Klik Bila Perlu

Wednesday, April 16, 2014

Herstory Perempuan Timor Leste

Dalam pelbagai situasi, seperti masa perang, masa penjajahan, dan masa transisi, kerap kali perempuan menjadi korban. Menurut Pelapor Khusus PBB mengenai Kekerasan terhadap Perempuan Radhika Coomaraswamy, hal tersebut terjadi tidak sekedar untuk menghancurkan kehormatan perempuan itu. Pelecehan seksual dan perkosaan yang dialamatkan pada perempuan juga bertujuan untuk menghina lawan.

“Kekerasan seksual terhadap perempuan adalah alat mempertontonkan kemenangan atas kelompok laki-laki lain yang telah gagal melindungi kaum perempuannya. Ini menjadi pesan pengebirian dan penyunatan terhadap kelompok musuh. Ini merupakan pertempuran laki-laki di atas tubuh perempuan.”

Dua kali sial untuk perempuan. Pertama, dia harus ekstra-ketat menjaga diri hanya karena dia perempuan; kedua, dia menjadi representasi dari kuasa satu kelompok (laki-laki) atas kelompok (laki-laki) yang lain. Dua-duanya menjadikan perempuan rentan sebagai korban kekerasan, terlebih kekerasan seksual. Alih-alih meratapi kenyataan tersebut, perempuan Timor Leste mempunyai cara sendiri untuk membela diri.

Tak dapat disangkal, banyak perempuan Timor Leste yang menjadi korban mulai pada masa pendudukan Portugal sampai pendudukan tentara Indonesia dan masa transisi. Namun, mereka telah mulai melawan keadaan itu dengan mengorganisir diri, khususnya secara politik, sejak tahun-tahun akhir kekuasaan kolonial Portugal. Mereka membentuk OrganizaƧ?o Popular da Mulher Timorense(OPMT – Organisasi Kerakyatan perempuan Timor).

Perjalanan perjuangan itulah yang kemudian direkam oleh Irena Cristalis dan Catherine Scott dalam Perempuan Merdeka: Kisa Aktivitas Kaum Perempuan Timor Leste. “Irena (Cristalis) dan saya mengamati perempuan Timor Leste mengurusi berbagai masalah sampai tidak punya waktu untuk menulis dan mendokumentasikan (pengalamannya). Kemudian saya menawarkan diri untuk menulis kisah mereka,” ungkap Scott pada peluncuran buku tersebut di Jakarta, Rabu (31/1).

Cristalis dan Scott yang sedang melakukan pemantauan pemilu di Timor Leste (dulu masih Timor Timur) pada tahun 2001 mendapati banyak informasi tidak saja tentang peran perempuan di kancah politik, namun juga sejarah perempuan Timor Leste.

“Kami sayang kalau informasi-informasi itu kami simpan sendiri dan tidak kami beberkan kepada dunia luar.” Itulah salah satu alasan Cristalis dan Scott pada tahun 2005 bekerja sama dengan Progressio menerbitkan buku yang berjudul asli Independent Women: The Story of Women’s Activism in East Timor.

Motivasi kedua, lanjut Scott, kami tidak saja menginginkan kisah dan perjuangan yang dilakukan perempuan Timor Leste menjadi pelajaran bangsa lain, kami juga ingin mengembalikan apa yang telah mereka lakukan pada perempuan Timor Leste sendiri. Mereka melihat apa yang dilakukan perempuan Timor Leste tersebut tidak hanya sebagai bagian dari perjuangan mereka sebagai perempuan, mereka (perempuan Timor Leste) juga mentransformasi perjuangan mereka menjadi perjuangan yang positif bagi Timor Leste. Dan ini membuktikan bahwa mereka bukanlah “tokoh di tepian sejarah” melainkan “pelaku di tengah sejarah.”

Sumber: Jurnalperempuan.com

No comments: