Seorang teman memperingatkanku untuk tidak pergi ke mal
terutama pada tanggal merah. Konon, mal saat ini telah masuk daftar tempat yang
wajib dikunjungi kala senggang dan tidak senggang. Sabtu kemaren, ketika Isra
Mi’raj berkuasa memerahkan angka di kalender, aku dengan sengaja melupakan
nasihat itu dan pergi ke mal Ambassador. Tak ayal, akibat kesalahanku sendiri,
aku terperosok dalam keramaian yang membuat mual dan sakit kepala. Untungnya
aku tidak sendiri. Dua kawan turut sengsara bersamaku.
Kami tak bisa berjalan tanpa bersinggungan dengan bahu atau
tas belanjaan orang lain. Waktu makan, kami harus berkeliling sekian putaran
demi mendapatkan sepotong kursi kosong. Ketika kami ke Carrefour pun
troli-troli sesak muatan memperlambat jalan kami menuju kasir. Sesampai di
depan kasir kami ngrasani keramaian ini. Mata jelalatan meneliti kebisingan.
Tangis bayi bercampur iklan program CD Bahasa Inggris. Troli menabrak ujung
meja kasir. Seorang anak membantu ibunya memasukkan belanjaan ke
keranjang.Lampu menyemprot rupa-rupa warna baju. Bau roti baru matang ditimpa
rayuan celana dalam diskonan.
Aku menenggak habis jus apel yang diawetkan. Tidak membuang
botolnya karena belum melewati pemindai si kasir. Tami terus rasan-rasan demi
menghilangkan mual dan sakit kepala, sampai mataku terantuk lagi pada bocah
itu, bocah yang kupikir betapa rajin mau membantu ibunya memasukkan belanjaan.
Dia tetap berdiri di sana, dengan rambutnya yang hampir gundul, dengan kaos
birunya yang bersulam tulisan… Carrefour!
“Dua puluh sembilan ribu delapan ratus,” tegur kasir di
depanku. Suaranya mengambang tak sampai di telingaku. Aku dan temanku terus
saja terpana. Sang bocah tidak sendiri. Di meja kasir depannya, depannya lagi,
dan depannya lagi, hampir seluruhnya, kecuali kasir yang melayani kami, “o ya,
berapa mbak?” kasir yang enggan menjawab hanya menggelengkan layar kecil di
depannya. Aku mengeluarkan uang sejumlah yang tertera di sana.
Keluar dari Carrefour, kami berbaur dengan orang-orang.
Ikutan menjadi buih. Beli sejumlah film. Minum kopi. Hanya kepala ini tidak mau
beranjak dari mata si bocah yang kekanak-kanakan dan senyumnya yang malu-malu
ketika tertangkap olehku sedang mempermainkan troli bersama temannya. Setelah
mengantar salah seorang teman ke parkiran, aku dan teman yang masih bersamaku
kembali ke Carrefour. Aku tak perlu memaksa temanku untuk memotret mereka
dengan HP-nya. Dia sendiri gemetar saking marahnya.
“Ngapain di sini?” tanya temanku setelah memotret mereka.
“Maker,” dia menjawab dengan suaranya lemah.
Meja kasir yang dihadapinya sedang kosong, kami jadi bebas
berbincang. Suasana ramai mengaburkan pertanyaan-pertanyaan kami yang
interogatif.
“Ngapain itu?” setelah kaki, giliran suaraku yang bergetar.
mereka pasti baru sepantaran dengan adikku yang baru masuk SMP.
“Masuk-masukin barang ke kantong plastik.”
“Emang nggak sekolah?”
“Sekolah.”
“Trus di sininya setiap hari apa?”
“Sabtu-Minggu.”
Lama-lama kami tak enak sendiri. Aku takut juga nanti dia
kena marah karena bukannya kerja, malah ngobrol.
Kami memutuskan masuk lorong Carrefour dan pura-pura
membeli sesuatu agar bisa lebih lama bicara dengan mereka. Sebelum itu, temenku
ke toilet dulu. Aku menunggu di tempat troli dibariskan. Seorang bocah juga
dipekerjakan di bagian ini.
“Rame ya,” kataku membuka percakapan.
“Iya.” jawabnya, tak malu-malu, “setiap sabtu minggu emang
rame.”
“Emang setiap hari di sini?”
“Nggak. “
“Sekolah ya?”
“Iya,” dia menjawab sambil menyerahkan troli ke seorang
ibu-ibu yang siap belanja bersama anak ABG-nya, hampir seusia anak yang sedang
kuajak ngobrol ini.
“Di mana sih sekolahnya?”
“Sekolahnya di luar,” dari belakang salah seorang temannya
menyahut. Aku menatap tak mengerti. Dia membalasnya dengan keterangan pendek,
“As-Shobirin.”
“Kelas berapa?”
“Dua.”
“SMP?”
“Kalo dia lebih tua,” jawab si bocah sambil menyenggol sang
teman dengan pantatnya, si teman yang tidak keberatan hanya tertawa di antara
denting troli, “dia kelas tiga.”
“Berapa sih umurnya?”
“empat belas.”
“Yang paling kecil umurnya berapa?” temanku tiba-tiba
berada di belakangku dan langsung ikutan nimbrung.
“Ada yang sepuluh tahun.”
***
Anak kelas dua SMP itu bernama Nurman, temannya yang
setahun lebih tua, biasa dipanggil Adi. Nurman dan Adi, juga puluhan anak yang
lain berasal dari Panti Asuhan Nusantara yang beralamat di Setiabudi. Setiap
Sabtu- Minggu, sejak tiga tahun silam, mereka bekerja memasukkan barang ke
kantong belanjaan, mengambil troli-troli di parkiran, menukar uang, mengambil
barang dari gudang, dan sebagainya. Mereka dipisah menjadi dua kelompok,
masing-masing berjumlah 16-20 anak. Shift pertama dimulai sejak Carrefour buka
sampai jam dua siang, gawean mereka lalu diteruskan kelompok kedua yang baru
boleh pulang setelah Carrefour tutup. Berapa keringat mereka dihargai, mereka
tidak pernah tahu. “Bule itu yang urusan sama Carrefournya, Kak. Tanya ma dia
aja.”




No comments:
Post a Comment