Klik Bila Perlu

Sunday, February 16, 2014

Otokritik itu Perlu

Berawal dari joke yang dilemparkan Engku Sjafei, seorang guru yang sangat dikagumi Navis, yang beliau akui didengar langsung dari Syekh H. Ahmad Sjoerkati, seorang ulama turunan Pakistan¹. Berawal dari kepedulian Navis akan dunia pemikiran Islam dan perkembangannya yang cenderung statis bahkan menghambat perkembangan Islam itu sendiri. Ali Akbar Navis mengidentifikasi dirinya sebagai Ajo Sidi dalam cerpennya yang kontroversial, Robohnya Surau Kami. Seorang pembual, tukang mengolok-olok, namun itu muncul didasarkan pada perenungan atas lingkungan sekitarnya. Terbukti, seringkali olok-oloknya itu menjadi pemeo.
Pengaruh Islam lebih banyak mempengaruhi budaya Minang bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Jawa misalnya, meskipun terdapat corak Islam dalam kebudayaannya, namun porsinya seimbang atau justru kejawennya lebih dominan. Dominasi tersebut dapat dilihat dari struktur kalimat yang dipakai Navis yang memang masih mempertahankan budaya Minangnya, dalam Robohnya Surau Kami. Penulisan kata dan diawal kalimat adalah turunan dari penulisan tata bahasa Arab. Bagaimana tepatnya tata bahasa Minang sendiri, sebenarnya, penulis tidak mengetahui benar. Akan tetapi terdapatnya kata dan di awal 29 kalimat dalam cerpen Robohnya Surau Kami, penulis beranggapan bahwa sangat kentara bahwa struktur bahasa Minang memang banyak diwarnai tata bahasa Arab.
Kritik yang disampaikan Navis lewat Robohnya Surau Kami bukannya ingin mendiskreditkan Islam. Justru kepedulian Navis akan umat dari agama yang dianutnya, nampak disitu. Otokritik itu perlu, bilang seorang kawan. Lewat black satire-nya Navis ingin mempertanyakan kembali, kehidupan beragama seperti apa yang dikehendaki Islam sebenarnya. Kehidupan ukhrowi sajakah ataukah masih mempertimbangkan masalah keduniawian. Alquran Sunnah yang menjadi pondasi Islam pun telah berkata dengan sangat keras, bahwa setelah beribadah maka bertebaranlah di muka bumi (ayat), bahwa ada keharusan berikhtiar, bahwa disamping hablum minaallah juga ada hablum minannas. Penulis tidak ingin terjebak dengan memanjanglebarkan penjelasan tentang ajaran Islamnya. Karena itu akan jadi khotbah. Dengan adanya pengkajian ulang seperti itu, diharapkan mampu memicu motivasi perkembangan Islam lebih pesat.
Keseluruhan cerita Robohnya Surau Kami membentuk metafore yang sangat komplek. Dan dari keseluruhan itu bisa diambil satu unsur yang bisa dengan maksud untuk memperdalam penggalian akan makna dari cerpen Robohnya Surau Kami. Sang Kakek penjaga surau, beliau tidak terkenal dengan statusnya itu. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Itu adalah hobinya bukan pekerjaan utamanya. Ada kepuasan tersendiri melihat sesuatu, dalam hal ini pisau, yang tadinya tumpul menjadi tajam. Pencapaian itu pula yang setiap hari sedang diusahakan sang kakek. Yaitu pendekatan kepada tuhan yang semakin hari semakin menajam. Tanpa tahu bahwa di hari mendatang pisau itu pula yang akan menggorok lehernya. Begitu pula dengan keyakinan yang selama ini ia anut, ketika ia mengetahui bahwa ada faktor yang menyebabkan usahanya setiap hari akan gagal ia menjadi terguncang. Dan keyakinan itu yang menggorok lehernya. Selama ini ia merasa paling benar, seperti katak dalam tempurung, dan  tidak pernah memperhitungkan keadaan sekitar.
 Ketimpangan kehidupan Kakek terlihat dari caranya mendapatkan makan sehari-hari. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Lebih nampak sebagai parasit. Sedangkan keahliannya tidak ia pergunakan untuk mencari penghidupan. Sikapnya itu timbul karena ia berpikir bahwa beribadah itulah segala-galanya. Padahal ibadah bentuknya bisa bermacam-macam. Kakek seringkali menggunakan Tuhan sebagai tolak ukur perbuatannya. Tertera jelas pada halaman 192 paragraf 4. Padahal Tuhan juga memerintahkan untuk bekerja keras.
Nama yang dipilih Navis pun sangat tepat. Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku. Seakan dengan nama Saleh, seseorang sudah memenuhi syarat untuk benar-benar saleh. Begitu pun dengan gelar hajinya. Indikator kesalehan.
Bagaimanapun, pesan yang ingin disampaikan dalam Robohnya Surau Kami adalah kritik yang ditujukan bukan hanya untuk para ulama dan  pemeluk agama Islam saja. Kritik itu juga disampaikan untuk dirinya sendiri dan semua umat beragama. Sangat universal. Sekali lagi, otokritik itu perlu.


ı  dari Otobiografi A.A. Navis Satiris dan Suara Kritis dari Daerah oleh Abrar Yusra


No comments: