Virginia Woolf banyak menulis tentang tulisan perempuan. Satu di
antara sandungannya dalam menulis, menurutnya, adalah tabu terhadap
pengungkapan nafsu wanita mencegahnya dari “menceritakan kebenaran tentang pengalaman
tubuhnya sendiri”. (1993:145) Konstruksi yang ditanamkan pada perempuan membuat
perempuan merasa inferior untuk membicarakan hal-hal yang, sebenarnya, lebih
dekat dengan dirinya. Pengalamannya tentang menstruasi dan melahirkan,
misalnya, seharusnya memberikan
kesadaran penuh dan lebih fasih mengenali ciri biologisnya. Akan tetapi, wacana
yang sangat patriarkal menekan kesadaran tersebut. Woolf tidak percaya pada
ketidaksadaran perempuan, ia beranggapan perempuan menulis berbeda dengan
laki-laki bukan karena dari segi kejiwaan memang berbeda, melainkan karena
pengalaman kemasyarakatan yang berbeda. Woolf tidak sepenuhnya benar ataupun
sepenuhnya salah. Akan tetapi, ketidaksadaran perempuan itu menjadi lenyap atas
konstruksi wacana (bahasa) yang patriarkal. Perempuan dibaptis menjadi Yang
Lain dan, ditegaskan oleh Lakoff, bahasanya lebih rendah karena memuat pola
“kelemahan” dan “ketidakpastian”.[1]
Helena Cixous, salah seorang feminis Perancis penggagas l’ecriture
feminine, justru menganggap tulisan perempuan yang imajinatif, takterbatas,
dan liar karena perempuan menulis dengan “tinta putih”[2].
Hal tersebut merupakan resistensi terhadap konvensi bahasa laki-laki yang
cenderung menulis dalam “tinta hitam”[3]
dan selalu berhati-hati dalam menuliskan sesuatu.
Cixous, dalam The Laught of the Medusa, menyeru perempuan
meletakkan tubuhnya dalam tulisan-tulisannya. (1993:153) Menulis dengan vagina
“si pemilik dua bibir” dan bukannya dengan pena, yang dianalogikan dengan penis
‘konvensi (bahasa) patriarkal’. Dalam Saman, saya melihat bagaimana Ayu Utami
menuliskan tubuh perempuan melalui salah seorang tokohnya; Shakuntala. Dia,
Shakuntala, tidak hanya melakukan resistensi terhadap patriarkal yang
disimbolkan dengan sosok Ayah, melainkan juga melakukan petualangan terhadap
tubuhnya dengan menari. Menurutnya menari adalah,
Sebab menari
adalah eksplorasi yang tak habis-habis dengan kulit dan tulangku, yang
dengannya aku rasakan…(Saman, 115-116)
Aku menari
sebab aku merayakan tubuhku. (Saman, 126)
Tokoh Ayah
memasung Shakuntala setiap matahari tenggelam. Lalu, Shakuntala tidak
kehilangan akal untuk menjadikan dirinya subyek. Bukan hanya Liyan.
Tapi, tanpa
dia tahu, pada malam hari aku belajar menikmati rasa sakit. Pada pagi hari aku
belajar menghayati tubuhku menggeliat…(Saman, 121)
Ketika tokoh Ayah yang menasihatinya tentang keperawanan,
Shakuntala hanya menganggap persundalan yang hipokrit. Bahkan dengan sengaja
merusak keperawanan-nya, yang ternyata cuma sarang laba-laba merah,
dengan sendok teh. [4]
Dia mengontraskan dua hal; antara perkawinan dan sendok teh. Pertama, dia
menuturkan nasihat ayahnya tentang perkawinan yang disakralkan (?) itu
mengharuskan (hanya) perempuan dalam keadaan suci/perawan, kedua, kemudian dia
hancurkan simbol kesucian dengan merenggut keperawanannya dengan sebuah alat
dapur yang sangat biasa, sendok teh.
Sejak perempuan mulai
berbicara, saat itu juga mereka diajarkan nama mereka yang berarti masuk ke
tatanan, bahasa, kepemilikan diri—yaitu nama—yang berada dalam wacana
patriarkal yang menggariskan struktur-struktur oposisi biner.
Laki-laki/per-empuan, maskulin/feminin, aktif/pasif, bahasa/kebungkaman,
kahadiran/ketakhadiran, baik/buruk; di mana perempuan selalu berada pada
variabel kedua.
Ketika mengurus visa
di Kedutaan besar Nedeerland, Shakuntala menggagalkan rencananya pergi ke
Negeri Raksasa itu. Dia marah pada petugas yang memaksanya menulis nama
keluarga, yang selalu adalah nama ayah.
Kenapa ayahku harus
memiliki sebagian diriku? (Saman, 137)
Tetapi
ketika ia mendapat beassiwa untuk mengeksplorasi tari, dengan terpaksa ia
melakukan kompromi.
First name: Shakun. Family
name: Tala. (Saman, 138)
Dengan begitu, Shakuntala menghapus peniadaan
dirinya (selfhood)/kesubjekan (subjecthood) sekaligus menilap
bayang-bayang ‘ayah’, sebagai sebuah wacana patriarkal, dalam dirinya.
Ayu Utami,
melalui Saman dan Shakuntala, mengukuhkan pendapat Cixous yang menolak anggapan
yang difatwakan oleh Freud, bahwa kenikmatan perempuan secara pasif diisi oleh
penis. Masih menurut Cixous, dengan menuliskan tubuh mereka dan dengan itu
menjadi subyek bahasa, perempuan akan dapat menemukan jouisance[5]
yang feminin yang tak terepresentasikan dalam tatanan Simbolik falogosentris[6].
Daftar
Pustaka
Humm,
Maggie. 2002. Ensiklopedia Feminisme. Yogyakarta: Fajar Pustaka.
Kornel edisi IV
Oktober 2003, Dr. Mary Klages dalam Ihwal “Tawa Sang Medusa” Helena
Cixous, terjemahan Indah Lestari.
Selden,
Raman. 1993. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Yogyakarta: Gadjah
Madah University Press.
[1] Selden, 1993: 138.
[2] tidak banyak batasan dan aturan, mengalir bebas
[3] banyak batasan dan aturan
[4] Saman, 125.
[5] Istilah dalam teori Perancis yang berarti suatu totalitas
kesenangan—seksual, spiritual, fisik, dan konseptual. Jouissance ada di
luar norma-norma linguistik dalam wilayah puitis. (Humm, 227)
[6] Suatu konsep yang digunakan oleh J. Derrida untuk mendeskripsikan
pertemuan antara phallosentris dengan logosentrisme. Phallogosentris adalah
bagaimana patriarkhi membuat model pemikiran dan bahasanya. (Humm, 341)
No comments:
Post a Comment