Dalam pelbagai
situasi, seperti masa perang, masa penjajahan, dan masa transisi, kerap kali
perempuan menjadi korban. Menurut Pelapor Khusus PBB mengenai Kekerasan
terhadap Perempuan Radhika Coomaraswamy, hal tersebut terjadi tidak sekedar
untuk menghancurkan kehormatan perempuan itu. Pelecehan seksual dan perkosaan
yang dialamatkan pada perempuan juga bertujuan untuk menghina lawan.
“Kekerasan seksual
terhadap perempuan adalah alat mempertontonkan kemenangan atas kelompok
laki-laki lain yang telah gagal melindungi kaum perempuannya. Ini menjadi pesan
pengebirian dan penyunatan terhadap kelompok musuh. Ini merupakan pertempuran
laki-laki di atas tubuh perempuan.”
Dua kali sial untuk
perempuan. Pertama, dia harus ekstra-ketat menjaga diri hanya karena dia
perempuan; kedua, dia menjadi representasi dari kuasa satu kelompok (laki-laki)
atas kelompok (laki-laki) yang lain. Dua-duanya menjadikan perempuan rentan
sebagai korban kekerasan, terlebih kekerasan seksual. Alih-alih meratapi
kenyataan tersebut, perempuan Timor Leste mempunyai cara sendiri untuk membela
diri.
Tak dapat disangkal,
banyak perempuan Timor Leste yang menjadi korban mulai pada masa pendudukan
Portugal sampai pendudukan tentara Indonesia dan masa transisi. Namun, mereka
telah mulai melawan keadaan itu dengan mengorganisir diri, khususnya secara
politik, sejak tahun-tahun akhir kekuasaan kolonial Portugal. Mereka membentuk
OrganizaƧ?o Popular da Mulher Timorense(OPMT – Organisasi Kerakyatan perempuan
Timor).
Perjalanan perjuangan
itulah yang kemudian direkam oleh Irena Cristalis dan Catherine Scott dalam
Perempuan Merdeka: Kisa Aktivitas Kaum Perempuan Timor Leste. “Irena
(Cristalis) dan saya mengamati perempuan Timor Leste mengurusi berbagai masalah
sampai tidak punya waktu untuk menulis dan mendokumentasikan (pengalamannya).
Kemudian saya menawarkan diri untuk menulis kisah mereka,” ungkap Scott pada
peluncuran buku tersebut di Jakarta, Rabu (31/1).
Cristalis dan Scott
yang sedang melakukan pemantauan pemilu di Timor Leste (dulu masih Timor Timur)
pada tahun 2001 mendapati banyak informasi tidak saja tentang peran perempuan
di kancah politik, namun juga sejarah perempuan Timor Leste.
“Kami sayang kalau
informasi-informasi itu kami simpan sendiri dan tidak kami beberkan kepada
dunia luar.” Itulah salah satu alasan Cristalis dan Scott pada tahun 2005
bekerja sama dengan Progressio menerbitkan buku yang berjudul asli Independent
Women: The Story of Women’s Activism in East Timor.
Motivasi kedua,
lanjut Scott, kami tidak saja menginginkan kisah dan perjuangan yang dilakukan
perempuan Timor Leste menjadi pelajaran bangsa lain, kami juga ingin
mengembalikan apa yang telah mereka lakukan pada perempuan Timor Leste sendiri.
Mereka melihat apa yang dilakukan perempuan Timor Leste tersebut tidak hanya
sebagai bagian dari perjuangan mereka sebagai perempuan, mereka (perempuan
Timor Leste) juga mentransformasi perjuangan mereka menjadi perjuangan yang
positif bagi Timor Leste. Dan ini membuktikan bahwa mereka bukanlah “tokoh di
tepian sejarah” melainkan “pelaku di tengah sejarah.”
Sumber:
Jurnalperempuan.com
No comments:
Post a Comment