Dua
penjaga berpakaian seragam; biru tua. Mereka berdiri di depan pintu. Tak ada
antrian. Tanpa bicara dipintanya tiket dariku. Kuangsurkan lembaran merah mudah
yang kudapatkan dari loket pemesanan tiket kemarin. “Tawang Jaya jalur berapa?”
aku mencoba menyapa. “Satu.” Tak ada antrian di belakangku. Dan itu tak
membuatnya menjadi lebih ramah. Setelah meninggalkan parafnya, dia
mengembalikan tiket itu.
Aku
berdiri di bawah kotak besar bertuliskan PASARSENEN. 20:41 WIB. Kalau benar, sesuai
jadwal, keretaku baru akan sampai di jalur satu 44 menit lagi.
Teras
stasiun dijejali orang-orang. Perempuan di belakangku sedang merengek ke
pacarnya, minta dibelikan majalah. Pemuda tanggung tiduran di bawah tivi besar
yang bersebelahan dengan 2 pengeras tua, temannya bersandar ke tas punggung
besarnya. Perempuan berkerudung di sebelahku tak tahu mau naik apa. Tahu
masnya, katanya sambil memegangi ransel dan 2 tas jinjing yang menyembulkan
kresek hitam. Seorang ayah memangku anaknya, mereka memainkan hp. Apa cuma aku
yang sendiri? Sepertinya tidak. Bulan merah juga sendiri. Bulatnya mulai
keropos dimakan malam.
Pengeras
tua bilang, Citra Jaya di jalur 3. Penumpang tujuan Kroya bersiaga. 3 menit
kemudian, Citra Jaya melata mirip ular besar. Bukan. Bukan ular besar. Dia
hanya anak naga, meskipun punya kesukaan yang sama dengan ular besar yang
ngendon di perut raksasa fantasi istriku di cerpen Kayam. Dia telan
manusia-manusia di tubir jalur 3. Ketika berlalu, dia hanya menyisakan tong
sampah biru, tukang sapu, dan sunyi yang tertimbun iklan rokok (gak ada loe gak
rame) di plang pintu.
44 baru
berkurang 10. Aku berkeliling. Penunggu toko bercanda dengan penjaga pintu.
Tangan lelaki di atas paha perempuan. Tawa perempuan seringkali meredakan suara
Nia Daniati yang berganti-ganti dengan Betharia Sonata. Seorang perempuan
berdiri di depan kotak berlampu yang mencatat peringatan:
Guna
menghindari terjadinya gangguan keamanan, berupa penipuan dengan cara pemberian
minuman yang telah dicampur dengan obat bius yang berakibat barang bawaan dan
uang Anda dikuras habis, untuk itu dihimbau pada calon penumpang:
1.
waspada terhadap rayuan atau pemberian makanan/minuman dari orang yang baru
dikenal
2.
jangan memakai perhiasaan yang mencolok
3.
tempatkan barang bawaan Anda pada tempat yang mudah diawasi
4.
persiapkan keperluan Anda selama perjalanan
5.
laporkan pada petugas bila ada ha – ha yang mencurigakan
KSE PSE
Dia,
perempuan itu, terpaku cukup lama di depan kotak peringatan. Barangkali dia
sedang berpikir, apakah 2 huruf L yang hilang itu termasuk yang harus
dilaporkan.
Di
belakangku kereta barang lewat. Disusul tukang-tukang panggul. Pengeras tua
bilang, setelah ini giliran kereta jurusan Yogya-Lempuyangan yang lewat. Sekali
lagi anak naga menghisap manusia. Dan bulan yang tak peduli tetap sendiri.
Stasiun
jadi sepi. Tak banyak yang tersisa. Angin kencang menderu tanpa banyak
rintangan. Aku menyesal tidak membawa jaket tadi. Sedetik kemudian aku tidak
jadi menyesal. Aku menyertakan kain pantai di tasku. Cukup untuk menghalau
dingin di atas kereta.
“Jalur 1
segera masuk kereta api Tawang Jaya dengan tujuan Semarang Poncol..” Hei,
dengar. Itu keretaku datang. Aku ikut-ikutan bergegas. Kumasukkan buku yang
sedang kubaca. Hp sudah. Tiket sudah. Aku berdiri satu ubin dari tepi.
Tiba-tiba jantungku berdebar lebih lantang. Ah, ini kan cuma perjalanan biasa.
Tidak perlu merasa seperti Miguel Littin ketika masuk Chili. Aku meraba tiket
di saku celana.
Dari
internet, aku sudah menelusuri sudut-sudut yang akan kusinggahi di Pekalongan,
kota tujuanku, nanti. Klenteng. Kebun teh. Beberapa pantai. Tapi bagaimana
kalau aku tidak berhasil ke sana? Kaleng bir, kulit jeruk, dan bungkus bengbeng
berpencar di rel kereta. Bagaimana kalau nanti hujan melulu? Apa perjalanan ini
akan sia-sia? Kucari bulan. Tak ada. Apa sebenarnya yang kucari (dan yang
kuhindari)? Kenapa aku mesti pergi? Sedetik, aku ingin berhenti bertanya. Detik
selanjutnya, aku memutuskan merawat debar ini.
No comments:
Post a Comment