—Senja itu merah,
Say..
juga bibirmu
tak bisa aku padamkan
Kemudian mereka
saling berciuman. Bibir mereka bertemu. Juga dada, jantung, dan cinta. Kemudian
mereka terdiam. Menunggu senja berikutnya..
beratus-ratus senja telah mereka
lalui. Sampai akhirnya langit tak lagi menghadirkan senja...dan mereka berpisah
—tak tersisa lagi
senja
yang menguap pada barat
pada kehidupan yang penat
Keesokannya tak ada
lagi senja. Begitu pula di hari berikutnya. Langit telah kehabisan senja. Den
mereka menjauh. Semakin jauh. Dan jauh. Sampai berbulan-bulan, kemudian tersiar
kabar...
“Aku
telah menawan Kekasihmu. Engkau hanya bisa
mengambilnya
dengan sepotong senja”
Segera
lelaki itu berlari ke toko dekat rumahnya. “Apa aku bisa mendapatkan senja?”
tanyanya dengan tergesa. “Maaf, kami sudah tidak menjualnya.” Ia berlari ke
telepon umum di pinggir jalan. Dipencetnya 108. “Halo. Di mana saya bisa
menghubungi senja?” “Senja sudah tidak terdaftar lagi.” Ia masih belum berputus
asa. Ia menyewa sebuah kapal selam. Akan tetapi, yang ditemukannya hanya
seorang putri duyung kesepian dan ketkika ia bertanya, Putri Duyung itu
hanya menggeleng. Kemudian ia menaiki gantole,
berkeliling mencari senja. Tapi, seakan awan-awan biru sepakat
menyembunyikannya. Ia terus mencarinya, tanpa hitungan waktu. Namun, ia
kehilangna jejak. Sama sekali.
Ia terduduk. Bersandar pada
pekat malam. Putus asa sudah. Sebuah bayangan putih menghampirinya. Mengapung-apung
di udara.
“Wahai Lelaki, apa yang engkau
lakukan di sini?” bayangn putih itu bersayap dan membawa tongkat.
“Aku telah kehabisan cara
menyelamatkan kekasihku. Aku harus memndapatkan septong senja! Kalau tidak...”
matanya penuh rindu, pada kekasihnya.peri itu menarik bibirnya. Tipis.
“Aku bisa memberimu sepotong senja
asalkan...” sengaja ia tidak menyelesaikan ucapannya.
“Apa? Apa saja akan aku lakuka
untuknya.”
“Apa engakau mau ikut denganku
ke Negeri Senja?”
“Tentu saja aku akan ikut
denganmu. Dan mengambil senja yang kau janjikan untukku.” Peri iut mempermainkan
tongkat di tangannya. “Setelah di Negeri Senja... aku bisa melihat Kekasihku
lagi, kan?”
“Tentu saja kau bisa, bukankah
kau ingin membebaskannya?”
“Oh ya..ya..” sumringah
meggambari garis-garis wajahnya.
Kemudian, Lelaki
dan peri itu terbang menuju Negeri Senja.
burung-burung tak
henti berkicau. Menari bersama cahaya mentari. Pohon cemara depan puri itu pun
masih bergesek-gesekkan dengan angin yang banyak bercerita pagi ini. Tentang
seorang Kekasih yang tadi malam pergi diam-diam. Tentang Peri yang jatuh cinta.
Tentang malam yang jadi panjang. Tentang rindu yang tak berkesudahan. Tentang
lelaki yang...
ketika mata lelaki itu mulai
terbuka,kembali memenuhi ruang benak dan setiap dinding di otaknya; kekasihnya.
“Mana kekasihku?”
“Makanlah dulu. Atau engkau
menginginkan sesuatu? Akan kuambilkan. Segera.”
“Tidak! Tidak! Aku hanya
menginginkan kekasihku. Mana kekasihku?”
“Bagaimana tidurmu semalam?
Nyenyakkah?” peri itu berdiri di pinggiran jendela.
“Aku ingin kekasihku!”
“Jangan berteriak!” cemara
berguguran.
“Maaf, tapi aku ingin bertemu
kekasihku.”
“Tidak!” sekarang giliran peri
itu yang meradang.
“Apa maksudmu? Bukankah semalam
engkau berjanji untuk mempertemukan aku dengan kekasihku?”
“Tidak. Engkau tidak memintanya.
Engkau hanya ingin melihatnya.”
Lelaki itu
menghening. Bersama jurang yang ia gali semalam.
“Baiklah kalau begitu. Boleh
‘kan aku melihatnya sekarang?” ia bermaksud mengambil hati sang peri.
“Lihatlah cermin di belakangmu.”
Dengan angkuh diayunkanlah tongkatnya. Cermin itu kelabu dengan ornamen
berwarna keemasan yang hampir pudar. Perlahan ia membentuk sebuah bayangan.
Bayangan yang tak pernah lepas dari lintasan imajinya. Bayangan yang sangat ia
kenal bahkan di setiap pori-pori yang tersembunyi. Bayangan itu seorang perempuan
dan ia nampak kebingungan. Entah apa yang ia cari. Namun ia terus berjalan. Dan
nampak kebingungan. Lelaki itu tahu, sebentar lagi perempuan itu akan
memilin-milin ujung kaosnya. Dan pemandangan itu telah nampak di cermin yang
kian memudar...
“Aku ingin bertemu dengannya.”
“Engkau tak memintanya semalam.”
“Tapi aku ingin bersatu
dengannya.’ Peri terbang dengan hati yang mulai meneteskan darah; meninggalkan
lelaki yang matanya tak beranjak dari cermin Ajaib itu.
“Aku ingin bersatu dengannya.”
“Aku
ingin bersatu dengannya.”
Waktu melata
perlahan. Suara lelaki itu terdengar semakin lirih...kemudian setetes menitik.
Semakin deras. Semakin lebat.
Ah! Gerimis berjingkat di atas
kepalanya. Perempuan memakai tudung kaosnya dan berlari. Berteduh. Lelakiku,
di mana engkau? Aku telah datang dari negeri senja. Telah banyak senja kucuri
untukmu. Untuk kita. Tak pernah pikirannya beranjak dari lelaki. Gerimis
berbisik; lelaki. Seketika harapannya lunglai. Rinai hujan tak lagi mampu
melukai kulit kepalanya. Sayatan asa cintanya lebih perih dari keperihan mana
pun. Ia terus berjalan sambil memilin-milin ujung kaosnya. Air matanya membaur
bersama hujan yang melebat.
Langit
terluka melihat percintaan mereka. Ia lemparkan petir-petir ke segala arah. Karena
ia tak mampu berbuat apa-apa lagi. Bahkan ketika ia ingin sekali memberikan
sepotong senja kepada lelaki itu. Ia meradang. Kini ia tinggal berdua dengan
pelangi. Tapi untuk apa? Langit terdiam. Membiarkan langit menumpahkan seluruh
rindunya bersama hujan yang bersijingkat. Namun beberapa saat kemudian, langit
menjentikkan jarinya. Aha! Seketika matahari menyelinap di balik
mendung-mendung pekat. Langit mengirimkan pelangi untuk mereka, lelaki dan
kekasihnya.
Di balik jendela kamarnya, ia
terus mengirimkan senja-senja itu kepada kekasihnya, melalui pelangi. Ia tak
peduli kalau peri itu tahu dan akan merampas kembali mimpi-mimpi malamnya
bersama lelaki. Ia terus saja mengirimkan senja-senja yang ia punyai. Sedangkan
lelaki itu, ketika petang hari ia akan menjinjit sandalnya ke puncak menara
untuk menangkapi setiap senja dari kekasihnya. Ia akan menyimpan senja-senja
itu di balik bantalnya. Di sudut hatinya. Di kelopak matanya. Di manapun tempat
asal peri itu tak dapat menemukan. Sampai akhirnya lelaki itu dapat membuat
sendiri senja yang akan ia kirimkan kepada kekasihnya. Meskipun itu dengna
mengiris sdikit demi sedikit hatinya. Ia tak peduli. Ia selalu membalas
senja-senja dari kekasihnya dengna senja yang terbuat dari hatinya, melalui
pelangi.
No comments:
Post a Comment