Klik Bila Perlu

Monday, June 02, 2014

Keliling Sulawesi: Sebuah Ide

Ketika sedang superduperdeadline, hal-hal selain menyelesaikan deadline itu sendiri tampak lebih menarik dilakukan. Dalam kasusku, ide untuk keliling Sulawesi-lah yang menyita perhatian.
Ini bukan ide baru. Dia menjadi prioritas kedua setelah Banda Neira. Awalnya, semata-mata karena aku belum pernah menginjakkan kaki di pulau ini—transit satu jam tidak dihitung, ya. Kemudian kesampaian melakukan perjalanan ke sana, bahkan selain Makassar, sempat pula ke Tana Toraja dan Samalona. Terima kasih pada Citilink untuk tiket promonya. Postingan minggu ini merekam perjalanan tersebut (tapi belum semua diunggah).

Entah kenapa, meskipun perjalanan ke Saparua dan Nusalaut tidak dapat meredakan kehendak untuk ke Banda Neira, yang lebih menggairahkan saat ini justru memenuhi prioritas kedua itu. Kalau harus banget menemukan alasan, mungkin, perlu jeda dari deraan tesis dan semua yang berbau Ambon dan Maluku. So, Sulawesi.

Pertanyaan selanjutnya, mau ngapain ke Sulawesi? Nah.

Kemarin sore aku membaca beberapa blog yang membahas tentang persiapan long term travel, kebanyakan berkonteks round the world travel atau (digital) nomad (living). Aku mengunduh satu checklist yang diunggah di Bootsnall, sebuah forum untuk RTW traveler. Aku nggak bergabung dengan mereka, tidak telaten. Aku memilihnya menjadi acuan karena persiapan yang dilakukan cukup panjang, setahun sebelum hari H, serta cukup komprehensif dan substansial (halah!).

Pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah apa tujuan perjalanan ini, idealnya dirumuskan setahun sebelum pergi. Untuk pertanyaan pertama, rasa-rasanya kalo dijawab keliling Sulawesi thok kok nggak memuaskan, ya. Ini mengingatkanku pada gumpalan pertanyaan lama: orang-orang yang melakukan RTW travel itu ngapain ya, selain mengeksplor tempat-tempat wisata? FYI, 1,5 terakhir ini aku sangat intens melihat hal-hal yang terkait dengan RTW travel ini. Alasannya sih karena aku punya penyakit travel-size-obsession. Alasan lainnya, mungkin pengaruh 2 sahabat yang menganut (baca: mempelajari) Buddha. Konon Buddha bilang keterikatan kita pada benda-benda, termasuk relasi dengan orang lain, mereduksi kebahagiaan kita. Aku rasa itu benar.

Kembali ke pertanyaan pertama, mau apa ke Sulawesi. Penting dijawab karena akan membantu membuat itinerary, anggaran, dan printilan-printilan lainnya. Jawaban ini seperti puzzle, dibangun atas perlbagai peristiwa sehingga membentuk sebuah kesatuan gambar. Aku jadi percaya, tidak ada kebetulan di dunia.

Pertama, aku mau ke Poso.

Ada apa di Poso dan kenapa?

Setelah memutuskan untuk fokus di isu konflik, pekerjaan pertama yang aku dapatkan penelitian di 3 wilayah konflik (Kupang, Ambon, dan Poso). Aku kebagian Ambon. Setelah itu, Ambon seperti sudah menjadi nama tengahku. Persentuhan dengan wilayah lain tak kalah intens sebenarnya. Pertemuan di sejumlah forum dan penelitian. Berkawan baik dengan aktivis dari wilayah-wilayah konflik dan dari Poso ada kak Lian Gogali. Baru-baru ini hasil kerjanya mendapat pengakuan SCTV Award. Sebelumnya telah banyak pengakuan lain, pun dari New York sana. Bukan rentetan penghargaan itu yang membuat silau, melainkan Sekolah Mosintuwu, sekolah perdamaian yang ia bangun bersama perempuan-perempuan di sana.

Pada sebuah pertemuan, begitu tahu aku bekerja untuk UN Volunteers, kak Lian melemparkan sebuah pertanyaan yang mengganggu. “Kapan voluntir ke Poso?” Andai saja dia tahu, tapi kemungkinan dia tahu, ketika berkaitan dengan UN, tidak ada yang benar-benar voluntir—semoga kalian mengerti maksudku. Bagaimanapun aku menyatakan kesanggupanku untuk pergi ke sana. Saat itu yang terlintas adalah karena aku belum pernah ke Poso (pada waktu itu aku belum pernah melakukan perjalanan ke Pulau Sulawesi sama sekali). Aku cuma percaya aku akan ke sana, entah bagaimana caranya. Sama ringannya ketika aku memutuskan kuliah di Unpad hanya karena aku belum pernah ke Bandung.

Aku ingin tinggal di Ambon suatu hari nanti. Tidak mesti kota besar macam Ambon, akan lebih bermanfaat kalau di pulau-pulau kecil dan terpencil di Maluku. Apapun yang kulakukan akhir-akhir ini, kutujukan untuk mempersiapkan itu, minimal secara psikologis. Misal perjalanan ke beberapa pulau di Maluku kemarin. Bahkan Em membuat checklist

Aku pun mengontak kak Lian. Kami berbincang lewat DM Twitter. Kalau aku tidak salah ingat, tahun 2012 mereka menyelenggarakan Children of Peace Festival. Aku cuma baca beritanya. Tahun lalu aku tahunya mepet. Duh. Sebagai ancang-ancang perjalanan ini, kutanyakan festival ini padanya. Kalau membaca ulang pesan yang kukirim, pertanyaanku tidak spesifik soal festival ini. Dia mengabarkan soal Festival Danau Poso. “Kita rncna mau buka jalur ekowisata. Kalau mau bisa gabung.” Ah, pertanda baik. Setelah berbincang-bincang lebih lanjut, dia menyatakan kembali pertanyaan-lama-yang-mengganggu itu, “Bantuin saya begitu?” Even better! Antusias? Tentu saja. Kutanya apa-apa saja yang bisa kulakukan di sana, dia mengirim serentetan jawaban.  


Baiklah, baiklah. Cukup untuk Poso. Karena perjalanan ini judulnya Keliling Sulawesi dan direncanakan untuk setahun penuh, aku harus membuat itinerary yang proposional. Kendari. Gorontalo. Luwuk. Manado. Makassar. Palu. Ah J Tidak mesti setahun juga sih. Fleksibel sepertinya layak jadi kata sifat yang harus kita punya—dan leluasa adalah anugerah. Di Poso 3 bulan, 9 bulan lainnya jalan-jalan, gimana? Nggak buruk-buruk amat, ya.

Update 10 Juni 2014 
Nggak ada salahnya dibaca Quality Time with Trinity The Naked Traveler.

2 comments:

Sofie said...

aku juga pengen ke sekolah perempuan poso sama anakku, hihihi, tapi entah kapan...
nggg terus tesisnya itu udah kelar kan ya?

Rara said...

Ishhhh... Bukan rencana dalam waktu dekat kok. Mbok kene kamu nyumbang tiket Jkt-Poso, biar cepet terwujud gitu ;)