Dia meminta dirinya dipanggil Ratmi. Rambutnya yang sebahu diikat kuncir kuda semakin menonjolkan pipinya yang tembam. Pupur bedak tidak dapat mengaburkan kulitnya yang sawo matang. Antingnya bundar agak besar, penampilan itu membuat dia tak ubahnya anak-anak remaja lainnya. Tapi pengalaman menjadi korban trafiking memaksa dia tampak jauh lebih dewasa dari usianya. “Waktu itu usia saya 14 tahun,” katanya memulai pengakuan, “baru sekolah SD kelas 5. Bapak saya sakit…” Ratmi terdiam agak lama. Mengingat kembali pengalaman buruk itu tak urung membuatnya mengalirkan air mata. “Saya mau dibawa Paman saya pergi ke Jakarta. Dia bilang saya akan kerja di PT, tahunya sampai di sana saya kerja…saya kerja di diskotik,” pungkas Ratmi di antara isak yang tertahan.
Ratmi terpaksa mengikhlaskan dirinya bekerja sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) demi keluarganya, demi menyelamatkan bapaknya. “Bapak saya takut sama Paman karena dia punya hutang sama dia.” Selama 8 bulan Ratmi tidak diperbolehkan pulang menengok keluarganya. Ketika dia mengatakan keinginan ini pada germonya, dengan tegas germonya menolak menolak memulangkan Ratmi. Ratmi tidak berdaya karena dia tidak memegang uang serupiah pun. Entah angin apa, sang paman yang mengetahui keinginan ponakannya tersebut menjemputnya dari tempat prostitusi. Sesampai di rumah, ternyata keadaan tidak seindah yang dibayangkan. Ratmi dipukuli sang paman. Tak lama setelah itu, dia kembali diberangkatkan ke Malaysia.
Selama 3 tahun bekerja sebagai pekerja rumah tangga Ratmi tidak digaji. Siksaan dari majikan sering menghampirinya. Tidak tahan dengan kondisi yang dijalani, Ratmi bertekad untuk kabur. Demi mewujudkan keinginanya itu dia nekat lompat dari lantai 3. Ratmi lari ke kantor polisi. Keadaan masih tidak mudah untuk Ratmi. “Demi bisa pulang saya mau dinikahi sama polisi. Saya ingin bertemu dengan orang tua saya.” Sepulang dari Malaysia bulan pelukan yang Ratmi dapatkan. Dia justru dimarahi habis-habisan oleh bapaknya.
Saat ini, Ratmi sudah bisa diterima di keluarganya dengan baik-baik. Tepatnya setelah sang bapak ditangkap dan di penjara selama 2 tahun.
Kisah Ratmi membuat masyarakat Bongas yang hadir dalam kegiatan Pemaparan Akhir Program Trafiking yang diadakan Yayasan Kusuma Buana (YKB) di Bongas, Desember silam, menjadi terdiam. Sesungguhnya kisah Ratmi, mungkin, bukanlah kisah yang baru didengar oleh warga kecamatan Bongas. Menurut hasil pemetaan yang dilakukan oleh tim fasilitator binaan YKB, di 5 desa yang tersebar di kecamatan Bongas, antara lain Cipaat, Margamulya, Cipedang, Plawangan, dan Kertamulya, menduduki angka di bawah 50 ribu warganya yang berprofesi sebagai PSK. Desa Bongas Pentil mencapai angka di atas 50 ribu. Sedang, desa Kertajaya mempunyai warga yang berprofesi sebagai PSK hampir 100 ribu.
Tingginya jumlah anak-anak yang dipekerjakan sebagai PSK tidak membuat YKB gentar. Justru alasan inilah yang membuatnya sangat tertantang untuk memilih Indramayu, tepatnya kecamatan Bongas sebagai area sasaran programnya. Salah satu hasil kerja keras LSM kesehatan yang tergabung dalam konsorsium Indonesia Against Child Trafficking adalah hasil pemetaan tersebut. Selama program yang didanai Terre des Hommes Netherlands dalam kurun waktu Juli 2005 s.d. Juli 2006 ini berbagai temuan didapatkan. Di antaranya, distribusi warga yang berprofesi sebagai PSK, yang droup out dari sekolah, dan yang berangkat ke luar negeri sebagai TKW di berbagai desa yang tersebar di kecamatan Bongas. “Tidak mudah mendapatkan data yang riil untuk mengetahui seseorang bekerja di mana,” papar Yani Mulyani. Pemerintah desa, lanjutnya, tidak mempunyai data seperti ini, pemerintah kecamatan juga tidak.
Program-program yang dijalankan YKB tidak selesai hanya dengan memberikan sosialisasi, semisal penyuluhan. YKB juga membentuk fasilitator binaan mereka menjadi community watch. Tugas kelompok ini, selain mengidentifikasi kasus-kasus trafiking yang ada, juga memberi rujukan pada tiap-tiap kasus yang dilaporkan kepada tim Kusuma Bongas (komunitas yang dikelola oleh penduduk setempat) yang bekerja sama dengan International Organization for Migration (IOM). Sejauh ini kasus yang dilaporkan sudah mencapai 50 kasus, khusus dari tim fasilitator sebanyak 13 kasus. Diakui Yani, hasil kerja mereka selama 1,5 tahun ini cukup menggembirakan. “Sudah ada progres. Mereka tidak hanya bersosialisasi tapi juga membantu menemukan kasus-kasus trafiking,” jelasnya menggarisbawahi. Dengan berkelakar Yani menantang warga Bongas, “okelah, setahun setengah ini kita (YKB) yang mengundang tapi lain kali kami yang ingin diundang.”
Satgas Anti Trafiking
Harapan haruslah diwujudkan menjadi kenyataan, meskipun disampaikan dengan nada bercanda. Dengan suara yang lebih serius, Yani mengungkapkan bahwa YKB sangat menginginkan untuk selanjutnya program-program mereka dapat terintregarsi dengan program Pemda. YKB sendiri telah melakukan pendekatan kepada diknas, camat, dan RPK. Hasilnya, terbentuklah Satuan Tugas Anti Trafiking. Agus Ali Wafa, Sekretaris Kecamatan Bongas, ketika ditemui Jurnal Perempuan di kantornya membenarkan keberadaan Satgas Anti Trafiking ini. Berkiblat pada Perda Kabupaten Indramayu No. 14 tahun 2005 tentang Pencegahan dan Pelarangan Trafiking untuk Eskploitasi Seksual Komersial Anak di kabupaten Indramayu, Dinas Sosial Ketenagakerjaan menindaklanjuti perda tersebut dengan membentuk Satgas Anti Trafiking. Rencananya, satgas itu wajib ada di tiap kecamatan. Sejauh ini, satu-satunya satgas yang ada baru di kecamatan Bongas.
Ketika ditanya mengenai konsep satgas tersebut, Agus menjawab, satgas ini diperuntukkan membantu masyarakat memerangi trafiking. “Sebagai program preventifnya, sudah jelas, yakni dengan melalui berbagai penyuluhan. Pada titik selanjutnya akan diintegrasikan program-program yang dimulai oleh YKB dalam struktur Satgas Anti Trafiking yang meliputi 4 bidang, di antaranya pencegahan, koordinasi, penegakan hukum, dan rehabilitasi.” Untuk sementara, meskipun konsepnya telah terbentuk, satgas anti trafiking belum bisa melakukanreal action. Hanya sebagai langkah awal, penekanan pada pemahaman agama telah terpilih menjadi poin awal gerakan Satgas.
SMP Terbuka
Mengiringi tingginya jumlah PSK di kecamatan Bongas adalah tingginya angka droup out sekolah. Tim fasilitator YKB mencatat, siswa DO hampir terdapat di semua desa. Tertinggi diduduki desa Bongas Pentil dengan jumlah hampir 50 ribu siswa. Kondisi ini juga mengundang keprihatinan Diknas setempat. “Pendidikan yang rendah membuat banyak penduduk Indramayu yang lari ke Jakarta menjadi pemulung.” Namun, hendaknya Wakil Diknas tersebut juga tidak melupakan, Jakarta juga menjadi tujuan terbesar prostitusi selain Riau/Batam, Bandung, CI, dan Indramayu sendiri. Wakil diknas menegaskan, pendidikan menjadi faktor yang teramat penting untuk diperhatikan. Wajar diknas yang pada tahun 2006 lalu baru 9 tahun, rencananya pada tahun 2007 ini ditingkatkan menjadi 12 tahun. Dengan begitu angka DO diharapkan dapat ditekan sampai 0%. “Target kami 5 tahun mendatang sudah bebas trafiking,” ujarnya optimis.
Sambil menunggu hasil 0% tersebut, guru-guru yang terlibat dalam Kusuma Bongas telah terlebih dahulu bergerak dengan SMP Terbukanya. Iis Syarifudin yang bertindak sebagai koordinator guru mengisahkan mula berdirinya SMP Terbuka yang tadinya berinduk ke SMP di Kandang Haur ini. “Bongas ini sering didatangi media-media elektronik yang mengekspos tentang PSK yang ada di sini,” tuturnya. Pak kuwu (semacam lurah) meminta jangan sering mengekspos yang begituan saja. “Tolonglah kasih jalan keluarnya untuk mengentas fenomena yang ada,” kisah Pak Iis menirukan pak Kuwu. Ide mendirikan sekolah tercetus dari Jeremias Wutun (IOM). Ide tersebut digodok dalam musyawarah-musyawarah yang melibatkan berbagai tokoh masyarakat dan guru. Kemudian diputuskanlah untuk meminimalisasi pendidikan yang rendah, yang dianggap sebagai salah faktor kuat yang mendorong anak-anak menjadi PSK, dengan membentuk SMP terbuka. Gedung ditumpangkan di SDN Bongas. Saat ini 7 orang guru bergantian mengajar di 3 kelas.
SMP Terbuka ini lebih mengutamakan anak-anak dari keluarga kurang mampu sebagai siswanya. Biaya masuk ke SMP reguler atau SMP Negeri dianggap sangat membebani mereka. “Untuk membeli seragam saja mereka tidak mampu.” Di SMP Terbuka ini bagaimanapun caranya, ungkap pak Iis, diupayakan agar mereka mendapatkannya. Ke depan, SMP Terbuka berniat menerima anak-anak korban trafiking. Dalam waktu dekat ini, baru satu anak yang dirujuk dari IOM. Ketika Jurnal Permepuan berkunjung, dia tak tampak berbeda dengan siswa-siwa yang lain; belajar di kelas, bermain basket di halaman sekolah. Hanya seragam yang belum ia dapatkan saja yang membedakannya dengan anak-anak lain.
SMP Terbuka membekali siswanya sama dengan SMP lainnya. “Kami mengikuti kurikulum dari Diknas,” jelas pensiunan karyawan BRI ini. Selain itu, diajarkan ketrampilan lain atau yang menurut istilah sekolah tersebut life skill, seperti menjahit, menyablon, atau belajar tata boga. Mampu mengoperasikan komputer termasuk hasil yang ingin dicapai SMP Terbuka ini. “Cuma pengenalan saja. Bukan biar mahir.” Kondisi serba pas-pasan ini, terang Pak Iis, terhadang akan minimnya sarana dan prasarana yang mereka miliki. Sebut saja komputer, mereka hanya memiliki 5 buah. Sedangkan mesin jahit mereka baru memiliki 3 buah. Padahal perlengkapan dengan jumlah yang sedikit itu untuk dipergunakan 99 siswa.
Guru Muatan Lokal (Bahasa Indramayu) dan Agama ini menyesalkan perhatian dari Diknas belum ada. Sedang Pemerintah provinsi dinilainya cukup membantu. 3 bulan sekali cair dana yang diperuntukkan sebagai honor guru-guru pamong. “Katakanlah itu sebagai uang saku atau uang lelah saja,” ucapnya sambil tersenyum maklum.
Peningkatan IPM, Pencegahan Trafiking
Berkali Yani menegaskan harapannya agar jalan yang sudah dibuka YKB dapat menyatu dengan program pemerintah setempat. Salah satunya triknya adalah dengan mengkoordinasikannya dengan program peningkatan IPM (Indeks Prestasi Manusia). Nani E. Rahmat mansur menyepakati gagasan tersebut. Sepuluh bulan lalu, ketika suaminya baru saja dilantik jadi camat, Nani didatangi oleh ibu-ibu PKK yang memberitahu dia bahwa mereka telah menjadi kader (fasilitator) YKB. Tugas mereka sebagai penyuluh, pendata, memberikan keterampilan dan sebagainya. “Ayo, saya dukung,” sambut ibu camat baru ini kepada mereka. Sudah terbayang di kepalanya bagaimana mensinergikan program peningkatan IPM yang sangat rendah di Bongas dengan program pemberantasan trafiking yang dilakukan ibu-ibu fasilitator ini. Sementara ibu-ibu kuwu penggerak PKK itu berusaha meningkatkan kepedulian terhadap trafiking, ibu camat mengupayakan peningkatan 3 bidang yang menjadi tolak ukur IPM, yakni pendidikan, kesehatan, dan daya beli.
Nani tidak melihat adanya kesenjangan antara 2 tujuan tersebut. Bahkan dia mengaanggap ada keterkaitan yang sangat erat. Pendidikan misalnya. Dia sangat menyetujui wajar diknas 9 tahun menjadi 12 tahun. “Kalau anak pendidikannya rendah, otomatis mereka gampang dibohongi. Jadi dengan menningkatkan pendidikan, angka trafiking juga bisa ditekan.” Demikian juga dalam hal pemberdayaan ekonomi. Dia berupaya mendongkrak perekonomian warga kecamatan Bongas dengan 2 program, yaitu Sekolah Lapang dan pemanfataan ladang pekarangan. Menurutnya, 2 usaha ini akan dapat mengikis ketergantungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dampaknya tentu mereka menjadi tidak mudah diiming-imingi. “Ibu-ibu sekarang sudah terampil membuat keripik pisang atau pisang cokelat. Mereka mengisi ke warung-warung sekitar, kantin-kantin sekolah, atau menerima pesanan,” ungkapnya dengan bangga. Pendekatan pada remaja dilakukan melalui bidang IPM yang lain; kesehatan. Remaja-remaja, khususnya remaja perempuan, mendapat penyuluhan tentang apa itu kehamilan, bagaimana merawat organ reproduksi, dan sebagainya.
“Suatu saat kami akan bisa mengundang YKB ke sini. Jangan YKB melulu yang mengundang kita,” sambut ibu camat menanggapi tantangan YKB. Di tempat terpisah, kalimat serupa juga disampaikan oleh Agus, Sekreatris Kecamatan Bongas. Perlahan tapi pasti seluruh komponen penduduk Bongas bergerak meninggalkan trafiking. Mereka berkeras menanggalkan cap sebagai daerah pengirim PSK terbesar yang, konon, sampai tingkat Asia Tenggara. Bilakah itu terwujud? Mari berusaha.
No comments:
Post a Comment