Klik Bila Perlu

Saturday, March 08, 2014

Surat dari Sofie

Jadi, saya dipaksa menuliskan ini oleh yang empunya blog Hari Jumat lalu. Sebagai ibu rumah tangga yang sedang berbakti pada bayi, tentu saja saya merasa ditantang. Apakah kemampuan saya masih seperti yang dulu? :)) Maka, saya iyakan permintaannya untuk mengetahui apakah saya masih kompeten? ;)

Pesannya sih, tolong nulis dalam rangka hari anti kekerasan terhadap perempuan. Baiklah, tidak banyak cingcong, saya akan sedikit berbagi tentang kegundahan saya.

Sebagai pengguna internet aktif (baca: twitteran), beberapa waktu lalu saya melihat salah satu status di timeline yang menuliskan bahwa salah satu sahabat yang bersangkutan dipukul oleh suaminya. Reaksi dari status tersebut beragam (baca: setelah stalking sana-sini), ada yang bilang kalau di luar negeri, tersedia layanan semacam rumah aman bagi si perempuan yang merupakan layanan rujukan dan mudah diakses. Tetapi, reaksi yang mengganggu saya adalah pertanyaan, kenapa sih udah tahu dipukul kok masih mau tinggal bareng? atau sudah tahu mendapatkan kekerasan kok masih dipertahankan?

Jadi, gini nih ya, saya, sekarang tinggal di Tokyo, yang belantara kotanya masih saya pelajari. Saya tinggalkan atribut pekerjaan saya di Jakarta, yang berarti secara ekonomi saya sekarang ‘gak berdaya’. Nah, di sini nih saya baru bisa merasakan yang namanya powerless, tadinya di Jakarta kan penasaran, kenapa sih perempuan bisa powerless? kan masih bisa usaha bla bla. Nah, di Tokyo dengan bahasa yang berbeda dengan bahasa ibu, jarang gaul karena lagi ngurus bayi, teman terbatas yang juga sibuk dengan kegiatan sehari-hari...saya bisa apa? Untungnya sih, saya masih berdaya secara informasi, jadi kalau pasangan saya ‘rese’, saya bisa melakukan antisipasi dengan membuka aibnya di twitter misalnya, hahaha! (eh, ini bisa jadi sanksi sosial lho :p)

Balik lagi ke reaksi yang mengganggu saya tadi ya, jadi kalau perempuan bertahan dengan kekerasan, belum tentu karena dia mau, tapi bisa jadi karena dia merasa tidak berdaya baik secara ekonomi (ini yang paling banyak ditemui), secara psikologis- karena relasi yang tidak setara, bahkan tidak berdaya karena tidak tahu harus berbagi atau lapor pada siapa (akses informasi), belum lagi love me-love me not- relationship yang menurut beberapa penelitian siklusnya bisa sampai tujuh tahun sampai korban/survivor sadar.

Terus gimana donk? first of all, jangan menghakimi korban atau survivor. Kenapa sih kok mau digituin? bodoh banget sih, pisah aja kenapa, adalah sebagian reaksi yang sering saya dengar kalau ada kasus kekerasan terhadap perempuan. Itu aja dulu deh, selanjutnya yang bisa dilakukan sebagai ‘orang luar’ adalah memberikannya informasi- untuk menggambarkan pilihan-pilihan yang bisa ia lakukan, sebagian besar biasanya belum tahu ada layanan konseling bagi korban atau survivor bahkan konseling untuk pelaku kekerasan.

Di beberapa kota di Indonesia- sudah tersedia layanan konseling, rumah aman dan kalau lapor ke polisi pun, ada bagian perlindungan perempuan dan anak- meskipun layanan dan proses hukumnya masih belum maksimal ples layanan ini belum betul-betul terpadu alias tersistem dengan baik. Informasi mengenai hal ini belum tersebar dengan baik, mungkin di kalangan tertentu saja. Nah, kita nih yang tiap hari main internet ini pilihannya bisa jadi ‘penghubung’, kalau ada di sekitar kita baik online maupun offline mengalami kekerasan, bagi-bagilah informasi kepada yang bersangkutan mengenai layanan tersebut atau hubungkan dengan individu atau organisasi perempuan (yang sekarang banyak memiliki akun twitter atau facebook).

Oya, berhubung yang empunya blog ini juga salah satu individu yang memiliki kepedulian mengenai layanan untuk korban kekerasan, kalian bisa juga menghubungi dia untuk bertanya-tanya tentang apa itu ‘laki-laki baru’ :D.

Udah ah, segitu dulu cerita saya, bayi saya mau nyusu!


Sofia Kartika, blogger kondang yang menuliskan susah-senang tinggal di Tokyo di blog http://sofiakartika.posterous.com, aktif twitteran di @SofiaKartika


No comments: