Klik Bila Perlu

Thursday, March 06, 2014

Genderuwo Barongan

Mamak bilang, kalau bapak datang nanti mau masang listrik sendiri. Biar bisa nonton TV di rumah. Sekalian lampu teras. Memang yang depan rumahnya berlampu cuma lima rumah. Mbak Ti, lek Tun, mbak Ninik, Pak Joko, dan Hartin. Di banjar-ku lima rumah itulah yang deket pintunya ada meteran listrik. Mamak, de Mutiah, sama yang lainnya cuma nyalur ke mereka. Lampu jalan cuma ada di prapatan. Aku iya saja waktu mamak bilang gitu. Apalagi rumahku dekat sama barongan. Depannya persis malah. Aku selalu minta anter kalau kemalaman pulang dari rumah Hasna. Soalnya, kadang-kadang barongan itu jadi raksasa. Jubahnya hitam. Jari-jarinya runcing. Matanya ada sembilan. Rambutnya jabrig. Tapi dia takut bulan purnama. Kalau di langit bulannya sebunder talam, dia hanya serumpunan pohon bambu. Nggak ada itu genderuwo-genderuwo lagi. Hanya kadang dia goyang-goyang dan bunyi kresek-kresek. Aku tahu dari bapak. Setiap padhang mbulan genderuwo-genderuwo itu dikerangkeng di pohon bambu. Mangkanya setiap padhang mbulan kami selalu main di luar rumah. Bentengan. Angkluk jago. Atau engkle.
Dia datang lagi ke rumah. Kemeja lengan pendek. Warna birunya agak luntur. Kata Hasna, karena sering dipake sering dicuci. Karena sering dicuci jadi habis warnanya. Ada gambar pohon kelapa. Tulisan Kuta Bali di punggung dan samping lengan. Celana bahan. Rambutnya tebal dan hitam. Sedikit berombak seperti Bengawan Solo kalo ada perahu lewat. Kalau guyonan kelihatan gingsulnya. Hidungnya kayak Raden Ngarjuno, kata bude Mar. Kulitnya agak putih. Dia tidak pernah ke sawah seperti Bapak yang kulitnya sampai coklat mengkilat. Waktu lek Tun, bude Mar, dan mamak petan di teras langgar, mereka saling berebut jadiin nak bagus mantunya. Aku tidak nguping lho. Di sekolah aku diajari kalau nguping itu dosa. Aku nggak sengaja dengernya. Aku sama Hartin lagi main pasar-pasaran waktu itu. Dan kami ngikik saja waktu lek Tun nyebut nak bagus. Soalnya dia selalu punya panggilan yang jelek buat semua orang. Masa Mas Andi dia bilang Ngasmin. Ngasmin itu orang gila yang kleleran di banjar-ku. Dia suka ngoceh sendiri. Kalau kebetulan papasan sama aku dan Hasna atau teman-teman perempuanku yang lain, dia selalu bilang, no.. memeknya kelihatan, sambil nunjuk-nunjuk ke pipisku. Kami lari. Takut. Suka juga dia misuh-misuh, dancuk, dancuk, sambil melempari gardu di prapatan. Kata mamak, aku nggak boleh dengerin omongan orang gila. Nanti bisa tuli. Tapi Ngasmin suka kalo ditanggap kak Jan dan teman-temannya. Mereka tanya-tanya nomor yang keluar buat tombokan. Nanti, kalo nomor ini keluar, kamu tak jajanin bakso, Mi, kata kak Jan sambil mukulin kertas ke kepalaku sambil ketawa-tawa. Mbaknya Hartin, lek Tun panggil sondrang amoh. Aku nggak tahu artinya apa. Kedengerannya seperti kain sampiran di kakus. Bapak nggak pernah dipanggil Sudin. Tapi Gombal mukiyo. Mbok adus. Raimu kuwi lho wis mirip gombal mukiyo. Itu pertamanya. Besok-besokannya lek Tun selalu panggil bapak gombal mukiyo. Bude Mar ngomong, wis Joko kuwi tak pek mantu aelah. Lek Tun langsung nyahut, wong ibunya nak bagus sendiri yang bilang mau nunggu gedenya Hartin. Lalu bude Mar nggak mau kalah. Lha anakmu masih krucil gitu. Bisa-bisa nak bagus ganti nama. Bukan Joko Sutanto lagi, tapi joko tuo. Mamak cuma senyam-senyum saja.
Kami belajar ngaji padanya. Dia tahu banyak sekali persamaan kata dan mengajari kami nama-nama hari dalam bahasa Inggris. Pernah dia bilang oryza sativa itu artinya padi dan itu bukan bahasa Inggris tapi bahasa Latin. Dia juga bisa bahasa Latin. Ya, nak bagus itu Pak Joko. Pak Guru Joko. Guru bahasa Indonesiaku. Sejak aku pindah ke sini, 3 tahun lalu, dia selalu menjadi wali kelasku. Dan aku yang selalu rangking 1, selalu dialem. Katanya aku cerdas. Ayu. Dagu belah kalau ketawa jadi tambah sumringah.
Dia datang lagi. Di rumah tidak ada siapa-siapa.
Mamakku sedang nonton tv di de Mun, itu kebiasaannya. Selain ngrubung ke tukang kredit. Gara-gara itu aku hanya tinggal berdua saja dengannya. Bapak tidak punya sawah. Kerjanya paling mreman. Atau kalau sedang panen, bantu Pak Mus nyaput, ngorok, lalu nimbang padi di selep. Tapi tukang kredit itu datang terus. Bapak, malam itu, bilang mau jualan bakso saja di Stasiun Pasar Turi. Bapak lalu tinggal di Surabaya, 3 setengah jam dari rumah ini. Pulang cuma sebulan sekali.
Malam ini sebenarnya aku senang karena mamak tidak di rumah. Besok mulai ulangan. Biasanya, aku di rumah hanya waktu pulang sekolah untuk makan, ganti baju terus berangkat diniyah, dan tidur. Aku nggak suka di rumah. Mending main di rumah Hasna. Kupingku tidak ngiung-ngiung dengar omelan mamak.
Dia datang lagi ke rumah. Lihat dia di pintu depan, aku yang baru mau mengambil buku bahasa Indonesia, ganti megang mukenaku yang baru. Menggunting benang-benang yang njalar. Tukang jahit belum sempat rapiin. Habis itu aku mau gulung benang layangan di bawah meja. Tadi siang sama Ikin aku ngejar layangan itu di sawah. Kami nggak dapet layangannya. Keburu masuk pangkalan. Kami cuma ketawa. Layangan itu campur tahi-tahi sekarang, cuma benangnya lumayan. Masih agak panjang. Jadi kami tetap ambil benang itu. Nanti kalau bapak datang aku mau pasangin ke layangan yang aku beli kemaren. Sekarang kugantung di tembok. Dekat jam gambar bayi yang bisa geleng-geleng kepala.
Dia masuk. Aku berdiri saja megang mukena. Mau jalan ke meja yang cuma beberapa langkah saja aku nggak bisa. Kakiku seperti diiket ke kaki meja. Aku agak mual. Perutku yang sebelah kiri sakit. Kata mamak, sebabnya aku males makan. Tapi aku sudah makan kok tadi sore. Dia langsung ke ruang tengah. Antara kamar mamak dan dapur. Aku bersandar ke pintu. Dia ngajak ngobrol sebentar. Aku bilang mamakku lagi nggak ada, waktu dia nanya kok sepi. Waktu dia ledekin, mukena baru ya? Aku melengos saja. Mataku gatal. Tenggorokanku kering. Aku pengen minum. Tapi aku seperti keselek. Rasanya ada kesemek nyangkut. Mataku tidak dapat jelas melek.  
Kakiku gemetar. Bapak. Aku lihat Pak Joko senyum. Aku menghadap ke tembok. Kakiku kesemutan. Ribuan semut. Jalan ke betis. Paha. Sekarang merubung pipisku. Pantat. Aku nggak mau Pak Guru di sini. Tapi aku nggak berani bilang. Kalo ada mamak, aku bisa bilang. Mamak. Kuku jari-jari terlihat dari sudut mataku. Silau kena pantulan lampu. Dingin. Keringatan. Telapak yang dingin dan berkeringat itu juga gemetar. Mengusap lenganku. Bukan tangan itu saja yang bergetar. Dadanya yang nempel di punggungku juga bergetar. Pelukannya bukan seperti pelukan bapak. Lagipula bapak tidak akan menekan pusarku supaya aku semakin dekat.
Kucing mengeong dari pintu dapur. Aku menoleh. Dia menoleh. Kucing itu yang suka di bawah barongan. Dia berhenti di samping pintu. Biasanya aku takut. Pasti dia kawannya genderuwo barongan. Sekarang aku nggak papa kalau kucing itu segede macan. Belang-telonnya sekasar sapu lidi. Pak Guru menarikku ke kursi, kucing itu melihat. Menguap. Mulutnya sebesar goa yang dulu pernah kudatangi sama bapak. Giginya lancip kelihatan seperti batu putih-putih yang menempel di atas goa itu. Kata bapak, namanya stalagmit. Kucing semakin dekat. Kujejak-jejakkan kakiku supaya kucing itu maju lagi. Ayo, Cing. Tusuk matanya. Gigit tangannya. Lompatlah. Injak kepalanya. Koyak-koyak bajunya. Biar saja dia keluar darah. Biar saja dia menangis. Tapi tarikan Pak Guru malah terlalu kuat. Bikin aku terjengkang. Sendalku kelempar. Ngeong. Ngng. Itu kucing tadi. Bukan macan. Berjalan keluar. Aku menggigit lidahku. Dia menggigit pundakku. Tangannya tidak lagi gemetar. Tapi tekanannya pada dadaku membuat susuku sakit. Dagunya terantuk pundakku. Sesenggukan. Dia tidak lagi menekan. Sekarang dia mengusap. Mengusap susuku yang mringkili. Menekan-nekan ujung jarinya ke pentil susu. Lampu ruang depan terhalang gorden sebagian. Di tembok muncul genderuwo barongan. Tapi rambutnya tidak jabrig. Jubahnya juga tidak hitam. Merobek layangan yang kugantung.
Wedok dodoe roto, ejek Udin selalu. Kata mamak, nanti juga numbuh sendiri. Aku nggak mau ada susunya kalau mringkili sakit begini. Tapi sekarang bukan dadaku atau susuku yang sakit. Seluruh tubuhku seperti disabet rotan. 
Pak Guru berdiri. Merapikan depan bajunya. Sebelum pergi dia bilang, belajar ya. 
Aku mengambil buku Bahasa Indonesiaku. Membetulkan tulisan mamak yang keliru menulis kelasku. Menambah I di belakang V. Besok baru ujian buat naik kelas 5.
Dadaku dingin. Bajuku terbuka sebagian.

Lampu jalan masuk lewat kusen. Aku lihat genderuwo barongan kelebat dari pintu yang belum ketutup semua.

Dimuat di Jurnal Perempuan Edisi 37 Remaja Melek Media

No comments: