Sebelum berkemas menuju Surade saya sudah mendapat kabar bahwa perjalanan akan menghabiskan waktu delapan jam. Sama lamanya dengan perjalanan Jakarta-Semarang. Di sana nanti saya musti mewawancarai Bu Imas, seorang guru SMP Surade yang, katanya, sendirian terbang ke Medan untuk membebaskan seorang korban trafiking dari desa itu. Siapa guru itu? Siapa korban itu? Apakah dia siswanya? Apa benar dia korban trafiking? Semua masih gelap untuk saya. Dengan hanya berbekal kabar dan pertanyaan-pertanyaan, berangkatlah saya menuju Surade.
Setelah empat jam melekat di kursi bus dari Sukabumi saya sampai di SMP Negeri 1 Surade, tempat pertemuan yang kami sepakati di telepon sehari sebelumnya. Seorang perempuan berkerudung mengenalkan dirinya sebagai bu Imas. Dia menyambut saya dengan jabat tangan erat dan senyum yang hangat. Saya taksir umurnya sekitar tigapuluhan. “Saya lahir 1 Februari 1968,” terangnya memulai pembicaraan, seakan membaca tebakan dalam benak saya.
Bu Imas yang bernama panjang Imas Masripah ini lahir dan tumbuh di Surade. Selepas kuliah di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) dengan jurusan hukum sipil (sekarang PPKn) di tahun 1990, Bu Imas mengabdikan diri di almamaternya, SMPN 1 Surade. “Tugas pokok saya mengajar PPKn. Tapi karena kekurangan guru, saya kadang juga mengajar Fisika.” Sejak saat itu sampai sekarang, Bu Imas tidak pernah berganti profesi. Tidak heran kalau dia tidak saja sangat mengenal semua ruang di sekolah ini, tetapi juga karakter setiap siswa. “Menghadapi mereka memperkaya pengalaman batin saya,” itulah alasannya sehingga tidak pernah berminat meninggalkan sekolah dan siswanya.
Ketika saya tanya seperti apa Bu Imas menurut anak-anak, Bu Imas cuma tertawa. “Harusnya itu anak-anak yang menjawab,“ katanya dengan nada merendah. Sepulang sekolah dia mengajak saya mendatangi rumah seseorang yang pernah menjadi siswanya. Sayang, sang mantan siswa sedang tidak berada di rumah. Pertanyaan saya baru terjawab ketika keesokan harinya saya berkesempatan masuk di dua kelas yang diajar bu Imas.
Anak-anak kelas akhir SMP ini sepakat menjawab bahwa Bu Imas orangnya galak. Wah. Tapi mereka segera menambahi, “Galaknya Bu Imas demi kebaikan kita sendiri.” Maksudnya? Bu Imas sangat patuh pada peraturan. Karena siswa wajib datang ke sekolah pukul tujuh, maka Bu Imas mewajibkan dirinya sampai di sekolah sebelum pukul tujuh. Ketaatan yang sama dituntut Bu Imas pada siswa-siswanya. Sikap disiplin ini dia terapkan dalam berbagai hal: seragam, pekerjaan rumah, ulangan, dan sebagainya. Bu Imas tidak segan memberi sanksi bagi siapa saja yang melanggar. Namun, Bu Imas mengimbangi sikap tegasnya tersebut dengan sikap terbuka dan tidak menghakimi. Dia siap mendengarkan apa pun alasan siswanya. Bahkan, ketika dia tahu mereka sedang berbohong.
Menanggapi label galak yang dilekatkan siswa-siswanya, Bu Imas tertawa riang. Dia tidak khawatir sikap galaknya ini menjauhkannya dari anak-anak. Dia malah menambahkan, “Saya ini tim buser, buru sergap untuk anak-anak.” Meskipun tidak menjabat sebagai guru BP atau wali kelas, Bu Imas sering mendapat tugas menginterogasi anak-anak yang melanggar peraturan sekolah. Misalnya soal narkoba dan pergaulan bebas. “Komunikasi hati,” Bu Imas mengungkap rahasianya. Buah dari komunikasi hati tersebut, meskipun Bu Imas berlabel galak, siswa-siswa Bu Imas mengaku dapat leluasa membicarakan berbagai hal: mulai dari pelajaran sampai persoalan pribadi, seperti keluarga atau bahkan pacar. Mula-mula saya agak susah membayangkan itu bisa terjadi. Meragukannya malah. Namun, ketika obrolan kami sampai pada kisah perjalanannya menjemput Rina, kesangsian saya runtuh.
Rina gadis remaja berusia 15 tahun yang berasal dari keluarga kurang mampu. Seorang tetangga yang biasa disapa dengan nama Ibu Ade menawarinya pekerjaan sebegai pekerja rumah tangga di Medan. Gaji Rp 400.000/bulan. Rina berpikir, ini kesempatan untuk membantu perekonomian keluarganya. Dengan restu orang tua, petang setelah menerima ijazah (Juni 2006) Rina pergi ke Medan.
Di Medan, Rina ditampung di sebuah rumah yang sebelumnya telah banyak menampung “calon-calon pekerja” seperti Rina. Rina waktu itu yang paling muda di antara penghuni lain. Ia ketakutan mendengar cerita mereka tentang penjaga yang kerap membentak, memukul, dan berlaku kasar. Setelah dua hari Rina mulai tidak betah. Dia mengutarakan keinginannya untuk pulang kepada satpam. Satpam berang, dengan kasar dia bilang ke Rina, boleh pulang dengan syarat Rina mampu menyediakan uang Rp 3 juta. Putus asa dengan kelakuan satpam itu, dan karena tidak memiliki uang Rp 3 juta, Rina memutuskan kabur.
Lolos dari rumah penampungan Rina meminta tolong tukang becak yang malah mengantarkannya ke rumah seorang perempuan “yang suka melayani suami orang.” Selama tinggal di rumah tersebut, kurang lebih tiga minggu, Rina diajak ke kafe-kafe dan diajari berdandan. Dari orang-orang Rina akhirnya tahu bahwa perempuan yang menampungnya sekarang adalah seorang germo. “Lepas dari mulut singa jatuh ke mulut buaya,” sesal Bu Imas di sela-sela ceritanya. Namun, di tempat ini pulalah Rina berkenalan dengan Juli Hutabarat, penjual pecal keliling yang mau berbaik hati menolong dan menampung Rina.
Sementara Rina tinggal di rumah Ibu Juli, orang-orang yang membawa Rina dari Surade - sering disebut “orang PT” karena usaha mereka memang berkedok PT - terus memburu. Mereka mengerahkan berbagai tipu daya agar Rina kembali kepada mereka, salah satunya dengan mengaku sebagai kakak Rina. Usaha mereka berhasil setelah berjanji Rina akan dipekerjakan sebagai pembantu di rumah orang Cina. Memang benar Rina kemudian bekerja di rumah orang Cina tersebut, tapi dengan perjanjian tidak akan mendapat gaji selama enam bulan pertama. Majikan yang sangat cerewet dan pikiran dia harus kerja enam bulan tanpa gaji membuat Rina kembali tidak betah. Lagi-lagi dia melarikan diri. Kali ini dengan cara lompat dari loteng rumah.
Rina kembali kabur ke rumah Ibu Juli. Ibu Juli yang baik bersedia menampung Rina, bahkan mulai mencari cara bagaimana memulangkan Rina. Bersama seorang tetangganya yang, kebetulan anggota Koramil dan seorang wartawan bernama Sahrial, mereka berusaha mengontak keluarga Rina. Rina yang sekarang dalam keadaan sangat tertekan dan trauma tidak dapat mengingat nomor telepon sekolahnya. Akhirnya Sahrial meminta tolong Azmi, saudaranya yang di Bandung, untuk mencari kontak SMPN 1 Surade.
Pak Azmi berhasil menghubungi SMPN 1 Surade. Ia minta bicara dengan Kepala Sekolah, tapi sedang tidak di tempat. Kebetulan Bu Imas yang menerima telepon dan lebih dulu diberitahu tentang Rina. Pak Azmi berpesan agar bu Imas menghubungi Sahrial di Medan.
Dari Sahrial, Bu Imas mendengar cerita tentang Rina kabur dari penampungan PSK dengan kondisi sangat stres. Demi membuktikan kebenaran cerita tersebut, Bu Imas berusaha menghubungi Rina di rumah Ibu Juli. Rina, walaupun masih sangat syok ternyata mampu mengenali suara Bu Imas. Rina memohon agar Bu Imas dan keluarganya segera menjemput.
Akhir Agustus 2006, Bu Imas mengantar ibu Rina ke kantor polisi untuk melaporkan kasus ini. Setelah mengantar, Bu Imas diwanti-wanti pihak sekolah. “Bu, sampai sini saja,” ucap Bu Imas menirukan mereka. Selanjutnya biar ditangani pihak kepolisian. Bu Imas mengerti ketakutan pihak sekolah, karena dalam hati kecilnya pun dia merasa gentar menghadapi mafia (demikian ia mengistilahkan orang-orang yang menipu Rina) ini. Bu Imas kembali larut dengan aktivitasnya di sekolah.
Sebulan setelah melapor, ternyata tidak terjadi apa-apa. Ibu Rina memutuskan datang ke sekolah. “Ibu Rina berkali-kali datang, meminta pertolongan agar anaknya bisa dijemput dari Medan.” Bu Imas menyarankan keluarga Rina melapor ke kepala desa untuk mendapat surat keterangan, juga ke kecamatan dan kepolisian. Hal ini demi menghindari “salah jemput”, karena keluarga Rina pun mendengar, sudah banyak orang-orang tak dikenal yang mencoba mengambil Rina dari rumah Ibu Juli.
Pertengahan bulan Ramadhan, ibu Rina datang lagi ke sekolah khusus menemui Bu Imas. Dia mengabarkan, pihak kecamatan meminta Bu Imas yang menemani keluarga Rina mengurus penjemputan Rina. Selain karena Bu Imas telah mengetahui kronologi peristiwa sejak awal, pihak kecamatan percaya dengan cara kerja Bu Imas. Bu Imas lantas menghubungi Pak Camat. Camat siap mendukung secara moral, namun karena saat itu menjelang Lebaran, perjalanan pun ditunda.
Tidak pernah terbayang dalam benak Bu Imas dia akan pernah terbang ke Medan. “Medan itu teh bagaimana warnanya? Harus berapa jam, berapa minggu, ke sana?” katanya sambil mengingat-ingat kebingungannya saat itu. Tanpa sadar tangannya mengepal, memukul-mukul sofa yang kami duduki. Kebingungannya diperparah dengan bayangannya tentang tempat Rina di sana. “Saya teh nggak bisa ngebayangin Medan itu gimana,” katanya mengulang, “apalagi ini kawasan PSK. Biasa lihat di TV itu kan dalam gedung tertutup, pagar besi yang tinggi-tinggi.” Ketakutan seketika menyergap Bu Imas.
Keberanian Bu Imas bangkit lagi ketika berbicara dengan alumni-alumninya setelah Lebaran. Mereka meyakinkan Bu Imas, “Medan itu aman”, “Medan sama seperti Jakarta,” dan sebagainya. Mereka pulalah yang menghubungkannya dengan KKSP, sebuah LSM Medan yang bergerak di bidang perlindungan hak anak. KKSP bersedia membantu Bu Imas mengurus pemulangan Rina.
Hubungan dengan KKSP berjalan lancar. KKSP menyatakan mereka telah siap dan menunggu di Medan. Sementara itu di Surade, Bu Imas masih mencari dana untuk berangkat ke Medan. Diakui Bu Imas, pemulangan Rina sempat terhenti beberapa bulan karena dana.
Surat Rekomendasi dari Camat sudah di tangan Bu Imas. Selain itu, pihak kecamatan memesan Bu Imas agar menemui sendiri Sukma Wijaya, Bupati Sukabumi. “Bupati ini orang Surade. Jangan ke kantor, ke pendopo (rumah) saja. Waktunya sore, setelah maghrib. Kalau ada penjaganya, bejakeun ti Surade .”
Bu Imas mematuhi pesan itu. Selepas Maghrib, dia menemui Bupati di rumahnya. Setelah kurang lebih satu jam menjelaskan duduk perkara dan membujuk Pak Bupati, Bu Imas akhirnya mendapat bantuan dana. “Mungkin inilah jalannya,” ucap Bu Imas penuh syukur. Kepada saya, Bu Imas membocorkan salah satu rahasia kenapa dia bisa begitu gampang membujuk Pak Bupati. Dulu, Bu Imas pernah diberi tugas menuliskan pidato untuk dibaca Sukma Wijaya, yang waktu itu masih menjabat sebagai Camat Surade, untuk upacara peringatan Hari Pramuka. Kedekatan ini, menurut Bu Imas, sangat membantunya merundingkan soal bantuan dana tersebut.
Tiket ke Medan sudah dibeli. Sayang, tidak berarti Bu Imas tinggal terbang. Pihak-pihak yang tidak suka dengan rencana perjalanan ini berusaha menggagalkannya. Mereka terus-menerus menelepon Bu Imas, meminta agar perjalanan dibatalkan. Bahkan meminta agar bantuan dana yang diberikan Bupati dikembalikan. Merasa telepon tidak mendapat hasil, mereka berusaha mengejar Bu Imas di rumahnya di Sukabumi dan Surade.
Bu Imas gamang. Tiket sudah ada. KKSP dan Ibu Juli sudah diberitahu Bu Imas akan datang. Tapi teror yang terus datang memaksa Bu Imas berpikir ulang. Bukan hanya Bu Imas sendiri yang cemas, keluarga Bu Imas juga takut pada hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi. Di sinilah keteguhan Bu Imas dibuktikan. Meski tidak lupa bahwa nyawanya sedang dipertaruhkan, Bu Imas kukuh menggenggam tekad. Terbang juga dia menjemput Rina.
Kamis, 2 November 2006, sebelum berangkat ke Medan, Bu Imas memastikan semua surat sudah terkemas rapi dalam tasnya. Surat serah terima warga Cibarehong desa Jagamukti (desa asal Rina), surat rekomendasi dari kecamatan, surat pengantar dari KKSP, dan sebagainya. Kawan-kawan KKSP telah menunggu di Bandara. “Selama di Medan mereka juga mengawal saya,” kenang Bu Imas haru. Tidak saja kawalan KKSP, Camat dan Bupati yang terus menelepon untuk memantau keberadaan Bu Imas juga membuat Bu Imas merasa dia tidak sendiri. Ini yang membuatnya tegak melangkah di Medan.
Bu Imas tidak berusaha menutupi bahwa cerita tentang centeng yang memburu Rina dan mendatangi rumah Ibu Juli cukup membuatnya gentar. Karena itu, keesokan harinya ia bergegas mendatangi Lurah dan Camat Medan Perjuangan untuk mendapatkan surat keterangan identitas bagi Rina agar bisa melewati pemeriksaan di bandara. Selanjutnya Bu Imas pun pergi ke Polda Medan dengan maksud yang sama. 7 November 2006, ketika semua tetek-bengek itu selesai, Bu Imas dan Rina kembali ke Surade, diantar warga Medan Perjuangan sampai bandara.
Sekembali dari Medan, apa persoalan Rina langsung selesai? “Belum,” sahut Bu Imas cepat. Beban berat bergayut di jawaban pendeknya tadi. Ternyata, orang tua Rina menolak tawaran Bupati untuk melanjutkan pendidikan Rina. Mereka memaksa Rina kembali saja ke rumah - keputusan yang sangat disayangkan banyak pihak. Namun apa daya, karena masih di bawah umur keputusan hidup Rina selanjutnya memang masih di tangan orang tuanya. Rina sendiri masih sering ketakutan membayangkan orang-orang yang mengajaknya pergi, sehingga untuk sementara waktu dia tinggal di tempat Bu Imas. Giliran Bu Imas dan keluarganya yang diteror. Dia didatangi orang tua Rina yang mengancam akan mengerahkan warga Cibarehong kalau Rina tidak “dikembalikan”.
Kesepakatan akhirnya didapat setelah melibatkan Muspika dan pihak Kecamatan. Rina dipulangkan ke orang tuanya dengan catatan semua pihak akan bertanggung jawab mengawasi keberadaan Rina, kalau-kalau terjadi lagi hal yang tidak diinginkan. “Saya lega,” tutur Bu Imas tentang perasaannya waktu itu. Setelah menarik nafas dalam-dalam ia menambahkan, “Tugas saya sudah selesai.”
Tapi ternyata tugas Bu Imas belum selesai, justru baru dimulai. Meski belum paham benar definisi trafiking, entah itu versi protokol Palermo atau PBB, warga Surade - terlebih Bu Imas - telah dipaksa membuka mata pada kejahatan ini. Tidak semua siswa SMPN 1 Surade berasal dari keluarga berada, dan sebagaimana kita tahu, membantu perekonomian keluarga adalah problem klasik yang harus mereka jawab setelah lulus sekolah. Membentengi mereka dengan pengetahuan tentang trafiking dipercaya Bu Imas bisa menjadi salah satu cara membantu mereka. Ketika saya berkesempatan berbincang sebentar dengan mereka, tentang kehidupan mereka, terasa benar antusiasme akan persoalan ini. Mereka bertanya tentang definisi, tentang sanksi, tentang perlindungan hukum untuk korban trafiking. Mungkin mereka ngeri mendengar kisah Rina. Apalagi, modus trafiking telah lebih canggih kini. Kalau mereka lolos dari ajakan terang-terangan, bagaimana mereka menghadapi yang sembunyi-sembunyi (misalnya iming-iming)? Bu Imas berharap cukup satu Rina yang menjadi korban. Dia telah berhasil memulangkan Rina yang satu ini, dan sekarang dia memiliki banyak Rina yang masih harus dijaga.
Saya telah sampai kembali di Jakarta ketika Bu Imas mengirim surat untuk saya, “Semoga tidak akan ada Rina-Rina yang lain,” demikian tulisnya.
No comments:
Post a Comment