 |
| www.etsy.com |
kapan kau terakhir kali menginginkan dirimu menjadi
seorang bunglon? dia membaca tulisan di sobekan kertas itu. tak sepenuhnya ia yakin,
kata-kata itu ditujukan padanya. ia mendapatkan kertas itu ketika dia merasa
seperti ada burung yang menabrak pohon lalu ia menggelepar, tak mampu melawan
gravitasi. seperti itu, ia menemukan kertas itu. sesuatu mengenai pundak
kirinya. lalu ia menoleh dan mendapati remasan kertas itu jatuh di ujung celana
jinsnya yang menutupi bagian belakang sepatunya, sebenarnya dia tidak tau itu
dinamai sendal atau sepatu, yang jelas bentuknya; bagian depan berupa sepatu
tertutup dan belakangnya terbuka sehingga tumitnya akan kelihatan kalau ia
mengangkat sedikit saja celananya. sepatu (sendal) yang ia pilih karena sedang
tren dan anak-anak lain banyak memakainya juga. lagipula ia tidak ingin tampak
beda atau seperti sekuntum violet yang ambisius*. mungkin cuma orang iseng, pikirnya saat itu. atau untuk
orang di sebelahnya ini? tapi ia tidak seperti menunggu kiriman apa pun. ia
menatap ke depan, karena ia duduk paling belakang. duduk paling belakang membuatnya
nyaman karena ia bebas melihati orang-orang tanpa perlu orang lain melihat
dirinya. atau kalau bertanya, orang perlu menengok ke belakang untuk tahu siapa
yang bertanya dan orang akan segan melakukan itu. tapi selama kuliah, ia belum
pernah bertanya, ia terlalu malu orang lain mendengar suaranya, jadi anak-anak
lain pun tidak perlu memandang ke arahnya. ia mencari-cari orang yang sekiranya
sedang nengok ke belakang, ngecek tujuan kertas lemparannya. sampai di tujuan
dengan sukses atau tidak. tapi tidak seorang pun nengok ke belakang. dia hanya
melihat hitam. keriting. kerudung ping. pendek. dikepang kecil-kecil. sebahu.
lurus bonding. putih jatuh menutupi pundak. hitam dan sebagian tertutup
bandana. lalu ia putuskan untuk mengambil saja kertas itu, mungkin memang itu
ditujukan untuknya, dan cepat-cepat memperhatikan lagi dosen yang suaranya
memaksa masuk pada setiap cuping telinga mahasiswa di aula ini dengan
mikroponnya.
bubar kuliah, semua berkemas, berdiri, saling mengucapkan
selamat tinggal pada kawan di sebelah, atau pulang bersama-sama. ia tidak punya
teman seperti itu. dia membuka kertas itu sambil menuruni tangga. kertas
sobekan tapi disobek dan dilipat dengan rapi. mula-mula dilipat tiga lalu dua.
kapan kau terakhir kali menginginkan dirimu menjadi bunglon? tulisan tangan.
tapi sangat rapi. di depan kata bunglon dia mencoret huruf k. mungkin dia ingin
menulis kera, kodok, kawan, kambing, kursi, atau apa pun yang dimulai huruf k.
ia membaca lagi tulisan itu. dan sekali lagi tidak mengerti. mungkin hanya
orang iseng, ia berujar pendek dalam hati. Ia bahkan jarang bicara
panjang-panjang dengan hatinya sendiri. ia lalu membuang itu ke tempat sampah
pertama yang ia jumpai.
ж ж
tiba-tiba
lampu menyorot tengah ruangan. pucat dan menyilaukan. empat tiang menyangga
tabir dari kain putih tipis, di bawahnya. seseorang sedang menari, di dalamnya.
entah tarian apa. lalu penonton di sekelilingnya berteriak-teriak. mata mereka
melotot lebar. seringainya juga lebar. kepala. rambut. bahu beradu. tapi mereka
tidak meringsek mendekati empat tiang itu. seperti ada pagar gaib yang
membatasi antara mereka dan penari itu. penonton itu semakin bersemangat
bersorak. tangan mereka mengacung ke udara. keringat bercampur keringat.
tawa-tawa memekik tak teredam. perlahan tabir yang disingkap menampakkan si
penari. dialah si penari itu.
peluh
mengalir di sekitar dada kening leher di antara anak anak rambut punggung
belakang telinga dan pundak kirinya. ia duduk. lampu dari teras samping masuk
ke kamarnya melalui lubang angin di atas kusen jendela. jatuh di atas meja.
tepat mengenai makalah yang ia buat tadi sore. mungkin aku lupa baca doa,
pikirnya sambil bergegas menarik selimutnya. dia harus istirahat malam ini.
karena besok ia harus presentasi.
14:46
wib
22
oktober 2003
No comments:
Post a Comment