Homesick.
Aku sudah melihat tanda-tandanya sejak kemarin sore. Karena satu urusan, aku ngobrol—lewat telpon, SMS, YM, Gtalk, Twitter, email (wow!)—dengan Sofie dan Toni, suaminya. Urusan tak kunjung usai sampai malam. Nanti Senin ajalah diterusin, pikirku. Janji ketemuan. Biasanya, pada siang hari aku ketemu Sofie, urusan pekerjaan. Malamnya kami makan di Hema atau Bakmi Toko Tiga di Tebet Square, sepulang Toni kerja—Toni berkantor di Pancoran. Baru kemudian tersadar, sekarang aku di Jogja. *sigh*
Membaca status YM-ku “terdeteksi panik”, seorang teman menggoda, “Panik karena takut betah di Jogja?” Soal itu lebih mudah ditanggulangi. Kurasa. Bagaimana kalau sebaliknya? Tidak ada tempat yang tidak terjangkau dari Tebet. Bis? 62, 612, 68, 60. Angkot? 34, 44. Kereta, ada stasiun Tebet. Gambir pun tak terlalu jauh. Ojek, standby selalu depan gang. Transjakarta, ada haltenya di Pancoran. Taksi, lewat semenit sekali.
Sementara Jogja? Bis dan Transjogja lewat dua bulan sekali. Angkot? lebih baik lupakan. Solusi adalah motor. Masalahnya, aku tidak punya motor dan, terutama, aku tidak bisa mengendarai motor (!).
Persoalan kerasan adalah persoalan kebiasaan. Di Jakarta (baca: Tebet), aku tahu harus ke mana mencari es kelapa yang segar pada siang bolong, harus nelpon siapa kalau buru-buru menuju meeting (maksudnya, tukang ojek), laundry di mana, tukang fotokopi di mana, ke mana musti beli buah, kembang, dan dvd. Kalau bosan di Starbucks, alternatif nongkrong panjang bererot. Mungkin sekadar hal-hal sepele, tapi itulah yang membuat kita berada di “rumah”. Belum bisa begitu di Jogja, ini kan baru hari kelima. *toyor diri sendiri*
Daripada banyak ngeluh, mending keluarin motor—aku bagian yang dibonceng selalu ;)—cari sarapan.
"Jadi, mau sarapan apa, mbak?"
"Apa aja. Gue anaknya gampangan kok."
Aku memang gampangan, biasanya, termasuk gampang betah. Temen di YM juga heran, begitu dengar aku homesick. Terlalu lama di Jakarta mungkin. Terlalu nyaman jadi anak Jakarta.
Di Jakal KM 12,5, kami menemukan nasi uduk. Tak sekedar nasi uduk, tapi Nasi Uduk Betawi. Hanya saja tempat makan ini tak kusarankan. Dengan “harga Jakarta”, kita cuma dapat nasi yang kurang gurih, sebagian lembek, sebagian lagi… mentah. Nasi uduk polos Rp3.500. Polosnya benar-benar polos, nasi tok! Jangan harap dibubuhi sambal, apalagi krupuk. Nasi uduk paket, berisi bihun, tahu bacem dan tempe orek, seharga Rp7.500.
Kami diminta menunggu karena, “Ibu lagi ke pasar.” Hah? Sambil nunggu, kuambil koran dan membaca berita penting ini.
Tenggak Insektisida Dipelukan Kekasih
Sleman, Tribun - Menikah dengan orang yang dicintai merupakan impian semua orang, namun apa jadinya jika hubungan itu tidak direstui orang tua. Inilah yang dirasakan Elsa Meilani Kusumawadhani (29), karyawati sebuah bank swasta di Yogyakarta ini nekat mengakhiri hidupnya dengan meminum cairan pembasmi serangga lantaran kesal sang ayah yang tak juga merestui hubungannya dengan Muhammad Naswan Afandi (29).
Peristiwa percobaan bunuh diri tersebut, berlangsung di penginapan Delima Indah 2 Kaliurang, pada Selasa (25/10) pagi. Kejadian tersebut pertama kali diketahui oleh Fandi, sapaan akrab pacar korban, sekitar pada pukul 07.00 WIB.
Saat itu, ia hendak menjemput kekasihnya di penginapan yang dijanjikan. Ketika saksi datang, korban yang merupakan warga Brontokusuman MG III/465 Mergangsan, Yogyakarta ini, langsung memeluk dan seketika itu pula menenggak cairan baygon.
Saksi saat itu tidak menyadari apa yang dilakukan Mela, sapaan akrab korban. Sehingga ia pun tak sempat menggagalkan aksi nekat tersebut. Korban pun langsung jatuh tak sadarkan diri. Kaget melihat kejadian itu, Fandi langsung coba memberikan pertolongan pertama dengan cara memasukkan jari ke dalam mulut korban dengan maksud supaya kekasihnya itu memuntahkan cairan tersebut. Namun, upaya tersebut tak jua menampakkan hasil. Fandi berteriak minta tolong, dan akhirnya warga sekitar datang menyelamatkan korban ke RS Panti Nugroho, sehingga nyawanya bisa diselamatkan.
"Malam sebelum kejadian, korban sempat SMS pacarnya," papar Kasi Humas Aiptu Sarkowi, yang membenarkan niat bunurh (typo dari sananya -Ra) diri tersebut sudah direncanakan korban. (mon)
Sesampai kos, kubilang ke teman, “Eh tadi korannya gue colong.” “Buat apaan, mbak?” “Mau gue simpen. Siapa tahu ada terusannya. Setelah percobaan bunuh diri dan diliput koran, disebutkan nama dan alamat lengkap, kira-kira mereka akan direstui nggak, ya?” Aku masih akan berada di sini selama 11 bulan 3 minggu, kalau-kalau ada kabar selanjutnya.
No comments:
Post a Comment