Setelah hampir dua belas
tahun absen, kami sekeluarga pulang ke rumah mbahku di Karang Jiwo, dusun
pinggir hutan yang tidak tercantum di peta Pulau Jawa. Bahkan lebaran tidak
cukup kuat menjadi alasan untuk memaksa kami atau salah satu dari kami untuk
pulang. Tetapi mbahku takkan kekurangan akal. Ia akan menyuruh anaknya yang
berarti budeku atau anak budeku—ibuku hanya dua bersaudara—untuk menelpon kami.
Ia akan berpesan; bilang mbah sakit. Lalu kami atau salah satu dari kami akan
tergopoh menengoknya. Padahal ia hanya masuk angin atau rematiknya kumat. Atau
obatnya habis. Biasa, penyakit orang tua.
Setelah menungguinya selama
satu atau dua hari, segera kami akan kembali ke Ciledug, tempat tinggal kami
sekarang. Rentang jarak itulah yang sering membuat langkah kami seperti
terberati pasak bumi. Dari Ciledug, naik bis kota untuk sampai di Stasiun
Senen. Butuh dua jam, dengan janji macetnya normal. Kemudian kita harus
terlibat antrean yang panjang untuk mendapat karcis Kertajaya atau kalau kurang
beruntung Gaya Baru Malam. Kereta baru berangkat pukul lima sore.
Berdesak-desakkan seperti anak kucing dahaga sedang menetek induknya.
Aku sebagai makhluk paling
mungil di rumah, akan dikempit mas atau ibu—bapakku sibuk ngurusin
barang bawaan kami, supaya bisa masuk lewat pintu yang hanya selebar badan
orang dewasa yang tidak kurus tidak gemuk, dan seingatku tidak pernah dibuka
dua-duanya. Atau kalau bapak atau ibu atau mas sudah mendapat tempat di dalam,
aku akan diselundupkan lewat jendela. Maklum kereta ekonomi. Belum lagi
ditambah penjual nasi rames atau bayi yang sepanjang malam menangis. Atau
petugas restorasi yang meracun dengan nasi goreng atau kopinya karena harganya
yang bisa tiga sampai empat kali lipat dari harga biasa.
Pernah, seorang pemuda legam matahari
dan berkulit tato hampir berkelahi gara-gara itu. Kalau saja tidak dilerai
beberapa laki-laki, mungkin tukang restorasi itu akan terlempar ke luar.
Jendela-jendela banyak yang tidak berkaca. Melakukannya seperti membuang
bungkus chiki atau botol Aqua. Duduk selonjor saja susah. Sempat-sempatnya mau
ninju orang lain. Masih belum terbilang sial-sial amatlah kita, kalau tidak
mendapat karcis bertempat duduk. Asal kereta masih mampu menampung kita. Dapat
menapak dua kaki itu saja sudah cukup untuk dikata mujur. Belilah kalau tukang
koran lewat. Karena setelahnya kita bisa ngorok di kolong kursi. Atau di antara
kursi. Atau di jalanan. Atau di atas kardus atau tas-tas ukuran lemari, wah,
itu lebih ekonomis apalagi kalau duit di kantong pas-pasan. Sukur-sukur belum
sempat diambil copet.
Kalau kebetulan aku dan mas
duduk sebangku, ia tidak pernah keberatan pahanya menjadi bantalku sepanjang
malam. Matanya yang acuh tidak pernah terpejam layaknya seorang kekasih yang
takut berpaling dari wajah kekasihnya, karena sekali ia lenyap, senyaplah
selamanya. Paling ia hanya bersandar, menghirup udara banyak-banyak sebagai
bekal hidupnya yang masih sembilan-ratus-dua-puluh-tahun lagi dan kembali
melelahkan pandangannya pada gulita seberang jendela. Saat matahari mulai terik,
jam sembilan atau sepuluhan, kereta mulai masuk Stasiun Babat. Seringnya lebih
siang lagi. Apalagi kalau semalam terlalu banyak tabik ke kereta yang mahalan.
Tak apalah, sumonggo mawon asal selamat sampai tujuan. Dapat
tercapai semua keinginan.
Keluar stasiun, pasti sopir
colt-colt sewaan nguntit sambil bujuk-bujuk nawarin harga kayak jurkam. Baru
menjauh—sambil marah-marah, tentu—kalau dia tahu ternyata kue keju mangsanya
itu rasa empedu. Bilang saja kita mau naik becak. Tapi itu bukan trik yang jitu
karena tukang becak bakal merubung kayak lalat hijau di pasar. Jangan khawatir.
Sok tuli saja. Terminal depan pasar, tidak jauh. Jadi jalan saja. Dalam angkot
Babat-Pucuk, kita dapat tidur sejenak. Perjalanan diteruskan dengan ojek. Bayar
Rp 4000, tahun 1990. Entah sekarang.
Berhenti
di Kecamatan Laren.
Setiap
tahun Karang Jiwo, dan sekitarnya tentu, pasti banjir. Itu kalau kau datang ke sana bulan-bulan
langit basah. Sawah beberapa kecamatan terendam. Atap-atap kampung mengapung.
Kita bisa melihat teratai, rumput-rumput tinggi dalam air, dan ikan-ikan di
ujung kematian karena terjebak dalam bubu atau jala yang ditebar. Karena perahu
yang kita naiki seperti berjalan di atas kaca. Biasanya, Masku membawa senapan.
Burung-burung berleher jenjang, sayapnya putih keabu-abuan, keperakan disilau
cahaya matahari, beramai-ramsai bergerombol di atas pematang yang belum
terendam. Kemudian beramai-ramai terbang mendengar suara senapan.
Duduk
di tepi perahu, diam-diam mencelupkan tangan ke dalam air untuk kemudian mencabut
entah tumbuhan apa namanya yang buahnya mirip kapal, itu sukaanku. Menariknya
seperti menarik peselancar dengan motor boat. Bapak akan membentakku kalau
kebiasaanku itu kambuh. Dua jam perahu sampai depan antru, langit-langit
rumah yang disulap menjadi tempat tinggal sementara selama banjir. Beberapa
meter dari antru, dengan senang hati aku dan mas akan terjun ke air yang
kata bapak banyak lintahnya. Lomba berenang, itu cara kami sampai di tangga antru.
Dulu.
Kalau
tidak, lagi-lagi ojek. Lewat hutan. Jalan setapak. Baur ranting-ranting. Kabur
suara monyet dan burung. Terintang batu-batu gunung. Depan rumah, disambut
dengan pelukan. Nanti sore, sayur rebung.
Hari
ini bukan lebaran. Bukan telepon juga penyebabnya. Tapi kami pulang.
Sekeluarga. Bukan hanya salah satu dari kami. Setelah tiga belas tahun.
Ritual
lama terputar kembali. Seperti matahari yang setiap hari pulang pergi. Duduk
dipan depan rumah. Di bawah bambu. Aku curiga mbahku menulis dan menghapal
kalimat-kalimat yang akan beliau soalkan pada kami. Bagaimana kabar Marjo,
satpam yang suka antar aku ke sekolah? Mpok Bedah masih suka nitipin anaknya?
Ayam yang bawa dari sini itu masih hidup? Mangga depan rumah itu jangan
ditebang. Biar saja dilempari temen-temennya Hatin. Namanya juga anak-anak. Itu
dulu waktu kami masih tinggal di Ciputat. Sekarang, mana bisa pelihara ayam.
Mau ditaruh di mana? Di bufet? Sekarang kami punya sih ayam. Tapi ayam-ayaman
dari keramik, oleh-oleh Mas waktu studi tur lulusan SD ke Yogya. Apalagi pohon
mangga, mana kami punya halaman.
Padahal,
mbah sudah tahu kalau sekarang kami pindah ke Ciledug. Rumah susun. Tidak
banyak yang kukenal, bapak-ibu juga. Kayaknya masku juga. Tidak ada lagi pak
Marjo ato Mpok Bedah. Tapi kata Bapak, waktu kita duduk berdua di bawah bintang,
mbah tidak nanya-nanya pohon mangga tetapi beringin. Padahal, mangga saja tidak
ada apalagi beringin. Pertanyaan aneh lagi; Hatin sama masnya masih suka
matah-matahin lidi? Aku dan mas tidak ada tabiat itu. Tahu kalau itu yang akan
ditanyakan mbahku, aku dan mas tidak perlu kabur, pergi ke tempat Lek Tun,
satu-satunya tukang jajanan di Karang Jiwo. Tempat yang, dulu, paling sering
kami datangi setiap pulang kampung. Baru mau kutanya kelanjutan cerita bapak,
bunyi sms di hpku. Semula acuh. Lama-lama kok ricuh. Aku bangun. Beranjak dari
tempat tidur.
Sms
dari Kerti, pacar masku. Jd g nengokn masmu? Aku lg d jln ni. 10 mnt lg smp.
Jgn2 br bgn? Buru sn mandi. Aku gagap. Gugup dengan pertemuan nanti. Dari
Kerti, aku tahu paru-parunya sudah tak terselamatkan. Ini tahun kesepuluh
aku—juga bapak dan ibu—tak saling bicara dengannya.
Mei-Juni 2003
No comments:
Post a Comment