Klik Bila Perlu

Sunday, March 02, 2014

Pada Batu di Pekarangan Rumah*

Adalah mustahil menghasilkan narasi “tanpa rujukan pada sistem unit dan aturan yang implisit” demikian tulis Barthes dalam Image-Music-Text (Barthes dalam Culler, 2003: 131). Apabila dihadapkan dengan ‘pengharapan-pengharapan naratif konvensional’ konstruksi narasi hanya akan membaca lapis atas dari sebuah karya. Akibatnya, karya tersebut tidak terbaca secara elaboratif.
Cara menyiasatinya Barthes berimam pada seorang formalis Rusia, Vladimir Propp, bahwa tata bahasa yang dipergunakan dalam cerita rakyat dapat menggambarkan motif-motif mendasar dan kombinasi mereka. Sedangkan, kaum Strukturalis Perancis, utamanya, berkonsentrasi pada alur kisah (plot), dengan menanyakan apa yang menjadi unsur-unsur mendasarnya, bagaimana mereka berpadu, apakah yang menjadi alur kisah elementer dari struktur-struktur itu, dan bagaimana efek-efek kelengkapan dan ketidaklengkapan diproduksi (Culler, 2003: 130). Dalam “Intro-duction to the Structural Analysis of Narratives” Barthes menegaskan hal itu.
Meskipun “Introduction to the Structural Analysis of Narratives” hanyalah salah satu bab dalam Image-Music-Text, tidak lantas membuat tulisan tersebut menjadi tidak layak dibicarakan. Pada bab tersebut Barthes menulis dasar-dasar pandangannya dalam menganalisis bentuk naratif.
Basis edisi Agustus 1992 memuat tulisan Supriyadi yang merangkum bab tersebut. Langkah-langkah analisis tersebut akan saya terapkan pada sebuah cerpen berjudul “Batu di Pekaranga Rumah” karya Sapardi Djoko Damono yang terdapat dalam kumpulan cerpen terbarunya yang berjudul Membunuh Orang Gila.
            Roland Barthes membedakan tiga tataran deskripsi level of discription) dalam memahami bentuk naratif, yaitu tataran fungsi (fuction), tataran tindakan (action), dan tataran narasi (narration).

Fungsi, Tindakan, dan Narasi
Segmen wacana dalan bentuk naratif dapat diuraikan sampai unsur-unsur terkecil. Unsur-unsur tersebut bersifat fungsional sehingga pada akhirnya dari unsur-unsur akan terbangun keutuhan makna dari wacana cerita. Roland Barthes membedakan fungsi menjadi dua jenis; fungsi kardinal (nuclei) dan fungsi tambahan (katalisator). Demikian juga indeks dibedakan dengan informasi (informants). Meskipun hubungan katalisator dengan kardinal bersifat parasitis, namun katalisator memegang peranan penting dalam cerita karena katalisator berhubungan secara konsekutif (berurutan). Fungsi katalisator tidak hanya berguna untuk melengkapi fungsi kardinal. Peristiwa-peristiwa atau bagian atau segmen cerita yang berfungsi katalisator membawa pembaca ke fungsi kardinal.
Aku sayang sekali pada batu itu…adalah satuan unsur yang berfungsi kardinal. Bagaimana potongan kalimat tersebut menduduki fungsi kardinal? Apa yang penyebab dan yang dilakukan setelahnya? Pertanyaan-pertanyaan di atas akan dibuktikan oleh satuan unsur linguistik dalam satu tataran.
Didukung oleh kalimat sebelumnya, aku suka duduk di atasnya jika teman-teman sudah pulang ke rumah masing-masing sehabis bermain di pekarangan rumah kami, dan terusan dari kalimat pertama di atas …(batu itu) tidak berkeberatan jika diajak berbicara mengenai apa saja. Kemudian pada kalimat selanjutnya, Jika sedang sendirian malam-malam…aku suka duduk di atasnya dan menunjukkan rasa sayangku kepadanya. Si tokoh yang waktu itu masih kecil tidak hanya berkawan tentang teman imajinernya; si batu tersebut, mereka juga berbincang. Bahkan batu tersebutlah temannya mencurahkan segala rasa dan gundah. Ada hubungan yang intens antara keduanya.
Ketika si tokoh harus meninggalkan rumah demi mata pencaharian, mengembara dari kota ke kota, dengan sang batu dia merasa kehilangan seperti kehilangan kawan untuk berbagi perasaan. 
Fungsi kardinal selanjutnya tidak dapat ditetapkan pada satu tataran saja, baik itu tataran kata atau kalimat, melainkan tataran yang lebih tinggi yaitu wacana. Beberapa kata pada kalimat dalam satu paragraf terakhir menjelaskan bagaimana hubungan si tokoh dengan sang ibu
1.      ibuku yang selalu aku bayangkan,
2.      ibu suka diam-diam menyaksikanku.
Ada semacam keengganan atau jarak dalam hubungan ibu-anak. Si tokoh tidak pernah membicarakan pengalamannya dengan sang ibu berdasarkan kontak secara langsung. Hanya si tokoh (anak) yang selalu emmbayangkan dan sang ibu yang suka memperhatikan anaknya, itu pun, dengan diam-diam. Sebenarnya argumen si tokoh ini pun terasa lemah karena dia tidak benar-benar tahu, dia hanya merasa yakin. Akan tetapi, tetap dapat diasumsikan bahwa memang ada yang tidak beres dalam hubungan keduanya.
              Seperti lazimnya hubungan kata atau kalimat yang berfungsi kardinal; selalu berhubungan secara konsekutif dan konsekuensial (sebab akibat). Pun kedua kalimat yang berfungsi kardinal di atas. Kenapa si tokoh, yang berperan sebagai anak, mempunyai hubungan yang renggang dengan sang ibu sehingga dia berkarib dengan batu di pekarangan rumahnya. Dan satu kalimat berikut ini akan mengukuhkan hubungan konsekuensial kedua kalimat berfungsi kardinal di atas.
Namun aku merasa ada sesuatu yang harus kulakukan sehabis pemakamannya, yakni melihat apakah batu itu masih ada di tempatnya dulu.
Bandingkan kehilangan si tokoh ketika dia harus pergi meninggalkan batu—karena harus pergi ke kota—dengan kehilangannya akan sang ibu yang selama-lamanya. Si tokoh lebih merasa kehilangan pada perpisahan pertama, di smaping itu ia juga tidak menceritakan bagaimana perasaannya dan keadaan ibunya ketika itu, karena ia lebih memilih mengungkapkan perasaannya pada batu itu, diasumsikan perasaan itulah yang waktu itu lebih kuat ia rasakan. Si tokoh terasa dingin menceritakan kondisi ibunya ketika meninggal; aku pulang untuk mengiringkan dan menyampaikan salam pisah kepada ibuku, beliau meninggal dengan sangat tenang kemarin tanpa meninggalkan pesan apa pun.
Lagipula, siapa yang mengharuskan setelah pemakaman ibunya, dia mencari batu itu? si tokoh seperti hendak memastikan bahwa ia tidak kehilangan teman terbaiknya. Teman yang diam saja seperti menunggu kedatanganku. Kalimat itu lebih terdengar sebagai protes atas kepergian—meninggal—nya sang ibu. Si ibu meninggalkan dia dan tidak setia kepadanya.


Kematian ibu
 

                        Sebelum pergi                                     setelah datang


Suka duduk sehabis          berbincang-           mengecek keberadaan-   duduk
bermain atau malam-         bincang                 nya                                 tapi tidak
malam                                                                                                     berbincang-bincang                        
     
Pada dasarnya analisis struktural Barthes banyak mendapat pengaruh dari pandangan Propp dan Greimas. Simpulan Propp seluruh korpus yang membangun cerita berjumlah 31 fungsi yang kemudian disederhanakan dan dikelompokkan ke dalam 7 lingkaran tindakan (spheres of action), antara lain: 1) penjahat (vilain), 2) pembekal (donor/provider), 3) penolong (helper), 4) putri/orang yang dicuri dan ayahnya (sought for person and her father), 5) pemberangkat (dispathcer), 6) pahlawan (hero), dan 7) pahlawan gadungan (false hero). Kemudian ketujuh fungsi tersebut oleh Greimas disederhanakan lagi menjadi tiga pasangan oposisional yang meliputi 6 aktan—Greimas menggunakan istilah aktan yang berarti pelaku/peran karena lebih melihat apa yang dia lakukan berbeda dengan Propp; fungsi—yakni:
1.      pengirim vs penerima (sender vs receiver)
2.      subjek vs objek (subject vs object)
3.      penolong vs penentang (helper vs opponent)

Akan tetapi, Barthes menemukan dari pandangan Propp dan Greimas tersebut beberapa kelemahan. Hasil pandangan keduanya dinilai terlalu tipologis dan frag-mentaris. Selain itu, peniadaan tokoh utama dan tokoh bawahan memungkinkan adanya tokoh ganda (dual character), tokoh yang memiliki peran yang sama, tetapi bukan merupakan pengganti yang lain.
Barthes mengusulkan adanya alternatif klasifikasi; tindakan personal atau apersonal, tunggal, ganda, atau jamak.
            Tokoh-tokoh dapat tataran aktansial baru dapat bermakna apabila diintegrasikan ke dalam tataran yang lebih tinggi, narasi.
            Bentuk naratif selalu didukung oleh narator (pencerita) dan pendengar atau pembacanya. Ada beberapa pandangan mengenai konsep pencerita ini. Namun pada dasarnya ada tiga jenis pencerita; pengarang sebagai pencipta cerita sehingga bentuk naratif itu dianggap sebagai hasil ekspresi ‘saya’ yang berada di luar cerita, memandang narator (pencerita) sebagai yang mahatahu, seperti dalang (impersonal) yang menceritakan lakon dari sudut pandang superior, memasuki relung-relung pribadi para tokohnya, dan jenis narator terakhir adalah ruang gerak narator terbatas, tokohnya dibiarkan berinteraksi sendiri dan berperan sebagai narator pula.
            Pada cerpen Batu di Pekarangan Rumah seluruhnya memakai narator jenis ketiga. Si tokoh aku bertindak sebagai narator dan mengisahkan peristiwa demi peristiwa yang terjadi. terkadang memang dia juga menceritakan keadaan ibunya secara fisik, dari penampakan luar yang tampak olehnya baik sebagai tokoh aku yang bertindak sebagai narator, juga sebagai narator yang membebaskan gerak tokoh lain yang diceritakannya. Kerangka pikiran si ibu hanyalah penafsiran si tokoh anak berdasarkan performance luarnya saja. Hal itu juga dilakukan si tokoh aku yang berperan sebagai narator tunggal. Dia menafsir-nafsir keadaan, pikiran, dan kondisi si batu. Tokoh aku tidak memasuki ruang dalam dari tokoh lainnya.
            Bahasa naratif seperti bahasa pada umumnya dapat didefinisikan sebagai ke-satuan dua proses yang fundamental. Segmentasi adalah proses yang pertama. Segmentasi menghasilkan bentuk yang berpotensi mengembangkan kode (tanda) dan memberikan perluasan yang dapat menimbulkan distorsi. Sedangkan di sinilah fungsi proses yang kedua, integrasi, yaitu menyatukan kembali distorsi-distorsi dalam cerita.
            Suspensi (suspense) merupakan salah satu bentuk distorsi dalam cerita. Pada cerpen ini suspensnya adalah si tokoh yang merasa harus mengecek keberadaan teman curhat setianya—si batu—ternyata lebih memilih berdiam diri saja. Dipikirnya si batu sekarang tidak lagi mampu menguasai kosa kata bahasaku (bandingkan pada kalimat pada paragraf sebelumnya; Ia memiliki bahasa lain tetapi tampaknya memahami sepenuhnya makna pertanyaanku.)
Kalimat tersebut sekaligus mengakhiri cerita. Integrasi keseluruhan kejadian pada cerpen masih tetap membuka berbagai alternatif dari konsekuensi dari sikap si tokoh. Ia yang kini beranjak dewasa, atau bahkan sudah dewasa, secara fisik tetap tidak kehilangan teman masa kecilnya. Namun, ia kehilangan teman imajinernya tersebut. Hubungan karib dengan si teman dan hubungannya yang canggung dengan ibunya gugur dalam kalimat terakhir. Yang ada, kehilangan dan kasih sayang yang lambat laun mendalam.


Daftar Pustaka

Culler, Jonathan. 2003. Barthes.Yogyakarta: Jendela.
Damono, Sapardi Djoko. 2003. Membunuh Orang Gila. Jakarta: Kompas.
Diktat mata kuliah Metode Penelitian Sastra Strukturalisme Naratif Model A.J. Greimas
Supriyadi. 1992. Pengantar Analisis Struktural Roland Barthes. Dalam Basis edisi Agustus-1992-XLI-No. 8

* Diajukan sebagai pengganti Ujian Akhir Semester mata kuliah Kapita Selekta Karya Utama, 2004

No comments: