Klik Bila Perlu

Tuesday, April 22, 2014

Comic Café

Jumat sore bukan waktu yang ideal untuk makan di luar. Sebab, sebagian besar buruh yang libur Sabtu-Minggu mulai merayakan akhir pekannya. Biarpun begitu, usai makan di Warmo (6/7), kami lekas ke kawasan Tebet Timur yang dua hari lagi menyerupai Kemang itu. Pilihan jatuh ke Comic Café. 

Tulisan pengamen/pengemis dilarang masuk menghadang di pintu. Karena kami bukan dua-duanya, kami mendorong pintu kaca dan memilih kursi untuk berdua. Sebelum duduk, mata disergap segala rupa komik. Kenshin, Sakura, Superman… Mereka juga ada di mana-mana. Di dinding, lukisan, langit-langit, daftar menu, tercetak juga di ubin.


Tuna bumbu merah dan acar di Warmo tadi masih menidurkan naga di perut kami. kami hanya memesan silky smoothies (orange untukku dan strawberry buat dia0 dan ... dia tidak mau French fries tapi tak ada alternatif lain, pilihan makanan yang ada terlalu serius (steik, sandwich, etc), mau tak mau kita memesan, French fries gaya Comic Café. Namanya amazing potatoes. 

“Seberapa amazing, mbak?” tanyaku pada mbak berseragam yang sabar, mungkin dalam hati dia sedikit kesal, menunggui kami mengurut daftar menu. 

Dia tertawa. Tak menyangka akan mendapat pertanyaan ini. “Tergantung,” kata dia akhirnya. 

Ya. Kami putuskan memesan amazing potatoes dan berharap mendapat kejutan. 

Silky smoothies lebih dulu datang. Kami, aku tepatnya, agak kecewa. Rasanya tak beda dengan blenderan marimas rasa jeruk ditambah batu es. Dan gelasnya itu lho.. gelas plastik bertutup. Benar-benar seperti sedang disodori buble gum yang dibeli di pinggir jalan. 

Amazing potatoes yang hadir belakangan lebih menggembirakan. Bahkan bisa dibilang benar-benar amazing. Kentang dibelah delapan, oleskan mentega di setiap sisinya lalu dipanggang di api sedang—tujuannya biar kentang tetap matang di dalam tanpa membuatnya rekah, setelah lunak, diamkan sebentar sebelum ditaburi campuran keju dan peterseli cincang. Sajikan kentang yang masih berkulit itu dalam keadaan hangat. Tentu saja aku ngarang. Mana aku tahu kentang oke itu dimasak dengan cara seperti apa dan ditaburi apa saja. 

Kami makan kentang pelan-pelan. Membiarkan dia menempel di lidah kami dan bercampur dengan saus thousand island (atau apalah) sebelum meluncur ke tenggorokan dan menyelundupkan rasa riang yang hangat. Lembutnya hanya bisa ditandingi kentang Dieng yang dimakan di Dieng pada saat liburan (hahaha, sorry). 

Obrolan kami berhenti untuk mengomentari Peterpan dan Radja yang mengalun bergantian. (Duh, nggak banget deh…) Ketika pandangan kami layangkan ke luar dinding kaca, pengunjung yang memenuhi kursi-kursi di halaman juga agak risih dengan pengamen-pengamen yang datang lima menit sekali. 

Jam sembilan kami meninggalkan Superman dan Peter Pan, menuju kasir di luar. Rp 8.000 untuk segelas silky smoothies, Rp 6.000 untuk si amazing. Total kerusakan yang kami derita (pinjem istilah milis sebelah) Rp 20.000. Wow. “Cuma dapet segelas tuh di Bakoel Koffie (belum termasuk PPN 10 %),” seruku di antara saf mobil yang tumplak di bahu jalan. Asap 68 dan bajaj bertarung dengan aroma burger. Kami tak acuhkan keduanya. Rasa kentang masih tertinggal di hati kami.

No comments: