Kami tak
perlu saling mendorong sebenarnya. Toh penumpang tak terlalu banyak juga.
Kulihat lagi tiketku. Gerbong 2 kursi 15A. Waktu kutemukan sudah ada seorang
ibu berkerudung hitam. Di depannya, duduk seorang Bapak bersama putrinya yang
berpipi kesemek mengkal. Si pipi kesemek membaca koran. Mataku menangkap
perempuan setengah telanjang di halaman depannya (dia, perempuan di koran,
melorotkan tali beha. Susunya nyembul separo). Beberapa orang yang lewat
menengok ke arah kami. Apa yang mereka pikirkan ketika melihat kami? Barangkali
mereka mengira kami keluarga kecil yang sedang pulang kampung di akhir pekan
untuk nyekar di makam si mbah. Barangkali juga mereka sama sekali tidak
memikirkan kami (mereka nengok hanya untuk melihat nomer kursi).
“Anak
duduk di sini,” kata ibu sambil menepuk bantalan kursi kereta di sebelahnya,
ucapannya diarahkan padaku, “jadi kan enak. Yang cewek duduk sama cewek.” Bapak
tidak keberatan. Aku juga tidak. Inilah untungnya pergi sendiri. Tak perlu mengurus
banyak omong kosong lagi, selain tiket dan ransel di pelukan. Aku duduk di
sebelah ibu. Kereta hampir berangkat ketika sepasang suami istri dengan anak
lelakinya, kutaksir usianya 3-4 tahunan, berdiri di depan kursi kami.
“Nomer
berapa, Pak?” tanya ibu. “15B, 15C,” istrinya yang menjawab. Si suami sibuk
menaikkan tas besarnya ke atas bagasi. Entah kenapa aku sebal dengan mereka.
Mungkin karena dia membubarkan sandiwara Keluarga Samsul sedang Berlibur yang
baru sebentar kumainkan ini. Atau karena mereka membuat si pipi kesemek
menangis tanpa bersuara (mereka tak mau mengalah, si pipi kesemek maunya di
pinggir jendela).
“Kita
pindah yuk, Nak,” kata Ibu setelah menjulurkan lehernya ke sekeliling gerbong
2. Banyak kursi tak terisi. Aku menurut saja. Siapa juga yang ingin
terperangkap dengan situasi tak enak ini lebih lama. Aku lantas mengekor di
belakang seolah aku anak perempuannya. Kami memilih kursi 11-12. Setelah
mendapat kepastian kursi ini tak bertuan, kami menghenyakkan diri. Sepasang
lelaki-perempuan di depan kami membenahi diri, waktu kami datang mereka hampir
berciuman.
Ibu
bicara dengan mereka. Aku sibuk dengan barangku. Kukeluarkan bantal tiup dari
tas. Lelaki tua di kursi sebelahku melakukan hal yang sama, bahkan dia sudah
mulai meniupnya. Ah, sial. Aku menggembungkan bantalku sambil membelakangi
lelaki tua. “Mereka baru ketemu di sini,” kisah ibu begitu aku menghadapnya.
Suara rel beradu memekakkan telinga. Sekejap kupikir aku salah dengar.
“Anak
turun di mana?” tanya ibu, bukan basa-basi.
“Comal,”
jawab lelaki.
Ibu
tertawa. Aku tidak tahu kenapa.
“Saya
Leri.” Kalimat perempuan membuat ibu nengok padanya.
“Lho,
nggak bareng? Ini apanya?”
“Istri,”
lelaki yang bicara. Ibu tak percaya tuturnya. Perempuan tersenyum, menolak
kebenaran jawaban itu. Lelaki itu pun sungguh tak pandai menutupi
kebohongannya.
“Calon
istri kali,” tukas ibu. “Baru ketemu di sini kok, Bu,” perempuan juga menolak
pilihan ibu. Sebentar kemudian mereka tertawa. Tak ada yang peduli dengan
hubungan mereka sebenarnya.
Ini
obrolan yang cuma terjadi di kepalaku. Aku tak benar-benar menyimak pembicaraan
mereka. Aku terlalu sibuk melihat orang-orang dan kubiarkan separuh kata-kata
mereka terbang ke luar jendela.
“Ha?”
“Iya,
mbak ini bukan pacarnya,” ibu berkata sambil menjejalkan karcisnya ke tanganku,
“kamu aja yang pegang. Aku mau tidur di bawah. Iya lho mereka baru ketemu di
sini.”
“Ha?”
aku masih belum bisa berkata apa-apa.
“Awas
lho, mbak. Comal itu terkenal dukunnya,” kata ibu sebelum menggelar koran di
bawah kursi kami dan pulas di sana sampai pagi. Mata ibu kemudian beralih
padaku, seperti memperingatkan. “Bapak saya dukun,” sambung lelaki mengiyakan.
Lantas dia cerita bagaimana dukun-dukun itu berkumpul di kampungnya, apa saja
yang mereka lakukan, dan cara dia berteman dengan teman-teman bapaknya itu.
“Tapi, semua anak bapak saya disekolahin di pesantren.” Ibu yang tidak tertarik
dengan cerita ini menarik bantal yang kupegang, “aku mau tidur di bawah. Jadi
kamu bisa selonjoran.” Aku mengangguk. Tidak hanya menyepakati keinginannya,
aku juga merasa cerita tentang Comal dan dukun-dukunnya ini tidak membuatku
ingin tahu.
Sepeninggal
ibu, aku menguntit mereka dari pantulan kaca jendela.
Tukang
jeruk keliling menyorongkan telapaknya yang merangkum 3 jeruk sekaligus ke
mukaku. Jeruk, Mbak Sri. Aku menggeleng. Dia ganti menawari perempuan Leri.
Jeruk, Mbak Sri. Dia juga menggeleng. Ayo, Mbak Sri. Bojo ngganteng ojo
dipandheng ae. Tukokno jeruk. Legi-legi, katanya gigih. Ketika tukang jeruk
pergi, aku bertukar senyum dengan perempuan Leri.
Lelaki
mendekat padaku, “Dari mana asalnya?”
“Hmm?”
aku pura-pura tak dengar. Jangan bicara dengan orang asing, nasihat seseorang
padaku. Aku sering mengacaukannya, kini aku mau patuh.
“Orang
Timur ya?” dia masih berusaha. Entah timur mana yang dimaksudnya. Aku tidak
ingin bertanya, juga tak ingin menjawabnya. “Jangan-jangan Arab Pekalongan.”
Hahaha. Aku bahkan tak tahu ada ras ini, Arab Pekalongan. Dia terus saja
bertanya. Namaku. Sekolah apa kuliah. Kerja di mana. Ngapain ke Pekalongan.
“Jangan-jangan dimutasi ya.” Sejak itu aku tahu, macam apa lelaki di depanku
ini. Aku urung mengajaknya bicara. Aku pura-pura terlelap dan menunggu dia juga
tidur. Aku ingin berdua saja berbincang dengan perempuan itu.
Di luar,
malam berkejaran dengan kereta, seperti permainan kanak-kanak.
Aku
pura-pura menatap itu. Sesungguhnya aku masih memata-matai mereka. Mereka
bercakap seperti sepasang calon pengantin yang sedang membicarakan berapa
jumlah anak mereka nanti. Lelaki memegang pipi, juga dagu. Perempuan malu-malu.
Melihat ke arahku seolah memastikan aku tak memergokinya. Baru tertawa,
kemudian membisikkan sesuatu ke telinga lelaki.
Jendela
setengah terbuka menghamburkan kantuk padaku. Aku menghalaunya dengan buku. Aku
tidak ingin tidur, aku masih ingin melihat apa yang akan mereka lakukan
selanjutnya.
Stasiun
Losari, 02:30 WIB. Aku terbangun. Benar-benar tertidur rupanya. Lelaki juga
tampak lelap di paha perempuan.
“Leri
itu di mana sih?” aku membuka tanya.
“Sebelum
Semarang,” dia seperti bingung musti bagaimana menjelaskan.
“Deket
Ungaran?”
“Nggak
lewat sana.” Dia membicarakan jalur kereta ini.
“Oh,
nggak. Saya tahunya cuma itu. Daerah sebelum Semarang, maksudku.” Kami tertawa.
Seakan sama-sama sepakat, tak penting benar di mana Leri berada.
“Kerja
di mana, Mbak?” lagi-lagi aku yang bertanya.
“Perumahan.”
Itu bahasa khas mereka.
“Ini mau
pulang ke Leri?”
“Iya.
Nenekku ninggal.”
“Oo,”
aku berusaha menunjukkan rasa bela sungkawa, “dikasih izin pulang ya kalau
gitu?”
“Sehari.”
Obrolan kita tersekat diam sekian detik, “berangkat Jumat, Sabtu di rumah,
Minggu ke Jakarta lagi. Sehari kan?”
“Sama
mas ini bener baru ketemu di sini?”
Dia
mengangguk. Melipat senyum di bawah dagu.
“Hmmm.”
Aku juga tak tahu harus bicara apa lagi.
...
“Tadi
pas mau naik, kita bareng. Trus dia nyeret aku ke sini. Sebenernya aku ada
tempat duduk di gerbong 4… Dia kan dilangkahi sama adiknya…” Dua kalimatnya
menghilang di udara, tergerus deru kereta.
“Ha? Apa
hubungannya dilangkahi sama adiknya?” Dengan tiba-tiba pacaran di kereta,
lanjutku. Cuma dalam hati.
“Dia
belum punya pacar,” dia berkata sambil berbisik, aku harus mendekatkan telinga
agar bisa mendengarnya. “Dia ngajak aku ke rumahnya,” dia lantas diam. Matanya
melewati jendela. 3 rumah tertinggal di belakang kereta. “Tapi aku nggak mau.”
“Ooo.”
Aku
mengeluarkan pembersih muka dari tas. Mengangkat debu-debu dan kekakuan kami.
“Mau?” Kusorongkan pembersih muka dan kapas.
“Tahu
Dewi Resti nggak?” dia berkata sambil mengusapkan kapas ke pipinya yang berjerawat.
Suaranya setengah kabur ke jendela.
“Dewi
Resti? Nggak.”
“Dewi
Resi. Masa nggak tahu sih?” Sia-sia aku coba membaca gerak bibirnya.
“Dewi
Resi? Nggak tuh. Emang siapa dia?” kepalaku terantuk bayangan koran yang
dipegang si pipi kesemek. Apa dia model yang hanya suka menutup putingnya? Atau
penyanyi dangdut yang sedang berjaya?
Aku
mendekatkan kepalaku.
“Dewi
Rezer.”
“Oh,
Dewi Rezer.”
“Saya
mbaknya.” Terdengar nada bangga yang ditutup-tutupi.
“Ooo.
Saya suka lihat dia. Dulu, waktu SMP. Gadis sampul, kan?” Tanpa kutanya dia
lantas berkisah bagaimana dia dulu bekerja di rumah Agnes Monica, lalu pindah
ke restoran yang banyak ditongkrongin artis juga (bosen lihat artis, katanya
dengan senyum berbinar), baru kemudian pindah ke rumah pacar Marcelino Lefrant
itu.
Tak
semua katanya terdengar olehku. Tangis bayi datang dari 2 kursi di belakangku.
Pedagang asongan menjajakan daster Pekalongan. Ayo, oleh-oleh. Oleh-oleh.
Stasiun
Suradadi, pukul 03:36 WIB di hpku.
No comments:
Post a Comment