Gegas mobil mengarah ke Stasiun Pasar
Turi. 3 jam lagi kereta berangkat. Belum selembar pun tiket kereta kami punya.
Setelah liburan yang sangat menyenangkan, juga melelahkan, ini kami harus
bertolak pada keseharian lagi, Jakarta lagi, kantor lagi, rapat lagi, jam kerja
lagi, debu lagi, dan bosan lagi. Tapi tak bisa disangkal, rutinitas itu yang
membuat perjalanan ini lebih manis, semanis madu yang kita dapat di Taman
Nasional Merubetiri. Ya, ya, itu bisa kita bicarakan nanti. Sekarang mari
berkonsentrasi pada tiket pulang.
Jalanan tak ramai tak sepi. Sesampai di
stasiun, kami setengah berlari menuju loket. KURSI ADA. Hampir melompat setelah
membaca pengumuman itu. Rasanya seperti dapat lotre. Aku sudah bilang kan,
meskipun sepanjang 4 hari ini tak ada sedih dan gundah menghampiri, perjalanan
Surabaya-Probolinggo-Jember cukup menguras tenaga. Kami, barangkali tepatnya
aku, berharap bisa beristirahat sedikit—baca: menyandarkan punggung dan
memejamkan mata sesekali—sebelum dijemput seseorang bernama rutinitas jam 10
pagi esok hari.
Kami mengantri dengan riang. Aku dan 2
teman lagi—perkenalkan Em dan Boy—diantar Dini dan Dimas, kakak-beradik, tuan
rumah paling baik hati sedunia. Tiga, mbak, kalau bisa, tapi tolong usahakan,
yang berjejer ya. A B C. Kami bayar, memberi bonus senyum indah. Menyempatkan
pula berfoto di depan stasiun. Siapa tahu ini foto terakhir kami, lagipula tak
ada salahnya buat kenang-kenangan. Dasar turis lokal, umpat sang adik yang
meskipun malu setengah mati tetap mengabadikan kebersamaan kami. Justru biar
keliatan turis. Orang Surabaya ga kan mungkin di Stasiun Pasar Turi, seperti
juga orang Jakarta ga kan berpose depan Gambir atau Pasarsenen. Agak risih juga
dengan pandangan orang-orang sekitar tapi kapan lagi… haha
Tanpa menunggu lama, kereta api Kertajaya
jurusan Pasarsenen laju dengan bismillah dan doa yang diucap diam-diam.
“Selamat tinggal” kami simpan, yang ada “Sampai bertemu lagi, kawan-kawan.”
Terang di seberang jendela. Petang baru
menjelang. Kertajaya ke Jakarta berangkat lebih cepat sejam ketimbang
perjalanan sebaliknya. Kapan pun sampai, doa kami cuma keselamatan dan sedikit
kenyamanan, kalau kami beruntung. Dan berbeda juga seperti Kertajaya yang kami
naiki 4 hari lalu, kursi yang tersedia dua-dua, bukannya tiga-dua. Setidaknya
kami tidak berjauhan dan masih bisa saling mengawasi, begitu kami menghibur
diri. Asongan mulai berlalu lalang. Koran. Nasi ikan ayam. Kipas. Jenang Kudus.
TTS.
Aku menghayati senja sambil mengunyah buah
lontar—nostalgia di mana saja, eh? Boy, sebangku denganku, khusyu’ dengan
Bola-nya. Di bangku seberang depan, Em sudah memakai masker dan kembali sibuk
dengan BB-nya. Kami menggodanya sebagai Backpacker-kelas-menengah, backpacker
dengan bekal masker, Erha, Crocs, dan BB. Tapi, ini kali perjalanan akan masuk
daftar perjalanan yang sulit dilupakan buat kami bertiga. Apa pasal? Sampai
bertemu di kisah selanjutnya.
No comments:
Post a Comment