Klik Bila Perlu

Monday, February 03, 2014

Sepotong Senja


—Senja itu merah, Say..
    juga bibirmu
                tak bisa aku padamkan

Kemudian mereka saling berciuman. Bibir mereka bertemu. Juga dada, jantung, dan cinta. Kemudian mereka terdiam. Menunggu senja berikutnya..
                beratus-ratus senja telah mereka lalui. Sampai akhirnya langit tak lagi menghadirkan senja...dan mereka berpisah
—tak tersisa lagi senja
    yang menguap pada barat
                pada kehidupan yang penat
Keesokannya tak ada lagi senja. Begitu pula di hari berikutnya. Langit telah kehabisan senja. Den mereka menjauh. Semakin jauh. Dan jauh. Sampai berbulan-bulan, kemudian tersiar kabar...         
Aku telah menawan Kekasihmu. Engkau hanya bisa
mengambilnya dengan sepotong senja”
Segera lelaki itu berlari ke toko dekat rumahnya. “Apa aku bisa mendapatkan senja?” tanyanya dengan tergesa. “Maaf, kami sudah tidak menjualnya.” Ia berlari ke telepon umum di pinggir jalan. Dipencetnya 108. “Halo. Di mana saya bisa menghubungi senja?” “Senja sudah tidak terdaftar lagi.” Ia masih belum berputus asa. Ia menyewa sebuah kapal selam. Akan tetapi, yang ditemukannya hanya seorang putri duyung kesepian dan ketkika ia bertanya, Putri Duyung itu hanya menggeleng. Kemudian ia menaiki gantole, berkeliling mencari senja. Tapi, seakan awan-awan biru sepakat menyembunyikannya. Ia terus mencarinya, tanpa hitungan waktu. Namun, ia kehilangna jejak. Sama sekali.
                Ia terduduk. Bersandar pada pekat malam. Putus asa sudah. Sebuah bayangan putih menghampirinya. Mengapung-apung di udara.
                “Wahai Lelaki, apa yang engkau lakukan di sini?” bayangn putih itu bersayap dan membawa tongkat.
                “Aku telah kehabisan cara menyelamatkan kekasihku. Aku harus memndapatkan septong senja! Kalau tidak...” matanya penuh rindu, pada kekasihnya.peri itu menarik bibirnya. Tipis.
                “Aku bisa memberimu sepotong senja asalkan...” sengaja ia tidak menyelesaikan ucapannya.
                “Apa? Apa saja akan aku lakuka untuknya.”
                “Apa engakau mau ikut denganku ke Negeri Senja?”
                “Tentu saja aku akan ikut denganmu. Dan mengambil senja yang kau janjikan untukku.” Peri iut mempermainkan tongkat di tangannya. “Setelah di Negeri Senja... aku bisa melihat Kekasihku lagi, kan?”
                “Tentu saja kau bisa, bukankah kau ingin membebaskannya?”
                “Oh ya..ya..” sumringah meggambari garis-garis wajahnya.
Kemudian, Lelaki dan peri itu terbang menuju Negeri Senja.
œ
burung-burung tak henti berkicau. Menari bersama cahaya mentari. Pohon cemara depan puri itu pun masih bergesek-gesekkan dengan angin yang banyak bercerita pagi ini. Tentang seorang Kekasih yang tadi malam pergi diam-diam. Tentang Peri yang jatuh cinta. Tentang malam yang jadi panjang. Tentang rindu yang tak berkesudahan. Tentang lelaki yang...
                ketika mata lelaki itu mulai terbuka,kembali memenuhi ruang benak dan setiap dinding di otaknya; kekasihnya.
                “Mana kekasihku?”
                “Makanlah dulu. Atau engkau menginginkan sesuatu? Akan kuambilkan. Segera.”
                “Tidak! Tidak! Aku hanya menginginkan kekasihku. Mana kekasihku?”
                “Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyakkah?” peri itu berdiri di pinggiran jendela.
                “Aku ingin kekasihku!”
                “Jangan berteriak!” cemara berguguran.
                “Maaf, tapi aku ingin bertemu kekasihku.”
                “Tidak!” sekarang giliran peri itu yang meradang.
                “Apa maksudmu? Bukankah semalam engkau berjanji untuk mempertemukan aku dengan kekasihku?”
                “Tidak. Engkau tidak memintanya. Engkau hanya ingin melihatnya.”
Lelaki itu menghening. Bersama jurang yang ia gali semalam.
                “Baiklah kalau begitu. Boleh ‘kan aku melihatnya sekarang?” ia bermaksud mengambil hati sang peri.
                “Lihatlah cermin di belakangmu.” Dengan angkuh diayunkanlah tongkatnya. Cermin itu kelabu dengan ornamen berwarna keemasan yang hampir pudar. Perlahan ia membentuk sebuah bayangan. Bayangan yang tak pernah lepas dari lintasan imajinya. Bayangan yang sangat ia kenal bahkan di setiap pori-pori yang tersembunyi. Bayangan itu seorang perempuan dan ia nampak kebingungan. Entah apa yang ia cari. Namun ia terus berjalan. Dan nampak kebingungan. Lelaki itu tahu, sebentar lagi perempuan itu akan memilin-milin ujung kaosnya. Dan pemandangan itu telah nampak di cermin yang kian memudar...
                “Aku ingin bertemu dengannya.”
                “Engkau tak memintanya semalam.”
                “Tapi aku ingin bersatu dengannya.’ Peri terbang dengan hati yang mulai meneteskan darah; meninggalkan lelaki yang matanya tak beranjak dari cermin Ajaib itu.
                “Aku ingin bersatu dengannya.”
“Aku ingin bersatu dengannya.”
Waktu melata perlahan. Suara lelaki itu terdengar semakin lirih...kemudian setetes menitik. Semakin deras. Semakin lebat.
œ
                Ah! Gerimis berjingkat di atas kepalanya. Perempuan memakai tudung kaosnya dan berlari. Berteduh. Lelakiku, di mana engkau? Aku telah datang dari negeri senja. Telah banyak senja kucuri untukmu. Untuk kita. Tak pernah pikirannya beranjak dari lelaki. Gerimis berbisik; lelaki. Seketika harapannya lunglai. Rinai hujan tak lagi mampu melukai kulit kepalanya. Sayatan asa cintanya lebih perih dari keperihan mana pun. Ia terus berjalan sambil memilin-milin ujung kaosnya. Air matanya membaur bersama hujan yang melebat.
œ
Langit terluka melihat percintaan mereka. Ia lemparkan petir-petir ke segala arah. Karena ia tak mampu berbuat apa-apa lagi. Bahkan ketika ia ingin sekali memberikan sepotong senja kepada lelaki itu. Ia meradang. Kini ia tinggal berdua dengan pelangi. Tapi untuk apa? Langit terdiam. Membiarkan langit menumpahkan seluruh rindunya bersama hujan yang bersijingkat. Namun beberapa saat kemudian, langit menjentikkan jarinya. Aha! Seketika matahari menyelinap di balik mendung-mendung pekat. Langit mengirimkan pelangi untuk mereka, lelaki dan kekasihnya.
œ

                Di balik jendela kamarnya, ia terus mengirimkan senja-senja itu kepada kekasihnya, melalui pelangi. Ia tak peduli kalau peri itu tahu dan akan merampas kembali mimpi-mimpi malamnya bersama lelaki. Ia terus saja mengirimkan senja-senja yang ia punyai. Sedangkan lelaki itu, ketika petang hari ia akan menjinjit sandalnya ke puncak menara untuk menangkapi setiap senja dari kekasihnya. Ia akan menyimpan senja-senja itu di balik bantalnya. Di sudut hatinya. Di kelopak matanya. Di manapun tempat asal peri itu tak dapat menemukan. Sampai akhirnya lelaki itu dapat membuat sendiri senja yang akan ia kirimkan kepada kekasihnya. Meskipun itu dengna mengiris sdikit demi sedikit hatinya. Ia tak peduli. Ia selalu membalas senja-senja dari kekasihnya dengna senja yang terbuat dari hatinya, melalui pelangi. 

No comments: