Berawal dari joke yang dilemparkan Engku Sjafei,
seorang guru yang sangat dikagumi Navis, yang beliau akui didengar langsung
dari Syekh H. Ahmad Sjoerkati, seorang ulama turunan Pakistan¹. Berawal dari
kepedulian Navis akan dunia pemikiran Islam dan perkembangannya yang cenderung
statis bahkan menghambat perkembangan Islam itu sendiri. Ali Akbar Navis
mengidentifikasi dirinya sebagai Ajo Sidi dalam cerpennya yang kontroversial, Robohnya Surau Kami.
Seorang pembual, tukang mengolok-olok, namun itu muncul didasarkan pada
perenungan atas lingkungan sekitarnya. Terbukti, seringkali olok-oloknya itu
menjadi pemeo.
Pengaruh Islam lebih banyak mempengaruhi budaya Minang bila
dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Jawa misalnya, meskipun terdapat corak
Islam dalam kebudayaannya, namun porsinya seimbang atau justru kejawennya lebih
dominan. Dominasi tersebut dapat dilihat dari struktur kalimat yang dipakai Navis
yang memang masih mempertahankan budaya Minangnya, dalam Robohnya Surau Kami.
Penulisan kata dan diawal kalimat adalah turunan dari penulisan tata
bahasa Arab. Bagaimana tepatnya tata bahasa Minang sendiri, sebenarnya, penulis
tidak mengetahui benar. Akan tetapi terdapatnya kata dan di awal 29
kalimat dalam cerpen Robohnya Surau Kami, penulis beranggapan bahwa
sangat kentara bahwa struktur bahasa Minang memang banyak diwarnai tata bahasa
Arab.
Kritik yang disampaikan Navis lewat Robohnya Surau Kami bukannya
ingin mendiskreditkan Islam. Justru kepedulian Navis akan umat dari agama yang
dianutnya, nampak disitu. Otokritik itu perlu, bilang seorang kawan. Lewat black
satire-nya Navis ingin mempertanyakan kembali, kehidupan beragama seperti
apa yang dikehendaki Islam sebenarnya. Kehidupan ukhrowi sajakah ataukah masih
mempertimbangkan masalah keduniawian. Alquran Sunnah yang menjadi pondasi Islam
pun telah berkata dengan sangat keras, bahwa setelah beribadah maka
bertebaranlah di muka bumi (ayat), bahwa ada keharusan berikhtiar, bahwa
disamping hablum minaallah juga ada hablum minannas. Penulis
tidak ingin terjebak dengan memanjanglebarkan penjelasan tentang ajaran
Islamnya. Karena itu akan jadi khotbah. Dengan adanya pengkajian ulang seperti
itu, diharapkan mampu memicu motivasi perkembangan Islam lebih pesat.
Keseluruhan cerita Robohnya Surau Kami membentuk
metafore yang sangat komplek. Dan dari keseluruhan itu bisa diambil satu unsur
yang bisa dengan maksud untuk memperdalam penggalian akan makna dari cerpen Robohnya
Surau Kami. Sang Kakek penjaga surau, beliau tidak terkenal dengan
statusnya itu. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Itu adalah hobinya
bukan pekerjaan utamanya. Ada kepuasan tersendiri melihat sesuatu, dalam hal
ini pisau, yang tadinya tumpul menjadi tajam. Pencapaian itu pula yang setiap
hari sedang diusahakan sang kakek. Yaitu pendekatan kepada tuhan yang semakin
hari semakin menajam. Tanpa tahu bahwa di hari mendatang pisau itu pula yang
akan menggorok lehernya. Begitu pula dengan keyakinan yang selama ini ia anut,
ketika ia mengetahui bahwa ada faktor yang menyebabkan usahanya setiap hari
akan gagal ia menjadi terguncang. Dan keyakinan itu yang menggorok lehernya.
Selama ini ia merasa paling benar, seperti katak dalam tempurung, dan tidak pernah memperhitungkan keadaan sekitar.
Ketimpangan kehidupan
Kakek terlihat dari caranya mendapatkan makan sehari-hari. Ia hidup dari
sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Lebih nampak sebagai parasit.
Sedangkan keahliannya tidak ia pergunakan untuk mencari penghidupan. Sikapnya
itu timbul karena ia berpikir bahwa beribadah itulah segala-galanya. Padahal
ibadah bentuknya bisa bermacam-macam. Kakek seringkali menggunakan Tuhan
sebagai tolak ukur perbuatannya. Tertera jelas pada halaman 192 paragraf 4.
Padahal Tuhan juga memerintahkan untuk bekerja keras.
Nama yang dipilih Navis pun sangat tepat. Aku Saleh. Tapi
karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku. Seakan dengan nama Saleh,
seseorang sudah memenuhi syarat untuk benar-benar saleh. Begitu pun dengan
gelar hajinya. Indikator kesalehan.
Bagaimanapun, pesan yang ingin disampaikan dalam Robohnya
Surau Kami adalah kritik yang ditujukan bukan hanya untuk para ulama
dan pemeluk agama Islam saja. Kritik itu
juga disampaikan untuk dirinya sendiri dan semua umat beragama. Sangat
universal. Sekali lagi, otokritik itu perlu.
ı dari Otobiografi A.A. Navis
Satiris dan Suara Kritis dari Daerah oleh Abrar Yusra

No comments:
Post a Comment