Apakah peta pada sampul Panduan Singkat (Short Guide) Biennale Jogja itu
begitu saja dicomot demi alasan artistik? Apakah peta kota Jogja itu
dicantumkan semata untuk informasi? Karena ini berkaitan dengan sebuah
pagelaran yang mengklaim dirinya “even seni rupa paling berpengaruh di
Indonesia”, sudah semestinya dibaca lebih dari itu, bukan? Baik, katakanlah
saya berlebihan. Tapi sebagai pengunjung, saya berhak punya harapan dong.
Harapan saya sederhana saja. Saya mau lihat pertunjukan Frau. Syukur-syukur
ada karya yang bisa dinikmati. Lebih bagus lagi kalau “ada kue yang atasnya ada
buah kiwinya, lumayan buat anak kos di akhir bulan.” Itu kata teman yang baru
saya kenal sore itu. Seperti saya, dia bebas menentukan harapannya datang ke
acara pembukaan ini.
Sore tak hujan, wajar banyak yang datang. Saya menduga acara ini memang
bergengsi. Digarap dengan serius dengan beribu pertimbangan untuk setiap karya
yang dipajang, juga setiap pertunjukan. Cuap-cuap pembukaan sudah lewat. Untung
saya datang telat, jadi tak harus lihat. Untuk Frau, saya musti sabar sedikit.
Dia baru nampil jam tujuh nanti. Itu berarti satu jam lagi.
Beberapa waktu lalu, seorang teman berkabar, foto-fotonya diminta untuk
kegiatan ini. Sampai sehari sebelum pembukaan, belum didapat kejelasan, apakah
fotonya akan diikutkan pameran atau tidak. Coba nanti kulihat, siapa tahu ada,
kataku padanya.
Ruang pameran riuh dan penuh, disesaki karya (tentu saja) dan senimannya.
Buatku, yang terakhir lebih menarik. Salah satu di antaranya datang dengan
kemeja hitam transparan berbahan lace (semacam brokat), rompi kulit, rambut
panjangnya dikonde cepol: padanan macho-feminin yang nampol—sungguh laki-laki
yang menolak diabaikan. Lainnya tetap mengusung identitas kebangsaan: topi pet,
rambut gimbal, celana sobek, pernak-pernik etnik. Mereka beradu tampil dengan
karyanya sendiri. Tak ada yang salah. Identitas itu penting, bukan? Itu teknik
pemasaran biasa. Memang sudah seharusnya dilakukan dengan berlebihan. Puji
tuhan yang kinyis-kinyis pun tak kurang—tabik untuk mereka.
Biennale, pun kegiatan lain serupa ini, memang ruang (untuk) mereka
(berekspresi). Tapi jangan lupa, sebagaimana para seniman itu, ini juga ruang
buat kita untuk mengapresiasi. Andai saya bilang karya mereka ditenggelamkan
penampilan mereka, mereka tak boleh protes. Pendapat saya sah dan shahih.
Lagi-lagi, tak salah. Begitulah ruang pamer seharusnya. Kalau tak pamer karya,
minimal pamer diri. Pamer kedekatan dengan seniman-seniman kenamaan. Bahkan,
kalaupun ada yang tak peduli dengan semua itu, itu juga diperbolehkan.
Menggunakan ajang ini sebagai tempat reunian, misalnya. Itu patut
dipertimbangkan lho. Keren buat dijadikan status atau ditwit. “Ketemuan sama si
anu si ini di opening Biennale, di Jogja National Museum.” Efeknya dua: gaul
dan berbudaya. Pencitraan yang bagus, kan?
Tip: jangan lupa bawa kamera. Kalau tidak punya kamera SLR, kamera hp saja
cukup. Yang penting bisa nampang. No pic = hoax, rite? Bagus lagi ketemu dengan
orang yang diidolai, foto bareng, jadiin profil picture di fb atau avatar
twitter. Sempurna.
Lalu, Frau. Tentang Frau harusnya jadi satu tulisan sendiri. Singkatnya
begini, minggu kemarin aku dengar Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di
Luar Angkasa di radio. Lantas jatuh cinta, meskipun tak sampai menggerakkanku
menjadi frauer—kalau tidak salah dengar, itu nama fans club-nya. Pertunjukan
telat setengah jam lebih. Kerumunan membiak begitu Frau mulai bermain-main
dengan Oskar, pianonya. Tiga lagu dari album Starlit Carousel, dua lagu lama,
dua lainnya lagu baru. Tak rugi menunggu.
Malam belum tuntas. Pertunjukan penutup: Yayasan Disko Lombok Horor. MC,
salah satu personel kelompok itu, minta penonton melipat kursi. Kemudian,
dengan lantang dan bir di tangan, mengumumkan kedai bir ada di kanan panggung.
Musik disko mulai jedang-jedung. Dia terus berteriak “Up. Up.”, minta suara
musik dikeraskan. Halaman museum seketika menjadi klub malam. Lima orang maju
ke depan, mulai bergoyang. Aroma bir meruap di udara. Penonton sisanya,
perlahan tapi pasti, berangsur-angsur pergi. Entah ada yang ganggu dengan
kejadian itu. Saya peminum juga. Tapi, sebisa mungkin, saya menghargai
orang-orang yang berseberangan keyakinan, terutama ketika berada di ruang
publik. Bukankah itu ruang bersama? Atau saya yang salah ruang?
Saya memutuskan cepat pulang. Dari tempat saya menunggu ojek jemputan,
angkringan di luar museum, suara musik terdengar makin bergema, kontras dengan
sunyi di sekitarnya. Saya membaca ulang Panduan Singkat yang tadi saya beli.
Biennale Jogja memasuki tahun kesebelas. Mulai tahun ini—sampai 10 tahun ke
depan—Biennale Jogja “akan secara intim bertemu dan berdialog dengan salah satu
negara di wilayah khatulistiwa.” Sebuah nawaitu yang mulia. Sebuah dialog
baru terjadi ketika ada aku dan kau. Dan, mengutip seorang teman, hubungan
tidak bisa dirawat sendirian. Karena itu, dialog juga baru bisa terjadi ketika
masing-masing pihak menghadirkan ruang untuk orang lain. Sebelum mengembara ke
negara-negara khatulistiwa, tidakkah sebaiknya lebih dulu mendengar suara-suara
khalayak sekitar tempat Biennale digelar? Memilih musik disko pastinya bukan
tanpa pertimbangan, apalagi untuk kegiatan serutin Biennale. Kira-kira apa kata
masyarakat sekitar museum ya?
No comments:
Post a Comment