah sebagian bahaya yang mengintip anak-anak remaja ini. Mereka bukannya tak tahu itu. Juga Erni. Keinginan saling menjaga begitu kuat tumbuh dalam diri mereka. Kehendak ini semakin berakar ketika mereka sama-sama merasakan bagaimana tinggal dan besar di jalanan.

Erni mulai turun ke jalan setelah ibunya meninggal karena sakit liver. Kala itu, Erni yang baru berusia 12 tahun itu mengamen sendirian. Ia berangkat jam 8 pagi, kembali ke rumah jam 8 malam. Erni memanfaatkan penghasilannya untuk membiayai sekolah adiknya, selain untuk biaya hidupnya sehari-hari. Jangan tanyakan sekolah padanya, karena itu telah menjadi kemewahan semenjak ibunya sakit. “Mamak sakit cuma sebulan, Kak. Sejak itu Erni berhenti sekolah karena uangnya dipakai untuk biaya rumah sakit.”

Sebelum ini, bertahun-tahun silam, ibu Erni membesarkan anak-anaknya seorang diri. Dia mengerjakan apa saja yang bisa dia kerjakan demi memenuhi kebutuhan keenam anaknya. Pekerjaan seperti mencari barang bekas, menjual tampi beras dan barang-barang kelontong, pernah ibu Erni lakukan. Tanpa segan, kalau ada yang minta mencarikan sebidang tanah atau meminta menjualkan rumah, ia pun mengerjakannya. Bapak tak ada tanggung jawab, itu saja penjelasan Erni.

Mula-mula anak kelima dari enam bersaudara ini mengamen di Babura. Penghasilannya, kurang lebih, 20 ribu sehari. Malam Minggu bisa mencapai 50 ribu. “Waktu itu adik belum ikut.” Mengamen bersama si bungsu membuat penghasilan Erni meningkat. “Orang lebih baik ngasih yang kecil daripada yang besar.” Erni bertahan selama setahun di Babura. Semenjak itu, ‘wilayah kerja’-nya berpindah-pindah. Lampu merah Polonia, berbagai SPBU, Pringgan, sampai kemudian Warung Harapan.

Masa itu tahun 2004, Erni yang mulai berumur 16 tahun mulai memilih untuk mengamen di Warung Harapan. Bukan sebuah pilihan yang mudah dijalani. Di sana, Erni sering mendapat ejekan dari orang-orang yang dikenalnya. “Sudah besar masih ngamen,” ucap Erni menirukan salah satunya. Lebih parah lagi, lanjut Erni, kalau tidak mengamen “Kita dibilangnya pelacur.” Terus menerus mendapat ejekan membuat dia menerima tawaran bekerja di salah satu warung. Dia berusaha lapang menerimanya biarpun penghasilan yang ia dapatkan lebih sedikit.

Pangkal persoalannya tidak melulu uang buat Erni. Meskipun tidak mengatakannya, dia tahu betapa besar resiko yang diterima seorang perempuan muda tidur di taman dan bekerja di jalanan. “Erni sempat mau diperkosa, Kak.” Nafasnya masih memburu sewaktu mengulang cerita ini. Selepas dipesan lagu, Erni ditawari makan, ditawari minum. Sewaktu dipaksa berbuat tak senonoh Erni menolak. Si pemesan lagu yang ternyata sedang mabuk berat tidak terima. Dia memaksa Erni. Erni lari. Dia mengejarnya. Erni terus berlari ke taman, tempat teman-teman laki-lakinya yang lain sedang nongkrong.

Dengan terbata, Erni menjelaskan kejadian yang menimpanya. Bang Ganda, salah satu anak laki-laki itu, marah seketika mendengarnya. Dia datangi si Pemabuk. Pemabuk melawan dengan pisau dan botol. Tak terhindarkan perkelahian. “Mau ditikamnya Bang Ganda dari belakang. Sama Bang Ganda ditunjanglah (ditendang) orang mabuk itu.” Tak pelak keramaian mengundang polisi setempat. Itu baru sebagian kecil. Hidup di jalan sama halnya berkawan dengan kejahatan yang membuntuti setiap hari. Meskipun membuat hati ketar- ketir, Erni juga seakan tidak khawatir.

Dia mengenang masa-masa menjadi anak jalanan sebagai saat yang membahagiakan. “Senanglah jadi anak jalanan. Sama yg lain, sama anak lakipun udah macam abang- adik. Kalau ada dekat-dekat sama orang, diperingati sama kakak angkat, ‘ngapa tu dekat-dekat, jauh-jauhlah’.” Serupa kejahatan, kekerasan juga menjadi bayang-bayang kehidupan mereka di jalan. Namun, Erni mengaku tidak pernah dikompas pengamen-pengamen senior atau anak laki-laki yang lebih besar. “Ada Lia,” Erni menunjuk kawannya yang sedang duduk di kursi sebelahnya. “Tak ada takut dia sama orang-orang. Teman laki-laki pun semua kenal sama Bang Alley. Mereka segan dengan Bang Alley.” Kalau kita tidur di taman, tambah Erni, Tak ada satupun dari mereka yg tidur. “Saling menjagalah.”

Kehidupan di jalan pulalah yang memperkenalkan Erni dengan Herman. Pada tahun 2001, mereka mulai pacaran. Mereka menikah empat tahun kemudian, tahun 2005. “Itupun karena ketahuan udah hamil duluan,” papar Erni. Keluarga Erni tidak setuju dia menikah dengan Herman. Alasannya, “Orang Banjar, tukang pukul.” Karena Erni tidak mendengarkan larangan keluarganya, Erni pernah dipukul, pernah juga dibotakin. “Kalau keluarga melarang, memukul itu karena sayang ke Erni, Kak. Nyatanya yang mereka bilang betul semua.” Kamu tidak pernah dipukul suami, kan? Setelah mengucap pertanyaan ini, saya merasa bodoh sekali. Erni hanya menyahutnya dengan tawa. Tidak langsung menjawab. “Sering, Kak,” dia tertawa lagi, suaranya sedingin AC yang membekukan kami pagi itu, “Kalau dia emosi dia main tangan. Hampir setiap hari dipukul, ditendang.”

Sejak pacaran Erni sudah tahu kalau calon suaminya itu suka memukul. Saat ini pun, bahkan ketika Erni sedang mengandung anaknya yang kedua, dia tetap menjadi sasaran kekerasan suaminya. Bedanya, kalau sudah tak tahan, Erni membalas perlakuan tidak menyenangkan suaminya itu. Erni tinggal bersama suami dan keluarga suaminya di Kampung Baru. Di sana pun dia tak luput dari hinaan. Dianggap menumpang hidup pada suaminya, dan sebagainya. Itu pula yang mendesak Erni berkeras untuk tetap bekerja di Warung Harapan dengan segala keinsyafan resiko. “Kalau ada pekerjaan lebih bagus, maulah Erni pindah, Kak.” Dengan tetap bekerja, Erni merasa bisa menegakkan kepalanya di hadapan suami dan keluarga suaminya. Kalau dulu dia menikahi suaminya karena cinta, sekarang keadaannya “Dibilang nggak seneng, ya gimana. Keadaan awak kayak gitu. Yah disenengin aja.”

Erni mengajak ketiga temannya tinggal di rumah keluarga suaminya. Untung saja mereka tidak keberatan. Buat Erni, teman-temannya inilah yang menjadi sumber hiburan buatnya. “Apapun yang terjadi, jangan sampai pisahlah. Lebih bagus anak jalanan daripada orang-orang kaya yang kita kawani. Anak jalanan persatuannya panjang.” Mereka berempat berjanji, kalau ada satu di antara mereka yang diusir, maka keempatnya keluar dari rumah itu. “Percuma kalau kita senangnya aja, susahnya kita tinggal. Percuma berkawan seperti itu,” tandasnya.

Adzan Subuh menerobos lubang jendela kamar, pertanda Erni harus kembali. Sungguhpun saya telah meminta izin pada suaminya untuk mengajak dia berbincang di kamar saya, tak urung perasaan terburu-buru menghantui. Sesudah cuci muka dan berkaca, Erni, juga tiga kawannya menjabat tangan saya. Ucapan selamat tinggal pun mengembang di antara kita.

Medan boleh jadi memang memiliki karakter anak jalanan yang berbeda dengan kota-kota lain. Kemiskinan barangkali bukan penyebab utama anak-anak ini berada di jalan selama 12 jam, bahkan sampai 24 jam sehari. Akan tetapi, bukan berarti lantas tidak ada sama sekali anak-anak yang harus bekerja karena orang tua mereka tidak sanggup membiayai kehidupan mereka. Seorang Erni telah cukup menjadi tamsil. Tahun 2006, Sanggar, majalah yang diterbitkan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) melansir, fakta-fakta masalah anak yang berkembang di Sumatra Utara. Ada 1,2 juta anak yang putus sekolah setiap tahunnya karena tidak mampu membayar uang sekolah dan membeli perlengkapan belajar, ada 4.525 anak jalanan dan sekitar 2.000 berada di seputar kota Medan, jumlah anak yang dipaksa masuk ke dalam prostitusi setiap tahunnya mencapai 400 orang, dan lebih dari 570 anak mengalami kekerasan dalam rumah.


Sumber: Jurnal Perempuan Edisi 55

Catatan: 
  • Judul asli tulisan ini adalah "Erni, Persahabatan yang Tumbuh di Jalan"
  • Erni tidak keberatan fotonya dicantumkan (di jurnal). Saya saya tidak memilikinya lagi dan entah mengapa, pun andai masih punya, saya segan mengunggahnya.

[1]Rumah milik KKSP (Child Rights Education and Information Center) yang didiami anak-anak jalanan sebagai tempat mereka berkarya. 2 Sanggar, Edisi 3, Juli 2006-Oktober 2006.

No comments: