Tampil di Kerajaan Mimpi (MetroTV, 22.00
WIB) menjadi salah satu salah satu agenda perayaan Hari Perempuan
Internasional. Panitia Bersama, gabungan sejumlah LSM Perempuan, berencana
mengerahkan seluruh pasukannya untuk hadir pada Minggu siang (11/3/06) di
studio utama MetroTV untuk syuting.
Warga JP Raya tentu tak ketinggalan.
Berkiblat pada sms yang beredar, jam 10 kita berkumpul di kantor untuk
berangkat bersama. Waktu aku nulis cerita ini, jam di dinding sekuriti sudah
menunjukkan pukul 10.40 WIB. Yang datang sesuai waktu yang direncanakan sudah
mulai kegerahan. Rita en suami bahkan sudah selesai branch. Joko pasrah di
depan tv. Kamel mulai menelpon. Mar (dia otw), Acing, Linda, Ardian, dan entah
siapa lagi… Kebanyakan mengundurkan diri dengan alasan. Sebagian lagi
menghilang tanpa kabar, tanpa bisa dihubungi.
Buku Nawal yang kubaca membawaku sampai ke
Mesir. Aku berdiri di tengah gurun. Angin bertiup membawa debu-debu. Peluh
membasah di tengkuk dan ketiak. Dada mulai dan dipenuhi rasa tak nyaman.
Sinar matahari memantul dari Karimun Mar
yang memasuki pelataran JP. Dia datang bersama suaminya. Tanpa melihat jam
lagi, kami bergegas memasuki mobil Rita yang akan mengantar kita siang ini dan
segera meluncur ke Pilar Mas.
Gerak udara terasa menyenangkan, menyambut
kami begitu keluar dari mobil dengan AC seadanya. Rasanya segar seperti es
kelapa. Riang seperti tawa. Parker MetroTV mengingatkanku pada kota-kota Timur
Tengah. Pohon-pohonPalem (?) dipangkas dan berjajar rapi, tak ubah pohon kurma
di halaman sebuah hotel di Dubai atau Abu Dhabi (aku pernah melihat gambarnya
di kran). Hanya saja di sini pohon-pohon itu tumbuh di atas aspal. Mungkin
sama, mungkin juga berbeda. Aku membayangkan di kota-kota modern itu pohon
kurma juga tumbuh di atas aspal.
Kami naik ke lantai 2. Meninggalkan lobi
dengan ubin yang dingin dan patung perempuan telanjang. Di eskalator kami
berpapasan dengan segerombol mahasiswa beralmamater merah. Dugaku, mereka pun
dating dengan niatan sama seperti kita, syuting salah satu acara MetroTV, entah
acara apa. Jumlah mereka lebih banyak dari kami.
Di lantai 2 sebagian pekerja organisasi
Perempuan sudah lebih dulu datang. Adaibu Kencana, mbak Rena dari Kalyanamitra,
beberapa perempuan dari Mitra Perempuan (tapi aku tidak menyapa mereka). Lalu
menyusul Masruchah dari Koalisi Perempuan Indonesia dan bala tentaranya. Nia
Syarifuddin dari Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, dan sebagainya. Ruangan
penuh sesak seperti bis kelebihan muatan. AC tidak lagi terasa dingin.
Aku memilih duduk di sudut. Bersebelahan
dengan seorang ibu yang tidak kukenal. Aku sedang malas bicara dengan siapapun.
Aku membayangkan, akan sangat menyenangkan kalau saat ini tiduran di kamar dan
menamatkan buku Nawal.
Aku memasukkan lagi buku Nawal ke dalam
tas. Udara yang panas membuatku tidak bernafsu membacanya. Di seberang jendela,
daun-daun bambu berderak ditiup angin. Burung-burung kecil beterbang dan
hinggap di kawat berduri. Aku iri melihat mereka Mungkin seperti ini rasanya
menjadi burung dalam sangkar. menghirup udara segar pun tak bisa. Aku semakin
terkurung dalam perasaan-perasaan tak nyaman.
Nasi boks dibagikan. Mereka, orang
MetroTV, mempersilakan kami makan. “Karena ini untuk aktivis perempuan, menunya
juga khusus perempuan.” Mereka bicara sambil tertawa seolah ada yang lucu dari
ucapannya. Aku tidak mengerti bagian mana yang lucu. Apa aktivis perempuan
selalu berjenis kelamin perempuan? Apa makanannya perlu dibedakan? Tak ada
lezat tercecap di lidah, sekedar mengisi perut yang kosong sejak pagi. Aku
tidak menghabiskan bagianku. Jeruk juga terasa hambar. Setengah satu, kru
Kerajaan Mimpi, diketahui kemudian namanya Iqbal, meminta kita memasuki studio
untuk latihan. Kami berbondong masuk.
Studio telah siap. Kursi untuk pembicara,
bangku untuk penonton. Gelas-gelas telah dipenuhi air. Lampu-lampu menyorot
muka kami. Kameramen standby di tempatnya. Penyanyi selesai di-make-up. Iqbal
berdiri di tengah ruang syuting. Dari keseluruhan acara hari itu, kemunculan
Iqbal adalah saat-saat terbaik yang pernah ada. Dia adalah kompor acara ini.
Dia membeberkan pada kami soal somasi dan perubahan nama dari Republik Mimpi
menjadi Kerajaan Mimpi. Dia menceritakan respon masyarakat, termasuk masyarakat
internasional, atas keberadaan Newsdotcom—yang tentunya—kebanyakan menilai
positif. Dengan suara riang dan humor di mana-mana, Iqbal meyakinkan kami kalau
kami adalah bagian dari pertunjukan ini. Dia mengerjakan tugasnya dengan baik.
Bersama Iqbal, kami berlatih theme song
Kerajaan Mimpi. Jangan khawatir tidak hafal teksnya (aku bahkan tidak pernah
tahu liriknya) karena di layar lirik lagu ditulis besar-besar. Pertama kali
mencoba nilai kami 3,2. Iqbal kembali menyemangati kami. Kami menyanyi untuk
kedua kali dan nilai kami melesat ke angka 7,9. Lumayan untuk pemula. Setelah
itu, kami berlatih tepuk tangan (?!!), atau lebih tepatnya bertepuk tangan
dengan antusias. Aku yakin, pulang nanti tangan kita semua akan kapalan.
Berpuluh kali tepuk tangan membuat telapak kami memerah. Dan penderitaan ini
belum selesai.
Kami masih harus berlatih tertawa,
antusias, dan tampak riang. “Kalo nggak, tipi-tipi di rumah nanti gambarnya
pada rusak. Bisa-bisa malah pada pecah.” Ini tentu bias-bisanya Iqbal. Tapi
cukup mujarab mendorong semangat beberapaorang agar tidak nampak kusut di depan
kamera. Beberapa orang mulai mengumbar senyum dan bernyanyi dengan gembira.
Tidak jarang pinggul dan pundak pun turut bergoyang.
Terima kasih, tuhan, tidak membuatku
bercita-cita menjadi objek kamera!
Tiba saatnya, kamera benar-benar merekam kami.
Iqbal pergi, meninggalkan kami bersama mas Ike. Dia, semacam, sutradara. Lagu
pertama yang kami nyanyikan gagal total. Kami kurang riang, katanya. Tentu
saja, kami sudah kecapekan. Telapak saling menepuk sudah hampir ratusan kali.
Kami juga mesti berteriak, bernyanyi, dan pura-pura bergembira. Kami tidak
diizinkan beranjak dari bangku kami, kecuali beberapa saat untuk ke kamar
mandi. Kami juga tidak diizinkan membawa tas. Apalagi makanan dan minuman.
Sementara itu, tenggorokan kami maki kuat diserbu dahaga dan persediaan ludah
juga sudah kami habiskan sejak tadi. Seperti belum puas menyiksa kami, kami
diberitahu bahwa kita sudah melewati 3 scene, masih ada 6 scene lagi. Aww!!!
Kami merindukan Iqbal.
Belum pernah aku bersyukur sesering ini.
Aku bersyukur karena tuhan tidak menjadikanku orang terkenal, artis, public
figure, atau makhluk semacamnya. Kelelahan ini baru sebagian ongkos yang harus
dibayar, selebihnya mereka masih harus kehilangan privasi dan, mungkin juga,
diri sendiri. Tapi demi apa kami membayar semua tetek bengek ini? Popularitas
Hari Perempuan Internasionalkah? Atau mengangkat persoalan perempuan yang hanya
disiarkan sekian detik?
No comments:
Post a Comment