Adalah mustahil
menghasilkan narasi “tanpa rujukan pada sistem unit dan aturan yang implisit”
demikian tulis Barthes dalam Image-Music-Text (Barthes dalam Culler,
2003: 131). Apabila dihadapkan dengan ‘pengharapan-pengharapan naratif
konvensional’ konstruksi narasi hanya akan membaca lapis atas dari sebuah
karya. Akibatnya, karya tersebut tidak terbaca secara elaboratif.
Cara menyiasatinya Barthes berimam pada seorang formalis Rusia, Vladimir
Propp, bahwa tata bahasa yang dipergunakan dalam cerita rakyat dapat menggambarkan
motif-motif mendasar dan kombinasi mereka. Sedangkan, kaum Strukturalis
Perancis, utamanya, berkonsentrasi pada alur kisah (plot), dengan menanyakan
apa yang menjadi unsur-unsur mendasarnya, bagaimana mereka berpadu, apakah yang
menjadi alur kisah elementer dari struktur-struktur itu, dan bagaimana
efek-efek kelengkapan dan ketidaklengkapan diproduksi (Culler, 2003: 130).
Dalam “Intro-duction to the Structural Analysis of Narratives” Barthes
menegaskan hal itu.
Meskipun
“Introduction to the Structural Analysis of Narratives” hanyalah salah satu bab
dalam Image-Music-Text, tidak lantas membuat tulisan tersebut menjadi
tidak layak dibicarakan. Pada bab tersebut Barthes menulis dasar-dasar
pandangannya dalam menganalisis bentuk naratif.
Basis edisi Agustus 1992 memuat tulisan
Supriyadi yang merangkum bab tersebut. Langkah-langkah analisis tersebut akan
saya terapkan pada sebuah cerpen berjudul “Batu di Pekaranga Rumah” karya
Sapardi Djoko Damono yang terdapat dalam kumpulan cerpen terbarunya yang
berjudul Membunuh Orang Gila.
Roland Barthes membedakan tiga
tataran deskripsi level of discription) dalam memahami bentuk naratif,
yaitu tataran fungsi (fuction), tataran tindakan (action), dan
tataran narasi (narration).
Fungsi, Tindakan, dan Narasi
Segmen wacana dalan bentuk naratif dapat diuraikan sampai unsur-unsur
terkecil. Unsur-unsur tersebut bersifat fungsional sehingga pada akhirnya dari
unsur-unsur akan terbangun keutuhan makna dari wacana cerita. Roland Barthes
membedakan fungsi menjadi dua jenis; fungsi kardinal (nuclei) dan fungsi
tambahan (katalisator). Demikian juga indeks dibedakan dengan informasi (informants).
Meskipun hubungan katalisator dengan kardinal bersifat parasitis, namun
katalisator memegang peranan penting dalam cerita karena katalisator
berhubungan secara konsekutif (berurutan). Fungsi katalisator tidak hanya
berguna untuk melengkapi fungsi kardinal. Peristiwa-peristiwa atau bagian atau
segmen cerita yang berfungsi katalisator membawa pembaca ke fungsi kardinal.
Aku sayang sekali pada batu itu…adalah satuan unsur yang berfungsi kardinal. Bagaimana
potongan kalimat tersebut menduduki fungsi kardinal? Apa yang penyebab dan yang
dilakukan setelahnya? Pertanyaan-pertanyaan di atas akan dibuktikan oleh satuan
unsur linguistik dalam satu tataran.
Didukung oleh kalimat sebelumnya, aku suka duduk di atasnya jika
teman-teman sudah pulang ke rumah masing-masing sehabis bermain di pekarangan
rumah kami, dan terusan dari kalimat pertama di atas …(batu itu) tidak
berkeberatan jika diajak berbicara mengenai apa saja. Kemudian pada kalimat
selanjutnya, Jika sedang sendirian malam-malam…aku suka duduk di atasnya dan
menunjukkan rasa sayangku kepadanya. Si tokoh yang waktu itu masih kecil
tidak hanya berkawan tentang teman imajinernya; si batu tersebut, mereka juga
berbincang. Bahkan batu tersebutlah temannya mencurahkan segala rasa dan
gundah. Ada hubungan yang intens antara keduanya.
Ketika si tokoh harus meninggalkan rumah demi mata pencaharian, mengembara
dari kota ke kota, dengan sang batu dia merasa kehilangan seperti
kehilangan kawan untuk berbagi perasaan.
Fungsi kardinal selanjutnya tidak dapat ditetapkan pada satu tataran saja,
baik itu tataran kata atau kalimat, melainkan tataran yang lebih tinggi yaitu
wacana. Beberapa kata pada kalimat dalam satu paragraf terakhir menjelaskan
bagaimana hubungan si tokoh dengan sang ibu
1.
ibuku yang selalu aku bayangkan,
2. ibu suka diam-diam menyaksikanku.
Ada semacam keengganan atau jarak dalam hubungan ibu-anak.
Si tokoh tidak pernah membicarakan pengalamannya dengan sang ibu berdasarkan
kontak secara langsung. Hanya si tokoh (anak) yang selalu emmbayangkan dan sang
ibu yang suka memperhatikan anaknya, itu pun, dengan diam-diam. Sebenarnya
argumen si tokoh ini pun terasa lemah karena dia tidak benar-benar tahu, dia
hanya merasa yakin. Akan tetapi, tetap dapat diasumsikan bahwa memang
ada yang tidak beres dalam hubungan keduanya.
Seperti lazimnya hubungan kata atau kalimat
yang berfungsi kardinal; selalu berhubungan secara konsekutif dan konsekuensial
(sebab akibat). Pun kedua kalimat yang berfungsi kardinal di atas. Kenapa si
tokoh, yang berperan sebagai anak, mempunyai hubungan yang renggang dengan sang
ibu sehingga dia berkarib dengan batu di pekarangan rumahnya. Dan satu kalimat
berikut ini akan mengukuhkan hubungan konsekuensial kedua kalimat berfungsi kardinal
di atas.
Namun aku merasa ada sesuatu yang
harus kulakukan sehabis pemakamannya, yakni melihat apakah batu itu masih ada
di tempatnya dulu.
Bandingkan kehilangan si tokoh ketika dia harus pergi
meninggalkan batu—karena harus pergi ke kota—dengan kehilangannya akan sang ibu
yang selama-lamanya. Si tokoh lebih merasa kehilangan pada perpisahan pertama,
di smaping itu ia juga tidak menceritakan bagaimana perasaannya dan keadaan
ibunya ketika itu, karena ia lebih memilih mengungkapkan perasaannya pada batu
itu, diasumsikan perasaan itulah yang waktu itu lebih kuat ia rasakan. Si tokoh
terasa dingin menceritakan kondisi ibunya ketika meninggal; aku
pulang untuk mengiringkan dan menyampaikan salam pisah kepada ibuku, beliau
meninggal dengan sangat tenang kemarin tanpa meninggalkan pesan apa pun.
Lagipula, siapa yang mengharuskan setelah pemakaman ibunya, dia
mencari batu itu? si tokoh seperti hendak memastikan bahwa ia tidak kehilangan
teman terbaiknya. Teman yang diam saja seperti menunggu kedatanganku.
Kalimat itu lebih terdengar sebagai protes atas kepergian—meninggal—nya sang
ibu. Si ibu meninggalkan dia dan tidak setia kepadanya.
|
Kematian ibu
|
Sebelum
pergi setelah
datang
Suka
duduk sehabis berbincang- mengecek keberadaan-
duduk
bermain
atau malam- bincang nya
tapi tidak
malam berbincang-bincang
Pada dasarnya analisis struktural Barthes banyak mendapat pengaruh dari
pandangan Propp dan Greimas. Simpulan Propp seluruh korpus yang membangun
cerita berjumlah 31 fungsi yang kemudian disederhanakan dan dikelompokkan ke
dalam 7 lingkaran tindakan (spheres of action), antara lain: 1) penjahat
(vilain), 2) pembekal (donor/provider), 3) penolong (helper),
4) putri/orang yang dicuri dan ayahnya (sought for person and her father),
5) pemberangkat (dispathcer), 6) pahlawan (hero), dan 7) pahlawan
gadungan (false hero). Kemudian ketujuh fungsi tersebut oleh Greimas
disederhanakan lagi menjadi tiga pasangan oposisional yang meliputi 6
aktan—Greimas menggunakan istilah aktan yang berarti pelaku/peran karena lebih
melihat apa yang dia lakukan berbeda dengan Propp; fungsi—yakni:
1. pengirim vs penerima (sender
vs receiver)
2. subjek vs objek (subject vs
object)
3. penolong vs penentang (helper
vs opponent)
Akan tetapi, Barthes menemukan dari pandangan Propp dan Greimas tersebut
beberapa kelemahan. Hasil pandangan keduanya dinilai terlalu tipologis dan
frag-mentaris. Selain itu, peniadaan tokoh utama dan tokoh bawahan memungkinkan
adanya tokoh ganda (dual character), tokoh yang memiliki peran yang
sama, tetapi bukan merupakan pengganti yang lain.
Barthes mengusulkan
adanya alternatif klasifikasi; tindakan personal atau apersonal, tunggal,
ganda, atau jamak.
Tokoh-tokoh
dapat tataran aktansial baru dapat bermakna apabila diintegrasikan ke dalam
tataran yang lebih tinggi, narasi.
Bentuk
naratif selalu didukung oleh narator (pencerita) dan pendengar atau pembacanya.
Ada beberapa pandangan mengenai konsep pencerita ini. Namun pada dasarnya ada
tiga jenis pencerita; pengarang sebagai pencipta cerita sehingga bentuk naratif
itu dianggap sebagai hasil ekspresi ‘saya’ yang berada di luar cerita,
memandang narator (pencerita) sebagai yang mahatahu, seperti dalang (impersonal)
yang menceritakan lakon dari sudut pandang superior, memasuki relung-relung
pribadi para tokohnya, dan jenis narator terakhir adalah ruang gerak narator
terbatas, tokohnya dibiarkan berinteraksi sendiri dan berperan sebagai narator
pula.
Pada
cerpen Batu di Pekarangan Rumah seluruhnya memakai narator jenis ketiga.
Si tokoh aku bertindak sebagai narator dan mengisahkan peristiwa demi peristiwa
yang terjadi. terkadang memang dia juga menceritakan keadaan ibunya secara
fisik, dari penampakan luar yang tampak olehnya baik sebagai tokoh aku yang
bertindak sebagai narator, juga sebagai narator yang membebaskan gerak tokoh
lain yang diceritakannya. Kerangka pikiran si ibu hanyalah penafsiran si tokoh
anak berdasarkan performance luarnya saja. Hal itu juga dilakukan si tokoh
aku yang berperan sebagai narator tunggal. Dia menafsir-nafsir keadaan,
pikiran, dan kondisi si batu. Tokoh aku tidak memasuki ruang dalam dari
tokoh lainnya.
Bahasa
naratif seperti bahasa pada umumnya dapat didefinisikan sebagai ke-satuan dua
proses yang fundamental. Segmentasi adalah proses yang pertama. Segmentasi
menghasilkan bentuk yang berpotensi mengembangkan kode (tanda) dan memberikan
perluasan yang dapat menimbulkan distorsi. Sedangkan di sinilah fungsi proses
yang kedua, integrasi, yaitu menyatukan kembali distorsi-distorsi dalam cerita.
Suspensi
(suspense) merupakan salah satu bentuk distorsi dalam cerita. Pada
cerpen ini suspensnya adalah si tokoh yang merasa harus mengecek keberadaan
teman curhat setianya—si batu—ternyata lebih memilih berdiam diri saja.
Dipikirnya si batu sekarang tidak lagi mampu menguasai kosa kata bahasaku (bandingkan
pada kalimat pada paragraf sebelumnya; Ia memiliki bahasa lain tetapi
tampaknya memahami sepenuhnya makna pertanyaanku.)
Kalimat tersebut
sekaligus mengakhiri cerita. Integrasi keseluruhan kejadian pada cerpen masih
tetap membuka berbagai alternatif dari konsekuensi dari sikap si tokoh. Ia yang
kini beranjak dewasa, atau bahkan sudah dewasa, secara fisik tetap tidak kehilangan teman masa kecilnya.
Namun, ia kehilangan teman imajinernya tersebut. Hubungan karib dengan si teman
dan hubungannya yang canggung dengan ibunya gugur dalam kalimat terakhir. Yang
ada, kehilangan dan kasih sayang yang lambat laun mendalam.
Daftar Pustaka
Culler, Jonathan. 2003. Barthes.Yogyakarta:
Jendela.
Damono, Sapardi Djoko. 2003. Membunuh
Orang Gila. Jakarta: Kompas.
Diktat mata kuliah
Metode Penelitian Sastra Strukturalisme Naratif Model A.J. Greimas
Supriyadi.
1992. Pengantar Analisis Struktural Roland Barthes. Dalam Basis
edisi Agustus-1992-XLI-No. 8
*
Diajukan sebagai pengganti Ujian Akhir Semester mata kuliah Kapita Selekta
Karya Utama, 2004
No comments:
Post a Comment