Klik Bila Perlu

Wednesday, May 07, 2014

[Dua] Pacar Gerbong Dua

Kami tak perlu saling mendorong sebenarnya. Toh penumpang tak terlalu banyak juga. Kulihat lagi tiketku. Gerbong 2 kursi 15A. Waktu kutemukan sudah ada seorang ibu berkerudung hitam. Di depannya, duduk seorang Bapak bersama putrinya yang berpipi kesemek mengkal. Si pipi kesemek membaca koran. Mataku menangkap perempuan setengah telanjang di halaman depannya (dia, perempuan di koran, melorotkan tali beha. Susunya nyembul separo). Beberapa orang yang lewat menengok ke arah kami. Apa yang mereka pikirkan ketika melihat kami? Barangkali mereka mengira kami keluarga kecil yang sedang pulang kampung di akhir pekan untuk nyekar di makam si mbah. Barangkali juga mereka sama sekali tidak memikirkan kami (mereka nengok hanya untuk melihat nomer kursi).

“Anak duduk di sini,” kata ibu sambil menepuk bantalan kursi kereta di sebelahnya, ucapannya diarahkan padaku, “jadi kan enak. Yang cewek duduk sama cewek.” Bapak tidak keberatan. Aku juga tidak. Inilah untungnya pergi sendiri. Tak perlu mengurus banyak omong kosong lagi, selain tiket dan ransel di pelukan. Aku duduk di sebelah ibu. Kereta hampir berangkat ketika sepasang suami istri dengan anak lelakinya, kutaksir usianya 3-4 tahunan, berdiri di depan kursi kami.

“Nomer berapa, Pak?” tanya ibu. “15B, 15C,” istrinya yang menjawab. Si suami sibuk menaikkan tas besarnya ke atas bagasi. Entah kenapa aku sebal dengan mereka. Mungkin karena dia membubarkan sandiwara Keluarga Samsul sedang Berlibur yang baru sebentar kumainkan ini. Atau karena mereka membuat si pipi kesemek menangis tanpa bersuara (mereka tak mau mengalah, si pipi kesemek maunya di pinggir jendela).

“Kita pindah yuk, Nak,” kata Ibu setelah menjulurkan lehernya ke sekeliling gerbong 2. Banyak kursi tak terisi. Aku menurut saja. Siapa juga yang ingin terperangkap dengan situasi tak enak ini lebih lama. Aku lantas mengekor di belakang seolah aku anak perempuannya. Kami memilih kursi 11-12. Setelah mendapat kepastian kursi ini tak bertuan, kami menghenyakkan diri. Sepasang lelaki-perempuan di depan kami membenahi diri, waktu kami datang mereka hampir berciuman.

Ibu bicara dengan mereka. Aku sibuk dengan barangku. Kukeluarkan bantal tiup dari tas. Lelaki tua di kursi sebelahku melakukan hal yang sama, bahkan dia sudah mulai meniupnya. Ah, sial. Aku menggembungkan bantalku sambil membelakangi lelaki tua. “Mereka baru ketemu di sini,” kisah ibu begitu aku menghadapnya. Suara rel beradu memekakkan telinga. Sekejap kupikir aku salah dengar.

“Anak turun di mana?” tanya ibu, bukan basa-basi.

“Comal,” jawab lelaki.

Ibu tertawa. Aku tidak tahu kenapa.

“Saya Leri.” Kalimat perempuan membuat ibu nengok padanya.

“Lho, nggak bareng? Ini apanya?”

“Istri,” lelaki yang bicara. Ibu tak percaya tuturnya. Perempuan tersenyum, menolak kebenaran jawaban itu. Lelaki itu pun sungguh tak pandai menutupi kebohongannya.

“Calon istri kali,” tukas ibu. “Baru ketemu di sini kok, Bu,” perempuan juga menolak pilihan ibu. Sebentar kemudian mereka tertawa. Tak ada yang peduli dengan hubungan mereka sebenarnya.

Ini obrolan yang cuma terjadi di kepalaku. Aku tak benar-benar menyimak pembicaraan mereka. Aku terlalu sibuk melihat orang-orang dan kubiarkan separuh kata-kata mereka terbang ke luar jendela.

“Ha?”

“Iya, mbak ini bukan pacarnya,” ibu berkata sambil menjejalkan karcisnya ke tanganku, “kamu aja yang pegang. Aku mau tidur di bawah. Iya lho mereka baru ketemu di sini.”

“Ha?” aku masih belum bisa berkata apa-apa.


“Awas lho, mbak. Comal itu terkenal dukunnya,” kata ibu sebelum menggelar koran di bawah kursi kami dan pulas di sana sampai pagi. Mata ibu kemudian beralih padaku, seperti memperingatkan. “Bapak saya dukun,” sambung lelaki mengiyakan. Lantas dia cerita bagaimana dukun-dukun itu berkumpul di kampungnya, apa saja yang mereka lakukan, dan cara dia berteman dengan teman-teman bapaknya itu. “Tapi, semua anak bapak saya disekolahin di pesantren.” Ibu yang tidak tertarik dengan cerita ini menarik bantal yang kupegang, “aku mau tidur di bawah. Jadi kamu bisa selonjoran.” Aku mengangguk. Tidak hanya menyepakati keinginannya, aku juga merasa cerita tentang Comal dan dukun-dukunnya ini tidak membuatku ingin tahu.

Sepeninggal ibu, aku menguntit mereka dari pantulan kaca jendela.

Tukang jeruk keliling menyorongkan telapaknya yang merangkum 3 jeruk sekaligus ke mukaku. Jeruk, Mbak Sri. Aku menggeleng. Dia ganti menawari perempuan Leri. Jeruk, Mbak Sri. Dia juga menggeleng. Ayo, Mbak Sri. Bojo ngganteng ojo dipandheng ae. Tukokno jeruk. Legi-legi, katanya gigih. Ketika tukang jeruk pergi, aku bertukar senyum dengan perempuan Leri.

Lelaki mendekat padaku, “Dari mana asalnya?”

“Hmm?” aku pura-pura tak dengar. Jangan bicara dengan orang asing, nasihat seseorang padaku. Aku sering mengacaukannya, kini aku mau patuh.

“Orang Timur ya?” dia masih berusaha. Entah timur mana yang dimaksudnya. Aku tidak ingin bertanya, juga tak ingin menjawabnya. “Jangan-jangan Arab Pekalongan.” Hahaha. Aku bahkan tak tahu ada ras ini, Arab Pekalongan. Dia terus saja bertanya. Namaku. Sekolah apa kuliah. Kerja di mana. Ngapain ke Pekalongan. “Jangan-jangan dimutasi ya.” Sejak itu aku tahu, macam apa lelaki di depanku ini. Aku urung mengajaknya bicara. Aku pura-pura terlelap dan menunggu dia juga tidur. Aku ingin berdua saja berbincang dengan perempuan itu.

Di luar, malam berkejaran dengan kereta, seperti permainan kanak-kanak.

Aku pura-pura menatap itu. Sesungguhnya aku masih memata-matai mereka. Mereka bercakap seperti sepasang calon pengantin yang sedang membicarakan berapa jumlah anak mereka nanti. Lelaki memegang pipi, juga dagu. Perempuan malu-malu. Melihat ke arahku seolah memastikan aku tak memergokinya. Baru tertawa, kemudian membisikkan sesuatu ke telinga lelaki.

Jendela setengah terbuka menghamburkan kantuk padaku. Aku menghalaunya dengan buku. Aku tidak ingin tidur, aku masih ingin melihat apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

Stasiun Losari, 02:30 WIB. Aku terbangun. Benar-benar tertidur rupanya. Lelaki juga tampak lelap di paha perempuan.

“Leri itu di mana sih?” aku membuka tanya.

“Sebelum Semarang,” dia seperti bingung musti bagaimana menjelaskan.

“Deket Ungaran?”

“Nggak lewat sana.” Dia membicarakan jalur kereta ini.

“Oh, nggak. Saya tahunya cuma itu. Daerah sebelum Semarang, maksudku.” Kami tertawa. Seakan sama-sama sepakat, tak penting benar di mana Leri berada.

“Kerja di mana, Mbak?” lagi-lagi aku yang bertanya.

“Perumahan.” Itu bahasa khas mereka.

“Ini mau pulang ke Leri?”

“Iya. Nenekku ninggal.”

“Oo,” aku berusaha menunjukkan rasa bela sungkawa, “dikasih izin pulang ya kalau gitu?”

“Sehari.” Obrolan kita tersekat diam sekian detik, “berangkat Jumat, Sabtu di rumah, Minggu ke Jakarta lagi. Sehari kan?”

“Sama mas ini bener baru ketemu di sini?”

Dia mengangguk. Melipat senyum di bawah dagu.

“Hmmm.” Aku juga tak tahu harus bicara apa lagi.

...

“Tadi pas mau naik, kita bareng. Trus dia nyeret aku ke sini. Sebenernya aku ada tempat duduk di gerbong 4… Dia kan dilangkahi sama adiknya…” Dua kalimatnya menghilang di udara, tergerus deru kereta.

“Ha? Apa hubungannya dilangkahi sama adiknya?” Dengan tiba-tiba pacaran di kereta, lanjutku. Cuma dalam hati.

“Dia belum punya pacar,” dia berkata sambil berbisik, aku harus mendekatkan telinga agar bisa mendengarnya. “Dia ngajak aku ke rumahnya,” dia lantas diam. Matanya melewati jendela. 3 rumah tertinggal di belakang kereta. “Tapi aku nggak mau.”

“Ooo.”

Aku mengeluarkan pembersih muka dari tas. Mengangkat debu-debu dan kekakuan kami. “Mau?” Kusorongkan pembersih muka dan kapas.

“Tahu Dewi Resti nggak?” dia berkata sambil mengusapkan kapas ke pipinya yang berjerawat. Suaranya setengah kabur ke jendela.

“Dewi Resti? Nggak.”

“Dewi Resi. Masa nggak tahu sih?” Sia-sia aku coba membaca gerak bibirnya.

“Dewi Resi? Nggak tuh. Emang siapa dia?” kepalaku terantuk bayangan koran yang dipegang si pipi kesemek. Apa dia model yang hanya suka menutup putingnya? Atau penyanyi dangdut yang sedang berjaya?

Aku mendekatkan kepalaku.

“Dewi Rezer.”

“Oh, Dewi Rezer.”

“Saya mbaknya.” Terdengar nada bangga yang ditutup-tutupi.

“Ooo. Saya suka lihat dia. Dulu, waktu SMP. Gadis sampul, kan?” Tanpa kutanya dia lantas berkisah bagaimana dia dulu bekerja di rumah Agnes Monica, lalu pindah ke restoran yang banyak ditongkrongin artis juga (bosen lihat artis, katanya dengan senyum berbinar), baru kemudian pindah ke rumah pacar Marcelino Lefrant itu.

Tak semua katanya terdengar olehku. Tangis bayi datang dari 2 kursi di belakangku. Pedagang asongan menjajakan daster Pekalongan. Ayo, oleh-oleh. Oleh-oleh.
Stasiun Suradadi, pukul 03:36 WIB di hpku.

No comments: