Klik Bila Perlu

Friday, January 10, 2014

Jazzmbensenen (dan Bonusnya)

Kadang-kadang kita menerima sesuatu lebih dari yang kita inginkan. Bonus, ya, kau bisa menyebutnya begitu.

***

Kami--aku dan Inda--datang lebih awal dari waktu yang tertera di agenda. Kami masih punya waktu setengah jam sebelum Jazzmbensenen, pertunjukan jazz setiap Senen (sesuai namanya) di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta, dimulai. Ini jam makan malam. Aku mengajak Inda makan soto sekitar situ, Soto Sulung Pak Amat. Cuma aku yang makan, Inda hanya memesan jeruk hangat yang terasa hambar, sampai-sampai dia perlu menambahkan dua iris jeruk nipis.

20.00 WIB. Belum semua kursi terisi. Serombongan mbak-mbak full-make up duduk bergerombol. Aku berdebat dengan Inda tentang mereka. "Serius amat ya yang mau nampil," katanya. Aku setuju soal "serius" tapi aku punya terkaan lain soal tujuan berdandan. "Ah mungkin mereka orang yang pulang kondangan di gedung sebelah, trus mampir ke mari," dugaku, tak sepenuhnya yakin juga. Mereka lebih mirip serombongan pagar ayu yang sayang menghapus make up-nya. Bukannya meremehkan, tapi untuk acara rutin dan gratis, dandanan mereka memang terlalu berlebihan. Bedak tebal, anting-anting besar.

Dua penampil pertama lebih mirip band yang sedang latihan timbang pertunjukan. Malu-malu, membelakangi penonton, check sound kelamaan. Karena ini kali pertama aku datang ke sini, kukira memang beginilah konsepnya: pertunjukan tanpa host dan pengantar. Siapa aja mau jamming boleh lompat ke panggung. Sekalipun begitu, cukup terhibur juga sih lihat anak-anak muda komunitas jazz ini. Mereka antusias dan bersemangat. Meskipun sebagian berpolah seperti preman setempat yang ketawa cekakan seenaknya meningkahi suara temannya yang sedang tampil.

Setelah dua band, barulah sang pengantar acara muncul; dua anak muda yang kayaknya lebih tepat menjadi pelawak dengan becandaan internal *krik* Mereka mempromosikan Ngayogjazz 18 November nanti di sela-sela pengumam  penampil selanjutnya yang datang dari jauh, Mojokerto. Kota dengan makanan khas onde-onde ini memboyong kelompok kesenian mereka yang dinamai Mbaljigong--kependekan dari simbal, jidor, dan gong.

Tapi nanti dulu menikmati Mbaljigong. Dalam omong-omongnya dengan MC, utusan dari Mojokerto menjelaskan maksud kedatangan mereka ke Jogja. "Kami mau ngangsu kaweruh soal kesenian, kebudayaan, karena Jogja adalah pusat kebudayaan di Indonesia." Ayo pada tepuk tangan. Bahkan yang bukan orang Jogja turut bangga. "Kami tidak datang tidak hanya membawa Mbaljigong. Kami juga ingin memperkenalkan batik khas Mojokerto." Olala! Lalu melengganglah manekin hidup Gus Yuk Mojokerto membawakan batik dengan motif onde-onde dan motif-motif khas Mojokerto lainnya dengan senyum ragu-ragu dan langkah-takut-kesrimpet-kabel.
   
Alang kepalang, bonus kadung mendapat cap sebagai sesuatu yang baik & menyenangkan meskipun, pada kenyataannya, tak selalu begitu. Kami nikmati saja pertunjukan ini, dan beberapa penampilan lain yang nggak jazz-jazz amat.

Barulah pada penampilan mereka ini Inda berseru, "Untuk merekalah kita datang." :)
Kelompok setelah mereka yang menyanyikan ulang "Softly, as in a Morning Sunrise" juga bagus. Kami merasa cukup dan gegas pergi agar ingatan tentang Jazzmbensenen tetap jazzy.

No comments: