Ini bukan ide baru. Dia menjadi prioritas kedua setelah Banda Neira.
Awalnya, semata-mata karena aku belum pernah menginjakkan kaki di pulau
ini—transit satu jam tidak dihitung, ya. Kemudian kesampaian melakukan
perjalanan ke sana, bahkan selain Makassar, sempat pula ke Tana Toraja dan
Samalona. Terima kasih pada Citilink untuk tiket promonya. Postingan minggu ini
merekam perjalanan tersebut (tapi belum semua diunggah).
Entah kenapa, meskipun perjalanan ke Saparua dan Nusalaut tidak dapat
meredakan kehendak untuk ke Banda Neira, yang lebih menggairahkan saat ini
justru memenuhi prioritas kedua itu. Kalau harus banget menemukan alasan,
mungkin, perlu jeda dari deraan tesis dan semua yang berbau Ambon dan Maluku.
So, Sulawesi.
Pertanyaan selanjutnya, mau ngapain ke Sulawesi? Nah.
Kemarin sore aku membaca beberapa blog yang membahas tentang persiapan long
term travel, kebanyakan berkonteks round the world travel atau (digital)
nomad (living). Aku mengunduh satu checklist yang diunggah di
Bootsnall, sebuah forum untuk RTW traveler. Aku nggak bergabung dengan mereka,
tidak telaten. Aku memilihnya menjadi acuan karena persiapan yang dilakukan
cukup panjang, setahun sebelum hari H, serta cukup komprehensif dan substansial
(halah!).
Pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah apa tujuan perjalanan ini,
idealnya dirumuskan setahun sebelum pergi. Untuk pertanyaan pertama,
rasa-rasanya kalo dijawab keliling Sulawesi thok kok nggak memuaskan, ya. Ini
mengingatkanku pada gumpalan pertanyaan lama: orang-orang yang melakukan RTW
travel itu ngapain ya, selain mengeksplor tempat-tempat wisata? FYI, 1,5
terakhir ini aku sangat intens melihat hal-hal yang terkait dengan RTW travel
ini. Alasannya sih karena aku punya penyakit travel-size-obsession. Alasan
lainnya, mungkin pengaruh 2 sahabat yang menganut (baca: mempelajari) Buddha.
Konon Buddha bilang keterikatan kita pada benda-benda, termasuk relasi dengan
orang lain, mereduksi kebahagiaan kita. Aku rasa itu benar.
Kembali ke pertanyaan pertama, mau apa ke Sulawesi. Penting dijawab karena
akan membantu membuat itinerary, anggaran, dan printilan-printilan lainnya.
Jawaban ini seperti puzzle, dibangun atas perlbagai peristiwa sehingga
membentuk sebuah kesatuan gambar. Aku jadi percaya, tidak ada kebetulan di
dunia.
Pertama, aku mau ke Poso.
Ada apa di Poso dan kenapa?
Setelah memutuskan untuk fokus di isu konflik, pekerjaan pertama yang aku
dapatkan penelitian di 3 wilayah konflik (Kupang, Ambon, dan Poso). Aku
kebagian Ambon. Setelah itu, Ambon seperti sudah menjadi nama tengahku.
Persentuhan dengan wilayah lain tak kalah intens sebenarnya. Pertemuan di
sejumlah forum dan penelitian. Berkawan baik dengan aktivis dari
wilayah-wilayah konflik dan dari Poso ada kak Lian Gogali. Baru-baru ini hasil
kerjanya mendapat pengakuan SCTV Award. Sebelumnya telah banyak pengakuan lain,
pun dari New York sana. Bukan rentetan penghargaan itu yang membuat silau,
melainkan Sekolah Mosintuwu, sekolah perdamaian yang ia bangun bersama
perempuan-perempuan di sana.
Pada sebuah pertemuan, begitu tahu aku bekerja untuk UN Volunteers, kak
Lian melemparkan sebuah pertanyaan yang mengganggu. “Kapan voluntir ke Poso?”
Andai saja dia tahu, tapi kemungkinan dia tahu, ketika berkaitan dengan UN,
tidak ada yang benar-benar voluntir—semoga kalian mengerti maksudku.
Bagaimanapun aku menyatakan kesanggupanku untuk pergi ke sana. Saat itu yang
terlintas adalah karena aku belum pernah ke Poso (pada waktu itu aku belum
pernah melakukan perjalanan ke Pulau Sulawesi sama sekali). Aku cuma percaya aku
akan ke sana, entah bagaimana caranya. Sama ringannya ketika aku memutuskan
kuliah di Unpad hanya karena aku belum pernah ke Bandung.
Aku ingin tinggal di Ambon suatu hari nanti. Tidak mesti kota besar macam
Ambon, akan lebih bermanfaat kalau di pulau-pulau kecil dan terpencil di
Maluku. Apapun yang kulakukan akhir-akhir ini, kutujukan untuk mempersiapkan
itu, minimal secara psikologis. Misal perjalanan ke beberapa pulau di Maluku
kemarin. Bahkan Em membuat checklist.
Aku pun mengontak kak Lian. Kami berbincang lewat DM Twitter. Kalau aku
tidak salah ingat, tahun 2012 mereka menyelenggarakan Children of Peace
Festival. Aku cuma baca beritanya. Tahun lalu aku tahunya mepet. Duh. Sebagai
ancang-ancang perjalanan ini, kutanyakan festival ini padanya. Kalau membaca
ulang pesan yang kukirim, pertanyaanku tidak spesifik soal festival ini. Dia
mengabarkan soal Festival Danau Poso. “Kita rncna mau buka jalur ekowisata.
Kalau mau bisa gabung.” Ah, pertanda baik. Setelah berbincang-bincang lebih
lanjut, dia menyatakan kembali pertanyaan-lama-yang-mengganggu itu, “Bantuin
saya begitu?” Even better! Antusias? Tentu saja. Kutanya apa-apa saja yang bisa
kulakukan di sana, dia mengirim serentetan jawaban.
Baiklah, baiklah. Cukup untuk Poso. Karena perjalanan ini judulnya Keliling
Sulawesi dan direncanakan untuk setahun penuh, aku harus membuat itinerary yang
proposional. Kendari. Gorontalo. Luwuk. Manado. Makassar. Palu. Ah J Tidak mesti setahun juga sih. Fleksibel sepertinya
layak jadi kata sifat yang harus kita punya—dan leluasa adalah anugerah. Di
Poso 3 bulan, 9 bulan lainnya jalan-jalan, gimana? Nggak buruk-buruk amat, ya.
Update 10 Juni 2014
Nggak ada salahnya dibaca Quality Time with Trinity The Naked Traveler.
Update 10 Juni 2014
Nggak ada salahnya dibaca Quality Time with Trinity The Naked Traveler.

2 comments:
aku juga pengen ke sekolah perempuan poso sama anakku, hihihi, tapi entah kapan...
nggg terus tesisnya itu udah kelar kan ya?
Ishhhh... Bukan rencana dalam waktu dekat kok. Mbok kene kamu nyumbang tiket Jkt-Poso, biar cepet terwujud gitu ;)
Post a Comment