Klik Bila Perlu

Wednesday, February 19, 2014

Mafia Kereta

Gegas mobil mengarah ke Stasiun Pasar Turi. 3 jam lagi kereta berangkat. Belum selembar pun tiket kereta kami punya. Setelah liburan yang sangat menyenangkan, juga melelahkan, ini kami harus bertolak pada keseharian lagi, Jakarta lagi, kantor lagi, rapat lagi, jam kerja lagi, debu lagi, dan bosan lagi. Tapi tak bisa disangkal, rutinitas itu yang membuat perjalanan ini lebih manis, semanis madu yang kita dapat di Taman Nasional Merubetiri. Ya, ya, itu bisa kita bicarakan nanti. Sekarang mari berkonsentrasi pada tiket pulang.

Jalanan tak ramai tak sepi. Sesampai di stasiun, kami setengah berlari menuju loket. KURSI ADA. Hampir melompat setelah membaca pengumuman itu. Rasanya seperti dapat lotre. Aku sudah bilang kan, meskipun sepanjang 4 hari ini tak ada sedih dan gundah menghampiri, perjalanan Surabaya-Probolinggo-Jember cukup menguras tenaga. Kami, barangkali tepatnya aku, berharap bisa beristirahat sedikit—baca: menyandarkan punggung dan memejamkan mata sesekali—sebelum dijemput seseorang bernama rutinitas jam 10 pagi esok hari.

Kami mengantri dengan riang. Aku dan 2 teman lagi—perkenalkan Em dan Boy—diantar Dini dan Dimas, kakak-beradik, tuan rumah paling baik hati sedunia. Tiga, mbak, kalau bisa, tapi tolong usahakan, yang berjejer ya. A B C. Kami bayar, memberi bonus senyum indah. Menyempatkan pula berfoto di depan stasiun. Siapa tahu ini foto terakhir kami, lagipula tak ada salahnya buat kenang-kenangan. Dasar turis lokal, umpat sang adik yang meskipun malu setengah mati tetap mengabadikan kebersamaan kami. Justru biar keliatan turis. Orang Surabaya ga kan mungkin di Stasiun Pasar Turi, seperti juga orang Jakarta ga kan berpose depan Gambir atau Pasarsenen. Agak risih juga dengan pandangan orang-orang sekitar tapi kapan lagi… haha

Tanpa menunggu lama, kereta api Kertajaya jurusan Pasarsenen laju dengan bismillah dan doa yang diucap diam-diam. “Selamat tinggal” kami simpan, yang ada “Sampai bertemu lagi, kawan-kawan.”

Terang di seberang jendela. Petang baru menjelang. Kertajaya ke Jakarta berangkat lebih cepat sejam ketimbang perjalanan sebaliknya. Kapan pun sampai, doa kami cuma keselamatan dan sedikit kenyamanan, kalau kami beruntung. Dan berbeda juga seperti Kertajaya yang kami naiki 4 hari lalu, kursi yang tersedia dua-dua, bukannya tiga-dua. Setidaknya kami tidak berjauhan dan masih bisa saling mengawasi, begitu kami menghibur diri. Asongan mulai berlalu lalang. Koran. Nasi ikan ayam. Kipas. Jenang Kudus. TTS.

Aku menghayati senja sambil mengunyah buah lontar—nostalgia di mana saja, eh? Boy, sebangku denganku, khusyu’ dengan Bola-nya. Di bangku seberang depan, Em sudah memakai masker dan kembali sibuk dengan BB-nya. Kami menggodanya sebagai Backpacker-kelas-menengah, backpacker dengan bekal masker, Erha, Crocs, dan BB. Tapi, ini kali perjalanan akan masuk daftar perjalanan yang sulit dilupakan buat kami bertiga. Apa pasal? Sampai bertemu di kisah selanjutnya.



No comments: