Klik Bila Perlu

Wednesday, January 01, 2014

Katarara Kembali

Menulis, menulis, menulis. Itulah cita-cita ketika Katarara.com ini dibuat beberapa tahun lalu. Waktu itu saya sudah tidak lagi bekerja di media yang, dalam artian positif, memaksa saya setiap hari menulis, biarpun sekedar satu dua paragraf. Positif sekaligus negatif barangkali. Positif karena melatih kita untuk sigap mencatatkan kejadian-kejadian. Tapi apalah kejadian tanpa refleksi? Liputan, tulis. Liputan, tulis. Tidak ada waktu untuk mengendapkan. Memang iya bisa dilakukan bersamaan—menulis sekaligus merefleksi. Sayangnya saya tidak secerdas itu.

Katarara.com berakhir menjadi gudang tulisan-tulisan lama. Saya beruntung kuliah di Sastra Indonesia. Tugasnya; baca novel, nulis ulasan, diskusi, begitu seterusnya sampai tiba waktunya kami menulis ulasan sedikit lebih panjang, skripsi. Saya punya beberapa tugas kuliah yang masuk kategori dibuang-sayang. Saya unggah dengan pikiran, “Siapa tahu ada yang butuh.” Saya tambahkan beberapa liputan. Sisanya, tulisan baru tidak melebihi hitungan jari.

Bukan cuma orang yang kesal kalau tidak dipedulikan, sepertinya website juga. Katarara.com tidak bisa dibuka. Entah kenapa. Saya tidak mencari tahu. Tetap acuh tak acuh, meskipun saya musti bayar tagihan domain dan hosting.

Saya juga tidak tahu apa yang merasuki kepala teman saya, Bayu Bergas, ketika dia mau “membangunkan” Katarara.com. Sampai-sampai saya harus menanyakan padanya password masuk website saya sendiri. Betapa anehnya. Tidak serta-merta Katarara.com tayang lagi. Saya tidak keberatan dengan itu. Toh saya tidak punya tulisan baru. Mungkin saya juga sudah lupa cara memakai otak dan jari saya untuk menulis lebih panjang dari satu halaman dua spasi. Begitu saya dikabari soal back up yang gagal dilakukan, saya ringan-ringan saja menanggapinya. Lagipula itu bukan tulisan-tulisan yang sebegitu-pentingnya-sampai-harus-saya-ratapi-kehilangannya.

Butuh waktu untuk memulai mengisi Katarara.com lagi. Mau diisi apa ya? Saya cuma merasa saya tidak seheroik dulu. Sastra. Isu perempuan. Hidup sehari-hari saja sudah susah, masih ditambah nulis di website yang bikin mengkerut (lupakan kalau topik perdana Katarara.com adalah Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan). Apa daya, saya memang hobi membebani diri dengan yang berat-berat. Ya begitulah, seperti yang tadi dibilang, topik perdana Katarara.com adalah Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.
Saya selalu ironi mendengar kata peringatan hari ini hari anu. Di kepala saya, peringatan sama dengan perayaan. Apa yang bisa dirayakan dari Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP)? Tidak, saya tidak akan mengutip jumlah angka kematian ibu versi laporan MDGs atau laporan Komnas Perempuan tentang akumulasi perempuan yang dipukuli suaminya atau cerita-cerita sedih tentang perempuan yang setiap hari keluar masuk women crisis centre untuk mendapatkan bantuan.

Tapi saya mau benar belajar soal HAKTP. Sayangnya, saya tidak tangguh. Saya menunda nonton In The Time of Butterflies selama berbulan-bulan. Padahal film itu merupakan materi yang berharga kalau memang benar saya mau belajar soal sejarah HAKTP. Terima kasih Andari yang telah menyalinnya untuk saya. Saya juga harus berterima kasih pada sahabat saya yang sekarang tinggal di Tokyo, Sofia Kartika. Saya memaksa dia menuliskan sesuatu yang sangat personal—dan pastinya—berat untuk dia. Saya belajar banyak dari pengalamannya, yang biasanya lebih banyak saya temui di laporan-laporan tahunan atau riset. Silakan baca Surat dari Jepang.

Terima kasih juga untuk Nina yang tulisannya saya duplikat di rubrik ulasan buku. Novel 9 dari Nadira adalah bacaan untuk Klubuku kami. Kekerasan terhadap perempuan memiliki seribu wajah. Seringkali ia tak dikenali oleh si penanggungnya. Alih-alih “membaca” sang protagonis, Nina memilih untuk menyelidik si ibu, Kemala, yang kematiannya menjadi tautan di seluruh cerpen. Jangan depresi dulu. HAKTP tidak melulu bicara tentang kabar buruk. Kita bisa melihat harapan di rubrik Foto Minggu ini. 
Sebelum lupa, saya makan enak berkat Pacarkecilku. Terima kasih!

Dua tulisan belum saya selesaikan (malam ini). Ya, segera. Menunda memang penyakit utama saya menulis. Mungkin saya harus lebih banyak menulis hal-hal yang menyenangkan. Sebab, saya tidak pernah menunda Hasta Karya saya. Saya punya banyak stok untuk diunggah! Saya selalu antusias menangkap ide-ide dan mengerjakannya. Saya selalu senang tersesat di antara benang-benang.

Di atas segalanya, saya senang Katarara.com beredar lagi. Saya senang bertemu Anda (lagi).

1 comment:

Utroq Trieha said...

[Komentarku sama dengan yang dulu sempet ada di jurnal ini, di rumah lama yang sempet hilang itu]

Sebagaimana kata Pipit "Pacarkecilku," tulisanmu mengalir enak dibaca n dicerna, Ra...
Senang membacanya, thanks...

*salim :)