Kemala, ibunda Nadira, ditemukan tergeletak di atas lantai licin, dengan bibir biru keunguan yang mengeluarkan busa putih. Kemala, lahir dari keluarga berada yang terhormat, kuliah di Amsterdam, kemudian bertemu dengan mahasiswa peraih beasiswa bernama Bram, yang bekerja untuk mencari nafkah tambahan di sebuah bar, de Groene Bar. Mereka jatuh cinta, lalu menikah pada usia muda. Bram berasal dari keluarga Muslim yang taat. Sedangkan Kemala? Dia shalat jika dia ingin, jika dia siap.
Menikah muda, mempunyai anak, dan tinggal bersama Bram dengan segala keterbatasan. Meninggalkan cita-cita yang sudah dibangun, meninggalkan kenyamanan dan kemapanan hidup, meninggalkan segala fasilitas yang sudah terbiasa digunakan. Apa Kemala mengeluh? Tidak. Dia tidak mengeluh. Dia mencoba menerima, beginilah keluarga suaminya. Dia mencoba menerima, beginilah hidup bersama Bram, dan sudah menjadi konsekuensi yang harus ditanggungnya. Ini adalah pilihannya, termasuk pilihannya juga untuk menikah di usia yang sangat muda dan tidak melanjutkan kuliahnya.
Dia mencoba menjalankan peran sebagai seorang ibu dan istri yang baik. Menampung keluh kesah suaminya yang ambisius dan telah merasakan kekecewaan yang amat sangat. Juga menjadi “tempat sampah” bagi anak-anaknya yang memiliki sejuta masalah. Ia berusaha melayani suami dan anak-anaknya dengan sepenuh hati. Menjadi bijaksana untuk semua pihak. Menjadi penopang jiwa yang lelah seluruh keluarga, dan menelan sendiri semua masalahnya. Kemala mencoba tegar, berdiri sekokoh batu karang di tengah laut. Kepada buku harianlah ia mencurahkan isi hatinya.
Tetapi tentu saja yang terlihat sempurna di luar belum tentu sempurna di dalam, bukan? Tetap saja ada sesuatu yang hilang, yang tak pernah bisa dijangkau lagi oleh Kemala. Kekosongan. Dia tidak memiliki ruang kosong. Seluruh ruangannya terisi dengan peran-peran yang harus dijalaninya.
Dan pada titik terendahnya, di mana Kemala sudah tak sanggup lagi menopang jiwa-jiwa itu, dia memutuskan untuk membebaskan jiwanya sendiri. Mungkin dia terlalu letih untuk terlihat sempurna. Terlalu letih untuk terus berpura-pura bisa menjadi penopang, sedangkan dia sendiri pun sebetulnya butuh penopang. Atau mungkin dia menganggap, memang sudah saatnya dia pergi. Tugasnya sudah berakhir.
Apakah Kemala bahagia?
Nadira tak pernah menemukan jawaban apakah ibunya bahagia.
Ibunya memiliki seribu wajah. Dia bisa memilih untuk menampilkan wajah tertentu di situasi tertentu. Siapa yang bisa menebak apa yang sesungguhnya dia rasakan? Tidak seorang pun. Dia menyimpan wajah aslinya dengan sangat hati-hati dan tersembunyi. Hanya hatinya dan Tuhan yang tahu.
No comments:
Post a Comment