Jadi, saya
dipaksa menuliskan ini oleh yang empunya blog Hari Jumat lalu. Sebagai ibu
rumah tangga yang sedang berbakti pada bayi, tentu saja saya merasa ditantang.
Apakah kemampuan saya masih seperti yang dulu? :)) Maka, saya iyakan permintaannya
untuk mengetahui apakah saya masih kompeten? ;)
Pesannya sih,
tolong nulis dalam rangka hari anti kekerasan terhadap perempuan. Baiklah,
tidak banyak cingcong, saya akan sedikit berbagi tentang kegundahan saya.
Sebagai pengguna
internet aktif (baca: twitteran), beberapa waktu lalu saya melihat salah satu
status di timeline yang menuliskan bahwa salah satu sahabat yang bersangkutan
dipukul oleh suaminya. Reaksi dari status tersebut beragam (baca: setelah
stalking sana-sini), ada yang bilang kalau di luar negeri, tersedia layanan
semacam rumah aman bagi si perempuan yang merupakan layanan rujukan dan mudah
diakses. Tetapi, reaksi yang mengganggu saya adalah pertanyaan, kenapa sih udah
tahu dipukul kok masih mau tinggal bareng? atau sudah tahu mendapatkan
kekerasan kok masih dipertahankan?
Jadi, gini nih
ya, saya, sekarang tinggal di Tokyo, yang belantara kotanya masih saya
pelajari. Saya tinggalkan atribut pekerjaan saya di Jakarta, yang berarti
secara ekonomi saya sekarang ‘gak berdaya’. Nah, di sini nih saya baru bisa
merasakan yang namanya powerless, tadinya di Jakarta kan penasaran, kenapa sih
perempuan bisa powerless? kan masih bisa usaha bla bla. Nah, di Tokyo dengan
bahasa yang berbeda dengan bahasa ibu, jarang gaul karena lagi ngurus bayi,
teman terbatas yang juga sibuk dengan kegiatan sehari-hari...saya bisa apa?
Untungnya sih, saya masih berdaya secara informasi, jadi kalau pasangan saya
‘rese’, saya bisa melakukan antisipasi dengan membuka aibnya di twitter
misalnya, hahaha! (eh, ini bisa jadi sanksi sosial lho :p)
Balik lagi ke
reaksi yang mengganggu saya tadi ya, jadi kalau perempuan bertahan dengan
kekerasan, belum tentu karena dia mau, tapi bisa jadi karena dia merasa tidak
berdaya baik secara ekonomi (ini yang paling banyak ditemui), secara
psikologis- karena relasi yang tidak setara, bahkan tidak berdaya karena tidak
tahu harus berbagi atau lapor pada siapa (akses informasi), belum lagi love
me-love me not- relationship yang menurut beberapa penelitian siklusnya bisa
sampai tujuh tahun sampai korban/survivor sadar.
Terus gimana
donk? first of all, jangan menghakimi korban atau survivor. Kenapa sih kok mau
digituin? bodoh banget sih, pisah aja kenapa, adalah sebagian reaksi yang
sering saya dengar kalau ada kasus kekerasan terhadap perempuan. Itu aja dulu
deh, selanjutnya yang bisa dilakukan sebagai ‘orang luar’ adalah memberikannya
informasi- untuk menggambarkan pilihan-pilihan yang bisa ia lakukan, sebagian
besar biasanya belum tahu ada layanan konseling bagi korban atau survivor bahkan
konseling untuk pelaku kekerasan.
Di beberapa kota
di Indonesia- sudah tersedia layanan konseling, rumah aman dan kalau lapor ke
polisi pun, ada bagian perlindungan perempuan dan anak- meskipun layanan dan
proses hukumnya masih belum maksimal ples layanan ini belum betul-betul terpadu
alias tersistem dengan baik. Informasi mengenai hal ini belum tersebar dengan
baik, mungkin di kalangan tertentu saja. Nah, kita nih yang tiap hari main
internet ini pilihannya bisa jadi ‘penghubung’, kalau ada di sekitar kita baik
online maupun offline mengalami kekerasan, bagi-bagilah informasi kepada yang
bersangkutan mengenai layanan tersebut atau hubungkan dengan individu atau
organisasi perempuan (yang sekarang banyak memiliki akun twitter atau
facebook).
Oya, berhubung
yang empunya blog ini juga salah satu individu yang memiliki kepedulian
mengenai layanan untuk korban kekerasan, kalian bisa juga menghubungi dia untuk
bertanya-tanya tentang apa itu ‘laki-laki baru’ :D.
Udah ah, segitu
dulu cerita saya, bayi saya mau nyusu!
Sofia Kartika, blogger kondang yang menuliskan susah-senang tinggal di Tokyo di blog http://sofiakartika.posterous.com, aktif twitteran di @SofiaKartika

No comments:
Post a Comment