(Sing – Annie Lennox)
![]() |
| www.glamourvanity.com |
Dengan mata kepalanya sendiri Annie Lennox menyaksikan bagaimana tahanan politik itu pidato di depan penjara yang telah mengurungnya selama 18 tahun. Dari Pulau Robben Nelson Mandela berkata pada pers dunia: pandemi HIV/AIDS di Afrika telah serupa genosida. Pada pertengahan 1980an itu tingkat penyebarannya telah mencapai lebih dari 20% populasi.
Kita tahu, HIV/AIDS tak pernah ramah pada perempuan dan stigma memperburuknya. Perempuan sering dituding sebagai penular. Padahal, tak jarang, si suamilah yang diam-diam menjangkitinya. Pun tengoklah pelayanan kesehatan yang tidak memadai di negara-negara miskin. Jarum yang dipakai bergantian membuat perempuan semakin rentan. Bagaimana dengan ibu hamil? Betapa ia berpotensi besar menulari bayinya.
Mendengar itu, mengalunlah Sing dari mulut penyanyi kelahiran Skotlandia ini. Ia mengundang 23 penyanyi perempuan yang lain; Madonna, Sarah McLachlan, Dido, Fergie, Celine Dion, Faith Hill, Shakira, Pink, dan kawan-kawan sejawat mereka, untuk nimbrung dalam lagu ini. Come on my sister now. Sing out. Sing aloud. And sing proud. Dalam Sing Annie membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal. Tak sekedar nyanyian, Sing menjadi undangan bagi siapapun untuk terlibat dalam kampanye pencegahan HIV/AIDS yang terus meningkat di sana. Entah itu melalui pemeriksaan gratis ataupun sosialisasi ke seluruh negri. Bekerja sama dengan Treatment Action Campaign (TAC), dana yang digalang Annie membantu penduduk Afrika, penderita HIV/AIDS, yang sebagian besar di antaranya perempuan, untuk mendapatkan perhatian dan penanganan yang layak dari pemerintah dan swasta.
Menyanyi bukanlah tradisi asing di Afrika. Mereka sendiri kerap menggunakannya untuk menunjukkan solidaritas atau memberi dukungan. Nyanyi adalah tangan. Tangan untuk merangkul tangan yang lainnya, tak peduli dia ODHA (orang dengan HIV/AIDS) atau bukan. Dengan menyanyi bahu direkatkan dan pesan disampaikan.
Annie pun tidak tiba-tiba terlibat dalam aksi-aksi amal seperti ini. Dia telah memulainya 20 tahun yang lalu. Tahun 1990 dia merekam ulang lagu Cole Porter, Ev’ry Time We Say Goodbye, yang dikumpul dalam album Tribute to Cole Porter, Red Hot + Blue. Keuntungan album tersebut disumbangkan untuk menggugah kesadaran orang akan bahaya AIDS. Semenjak itu Annie selalu konsisten dengan langkahnya. Ia mempergunakan popularitasnya untuk mendukung gerakan-gerakan kemanusiaan yang dibuat Amesty Internasional, Greenpeace, dan lembaga-lembaga lainnya. Rentetan konser amalnya terus memanjang.
Sebagai penyanyi, tak kurang pujian dialamatkan padanya. VH1 menyebutnya "The Greatest White Soul Singer Alive." Tak mau kalah, Rolling Stone memujinya sebagai salah satu dari “The 100 Greatest Singers of All Time.” Dia bahkan digelari "most successful female British artist in UK music history." Annie ditunjuk sebagai “Best Selling Music Artist” atas penjualan albumnya yang mencapai 80 juta keping di seluruh dunia.
Lantas apa yang mengejutkan ketika The Barclays Women of the year Award menganugerahinya Women of The Year Award, (11/10) lalu? Tak ada. Penghargaan itu memang pantas diberikan kepadanya, sebagaimana gelar dan anugerah-anugerah lain yang diberikan padanya sebelum ini. Pada situs resminya Yayasan yang berdiri pada tahun 2001 ini menahbiskan Annie sebagai “an exceptional and selfless woman who has used her vision to help change the lives of many.”
Akan tetapi, Annie bukan satu-satunya. Pada jamuan makan siang itu, Annie duduk bersama 400 perempuan lainnya. Sang Presiden Yayasan, Baroness Helena Kennedy HQ, mengatakan, “This lunch demonstrates that women are making a huge difference and that the world can be changed for the better. One woman’s success may not mean the world has changed but lauding it, cheering it, gives courage and inspiration to others.” Ya, dan tak semua kerja-kerja perempuan hebat itu tersorot media. Untuk kerendahhatian dan ketulusan perempuan-perempuan hebat itu, mari kita menjura.
“Banyak sekali musik yang kita dengarkan, namun tak sedikit yang terasa hambar di telinga karena tidak menyentuh persoalan-persoalan terdalam yang kita hadapi.” (Annie Lennox)

No comments:
Post a Comment