Kereta
meninggalkanku di Stasiun Pekalongan. Belum subuh di sini. Aku mengincar sebuah
warung kopi. Tempatnya cukup bersahaja. Sebuah ruang terbuka dengan meja kayu
dan dua bangku panjang. Tapi di sana berkumpul tukang ojek, abang becak, dan
laki-laki bermulut usil yang bersuit pada semua perempuan yang melintas. Mereka
membuat tempat itu durjana untukku. Aku melewatkan kedai kopi. Berbalik arah
menuju kedai di sudut lain stasiun ini.
Aku
jalan bersisian dengan kereta yang sedang menunggu diberangkatkan. Aku melewati
gerbong 2 lagi. Perempuan Leri sedang melongokkan kepalanya di jendela setengah
terbuka. “Ayo. Jadi turun nggak?” aku sendiri tidak yakin dengan ajakan ini.
Perempuan Leri menggeleng. Ada sedih yang tak tersembunyi. “Dianya mana?”
Aku mengikuti
arah pandangnya. Hanya gelap. Segelap jejak lelaki dari Comal itu sekarang.
Berkilo-kilo meter dari sini, barangkali lelaki itu sedang bercanda dengan
istrinya di kamar anak perempuannya yang karena tahu ayahnya akan pulang tak
dapat memejamkan matanya sekejap pun semalaman. Atau mungkin juga dia sedang
tertidur di becak yang akan mengantarnya ke rumah dan sama sekali lupa telah
meninggalkan seorang perempuan di kereta. Di mimpinya, dia mencoret angka 7
menjadi 8. Angka itu merekam jumlah perempuan yang telah ia tipu di perjalanan.
Aku
buru-buru meninggalkan perempuan Leri dengan sebuah ucapan selamat berpisah.
Bayangan laki-laki yang pergi membuatku sentimentil. Aku belum lupa bagaimana
dia bergegas mengemasi tasnya, beberapa saat sebelum masuk Stasiun Comal. Kami
hanya memandangnya. Kami pikir dia hanya akan ke restorasi. Tak tahunya itu
terakhir kali kami melihat dia.
bergegas
mengemasi tasnya, beberapa saat sebelum masuk Stasiun Comal. Kami hanya
memandangnya. Kami pikir dia hanya akan ke restorasi. Tak tahunya itu terakhir
kali kami melihat dia.
Aku
menemukan kedai itu tak berpembeli. Setelah memesan kopi, aku memilih kursi
paling luar. Tawang Jaya belum berangkat ketika seseorang menarik kursi di
depanku. Aku melupakan nasihat tentang orang asing. Perasaanku mengatakan dia
orang baik. Kami kenalan. Dia Budi kedua yang kutemui di perjalanan. Dia pun
berasal dari Semarang. Budi satu ini bekerja di Kantor Pos Pusat. Dia tampak
antusias waktu tahu aku bekerja di LSM perempuan yang, salah satunya, mengurus
soal kesehatan reproduksi. “Saya sudah 8 tahun menikah tapi belum juga
dikaruniai anak.” Itu rupanya. Dia bertutur tentang pemeriksaan rahim dan
bertanya soal bayi tabung. Aku memberi dia kontak lembaga-lembaga yang kutahu
mengurus soal itu.
“Ke Pekalongan
mau ke mana?” tanyanya mengelak dari kesedihan yang berlarut. Kopiku sudah
berkawan dingin pagi.
“Nggak
tahu. Jalan-jalan aja. Ke alun-alun mungkin. Atau ke pasar. Sentiling ya
namanya?”
“Pasar
Banjarsari? Ya. Tapi orang sini memang nyebutnya Pasar Sentiling.”
“Atau ke
klenteng Po An Thian. Di mana itu?”
“Kalau
nggak salah di sekitar alun-alun situ. Di jalan Belimbing?”
Aku
mengeluarkan hasil pencarianku tentang kota ini yang sudah kucetak. “Ya. Jalan
Belimbing Nomer 3.” Budi menawariku melihat Lapangan Mataram. “Jam segini pasar
belum buka,” begitu jelasnya. “Alun-alun juga nggak ada apa-apa.”
“Kalau
suka makanan-makanan tradisional di Lapangan Mataram banyak. Apalagi Sabtu
Minggu banyak orang olah raga. Pokoknya rame deh.” Kata tradisional itu
menggangguku. Apa aku tampak seperti orang kota yang datang ke hutan Kalimantan
dan mencari manusia setengah telanjang untuk membuatku merasa lebih beradab?
Aku berterima kasih saja menanggapi Budi. Masih dengan semangat, Budi
mengusulkan aku pergi ke tempat pelelangan ikan.
“Ada apa
di sana?” tanyaku, pasti terdengar bodoh.
“Lelang.
Nanti ada orang yang cepet banget ngomongnya. Dia yang nyebutin harga ikan.
Orang berebut nawar...” Aku tertawa. Bukan menertawakan Budi. Tapi menertawakan
diriku sendiri. Bertahun-tahun aku tinggal di daerah pesisir, karib dengan
liang-liang kerang dan bau asin yang mengerak di kulit. Kini, bermil-mil dari
kota itu aku dihantar ke liang dan kerak yang sama. Tapi tak ada yang sama,
kata seseorang di masa lalu. Tak pernah ada yang sama. Bahkan aliran selokan
yang kita lewati itu selalu berubah setiap hari. Dan aku meyakini tuturnya itu.
Aku jadi berpikir, untuk apa perjalanan dilakukan? Untuk menguar ingatan yang
berkerak?
Aku
belum memutuskan akan ke tempat pelelangan atau ke lapangan mataram terlebih
dahulu. Budi memberiku petunjuk kalau ke tempat pelelangan lewat sini, lewat
sini, naik ini, kalau ke lapangan mataram lurus aja, terabas rel kereta, belok
kiri, ketemu pertigaan, belok kanan, dan seterusnya. Aku hanya mendengarkan,
tak mampu mengingat petunjuknya.
Adzan
subuh mengingatkanku untuk bergegas mengambil keputusan. “Jadi mau ke mana?”
Budi meneguk tehnya. Aku menghabiskan kopiku.
“Ke
Lapangan Mataram dulu deh. Lebih deket.”
“Ya.
Kalau suka jalan sih mending ke Lapangan Mataram dulu. Paling satu kilo. Nanti
bisa bareng saya. Lagian kalau ke TPI, jam segini angkot belum keluar.” Budi
berdiri. Membenahi ranselnya. Membayar tehnya. Aku menyusul. “Saya sholat
dulu,” katanya sambil menunjuk musholla kecil di seberang rel kereta.
Aku
menunggu Budi sembahyang.
Jalanan
masih lengang. Kami melewati dua tukang becak yang pulas di atas kendaranya.
Setelah bertemu jalan raya kami berbelok ke kiri. Kami masih sempat bicara soal
beasiswa yang didapatnya di ITB dan hotel depan stasiun yang dia sarankan untuk
kuinapi. Di pertigaan kami berpisah. “Maaf nggak bisa nganter,” jabat tangannya
cukup erat. Selepas matahari terbit nanti, dia harus mengantar istrinya yang
menempuh pascasarjananya di IKIP Semarang. “Nggak papa, Mas. Makasih.” Udara
tak terlalu sunyi. Aku merapatkan kain pantai di bahu.
Bendan, kutemukan nama itu di plang sebuah madrasah,
kususuri sendiri. Cahaya dari teras menebar sampai ke jalan, lampu ruang tamu
belum menyala. Kadang-kadang aku berpapasan dengan perempuan-perempuan
bersepeda yang akan pergi ke pasar. Lalu sunyi lagi. Ah, betapa tempat ini. Aku
tak dapat menemukan kata sifat yang tepat. Kanopi, pagar, ubin, jendela, dan
cat dinding seperti didatangkan dari masa lalu. Aku lihat kehidupan baru
bergerak di gudang sebuah catering dan perwakilan Suara Merdeka.
Saat aku
sampai di lapangan mataram, pagi masih sangat belia. Namun, itu tak menghalangi
orang-orang yang berpakaian olah raga, lengkap dengan sepatu dan handuk di
bahu, untuk menikmati ritual Sabtu pagi mereka. Mungkin mereka aneh melihatku.
Dengan ransel di punggung dan berkerudung kain bali, aku lebih mirip anak
hilang. Tapi siapa peduli. Aku memilih salah satu bangku semen yang ada di
setiap sudut lapangan ini. Duduk dan menulis sebuah surat untuk teman.
Hei.
Aku
sudah di Pekalongan. Doamu diijabahi Tuhan. Aku sampai dengan selamat. Sekarang
aku duduk di Lapangan Mataram. Ya, aku tahu, tempat ini memang tidak ada dalam
daftar. Dalam doamu, apa kau juga meminta supaya aku banyak bertemu orang baik?
Kalau benar, perlu kamu tahu, bagian yang itu juga dikabulkan Tuhan. Seseorang
memberitahuku tentang tempat ini. Namanya Budi. Lain kali, kalau kita ketemu,
aku akan cerita lebih banyak tentang dia.
Kau
masih ingat Gasibu? Tempat ini adalah Gasibunya Bandung, hanya lebih kecil.
Pohon palem dan tiang lampu terpancang selang seling. Ia juga dikelilingi
trotoar, tempat orang berlari pagi. Sebagian dipakai para penjual makanan
menampung pembelinya. Nasi megono? Tentu saja ada. Dan masih banyak lagi. Bubur
ayam. Nasi kuning. STMJ. Susu murni. Soto ayam. Lontong opor. Bubur kacang ijo.
Dan tidak cuma makanan. Ada juga orang yang berjualan majalah bekas, mainan
anak-anak, dan jepit rambut. Tempat ini ramai di hari Sabtu. Sangat ramai di
hari Minggu.
Tadi aku
duduk di bangku semen lapangan ini. Karena nggak enak dilihatin orang, aku
pindah ke tukang serabi. Sekedar cari motif. Eh, sebentar ya, teh yang kupesan
sudah datang. (Biarpun ibu serabi ini sudah berjualan selama 4 tahun, dia tidak
menjual yang lain selain kue serabi yang seharinya cuma menghabiskan kurang
lebih 2 kilo tepung itu. Aku musti memesan teh dari tempat lain.) Hmm, suedap
tenan, Rek. Kau harus coba. Aku nggak tahu teh apa yang dia seduh, nanti akan
kutanyakan. Oh ya, konon Pekalongan punya kebun teh sendiri, Paninggaran. Aku
ingin melihatnya juga.
Sampai mana kita tadi? Ah ya, Pagilaran. Oh bukan,
sangat ramai di hari Minggu. Penjual-penjual ini mulai berkumpul di sini sejak
tahun 2000. Saat itu krisis moneter sedang kejam-kejamnya. Dari cerita yang
kudengar dari penjual mainan, pernah pedagang-pedagang ini diboyong ke, aduh
maafkan aku lupa ke mana, mungkin alun-alun, dengan perkiraan akakn lebih ramai
pembeli. Ternyata pembeli tak seantusias para pemilik keputusan. Dagangan
mereka jadi sepi dan, bisa ditebak, mereka diusung lagi ke tempat ini, sampai
sekarang.
Percayalah,
aku tidak nyaman berkalung kamera dan menenteng buku catatan ke mana-mana,
apalagi kalau sedang ngobrol dengan mereka. Tapi, kau tahu sendiri, ingatanku
setumpul batu. Ketika aku memutuskan melenyapkan dua bawaanku itu dari
pandangan, maka tak banyak yang bisa kukabarkan padamu. Padahal, dengan
berpura-pura menjadi wartawan dari Jakarta (hahaha, ya itu yang kukatakan pada
mereka), mereka jadi lebih banyak bicara dari tukang obat. Tapi aku senang
bicara dengan mereka. Mereka orang-orang baik, sangat santun. (Dan mereka
janggal mendengar bahasa Jawaku yang, biarpun tidak kromo-kromo amat, cukup
fasihlah.)
“Datang
lagi besok. Hari Minggu lebih ramai dari ini,” usul mereka setelah tahu aku
baru sampai jam 5 pagi dan bertanya aku menginap di mana. Aku tersenyum saja.
Aku sudah cukup senang pagi ini dan tak ingin terlalu senang dengan melihat
keramaian esok hari. Tetap saja sebuah Insyaallah keluar dari mulutku. Aku
bangkit dari paving blok. Ketika sedang membersihkan debu-debu di celana,
mataku terperosok pada pemandangan ini: yang bercelana olah raga, yang
berhanduk di bahu, yang memakai sepatu dan kaos kaki, sebagian besar berasal
dari satu etnis tertentu, etnis tionghoa. Hampir 95%. Sangat kontras dengan
mereka yang membuka lapak-lapak di tepian trotoar. Ini stereotip memang, tapi
aku kemudian berpikir, siapakah mereka yang mempunyai waktu senggang di Sabtu
pagi dan mengisinya dengan jogging dan sarapan di luar? Ah, abaikan pertanyaan
ini. Anggap saja igauan orang yang terlalu lama di kereta.
Rara
Jimenez
bilang, belum dibilang surat kalau tidak ada NB-nya. NB-ku padamu, teruskan
pelajaran bahasa Jawa-mu. Di beberapa tempat terbukti mampu mendekatkan kau
dengan mereka (ah, kau-mereka, berjarak sekali ya). Satu lagi, kalau kata-kata
mengkhianati kita, kau bisa lihat foto-fotoku nanti.
Surat
kulipat. Rp 1.500 untuk setangkup serabi. Seribu yang kuangsurkan untuk segelas
teh, masih kembali Rp 300. Berapa harga obrolan kami?
08 Mei
2007, best b'day ever!!
*bagian
ketiga dari tulisan panjang yang tidak selesai [hohoho klasik]
No comments:
Post a Comment