Saya sedang di Kuta, berjalan-jalan di antara kamboja yang
berguguran di depan hard rock cafe dan KFC. Beberapa jam lagi saya akan terbang
ke Jakarta, sebuah penerbangan yang buru-buru dan tidak disengaja. Ketika diberitahu bahwa saya diundang
wawancara kerja esok hari, saya sedang berada di Singaraja. Mengikuti sebuah
tim produksi mengadakan pertunjukan keliling. Segera, saya bersama seorang
teman mencari pesawat termurah ke Jakarta. tentu saja tak ada yang penerbangan murah
di akhir pekan. Desember 2005.
Setahun kemudian, saya ke Bali lagi. Kali ini pun saya tidak
sendiri. Kantor yang mewawancarai saya setahun lalu, menugaskan saya mengurus sebuah
workshop bersama 3 teman. Saya tak memerlukan penerbangan murah karena semua
biaya transportasi ditanggung kantor, bahkan saya diinapkan di Le Meridien, Tanah Lot .
Lagi-lagi, saya harus ke Bali. Seorang teman mengundang saya
datang ke seminar yang dibuatnya di Sanur. Di antara padatnya jadwal seminar,
terselip agenda jalan-jalan. Kami berkeliling Sanur. Melihat tempat-tempat
ibadah dan pasar seni. Entah kenapa saya tidak punya foto perjalanan ini. Saya cuma menemukan foto sunrise di belakang hotel, itu pun karena saya mengunggahnya di Facebook.
Kalau ditanya tempat apa yang paling tidak ingin saya
datangi? Saya akan menjawab Bali. Bukan karena saya sudah pernah ke sana tiga
kali. Saya ke Ambon dua kali dan kalau ada uang, juga waktu luang, saya mau ke
sana lagi. Begitu juga Sabang atau Toraja. Tapi tidak demikian dengan Bali. Saya
tidak dapat menemukan kata yang tepat. Bali terlalu mainstream? Mainstream-kah
yang saya maksud? Entahlah. Ketika seseorang menyebut Bali, yang berkelebat
pantai Kuta yang ramai. Turis dan wisatawan berlalu lalang bikin sesak jalan. Denpasar
yang macet. Pasar seni dan toko souvenir yang begitulah. Hotel di pinggir pantai yang terasa biasa-biasa saja di
ingatan. Sunset atau sunrise yang susah saya nikmati.
Bali memang terlalu mainstream
atau saya belum menemukan cara yang tepat menikmati Bali? Mungkin. Terakhir ke
Bali, seorang teman di milis backpacker memberi tahu, tak perlu naik taksi ke
Sanur. Di depan bandara, ada elf yang bisa mengantar kita ke sana. Memang akan
lebih lama ketimbang taksi. Tapi untuk apa kita bepergian ke tempat asing kalau
bukan untuk dinikmati, iya, kan? Meskipun saya juga diberi nomor tukang ojek yang
bisa mengantar ke manapun saya mau—saya memerlukan jasanya ketika buru-buru ke
bandara—saya memilih naik elf. Benar saja, perjalanan menjadi lebih lama, berputar-putar,
saya harus berdempet-dempetan dengan penumpang yang naik turun dengan gembolan.
Tapi, itu membuat saya lebih banyak menikmati Bali: jalanannya, orang-orangnya,
menguping pembicaraan mereka, juga aroma dan nuansanya yang mistis. Oh ya,
November ini saya akan kembali ke Bali. Yay? Yay dong. Masih cukup waktu untuk
mencari cara yang tepat menikmati Bali.
![]() |
| Lobby Hotel Le Meridien |


No comments:
Post a Comment