Klik Bila Perlu

Thursday, February 20, 2014

Pulang

Setelah hampir dua belas tahun absen, kami sekeluarga pulang ke rumah mbahku di Karang Jiwo, dusun pinggir hutan yang tidak tercantum di peta Pulau Jawa. Bahkan lebaran tidak cukup kuat menjadi alasan untuk memaksa kami atau salah satu dari kami untuk pulang. Tetapi mbahku takkan kekurangan akal. Ia akan menyuruh anaknya yang berarti budeku atau anak budeku—ibuku hanya dua bersaudara—untuk menelpon kami. Ia akan berpesan; bilang mbah sakit. Lalu kami atau salah satu dari kami akan tergopoh menengoknya. Padahal ia hanya masuk angin atau rematiknya kumat. Atau obatnya habis. Biasa, penyakit orang tua.

Setelah menungguinya selama satu atau dua hari, segera kami akan kembali ke Ciledug, tempat tinggal kami sekarang. Rentang jarak itulah yang sering membuat langkah kami seperti terberati pasak bumi. Dari Ciledug, naik bis kota untuk sampai di Stasiun Senen. Butuh dua jam, dengan janji macetnya normal. Kemudian kita harus terlibat antrean yang panjang untuk mendapat karcis Kertajaya atau kalau kurang beruntung Gaya Baru Malam. Kereta baru berangkat pukul lima sore. Berdesak-desakkan seperti anak kucing dahaga sedang menetek induknya.

Aku sebagai makhluk paling mungil di rumah, akan dikempit mas atau ibu—bapakku sibuk ngurusin barang bawaan kami, supaya bisa masuk lewat pintu yang hanya selebar badan orang dewasa yang tidak kurus tidak gemuk, dan seingatku tidak pernah dibuka dua-duanya. Atau kalau bapak atau ibu atau mas sudah mendapat tempat di dalam, aku akan diselundupkan lewat jendela. Maklum kereta ekonomi. Belum lagi ditambah penjual nasi rames atau bayi yang sepanjang malam menangis. Atau petugas restorasi yang meracun dengan nasi goreng atau kopinya karena harganya yang bisa tiga sampai empat kali lipat dari harga biasa.

Pernah, seorang pemuda legam matahari dan berkulit tato hampir berkelahi gara-gara itu. Kalau saja tidak dilerai beberapa laki-laki, mungkin tukang restorasi itu akan terlempar ke luar. Jendela-jendela banyak yang tidak berkaca. Melakukannya seperti membuang bungkus chiki atau botol Aqua. Duduk selonjor saja susah. Sempat-sempatnya mau ninju orang lain. Masih belum terbilang sial-sial amatlah kita, kalau tidak mendapat karcis bertempat duduk. Asal kereta masih mampu menampung kita. Dapat menapak dua kaki itu saja sudah cukup untuk dikata mujur. Belilah kalau tukang koran lewat. Karena setelahnya kita bisa ngorok di kolong kursi. Atau di antara kursi. Atau di jalanan. Atau di atas kardus atau tas-tas ukuran lemari, wah, itu lebih ekonomis apalagi kalau duit di kantong pas-pasan. Sukur-sukur belum sempat diambil copet.

Kalau kebetulan aku dan mas duduk sebangku, ia tidak pernah keberatan pahanya menjadi bantalku sepanjang malam. Matanya yang acuh tidak pernah terpejam layaknya seorang kekasih yang takut berpaling dari wajah kekasihnya, karena sekali ia lenyap, senyaplah selamanya. Paling ia hanya bersandar, menghirup udara banyak-banyak sebagai bekal hidupnya yang masih sembilan-ratus-dua-puluh-tahun lagi dan kembali melelahkan pandangannya pada gulita seberang jendela. Saat matahari mulai terik, jam sembilan atau sepuluhan, kereta mulai masuk Stasiun Babat. Seringnya lebih siang lagi. Apalagi kalau semalam terlalu banyak tabik ke kereta yang mahalan. Tak apalah, sumonggo mawon asal selamat sampai tujuan. Dapat tercapai semua keinginan. 

Keluar stasiun, pasti sopir colt-colt sewaan nguntit sambil bujuk-bujuk nawarin harga kayak jurkam. Baru menjauh—sambil marah-marah, tentu—kalau dia tahu ternyata kue keju mangsanya itu rasa empedu. Bilang saja kita mau naik becak. Tapi itu bukan trik yang jitu karena tukang becak bakal merubung kayak lalat hijau di pasar. Jangan khawatir. Sok tuli saja. Terminal depan pasar, tidak jauh. Jadi jalan saja. Dalam angkot Babat-Pucuk, kita dapat tidur sejenak. Perjalanan diteruskan dengan ojek. Bayar Rp 4000, tahun 1990. Entah sekarang.

Berhenti di Kecamatan Laren.

Setiap tahun Karang Jiwo, dan sekitarnya tentu, pasti banjir. Itu kalau kau datang ke sana bulan-bulan langit basah. Sawah beberapa kecamatan terendam. Atap-atap kampung mengapung. Kita bisa melihat teratai, rumput-rumput tinggi dalam air, dan ikan-ikan di ujung kematian karena terjebak dalam bubu atau jala yang ditebar. Karena perahu yang kita naiki seperti berjalan di atas kaca. Biasanya, Masku membawa senapan. Burung-burung berleher jenjang, sayapnya putih keabu-abuan, keperakan disilau cahaya matahari, beramai-ramsai bergerombol di atas pematang yang belum terendam. Kemudian beramai-ramai terbang mendengar suara senapan.

Duduk di tepi perahu, diam-diam mencelupkan tangan ke dalam air untuk kemudian mencabut entah tumbuhan apa namanya yang buahnya mirip kapal, itu sukaanku. Menariknya seperti menarik peselancar dengan motor boat. Bapak akan membentakku kalau kebiasaanku itu kambuh. Dua jam perahu sampai depan antru, langit-langit rumah yang disulap menjadi tempat tinggal sementara selama banjir. Beberapa meter dari antru, dengan senang hati aku dan mas akan terjun ke air yang kata bapak banyak lintahnya. Lomba berenang, itu cara kami sampai di tangga antru. Dulu.

Kalau tidak, lagi-lagi ojek. Lewat hutan. Jalan setapak. Baur ranting-ranting. Kabur suara monyet dan burung. Terintang batu-batu gunung. Depan rumah, disambut dengan pelukan. Nanti sore, sayur rebung.

Hari ini bukan lebaran. Bukan telepon juga penyebabnya. Tapi kami pulang. Sekeluarga. Bukan hanya salah satu dari kami. Setelah tiga belas tahun.

Ritual lama terputar kembali. Seperti matahari yang setiap hari pulang pergi. Duduk dipan depan rumah. Di bawah bambu. Aku curiga mbahku menulis dan menghapal kalimat-kalimat yang akan beliau soalkan pada kami. Bagaimana kabar Marjo, satpam yang suka antar aku ke sekolah? Mpok Bedah masih suka nitipin anaknya? Ayam yang bawa dari sini itu masih hidup? Mangga depan rumah itu jangan ditebang. Biar saja dilempari temen-temennya Hatin. Namanya juga anak-anak. Itu dulu waktu kami masih tinggal di Ciputat. Sekarang, mana bisa pelihara ayam. Mau ditaruh di mana? Di bufet? Sekarang kami punya sih ayam. Tapi ayam-ayaman dari keramik, oleh-oleh Mas waktu studi tur lulusan SD ke Yogya. Apalagi pohon mangga, mana kami punya halaman.

Padahal, mbah sudah tahu kalau sekarang kami pindah ke Ciledug. Rumah susun. Tidak banyak yang kukenal, bapak-ibu juga. Kayaknya masku juga. Tidak ada lagi pak Marjo ato Mpok Bedah. Tapi kata Bapak, waktu kita duduk berdua di bawah bintang, mbah tidak nanya-nanya pohon mangga tetapi beringin. Padahal, mangga saja tidak ada apalagi beringin. Pertanyaan aneh lagi; Hatin sama masnya masih suka matah-matahin lidi? Aku dan mas tidak ada tabiat itu. Tahu kalau itu yang akan ditanyakan mbahku, aku dan mas tidak perlu kabur, pergi ke tempat Lek Tun, satu-satunya tukang jajanan di Karang Jiwo. Tempat yang, dulu, paling sering kami datangi setiap pulang kampung. Baru mau kutanya kelanjutan cerita bapak, bunyi sms di hpku. Semula acuh. Lama-lama kok ricuh. Aku bangun. Beranjak dari tempat tidur.

Sms dari Kerti, pacar masku. Jd g nengokn masmu? Aku lg d jln ni. 10 mnt lg smp. Jgn2 br bgn? Buru sn mandi. Aku gagap. Gugup dengan pertemuan nanti. Dari Kerti, aku tahu paru-parunya sudah tak terselamatkan. Ini tahun kesepuluh aku—juga bapak dan ibu—tak saling bicara dengannya.

Mei-Juni 2003


No comments: