Blog membuat orang bersemangat, kata Julien Pain dalam buku
saku untuk blogger, Reporters without Borders. Antusiasme ini lahir dari
keleluasaan menjadikan blog sebagai media alternatif menuangkan apa-apa yang
disebut ekspresi diri. Dalam “buku harian online” ini beragam gayapenulisan dan
informasi dapat ditemukan. Kini tersebar blog tentang resep masakan, fotografi,
kritik atas kebijakan, sastra, dan sebagainya. Satu hal yang digarisbawahi
Pain: para blogger ini menggoyahkan kemapanan media-media mainstream di
negara-negara sekelas Amerika Serikat, Cina, ataupun Iran.
Indonesia berkejaran pula dengan laju teknologi ini. Pada
2006, pemerhati blog di Indonesia, Enda Nasution, memperkirakan pada 2007
blogger di Indonesia mencapai angka 45 ribu. Namun, Enda meragukan ramalannya
itu. Melesatnya pertumbuhan teknologi bisa saja membuat angka yang ia sebut
melenceng jauh dari jumlah yang sebenarnya. Awal 2008, keraguan Enda terbukti.
Saat ini diperkirakan telah lahir 150 ribu blog di Indonesia. Dalam Pesta
Blogger 2007, selain ditetapkan 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional,
Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh mendorong komunitas blog
mencapai angka 1 juta pada 2008. Apa yang ada di benak Bapak Menteri? Mengapa
sedemikian penting gagasan tentang blog ini?
“Blog harus bisa memberikan manfaat edukasi,
memberdayakan,” ujarnya di hadapan 450 peserta yang datang dari seluruh penjuru
negeri.
Apa yang dimaksud dengan “manfaat edukasi (yang)
memberdayakan” ini tidak diperinci oleh Bapak Menteri. Suatu kali, ketika
sedang mencari data tentang target pembangunan milenium atau Millennium
Development Goals (MDGs), saya menemukan sebuah posting menarik, “Kemarin
ketika midsemester mata kuliah amdal, keluar soal tentang MDGs. Karena diriku baru
pertama kali mendengar frase itu, aku pun nyari ke Internet dan ternyata daku
emang kuper kali yah karena sudah banyak yang membahas soal MDGs. Berikut
petikannya dilaporkan langsung oleh reporter kita Tarkhiena dari MP TV.” Lalu
Tarkhiena menulis perihal pengetahuan barunya yang ia dapat dari wikipedia itu
di blognya.
Tidak hanya bertambah data yang saya dapat, membesar pula
pengetahuan saya tentang sejumput respons dari masyarakat yang, barangkali,
luput dari perhatian pemerintah.
Blog memberi ruang bagi pemiliknya yang tidak cuma datang
dari profesi itu untuk menuangkan cerita apa saja di sekitar mereka.
Keberagaman profesi–mulai mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja kantor, seniman,
selebritas, sampai tokoh politik, jurnalis, dan aktivis–menyulut pula berbagai
tema yang ditulis. Dari tema-tema tersebut, salah satu di antaranya MDGs.
Indonesia, sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa,
turut mendukung komitmen percepatan pembangunan dan pemberantasan kemiskinan
yang ditandatangani di New York itu. Selanjutnya, deklarasi tersebut
diterjemahkan dalam delapan isu kritis, yakni pengurangan kemiskinan dan
kelaparan; pendidikan untuk semua; kesetaraan gender; pengurangan angka
kematian ibu dan anak; peningkatan kesehatan dan gizi ibu dan anak; pengurangan
persebaran HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya; lingkungan yang
berkelanjutan; serta pengembangan kemitraan untuk pembangunan global. Waktu
yang diberikan untuk mencapai target delapan bidang tersebut tidaklah lama: 15
tahun terhitung sejak penandatanganannya pada 2000.
Kita masih punya waktu tujuh tahun lagi. Sungguh bukan
waktu yang panjang, apalagi mengingat Konvensi Penghapusan Segala Bentuk
Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of
Discrimination Against Women) setelah puluhan tahun pun belum tersosialisasi
dengan optimal.
Kampanye MDGs sudah sering kali dilakukan. Namun, kedelapan
tujuan MDGs seperti masih di awang-awang. Ia harus diterjemahkan, baik untuk
kepentingan pencapaiannya maupun dalam kebutuhan sosialisasinya. Dan tugas ini,
menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta dalam
laporan pencapaian MDGs 2007/2008, bukanlah semata-mata tugas pemerintah,
melainkan merupakan tugas seluruh komponen bangsa. Namun, apa yang bisa dilakukan
sebagian komponen bangsa tersebut? Saya mengusulkan untuk meniru program
Blogger for Bangsari.
Blogger for Bangsari (http://bangsari.blogspot.com) hadir
sebagai lanjutan program keberlanjutan pendidikan anak-anak di Desa Bangsari.
Mereka menarik kepedulian blogger dan bukan blogger untuk menjadi donatur
melalui banner plus gaya kampanye komikal, yang tidak terlalu serius, tapi
tetap berisi. Donasi tidak dibatasi dalam bentuk uang, bisa juga kambing dengan
sistem paroan, buku, sepatu, seragam, ide, dan perhatian. Kepedulian juga bisa
berbentuk kontrol atau menjadi mata rantai kepedulian dengan menulis ajakan
bergabung dengan program ini di blog masing-masing. Selain bisa ditulis oleh
siapa saja dengan format yang tidak mengikat dan biaya yang relatif murah
(apalagi jika dibandingkan dengan membuat iklan layanan masyarakat di televisi
atau koran), blog yang tengah diakrabi ini bisa menjadi media alternatif.
Namun, sebagaimana juga diperingatkan Pain, blog juga
rentan terhadap kekhawatiran, ketidakpercayaan, penyalahgunaan, dan kesalahan
persepsi, terlebih untuk isu-isu yang baru dipahami oleh sebagian orang. Sebut
saja, poin ketiga MDGs, kesetaraan gender dan peningkatan kualitas hidup
perempuan. Dalam salah satu entrinya, blog MDGs menyebutkan, “Peningkatan
kesehatan ibu memiliki tujuan untuk memperkuat pangsa pasar kaum wanita.
Mengingat kaum ibu ialah kaum yang lebih konsumtif dan lebih banyak
kebutuhannya dibandingkan pria.” Alih-alih mempromosikan pemberdayaan
perempuan, tulisan tersebut justru mengekalkan stereotipe tentang perempuan.
Tapi, tunggu dulu, blog juga dilengkapi mekanisme kontrol melalui komentar
pembaca dan tautan link-nya. Anda bisa membenturkan pendapat Anda dengan
tulisan yang ada, dengan harapan si penulis memberi jawaban sehingga terjadi
diskusi. Atau Anda bisa menuliskan pendapat tersebut di blog Anda sendiri.
Blogger di Indonesia, berapa pun jumlahnya, dapat turut
serta menjadi penggerak dalam upaya pencapaian target-target MDGs. Entah itu
sebagai media kampanye dan kontrol bagi pemerintah, entah masyarakat itu
sendiri. Mengapa tidak dimulai dari Anda?
No comments:
Post a Comment