Kita bergandengan. Malam cukup riang, tanpa kabut.
Membiarkan mata kita menangkap gedung itu. Seperti bangunan Yunani kuno, katamu
dijejali kekaguman. Kita masuk ke halaman dengan melompati rantai pembatas.
Kita mengendap-endap, meloloskan diri dari lampu Pos penjaga yang menyala di
kejauhan. 10 menit kemudian kamu cuma mendongak. Atap lengkung putih itu begitu
tinggi. Patung di tepinya seperti pahatan dewa. Bibirmu mengucap sesuatu, tak
terdengar apa. Aku melihatmu seperti tokoh Kuil Kencana yang dikarang Mishima.
Apa kau juga akan membakar gedung ini? Aku tertawa. Kau tak mengerti kenapa dan
apa yang kukatakan. Kau tak terlalu peduli juga. Matamu masih belum berlalu
dari gedung yang-mirip-bangunan-yunani-kuno. Yuk, lihat yang lain. Kau menurut.
Kita belum benar-benar melangkah ketika kita terperangkap
bulan putih di atas atap. Kau mengutuk. Kalau aku jadi tuhan, aku akan mencetak
banyak bulan seperti itu. Justru karena sendiri, dia istimewa. Apa di tempat
lain dia juga sedamai ini? Entahlah. Dia kan cuma gumpalan awan yang
dibulatkan. Kau tak romantis. Biar. Kau membuka tas, mengeluarkan kamera. Aku
mau memotretnya. Untuk kenang-kenangan? Kau tak menggubrisku. Aku berdoa
mendung menutupnya dari pandangan kita, sekedar untuk menggodamu. Kau terlalu
serius menanggapi bulan itu.
Deru motor mendekat. Dikendarai penjaga berseragam. Separuh
wajahnya digelapkan malam. Lagi apa di sini? Ah, enggak. Enggak? Sudut matanya
mencengkeram apa yang tergenggam di tanganmu. Sia-sia kau sembunyikannya di
balik punggungmu. Kami cuma mau motret itu. Mata penjaga mengiringi telunjukku.
Bulan sunyi tak membela kami. Aku mengumpatnya dalam hati. Apa kubilang. Dia
cuma pupur bedak bayi. Dilarang memotret bulan di sini, kalimat penjaga sebelum
pergi.
Penjaga lalu bersama motornya. Asap knalpotnya tertinggal,
baur dengan murungmu. Aku baru saja mengamini pintamu tadi. Yang mana? Sekarang
aku juga berharap tuhan menduplikat bulan banyak-banyak. Biar bisa kuminta satu
dan kita bawa pulang.
No comments:
Post a Comment