Klik Bila Perlu

Saturday, January 11, 2014

Ruang

Apakah peta pada sampul Panduan Singkat (Short Guide) Biennale Jogja itu begitu saja dicomot demi alasan artistik? Apakah peta kota Jogja itu dicantumkan semata untuk informasi? Karena ini berkaitan dengan sebuah pagelaran yang mengklaim dirinya “even seni rupa paling berpengaruh di Indonesia”, sudah semestinya dibaca lebih dari itu, bukan? Baik, katakanlah saya berlebihan. Tapi sebagai pengunjung, saya berhak punya harapan dong.
Harapan saya sederhana saja. Saya mau lihat pertunjukan Frau. Syukur-syukur ada karya yang bisa dinikmati. Lebih bagus lagi kalau “ada kue yang atasnya ada buah kiwinya, lumayan buat anak kos di akhir bulan.” Itu kata teman yang baru saya kenal sore itu. Seperti saya, dia bebas menentukan harapannya datang ke acara pembukaan ini.
Sore tak hujan, wajar banyak yang datang. Saya menduga acara ini memang bergengsi. Digarap dengan serius dengan beribu pertimbangan untuk setiap karya yang dipajang, juga setiap pertunjukan. Cuap-cuap pembukaan sudah lewat. Untung saya datang telat, jadi tak harus lihat. Untuk Frau, saya musti sabar sedikit. Dia baru nampil jam tujuh nanti. Itu berarti satu jam lagi.
Beberapa waktu lalu, seorang teman berkabar, foto-fotonya diminta untuk kegiatan ini. Sampai sehari sebelum pembukaan, belum didapat kejelasan, apakah fotonya akan diikutkan pameran atau tidak. Coba nanti kulihat, siapa tahu ada, kataku padanya.
Ruang pameran riuh dan penuh, disesaki karya (tentu saja) dan senimannya. Buatku, yang terakhir lebih menarik. Salah satu di antaranya datang dengan kemeja hitam transparan berbahan lace (semacam brokat), rompi kulit, rambut panjangnya dikonde cepol: padanan macho-feminin yang nampol—sungguh laki-laki yang menolak diabaikan. Lainnya tetap mengusung identitas kebangsaan: topi pet, rambut gimbal, celana sobek, pernak-pernik etnik. Mereka beradu tampil dengan karyanya sendiri. Tak ada yang salah. Identitas itu penting, bukan? Itu teknik pemasaran biasa. Memang sudah seharusnya dilakukan dengan berlebihan. Puji tuhan yang kinyis-kinyis pun tak kurang—tabik untuk mereka.  
Biennale, pun kegiatan lain serupa ini, memang ruang (untuk) mereka (berekspresi). Tapi jangan lupa, sebagaimana para seniman itu, ini juga ruang buat kita untuk mengapresiasi. Andai saya bilang karya mereka ditenggelamkan penampilan mereka, mereka tak boleh protes. Pendapat saya sah dan shahih. Lagi-lagi, tak salah. Begitulah ruang pamer seharusnya. Kalau tak pamer karya, minimal pamer diri. Pamer kedekatan dengan seniman-seniman kenamaan. Bahkan, kalaupun ada yang tak peduli dengan semua itu, itu juga diperbolehkan. Menggunakan ajang ini sebagai tempat reunian, misalnya. Itu patut dipertimbangkan lho. Keren buat dijadikan status atau ditwit. “Ketemuan sama si anu si ini di opening Biennale, di Jogja National Museum.” Efeknya dua: gaul dan berbudaya. Pencitraan yang bagus, kan?
Tip: jangan lupa bawa kamera. Kalau tidak punya kamera SLR, kamera hp saja cukup. Yang penting bisa nampang. No pic = hoax, rite? Bagus lagi ketemu dengan orang yang diidolai, foto bareng, jadiin profil picture di fb atau avatar twitter. Sempurna.
Lalu, Frau. Tentang Frau harusnya jadi satu tulisan sendiri. Singkatnya begini, minggu kemarin aku dengar Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa di radio. Lantas jatuh cinta, meskipun tak sampai menggerakkanku menjadi frauer—kalau tidak salah dengar, itu nama fans club-nya. Pertunjukan telat setengah jam lebih. Kerumunan membiak begitu Frau mulai bermain-main dengan Oskar, pianonya. Tiga lagu dari album Starlit Carousel, dua lagu lama, dua lainnya lagu baru. Tak rugi menunggu.
Malam belum tuntas. Pertunjukan penutup: Yayasan Disko Lombok Horor. MC, salah satu personel kelompok itu, minta penonton melipat kursi. Kemudian, dengan lantang dan bir di tangan, mengumumkan kedai bir ada di kanan panggung. Musik disko mulai jedang-jedung. Dia terus berteriak “Up. Up.”, minta suara musik dikeraskan. Halaman museum seketika menjadi klub malam. Lima orang maju ke depan, mulai bergoyang. Aroma bir meruap di udara. Penonton sisanya, perlahan tapi pasti, berangsur-angsur pergi. Entah ada yang ganggu dengan kejadian itu. Saya peminum juga. Tapi, sebisa mungkin, saya menghargai orang-orang yang berseberangan keyakinan, terutama ketika berada di ruang publik. Bukankah itu ruang bersama? Atau saya yang salah ruang?

Saya memutuskan cepat pulang. Dari tempat saya menunggu ojek jemputan, angkringan di luar museum, suara musik terdengar makin bergema, kontras dengan sunyi di sekitarnya. Saya membaca ulang Panduan Singkat yang tadi saya beli. Biennale Jogja memasuki tahun kesebelas. Mulai tahun ini—sampai 10 tahun ke depan—Biennale Jogja “akan secara intim bertemu dan berdialog dengan salah satu negara di wilayah khatulistiwa.”  Sebuah nawaitu yang mulia. Sebuah dialog baru terjadi ketika ada aku dan kau. Dan, mengutip seorang teman, hubungan tidak bisa dirawat sendirian. Karena itu, dialog juga baru bisa terjadi ketika masing-masing pihak menghadirkan ruang untuk orang lain. Sebelum mengembara ke negara-negara khatulistiwa, tidakkah sebaiknya lebih dulu mendengar suara-suara khalayak sekitar tempat Biennale digelar? Memilih musik disko pastinya bukan tanpa pertimbangan, apalagi untuk kegiatan serutin Biennale. Kira-kira apa kata masyarakat sekitar museum ya? 

No comments: