Klik Bila Perlu

Thursday, June 26, 2014

Anak-Anak Carrefour

Seorang teman memperingatkanku untuk tidak pergi ke mal terutama pada tanggal merah. Konon, mal saat ini telah masuk daftar tempat yang wajib dikunjungi kala senggang dan tidak senggang. Sabtu kemaren, ketika Isra Mi’raj berkuasa memerahkan angka di kalender, aku dengan sengaja melupakan nasihat itu dan pergi ke mal Ambassador. Tak ayal, akibat kesalahanku sendiri, aku terperosok dalam keramaian yang membuat mual dan sakit kepala. Untungnya aku tidak sendiri. Dua kawan turut sengsara bersamaku.

Kami tak bisa berjalan tanpa bersinggungan dengan bahu atau tas belanjaan orang lain. Waktu makan, kami harus berkeliling sekian putaran demi mendapatkan sepotong kursi kosong. Ketika kami ke Carrefour pun troli-troli sesak muatan memperlambat jalan kami menuju kasir. Sesampai di depan kasir kami ngrasani keramaian ini. Mata jelalatan meneliti kebisingan. Tangis bayi bercampur iklan program CD Bahasa Inggris. Troli menabrak ujung meja kasir. Seorang anak membantu ibunya memasukkan belanjaan ke keranjang.Lampu menyemprot rupa-rupa warna baju. Bau roti baru matang ditimpa rayuan celana dalam diskonan.


Aku menenggak habis jus apel yang diawetkan. Tidak membuang botolnya karena belum melewati pemindai si kasir. Tami terus rasan-rasan demi menghilangkan mual dan sakit kepala, sampai mataku terantuk lagi pada bocah itu, bocah yang kupikir betapa rajin mau membantu ibunya memasukkan belanjaan. Dia tetap berdiri di sana, dengan rambutnya yang hampir gundul, dengan kaos birunya yang bersulam tulisan… Carrefour!

“Dua puluh sembilan ribu delapan ratus,” tegur kasir di depanku. Suaranya mengambang tak sampai di telingaku. Aku dan temanku terus saja terpana. Sang bocah tidak sendiri. Di meja kasir depannya, depannya lagi, dan depannya lagi, hampir seluruhnya, kecuali kasir yang melayani kami, “o ya, berapa mbak?” kasir yang enggan menjawab hanya menggelengkan layar kecil di depannya. Aku mengeluarkan uang sejumlah yang tertera di sana.

Keluar dari Carrefour, kami berbaur dengan orang-orang. Ikutan menjadi buih. Beli sejumlah film. Minum kopi. Hanya kepala ini tidak mau beranjak dari mata si bocah yang kekanak-kanakan dan senyumnya yang malu-malu ketika tertangkap olehku sedang mempermainkan troli bersama temannya. Setelah mengantar salah seorang teman ke parkiran, aku dan teman yang masih bersamaku kembali ke Carrefour. Aku tak perlu memaksa temanku untuk memotret mereka dengan HP-nya. Dia sendiri gemetar saking marahnya.

“Ngapain di sini?” tanya temanku setelah memotret mereka.

“Maker,” dia menjawab dengan suaranya lemah.

Meja kasir yang dihadapinya sedang kosong, kami jadi bebas berbincang. Suasana ramai mengaburkan pertanyaan-pertanyaan kami yang interogatif.

“Ngapain itu?” setelah kaki, giliran suaraku yang bergetar. mereka pasti baru sepantaran dengan adikku yang baru masuk SMP.

“Masuk-masukin barang ke kantong plastik.”

“Emang nggak sekolah?”

“Sekolah.”

“Trus di sininya setiap hari apa?”

“Sabtu-Minggu.”

Lama-lama kami tak enak sendiri. Aku takut juga nanti dia kena marah karena bukannya kerja, malah ngobrol.

Kami memutuskan masuk lorong Carrefour dan pura-pura membeli sesuatu agar bisa lebih lama bicara dengan mereka. Sebelum itu, temenku ke toilet dulu. Aku menunggu di tempat troli dibariskan. Seorang bocah juga dipekerjakan di bagian ini.

“Rame ya,” kataku membuka percakapan.

“Iya.” jawabnya, tak malu-malu, “setiap sabtu minggu emang rame.”

“Emang setiap hari di sini?”

“Nggak. “

“Sekolah ya?”

“Iya,” dia menjawab sambil menyerahkan troli ke seorang ibu-ibu yang siap belanja bersama anak ABG-nya, hampir seusia anak yang sedang kuajak ngobrol ini.

“Di mana sih sekolahnya?”

“Sekolahnya di luar,” dari belakang salah seorang temannya menyahut. Aku menatap tak mengerti. Dia membalasnya dengan keterangan pendek, “As-Shobirin.”

“Kelas berapa?”

“Dua.”

“SMP?”

“Kalo dia lebih tua,” jawab si bocah sambil menyenggol sang teman dengan pantatnya, si teman yang tidak keberatan hanya tertawa di antara denting troli, “dia kelas tiga.”

“Berapa sih umurnya?”

“empat belas.”

“Yang paling kecil umurnya berapa?” temanku tiba-tiba berada di belakangku dan langsung ikutan nimbrung.

“Ada yang sepuluh tahun.”

***

Anak kelas dua SMP itu bernama Nurman, temannya yang setahun lebih tua, biasa dipanggil Adi. Nurman dan Adi, juga puluhan anak yang lain berasal dari Panti Asuhan Nusantara yang beralamat di Setiabudi. Setiap Sabtu- Minggu, sejak tiga tahun silam, mereka bekerja memasukkan barang ke kantong belanjaan, mengambil troli-troli di parkiran, menukar uang, mengambil barang dari gudang, dan sebagainya. Mereka dipisah menjadi dua kelompok, masing-masing berjumlah 16-20 anak. Shift pertama dimulai sejak Carrefour buka sampai jam dua siang, gawean mereka lalu diteruskan kelompok kedua yang baru boleh pulang setelah Carrefour tutup. Berapa keringat mereka dihargai, mereka tidak pernah tahu. “Bule itu yang urusan sama Carrefournya, Kak. Tanya ma dia aja.”

Kami urung masuk Carrefour. Pulang barangkali pilihan yang lebih bijaksana. Sekarang yang kubutuhkan lebih sekedar kopi atau obat sakit kepala.







No comments: