Klik Bila Perlu

Thursday, June 05, 2014

Bunglon

www.etsy.com
kapan kau terakhir kali menginginkan dirimu menjadi seorang bunglon? dia membaca tulisan di sobekan kertas itu. tak sepenuhnya ia yakin, kata-kata itu ditujukan padanya. ia mendapatkan kertas itu ketika dia merasa seperti ada burung yang menabrak pohon lalu ia menggelepar, tak mampu melawan gravitasi. seperti itu, ia menemukan kertas itu. sesuatu mengenai pundak kirinya. lalu ia menoleh dan mendapati remasan kertas itu jatuh di ujung celana jinsnya yang menutupi bagian belakang sepatunya, sebenarnya dia tidak tau itu dinamai sendal atau sepatu, yang jelas bentuknya; bagian depan berupa sepatu tertutup dan belakangnya terbuka sehingga tumitnya akan kelihatan kalau ia mengangkat sedikit saja celananya. sepatu (sendal) yang ia pilih karena sedang tren dan anak-anak lain banyak memakainya juga. lagipula ia tidak ingin tampak beda atau seperti sekuntum violet yang ambisius*. mungkin cuma orang iseng, pikirnya saat itu. atau untuk orang di sebelahnya ini? tapi ia tidak seperti menunggu kiriman apa pun. ia menatap ke depan, karena ia duduk paling belakang. duduk paling belakang membuatnya nyaman karena ia bebas melihati orang-orang tanpa perlu orang lain melihat dirinya. atau kalau bertanya, orang perlu menengok ke belakang untuk tahu siapa yang bertanya dan orang akan segan melakukan itu. tapi selama kuliah, ia belum pernah bertanya, ia terlalu malu orang lain mendengar suaranya, jadi anak-anak lain pun tidak perlu memandang ke arahnya. ia mencari-cari orang yang sekiranya sedang nengok ke belakang, ngecek tujuan kertas lemparannya. sampai di tujuan dengan sukses atau tidak. tapi tidak seorang pun nengok ke belakang. dia hanya melihat hitam. keriting. kerudung ping. pendek. dikepang kecil-kecil. sebahu. lurus bonding. putih jatuh menutupi pundak. hitam dan sebagian tertutup bandana. lalu ia putuskan untuk mengambil saja kertas itu, mungkin memang itu ditujukan untuknya, dan cepat-cepat memperhatikan lagi dosen yang suaranya memaksa masuk pada setiap cuping telinga mahasiswa di aula ini dengan mikroponnya.

bubar kuliah, semua berkemas, berdiri, saling mengucapkan selamat tinggal pada kawan di sebelah, atau pulang bersama-sama. ia tidak punya teman seperti itu. dia membuka kertas itu sambil menuruni tangga. kertas sobekan tapi disobek dan dilipat dengan rapi. mula-mula dilipat tiga lalu dua. kapan kau terakhir kali menginginkan dirimu menjadi bunglon? tulisan tangan. tapi sangat rapi. di depan kata bunglon dia mencoret huruf k. mungkin dia ingin menulis kera, kodok, kawan, kambing, kursi, atau apa pun yang dimulai huruf k. ia membaca lagi tulisan itu. dan sekali lagi tidak mengerti. mungkin hanya orang iseng, ia berujar pendek dalam hati. Ia bahkan jarang bicara panjang-panjang dengan hatinya sendiri. ia lalu membuang itu ke tempat sampah pertama yang ia jumpai.

ж ж

tiba-tiba lampu menyorot tengah ruangan. pucat dan menyilaukan. empat tiang menyangga tabir dari kain putih tipis, di bawahnya. seseorang sedang menari, di dalamnya. entah tarian apa. lalu penonton di sekelilingnya berteriak-teriak. mata mereka melotot lebar. seringainya juga lebar. kepala. rambut. bahu beradu. tapi mereka tidak meringsek mendekati empat tiang itu. seperti ada pagar gaib yang membatasi antara mereka dan penari itu. penonton itu semakin bersemangat bersorak. tangan mereka mengacung ke udara. keringat bercampur keringat. tawa-tawa memekik tak teredam. perlahan tabir yang disingkap menampakkan si penari. dialah si penari itu.

peluh mengalir di sekitar dada kening leher di antara anak anak rambut punggung belakang telinga dan pundak kirinya. ia duduk. lampu dari teras samping masuk ke kamarnya melalui lubang angin di atas kusen jendela. jatuh di atas meja. tepat mengenai makalah yang ia buat tadi sore. mungkin aku lupa baca doa, pikirnya sambil bergegas menarik selimutnya. dia harus istirahat malam ini. karena besok ia harus presentasi. 

14:46 wib
22 oktober 2003





* kahlil gibran

No comments: