Klik Bila Perlu

Tuesday, May 06, 2014

[Satu] L yang Hilang

Dua penjaga berpakaian seragam; biru tua. Mereka berdiri di depan pintu. Tak ada antrian. Tanpa bicara dipintanya tiket dariku. Kuangsurkan lembaran merah mudah yang kudapatkan dari loket pemesanan tiket kemarin. “Tawang Jaya jalur berapa?” aku mencoba menyapa. “Satu.” Tak ada antrian di belakangku. Dan itu tak membuatnya menjadi lebih ramah. Setelah meninggalkan parafnya, dia mengembalikan tiket itu.

Aku berdiri di bawah kotak besar bertuliskan PASARSENEN. 20:41 WIB. Kalau benar, sesuai jadwal, keretaku baru akan sampai di jalur satu 44 menit lagi.

Teras stasiun dijejali orang-orang. Perempuan di belakangku sedang merengek ke pacarnya, minta dibelikan majalah. Pemuda tanggung tiduran di bawah tivi besar yang bersebelahan dengan 2 pengeras tua, temannya bersandar ke tas punggung besarnya. Perempuan berkerudung di sebelahku tak tahu mau naik apa. Tahu masnya, katanya sambil memegangi ransel dan 2 tas jinjing yang menyembulkan kresek hitam. Seorang ayah memangku anaknya, mereka memainkan hp. Apa cuma aku yang sendiri? Sepertinya tidak. Bulan merah juga sendiri. Bulatnya mulai keropos dimakan malam.

Pengeras tua bilang, Citra Jaya di jalur 3. Penumpang tujuan Kroya bersiaga. 3 menit kemudian, Citra Jaya melata mirip ular besar. Bukan. Bukan ular besar. Dia hanya anak naga, meskipun punya kesukaan yang sama dengan ular besar yang ngendon di perut raksasa fantasi istriku di cerpen Kayam. Dia telan manusia-manusia di tubir jalur 3. Ketika berlalu, dia hanya menyisakan tong sampah biru, tukang sapu, dan sunyi yang tertimbun iklan rokok (gak ada loe gak rame) di plang pintu.

44 baru berkurang 10. Aku berkeliling. Penunggu toko bercanda dengan penjaga pintu. Tangan lelaki di atas paha perempuan. Tawa perempuan seringkali meredakan suara Nia Daniati yang berganti-ganti dengan Betharia Sonata. Seorang perempuan berdiri di depan kotak berlampu yang mencatat peringatan:

Guna menghindari terjadinya gangguan keamanan, berupa penipuan dengan cara pemberian minuman yang telah dicampur dengan obat bius yang berakibat barang bawaan dan uang Anda dikuras habis, untuk itu dihimbau pada calon penumpang:

1. waspada terhadap rayuan atau pemberian makanan/minuman dari orang yang baru dikenal
2. jangan memakai perhiasaan yang mencolok
3. tempatkan barang bawaan Anda pada tempat yang mudah diawasi
4. persiapkan keperluan Anda selama perjalanan
5. laporkan pada petugas bila ada ha – ha yang mencurigakan

KSE PSE

Dia, perempuan itu, terpaku cukup lama di depan kotak peringatan. Barangkali dia sedang berpikir, apakah 2 huruf L yang hilang itu termasuk yang harus dilaporkan.

Di belakangku kereta barang lewat. Disusul tukang-tukang panggul. Pengeras tua bilang, setelah ini giliran kereta jurusan Yogya-Lempuyangan yang lewat. Sekali lagi anak naga menghisap manusia. Dan bulan yang tak peduli tetap sendiri.

Stasiun jadi sepi. Tak banyak yang tersisa. Angin kencang menderu tanpa banyak rintangan. Aku menyesal tidak membawa jaket tadi. Sedetik kemudian aku tidak jadi menyesal. Aku menyertakan kain pantai di tasku. Cukup untuk menghalau dingin di atas kereta.

“Jalur 1 segera masuk kereta api Tawang Jaya dengan tujuan Semarang Poncol..” Hei, dengar. Itu keretaku datang. Aku ikut-ikutan bergegas. Kumasukkan buku yang sedang kubaca. Hp sudah. Tiket sudah. Aku berdiri satu ubin dari tepi. Tiba-tiba jantungku berdebar lebih lantang. Ah, ini kan cuma perjalanan biasa. Tidak perlu merasa seperti Miguel Littin ketika masuk Chili. Aku meraba tiket di saku celana.

Dari internet, aku sudah menelusuri sudut-sudut yang akan kusinggahi di Pekalongan, kota tujuanku, nanti. Klenteng. Kebun teh. Beberapa pantai. Tapi bagaimana kalau aku tidak berhasil ke sana? Kaleng bir, kulit jeruk, dan bungkus bengbeng berpencar di rel kereta. Bagaimana kalau nanti hujan melulu? Apa perjalanan ini akan sia-sia? Kucari bulan. Tak ada. Apa sebenarnya yang kucari (dan yang kuhindari)? Kenapa aku mesti pergi? Sedetik, aku ingin berhenti bertanya. Detik selanjutnya, aku memutuskan merawat debar ini.

Pengawas kereta meniup peluitnya. Memberi tanda dengan tangannya. Mundur atau kau akan terlindas bersama kulit jeruk itu. Aku memilih yang pertama.

No comments: