Dieng, dalam bahasa Sunda Kuno, berarti
tempat bersemayam dewa-dewi. Konon, tempat ini menjadi tempat tertinggi di
dunia setelah Nepal. Tidak heran untuk mencapai daerah dengan ketinggian
mencapai 6000 kaki atau 2.093 m di atas permukaan laut itu harus saya lalui
dengan penuh debar. Pasalnya, jalan setapak di tepian gunung itu tidak hanya
berbatasan ladang, tapi juga jurang-jurang yang curam. Tidak jarang kabut
menyisakan pandang satu meter ke depan. Padahal, tanpa kabut, kita bisa
menikmati ladang-ladang yang disesaki rekahan kol siap panen. Atau tumpukan
kentang berkarung-karung di pinggir jalan.
Pak Sukur, pemilik penginapan yang saya
tempati, menolak mengantar saya hari itu. Saya mengerti alasannya. Gerimis
tidak mau berhenti sejak saya datang. Kabut tebal menutupi keindahan dataran
tinggi dengan temperature berkisar 15—20°C di siang hari dan 10°C di malam hari
ini. Saya menunggu esok hari.
Pukul 5 pagi, saya berjuang melawan
kantuk. Mas Toha, tukang ojek sewaan siap mengantar saya ke Gunung Sikunir.
Untuk mencapai Sikunir, ada 2 alternatif alat transportasi, ojek dan mobil.
Dengan ojek, kita tidak perlu mendaki terlalu jauh untuk mencapai salah satu
puncaknya. Menurut Mas Toha, dari sini sunrise dapat terlihat sangat menakjubkan.
Sebaliknya dengan mobil. “Kita hanya akan diantar sampai tempat parkir,” kata
Mas Toha sambil menunjuk lahan parkir yang berdampingan dengan tabung-tabung
raksasa berasap yang kami lewati. Tempat parkir dan pengaspalan jalan menuju
Gunung Sikunir ini, menurutnya, dibangun atas prakarsa Pertamina yang bekerja
sama Dinas Pariwisata setempat. Pertamina memanfaatkan uap yang berlimpah di
kawasan ini menjadi penggerak mesin pembangkit listrik tenaga uap. Sayangnya,
niat saya memergoki sunrise kembali digagalkan oleh gerimis dan kabut tebal
yang menutup pandangan.
Namun, saya tidak berkeluh kesah. Inilah
salah satu keuntungan bertandang ke Dieng. Tempat ini menyimpan banyak sudut
yang layak dikunjungi. Sunrise di Sikunir baru salah satunya. Gagal di sana,
saya turun menuju kawasan lain. Dengan membayar Rp 4.000 saya bisa masuk
sekaligus ke Telaga Warna, Telaga Pengilon, Gua Jaran, Gua Semar, Gua Sumur,
Kawah Sikidang Telaga Cebong, dan Tuk Bimo Lukar. Menuju Gua Jaran kami
berpapasan dengan banyak orang. Gerimis dan kabut, yang masih juga mengiringi
perjalanan saya, rupanya tidak menyurutkan mereka. Baru kemudian saya tahu,
ternyata di gua yang akan saya kunjungi itu, terutama Gua Semar dan Gua Sumur,
menjadi tempat orang-orang bersemedi untuk memohon pesugihan (kekayaan). Bahkan
tidak jarang mereka datang berkelompok dari luar kota untuk sekedar menyucikan
diri dengan membasuh muka atau tubuh di gua-gua tersebut. Lantas menenteng
berjerigen-jerigen air untuk dibawa pulang.
Di Telaga Pengilon, saya membiarkan
gerimis membasahi jaket dan kupluk yang saya pakai. Meskipun sebagian tertutup
kabut, masih nampak permukaannya yang bening seperti kaca. Itulah sebabnya
telaga itu dinamai Pengilon yang berarti cermin atau kaca. Di dekat Pengilon,
terhampar telaga Warna. Kalau matahari sedang cerah, permukaannya akan
memantulkan warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung. Di tepi Telaga
Warna dibangun satu pelataran yang menyerupai balkon. Saya berdiri cukup lama
di sana. Menghirup udara perlahan. Meresapi hawa sejuk yang mengaliri pipi saya
sambil menatapi gerimis yang turun satu-satu. Dengan berat saya beranjak ke
Dieng Plateau Theatre.
Dieng Plateau Theatre tidak sekedar
menjadi pusat informasi bagi wisatawan, meskipun di gedung yang dilengkapi
dengam seperangkat peralatan audio visual dengan kapasitas pengujung 100 orang
itu saya bisa menyaksikan bagaimana kawah yang banyak terdapat di dataran
ini—dan sebagian besar masih aktif—terbentuk. Gubernur Jawa Tengah H.
Mardiyanto berhasrat DPT yang terletak di lereng bukit Sikendil, desa Dieng,
kecamatan Kejajar, kabupaten Wonosobo, itu bisa menjadi objek wisata
tersendiri. Apalagi dia dikelilingi daerah pegunungan yang asri.
Di dataran tinggi Dieng ada sekitar dua
puluh empat lubang kawah yang menyemburkan belerang panas. Saya lebih dulu
mendatangi kawah Sikidang. Menuju ke sana, saya harus ekstra hati-hati. Karena,
kalau tidak, bisa-bisa saya terperosok ke dalam kawah-kawah kecil bergolak yang
banyak sekali bertebaran. Saya semakin berhati-hati ketika sampai di depan
kawah SIkidang. Tempat saya berdiri dan tubirnya hanya dibatasi pagar yang
terbuat dari tali rafia. Gelegak Kawah Sikidang berwarna abu-abu kehitaman,
panasnya diperkirakan mencapai seratus derajat celcius. Terjun ke dalamnya
dapat mencabut nyawa seketika. Mendengar ini saya mundur teratur.
Sebelum meninggalkan Sikidang saya mampir
ke pasar yang terletak di dekat area parkir. Di tempat ini banyak dijual
tumbuhan-tumbuhan khas dataran tinggi, seperti edelweis, tumbuhan berdaun lebat
dan bunga-bunga berwarna pekat lainnya. Kentang, tanaman utama yang dikelola
masyarakat Dieng, disajikan dalam beragam bentuk sebagai oleh. Ada juga kacang
Dieng dan manisan pepaya gandul. Cabe gendut yang tumbuh di sini pun berbeda
dengan cabe yang biasa didapat dari tempat lain. Dia berwarna merah menyala
tapi tidak pedas.
Puas belanja di pasar, saya berbelok ke
candi Bima. Candi Bima termasuk salah satu candi dalam komplek candi di Dieng.
Menurut keterangan di kompleks tersebut, candi-candi di Dieng, terutama candi
Bima, mempunyai arsitektur yang agak berbeda dengan candi lainnya di Jawa.
Bentuk atap candi Bima merupakan perpaduan gaya arsitektur India Utara dan
India Selatan. Gaya India Utara terlihat pada atapnya yang dikenal dengan
bentuk shikara, Sedang gaya India Selatan terlihat pada hiasan kudu, yaitu
hiasan kepala-kepala dewa yang seolah melongok keluar dari bilik jendela
Candi-candi di Dieng berlatar agama Hindu,
sebagaimana tampak dengan adanya arca-arca yang terdapat di dalam bilik candi
seperti arca dewa Siwa, Agastya, Ganesha, dan lain-lain. Nama-nama yang
diberikan pada candi-candi tersebut mengambil dari tokoh wayang dalam lakon
Mahabharata, misalnya Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi
Puntadewa, dan Candi Sembadra. 12 prasasti batu yang ditemukan di Dieng
menyebutkan angka tahun 731 Saka (809 Masehi) dan 1210 Masehi. Angka tahun yang
tertera inilah yang kemudian dijadikan petunjuk perkiraan pendirian candi,
yaitu awal abad IX Masehi dan digunakan sebagai tempat suci agama Hindu selama
lebih kurang empat abad. Di komplek candi ini saya sempat menikmati Purwaceng,
kopi khas daerah ini, dengan memandangi kabut yang naik turun.
Tuk Bimolukar menjadi pemberhentian
terakhir saya di Dieng. Menurut cerita, nama Bimolukar adalah tempat sang Bima
Sena menukar (melepas) pakaiannya untuk disucikan. Penduduk setempat masih
meyakini air sungai Serayu yang mengaliri pancuran yang terbuat dari batu purba
ini bisa menjadi obat awet muda. Saya antara percaya dan tidak akan keyakinan
tersebut. Namun, saya berdoa semoga saya awet muda serta diberi umur panjang
agar bisa menuntaskan tempat-tempat menarik lain yang belum sempat saya
kunjungi di tempat bersemayam pada dewa ini.
No comments:
Post a Comment