Klik Bila Perlu

Monday, February 17, 2014

Kuburan

Sepulang sembahyang Ashar, udara tak lagi terik. Dua tiga laki-laki masih bercengkerama di depan langgar, tak segera pulang. Lain halnya dengan bapak. Sarungnya diangkat lebih tinggi biar tak menghalangi langkah. Malam ini malam lebaran. Kami harus ziarah.

Kami, lebih seringnya merujuk padaku dan bapak. Dulu, kami bertiga, dengan masku. Sekarang, ziarah ke kuburan menjadi father-daughter-event.

Bapak termasuk orang yang gemar berkarib-keluarga. Sepanjang jalan menuju kuburan dia akan menceritai aku tentang saudara ini yang kita temui di depan warung tadi, mbah ini yang di depan rumahnya tumbuh jeruk bali, pakde anu yang tinggal sendiri di sudut perempatan. Sejak kecil aku tahu, kami berkeluarga dengan semua orang di kampung ini.

Dan ziarah ke kuburan termasuk pendidikan berkeluarga.

Sebelum masuk, sebuah sepeda tergeletak tepat di bawah tulisan PEMAKAMAN UMUM DESA MADURAN. Kami berhenti sejenak untuk mengucap doa. Bapak tidak tahu, aku mencurangi doa masuk kuburan. Biasanya, sebelum masuk gerbang kuburan, bapak mengingatkan doa yang panjang itu. Namun, keculasan anak kelas 5 mengatakan, kalau aku sebut assalamualaikum ya ahli qubur minal muknimin walmukminat, minal muslimin walmuslimat... itu sudah cukup. Toh mereka semua mukmin dan muslim (amin!), jadi pasti kebagian doa semua.

Setelah mendoakan mbah kakung dan mbah putri, kita berkeliling mengunjungi kuburan saudara yang lain. Tak semua disinggahi doa, hanya saja informasi tentang mereka terkadang lebih panjang dari doa. ”Ini sepupu bapak,” terangnya, ”kalau masih hidup kamu harusnya manggil paklik soalnya bapaknya adik mbah. Dia ini yang tinggalnya dekat Bengawan Solo. Anaknya dua. Yang satu tinggal di Malang, satu lagi ngajar di SMP Negeri. Waktu kawinan mbak Azima kemarin dia datang. Masih ingat?”

Pohon sejarah harusnya tak ikut terkubur, mungkin demikian pikir bapak. Itulah kenapa kita menanam kembang sepatu di depan nisan mbah. Sebagaimana nisan, dia pertanda. Biar anak cucu tak lupa. Salah seorang kerabatnya ditanam di tanah yang lembab, dekat rawa-rawa ini.

Tapi anak cucu yang dimaksud hanya mengarah pada garis keturunan laki-laki. Tak ada keluarga perempuan yang pergi ke kuburan. Di madrasah diniyah diajarkan, makruh hukumnya perempuan pergi ke kuburan. Suatu kali aku pernah bertanya soal ini.

Cerita bapak:
Nabi pernah memergoki seorang perempuan yang meratap berhari-hari dan bermalam-malam di atas kuburan keluarganya. Sejak itu Nabi menetapkan hukum berziarah bagi perempuan. Makruh, untuk menghindarkan diri dari syirik. Makruh, karena perasaan perempuan lebih lemah.

Aku tidak pernah mencari tahu kebenaran cerita yang diambil dari hadist ini. Hanya saja dalam hati aku meyakinkan bapak, aku tidak akan meratapi kematian siapapun. Mungkin karena aku yang waktu masih kelas 5 SD belum pernah bergenggaman erat dengan rasa kematian dan kehilangan.

Tapi makruh toh bukannya tak boleh sama sekali. Bapak beranggapan, bagi anak perempuannya, manfaat berziarah lebih besar ketimbang mudlaratnya. Lagi-lagi, bersumber pada hadist, bapak pernah bilang, hubungan manusia dengan persoalan duniawinya terputus ketika ia mati. Kecuali dalam tiga hal, salah satunya doa. Bapak juga ingin, kelak ketika ia berpulang, anak-anaknya pun tak lupa untuk mendoakannya. Meskipun untuk itu, kau tak selalu harus datang ke kuburan.

Penjelasan ini lebih dari cukup untuk menjadi bekalku menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman ngaji atau sepupuku. (”Kenapa anak perempuan pergi ke kuburan?”)

Doa keluar kuburan harus diucapkan ketika melangkah keluar gerbang. Sepeda kumbang masih tertinggal di luar gerbang. Pemiliknya baru akan pulang selepas maghrib tapi seikat rumput dan sabit sudah terikat di boncengan.

Sepanjang jalan pulang, aku memutar kembali ingatan yang tertinggal di kepala. Kuburan mbah yang ada kembang sepatunya. Tiga langkah dari kuburan kembang sepatu itu, yang nisannya masih dari kayu, itu makam mbah putri. Lain kali kalau mau ke kuburan lagi bawa alas. Tidak boleh melangkahi makam. Hati-hati berjalan kalau tidak mau terjebak lumpur dan rawa-rawa yang nyaru di bawah rumput liar. Terakhir, sebuah pertanyaan, kenapa di kuburan tumbuh tanaman-tanaman yang aneh?

16 tahun kemudian, aku kembali mengunjungi kuburan. Ini kali kuburan yang lain. Namanya San Diego Hills. Penandanya terbuat dari marmer, rata dengan tanah yang sengaja ditanami rumput gajah. 5 tangkai mawar putih di atasnya telah layu. Kita cuma berdiri. Tak ada duduk bertumpu. Tak ada doa. Teman memberitahu, kavling G07 ini akan menjadi areanya. Sengaja dipesan untuk empat orang, seluruh keluarga. Setelah berfoto, kami pulang. Assalamualaikum, ya ahli kubur. Mudah-mudahan kau juga tahu, doa kami tidak dengan bersimpuh. Semoga kau juga maklum sebagian dari kami tak lagi percaya doa. Amin.

No comments: