Klik Bila Perlu

Saturday, January 04, 2014

Dilarang Memotret Bulan

Kita bergandengan. Malam cukup riang, tanpa kabut. Membiarkan mata kita menangkap gedung itu. Seperti bangunan Yunani kuno, katamu dijejali kekaguman. Kita masuk ke halaman dengan melompati rantai pembatas. Kita mengendap-endap, meloloskan diri dari lampu Pos penjaga yang menyala di kejauhan. 10 menit kemudian kamu cuma mendongak. Atap lengkung putih itu begitu tinggi. Patung di tepinya seperti pahatan dewa. Bibirmu mengucap sesuatu, tak terdengar apa. Aku melihatmu seperti tokoh Kuil Kencana yang dikarang Mishima. Apa kau juga akan membakar gedung ini? Aku tertawa. Kau tak mengerti kenapa dan apa yang kukatakan. Kau tak terlalu peduli juga. Matamu masih belum berlalu dari gedung yang-mirip-bangunan-yunani-kuno. Yuk, lihat yang lain. Kau menurut.

Kita belum benar-benar melangkah ketika kita terperangkap bulan putih di atas atap. Kau mengutuk. Kalau aku jadi tuhan, aku akan mencetak banyak bulan seperti itu. Justru karena sendiri, dia istimewa. Apa di tempat lain dia juga sedamai ini? Entahlah. Dia kan cuma gumpalan awan yang dibulatkan. Kau tak romantis. Biar. Kau membuka tas, mengeluarkan kamera. Aku mau memotretnya. Untuk kenang-kenangan? Kau tak menggubrisku. Aku berdoa mendung menutupnya dari pandangan kita, sekedar untuk menggodamu. Kau terlalu serius menanggapi bulan itu.

Deru motor mendekat. Dikendarai penjaga berseragam. Separuh wajahnya digelapkan malam. Lagi apa di sini? Ah, enggak. Enggak? Sudut matanya mencengkeram apa yang tergenggam di tanganmu. Sia-sia kau sembunyikannya di balik punggungmu. Kami cuma mau motret itu. Mata penjaga mengiringi telunjukku. Bulan sunyi tak membela kami. Aku mengumpatnya dalam hati. Apa kubilang. Dia cuma pupur bedak bayi. Dilarang memotret bulan di sini, kalimat penjaga sebelum pergi.

Penjaga lalu bersama motornya. Asap knalpotnya tertinggal, baur dengan murungmu. Aku baru saja mengamini pintamu tadi. Yang mana? Sekarang aku juga berharap tuhan menduplikat bulan banyak-banyak. Biar bisa kuminta satu dan kita bawa pulang.

No comments: