Klik Bila Perlu

Monday, May 12, 2014

Di Muka Kaca: Antara Refleksi dan Nurani

            …orang lebih mementingkan bini-muda daripada lukisan,
tindakkah itupun suatu bukti betapa sudah lemahnja budi manusia…

            Utuy Tatang Sontani, selanjutnya akan disebut Utuy saja, pernah mengalami masa-masa di mana kepercayaannya kepada manusia kikis habis. Sehingga keterlibatannya dalam Lekra pun jauh dari pratek-praktek politik praktis. Dia lebih ‘nyaman’ berada di situ (Lekra) karena para komunis itu lebih mengedepankan seni dan sastra sebagai gerak pembaharu perombakan sikap manusia.[i]
            Drama ini ditulis pada tahun 1956[ii], namun sepertinya Utuy sudah mengalami puncak pesimismenya.[iii] Si tokoh Ayah yang berjenggot dan bergodeg itu tidak hanya dibuat sangar dan kasar dalam penampilannya saja, melainkan juga dalam pandangannya. Sedemikian tidak percayanya dia kepada manusia (lain). Bahkan istri dan anaknya sendiri.
            Si tokoh Ayah ini adalah seorang yang sudah tidak mampu lagi menanggungkan keadaan sosialnya yang melarat. Di samping krisis ekonomi, krisis moral yang terjadi di zaman sekarang adalah akibat dari batjaan tjabul, pilem tjabul, berita2 tentang perbuatan tjabul dan pembesar jang tjabul. Ayah menyamakan kehidupan yang berlangsung sekarang tak ubahnya ‘binatang di hutan’. Segala yang terjadi telah diasai kejahatan dan kebinatangan. Pergeseran pandangannya terhadap manusia dan lingkungannya itu pun nampak juga dalam karya(lukisan)nya. Tokoh Ayah yang seorang pelukis tidak lagi melukis persawahan, melainkan lukisan-lukisan abstrak yang kusut.
            Itulah tjermin djiwanja diwaktu sekarang. Kusut, kotor, galak, tapi indah.
Itu pernyataan Ibu yang sepertinya mengerti keadaan Ayah. Sedangkan Yeti mengatakan lukisan Ayahnya kuriwal-kuriwel. Berbeda dengan lukisannya belasan tahun yang lalu.
Bentuk lain dari ketidakpercayaannya mengejawantah menjadi sikap paranoia pada semua hal di luar dirinya. Dia menjadi sedemikian protect terhadap Yeti. Pembicaraan tokoh Ayah dan Ibu tentang majalah yang dibaca Yeti dan akibat bacaan seperti itu—yang kata tokoh Ayah adalah ‘madjalah tjabul’—serta membandingkan Jakarta dengan Amerika yang anak-anak gadis sudah tidak memandang keperawanan sebagai sesuatu yang sakral lagi. Kakak kelas Yeti juga dianggap sebagai perusuh untuk anaknya. Si Kakak kelas itu tidak hanya dipandang sebagai laki-laki yang penuh tipu muslihat. Pembawa pengaruh buruk buat Yeti. Sepulang dari nonton dengan pemuda itu maka tokoh Ayah mengusir Yeti karena menganggap sudah tidak ‘murni’ lagi.
Aku tidak sudi ada kotoran didepan mata. Karena itu kau mesti pergi.
Ibu yang berkeberatan dengan sikap Ayah tersebut, memilih pergi menyusul Yeti. Karena selain menuduh pemuda yang telah mengajak Yeti pergi, tokoh Ayah juga menuduh Ibu yang mengizinkan Yeti pergi bahwa dengan itu Ibu merasa dirinyalah yang pergi dan bergembira karena Ibu pun tertarik pada pemuda itu.
Kau djangan bohong. Kau djangan mendustai diri sendiri. Kau kira aku akan marah, karena kau tertarik laki2 [l]ain selain aku ?… Tapi karena kau anggap tidak baik, lalu kausimpan, kausembunjikan, kenjataan itu disudut hatimu jang paling dalam.
            Akan tetapi, sebetapa pun dalam tokoh Ayah memegang teguh pendiriannya, ketika di muka kaca, dia tidak dapat mengingkari hati nuraninya sendiri. Suara Ibu dan Yeti tak lain dari suara hati kecilnya sendiri yang berusaha dia padamkan.
Di muka kaca dalam drama ini lebih merupakan sebuah usaha refleksi yang dilakukan oleh seseorang, di mana dia membebaskan segala represi-represi baik dalam pikiran maupun dalam hatinya. Yeti yang tidak dekat dengan Ayahnya merasa surprise ketika si Ayah memujinya. Dia mengatakan pada Ibunya bahwa dia tidak mengerti sikap Ayahnya namun keriangan hatinya tidak dapat dia tutupi ketika dia berkaca.
            Kaca dalam drama Utuy ini lebih merupakan simbolisasi dari diri sendiri, hati nurani, dan refleksi. Adalah menjadi menarik ketika terdapat penyebutan kita untuk kaca. Kita sendiri adalah suatu bentuk kedekatan atau keterkaitan antara si punutur dengan yang diajak bicara. Sedangkan dengan bentuk drama tertulis, drama ini dikisahkan oleh narator. Namun dalam penyebutan kita—di situ ada penyatuan antara narator, kaca itu sendiri, dan pembaca—seakan tak ada jarak antara peristiwa yang berlangsung dengan kita; pembaca.



[i] Lih. Alex Soepartono tentang sastra eksil dalam Kalam

[ii] Saat itu Utuy belum bergabung dalam Lekra

[iii] Hasil wawancara Pramoedya Ananta Toer, ibid.

No comments: