…orang lebih mementingkan
bini-muda daripada lukisan,
tindakkah itupun suatu bukti betapa sudah lemahnja budi manusia…
Utuy Tatang Sontani, selanjutnya
akan disebut Utuy saja, pernah mengalami masa-masa di mana kepercayaannya
kepada manusia kikis habis. Sehingga keterlibatannya dalam Lekra pun jauh dari
pratek-praktek politik praktis. Dia lebih ‘nyaman’ berada di situ (Lekra)
karena para komunis itu lebih mengedepankan seni dan sastra sebagai gerak
pembaharu perombakan sikap manusia.[i]
Drama ini ditulis pada tahun 1956[ii],
namun sepertinya Utuy sudah mengalami puncak pesimismenya.[iii]
Si tokoh Ayah yang berjenggot dan bergodeg itu tidak hanya dibuat sangar dan
kasar dalam penampilannya saja, melainkan juga dalam pandangannya. Sedemikian
tidak percayanya dia kepada manusia (lain). Bahkan istri dan anaknya sendiri.
Si tokoh Ayah ini adalah seorang
yang sudah tidak mampu lagi menanggungkan keadaan sosialnya yang melarat. Di
samping krisis ekonomi, krisis moral yang terjadi di zaman sekarang adalah
akibat dari batjaan tjabul, pilem tjabul, berita2 tentang perbuatan tjabul
dan pembesar jang tjabul. Ayah menyamakan kehidupan yang berlangsung
sekarang tak ubahnya ‘binatang di hutan’. Segala yang terjadi telah diasai
kejahatan dan kebinatangan. Pergeseran pandangannya terhadap manusia dan
lingkungannya itu pun nampak juga dalam karya(lukisan)nya. Tokoh Ayah yang
seorang pelukis tidak lagi melukis persawahan, melainkan lukisan-lukisan abstrak
yang kusut.
Itulah tjermin djiwanja
diwaktu sekarang. Kusut, kotor, galak, tapi indah.
Itu pernyataan Ibu
yang sepertinya mengerti keadaan Ayah. Sedangkan Yeti mengatakan lukisan
Ayahnya kuriwal-kuriwel. Berbeda dengan lukisannya belasan tahun yang
lalu.
Bentuk lain dari ketidakpercayaannya mengejawantah menjadi
sikap paranoia pada semua hal di luar dirinya. Dia menjadi sedemikian protect
terhadap Yeti. Pembicaraan tokoh Ayah dan Ibu tentang majalah yang dibaca Yeti
dan akibat bacaan seperti itu—yang kata tokoh Ayah adalah ‘madjalah
tjabul’—serta membandingkan Jakarta dengan Amerika yang anak-anak gadis sudah
tidak memandang keperawanan sebagai sesuatu yang sakral lagi. Kakak kelas Yeti
juga dianggap sebagai perusuh untuk anaknya. Si Kakak kelas itu tidak hanya
dipandang sebagai laki-laki yang penuh tipu muslihat. Pembawa pengaruh buruk
buat Yeti. Sepulang dari nonton dengan pemuda itu maka tokoh Ayah mengusir Yeti
karena menganggap sudah tidak ‘murni’ lagi.
Aku tidak sudi ada kotoran didepan mata. Karena itu kau mesti
pergi.
Ibu yang berkeberatan dengan sikap Ayah tersebut, memilih pergi menyusul
Yeti. Karena selain menuduh pemuda yang telah mengajak Yeti pergi, tokoh Ayah
juga menuduh Ibu yang mengizinkan Yeti pergi bahwa dengan itu Ibu merasa
dirinyalah yang pergi dan bergembira karena Ibu pun tertarik pada pemuda itu.
Kau djangan bohong. Kau djangan mendustai diri sendiri.
Kau kira aku akan marah, karena kau tertarik laki2 [l]ain selain aku ?… Tapi
karena kau anggap tidak baik, lalu kausimpan, kausembunjikan, kenjataan itu
disudut hatimu jang paling dalam.
Akan
tetapi, sebetapa pun dalam tokoh Ayah memegang teguh pendiriannya, ketika di
muka kaca, dia tidak dapat mengingkari hati nuraninya sendiri. Suara Ibu dan
Yeti tak lain dari suara hati kecilnya sendiri yang berusaha dia padamkan.
Di muka kaca dalam drama ini lebih
merupakan sebuah usaha refleksi yang dilakukan oleh seseorang, di mana dia
membebaskan segala represi-represi baik dalam pikiran maupun dalam hatinya.
Yeti yang tidak dekat dengan Ayahnya merasa surprise ketika si Ayah
memujinya. Dia mengatakan pada Ibunya bahwa dia tidak mengerti sikap Ayahnya
namun keriangan hatinya tidak dapat dia tutupi ketika dia berkaca.
Kaca
dalam drama Utuy ini lebih merupakan simbolisasi dari diri sendiri, hati nurani,
dan refleksi. Adalah menjadi menarik ketika terdapat penyebutan kita untuk
kaca. Kita sendiri adalah suatu bentuk kedekatan atau keterkaitan antara si
punutur dengan yang diajak bicara. Sedangkan dengan bentuk drama tertulis,
drama ini dikisahkan oleh narator. Namun dalam penyebutan kita—di situ ada
penyatuan antara narator, kaca itu sendiri, dan pembaca—seakan tak ada jarak
antara peristiwa yang berlangsung dengan kita; pembaca.

No comments:
Post a Comment