Tujuan pertama, Jalan Semarang. Bergelut dengan debu-debu, hunting buku. Dia geleng-geleng kepala, "Selalu buku," katanya. Pemberhentian selanjutnya, kalo berdasarkan rencana, adalah Zangrandi. Sehari sebelumnya, aku lihat tempat itu tanpa sengaja. Sayang karena tak sempat berhenti. Dalam hati aku berjanji, aku harus ke tempat itu, kapan-kapan. Si Wiki bilang, tempat ini dulu dibikin orang Itali, namanya Roberto Zangrandi, tahun 1930.Sebelum sampai ke Zangrandi di Jalan Yos Sudarso, kami melintas di Balai Pemuda. Sedang ada persiapan festival band di sana. Semua orang dan kalangan berlomba merayakan ulang tahun Surabaya yang ke-714. Di depan gedung sebelahnya (itu gedung kesenian ya?) tertempel poster festival budaya yang akan dilangsungkan dalam rangka menyambut ultah ini juga. Di antaranya ada pertunjukan Slamet Gundono dan teater boneka Prancis, digelar sampai akhir bulan. Tak sempat mencatat dan optimis bisa ke sini lagi, kucolong saja posternya hehe.
Gedung yang tak kukenal namanya itu beradu pantat dengan bioskop Mitra. Mengejar Mas-mas sedang diputar. Sepupuku menolak nonton. “Tidak menyakinkan judulnya,” gitu elaknya. Menyeberang dari Mitra, sampailah kita di Ragusa-nya Surabaya. O ya, jangan ke mari hari Selasa, mereka tutup. Menunya sih biasa aja. Tapi rame minta ampun, terutama karena letaknya yang di pinggir jalan.
Kami jalan lagi menukas sebuah taman, aku tak ingat namanya. "Sebentar lagi di sini bakal rame banget, soalnya ini malam minggu," infonya. Pada kesempatan lain (dan bersama orang lain) aku akan menunggu "sebentar lagi" itu, tapi tidak kali ini. aku meninggalkan taman dalam keadaan sepi.
Kita ke mana lagi?
Go shopping!!
Pada kesempatan lain dan bersama orang lain, aku akan mencari pilihan lain. Apa saja, selain mall dan belanja. Entah apa yang terjadi hari itu, kami lanjut ke Jembatan Merah Plaza (JMP). Belanja habis-habisan, barang-barang nggak penting pula. Keluar dari JMP, dengan banyak tentengan, kami menawar becak untuk mengantar kami ke Kya-Kya di Jalan Kembang Jepun. Dulu, awal-awalnya, sepanjang Kembang Jepun dipenuhi tempat makan. Sekarang menyusut jauh. Kata abang becak, karena ganti pengelola. Ya, kami ngobrol banyak tentang Kya-Kya sepanjang perjalanan pulang ke Jalan Dupak.
Sampai di rumah, kami kelelahan dan tidak sempat lagi ngobrol. Toh, esoknya kami gigih kembali ke Pasar Blauran mencari oleh-oleh. Keripik nangka dan keripik apel. Yang nggak kebagian jangan marah. Ditukar ceritanya aja ya.
| Suwun, mbak |


No comments:
Post a Comment