Hari itu saya sedang
bersemangat dan punya waktu untuk belanja. Barang yang saya cari, sebuah
sleeping bag yang rencananya akan dipakai adik camping, ada di Pasaraya, Blok
M. Setelah belajar tentang gender budget di Widjojo Centre, bersama Joko yang
tidak pernah rewel diajak belanja, saya naik 19 menuju Blok M.
Melihat kompor
parafin dan tenda-tenda yang dipasang untuk display menarik saya ke satu masa.
Barangkali pada saat itulah kecintaan saya akan perjalanan mulai ditumbuhkan.
Camping. Jalan-jalan. Keluar sejenak dari keseharian. Dan sleeping bag,
meskipun sudah sangat jarang naik gunung kala kuliah, tetaplah menjadi barang
yang selalu ingin saya punyai.
Masuk Pasaraya, tak
lama, sleeping bag sudah kami dapatkan. Karimor. Model terbaru, dalamnya
terbuat dari bahan (ah entah apa aku lupa), jelas mas-mas penjaga yang sosoknya
anak gunung banget dengan senyum yang samar-samar tapi tak pernah kehilangan
keramahan. Kalau tak ingat ini tempat umum pasti saya sudah lompat dan teriak
“Yuhuuu, I have one! Finally.” Sayangnya, sejuknya gedung mal yang senyap
menjauhkan saya dari kegilaan semacam itu.
Hari baru beranjak
petang ketika kami keluar Pasaraya. Kami memutuskan tak langsung pulang. Blok M
Square? Ajakku. Yuk. Harus kutambahkan, Joko termasuk tipe orang yang tidak
punya perbendaharaan kata tidak.
Jalan dari Pasaraya
ke Blok M Square, meskipun tak ada lagi pedagang kaki lima, tetaplah ramai.
Sambil melebur dalam lalu lalang saya mendengarkan penjelasan Joko tentang Blok
M Square yang sudah seperti rumah keduanya. Sungguh tak beda dengan mal-mal
yang lain. Beli baju. Makan. Nonton. Lihat-lihat. Dan Blok M masihlah Blok M,
dalam ingatan saya. Tempat saya beli celana jins dengan gambar Betty Boop,
makan otak-otak bumbu kacang di lantai 1 sambil nunggu teman-teman saya selesai
beli ini itu. Atau pergi ke Gramedia yang gedung dan plangnya nyempil, hampir
tak kelihatan, tapi kadang menyimpan koleksi buku yang ajaib, kalau sedang
kabur dari sekolah.
Gramedia masih ada.
Tak tersentuh perubahan. Sementara saya memasuki gedung baru. Lupakan Melawai
dan inilah Blok M Square itu.
Toko buku bekas kami
tuju. Seperti biasa, kalap mode on mendengar buku-buku itu memanggil-manggil,
minta dibeli. Di sela buku managemen-akuntansi, pertanian, National Geographic
tahun 70an, dan Tata Bahasa Indonesia Baru yang diterbitkan pada tahun 1980
sekian aku menemukan beberapa buku. Steinbeck’ The Grape of Wrath. Machbet dan
beberapa drama Shakespeare. Ignazio Silone’ Fontamara. Kurt Vonnegut, yang
dengan kebetulan disebut dalam film yang kutonton semalam. Novel Herman
Melville. El Filibusterismo…
Oke, nona, belilah
dengan bijaksana.
Dan saya pun memilih
ulasan Balzac yang ditulis Stefan Zweig dan satu naskah drama yang pernah
difilmkan, Who’s Afraid of Virginia Woolf. Kenapa? Entahlah. Saya pernah sekali
membaca biografi Marie Antoinnette yang ditulis Zweig. Saya suka gaya
penulisannya, meskipun tidak terlalu setuju dengan perspektif yang
dipaparkannya. Saya sekedar ingin tahu gaya Zweig yang lain dalam menulis
biografi dan buku yang disebut Adit “seperti kitab suci ini” memang lebih patut
dibeli mahasiswa Sastra Inggris yang sedang skripsi tentang Balzac.
Sesampai kasir, saya
dibuat berkutat lebih lama di buku-buku usang berdebu dengan lembar-lembar yang
kekuningan itu karena, ternyata, buku-buku yang saya beli saya ambil dari rak
10 ribu 3 –cukup Rp 10.000 untuk 3 buku. Semula saya mengira 10 ribu adalah
harga satuannya, seperti rak sebelahnya. Pilihan jatuh pada The Female Eunuch,
pemikiran kontroversial seorang feminis radikal, Germaine Green.
Ya, ya, baiklah.
Cepat bayar dan segera keluar.
Kami cuma melewati
kios-kios di Blok M Square ini. Satu dua yang kami singgahi tak benar-benar
menarik perhatian kami. Padahal mereka, kaki lima dengan barang jualan yang
sama itu, sekarang berada di kios yang bersih, bau cat belumlah hilang, pembeli
tak perlu berpanas-panasan, udara sejuk AC, tak khawatir tiba-tiba kesenggol
orang karena jalanan yang sempit dan gangguan bau got bercampur keringat yang
menyengat. Kios-kios lengang. Penjaga kios duduk-duduk saja, menawarkan
dagangannya dengan enggan. Barangkali jelang lebaran nanti mereka pulih, aku
berharap diam-diam dalam hati. Memang ini masa sulit. Tapi tempat baru membuat
kondisi makin sulit. Adaptasi, sewa yang lebih mahal, bahkan bukan tidak
mungkin kehilangan pelanggan dan pembeli baru yang segan.
Saya bingung mau
melihat apa lagi. Ajak Joko pulang.
Sebelum pulang, Joko
menawarkan sesuatu yang tidak bisa ditolak (serasa Michael dalam Godfather
hehe). Toko buku bekas (dan murah) lagi. Yup, “biar bekas tapi buku tidak
pernah kadaluwarsa.” Ini kali malah berderet-deret. Hampir terlonjak liat rak
kasetnya. Bukan karena 10 ribu 3-nya, tapi koleksi-koleksi yang terpajang di 3
rak itu. Belasan album The Best, Billboard new entry tapi zaman kejayaan Peabo
Bryson, Cindy Lauper, Waldjinah Putri Kintamani, keroncong disco reggae Rama
Aiphama, Top 10 New Entry 87, David Hasselholf (baru tahu dia nyanyi!) yang
sedang Looking For… The Best, kaset bekas James Brown milik Irwan Supriyadi,
Ludruk Mandala, Top TV Video Show (bagaimana lihatnya kalau dia berbentuk kaset
gitu ya?), Fariz RM Dua Dekade (!), dan yang paling mencengangkan album Dream
About You-nya Stevie B!!!
Album yang terakhir
disebut saya punyai sewaktu lulus SMP, sekitar tahun 1996, 13 tahun yang lalu.
Saya dapat dari kakaknya teman sekelas yang kenal sewaktu maen ke rumahnya di
Gresik. Kebetulan sang kakak, bad boy yang sekolah di pondok pesantren
Salafiyah Safiiyah di Situbondo, sedang liburan. Singkat cerita,
naksir-naksiran. Dan surat cintaku yang pertama na na na itu kudapat ketika
saya mengambil ijazah SMP ke sekolah, suratnya dialamatkan ke sekolah.
Terbungkus rapi dan wangi bersama album Stevie B ini. What a love story!


No comments:
Post a Comment