Klik Bila Perlu

Saturday, April 19, 2014

Perempuan Menulis Perempuan

Virginia Woolf banyak menulis tentang tulisan perempuan. Satu di antara sandungannya dalam menulis, menurutnya, adalah tabu terhadap pengungkapan nafsu wanita mencegahnya dari “menceritakan kebenaran tentang pengalaman tubuhnya sendiri”. (1993:145) Konstruksi yang ditanamkan pada perempuan membuat perempuan merasa inferior untuk membicarakan hal-hal yang, sebenarnya, lebih dekat dengan dirinya. Pengalamannya tentang menstruasi dan melahirkan, misalnya, seharusnya  memberikan kesadaran penuh dan lebih fasih mengenali ciri biologisnya. Akan tetapi, wacana yang sangat patriarkal menekan kesadaran tersebut. Woolf tidak percaya pada ketidaksadaran perempuan, ia beranggapan perempuan menulis berbeda dengan laki-laki bukan karena dari segi kejiwaan memang berbeda, melainkan karena pengalaman kemasyarakatan yang berbeda. Woolf tidak sepenuhnya benar ataupun sepenuhnya salah. Akan tetapi, ketidaksadaran perempuan itu menjadi lenyap atas konstruksi wacana (bahasa) yang patriarkal. Perempuan dibaptis menjadi Yang Lain dan, ditegaskan oleh Lakoff, bahasanya lebih rendah karena memuat pola “kelemahan” dan “ketidakpastian”.[1]
Helena Cixous, salah seorang feminis Perancis penggagas l’ecriture feminine, justru menganggap tulisan perempuan yang imajinatif, takterbatas, dan liar karena perempuan menulis dengan “tinta putih”[2]. Hal tersebut merupakan resistensi terhadap konvensi bahasa laki-laki yang cenderung menulis dalam “tinta hitam”[3] dan selalu berhati-hati dalam menuliskan sesuatu.
Cixous, dalam The Laught of the Medusa, menyeru perempuan meletakkan tubuhnya dalam tulisan-tulisannya. (1993:153) Menulis dengan vagina “si pemilik dua bibir” dan bukannya dengan pena, yang dianalogikan dengan penis ‘konvensi (bahasa) patriarkal’. Dalam Saman, saya melihat bagaimana Ayu Utami menuliskan tubuh perempuan melalui salah seorang tokohnya; Shakuntala. Dia, Shakuntala, tidak hanya melakukan resistensi terhadap patriarkal yang disimbolkan dengan sosok Ayah, melainkan juga melakukan petualangan terhadap tubuhnya dengan menari. Menurutnya menari adalah,
Sebab menari adalah eksplorasi yang tak habis-habis dengan kulit dan tulangku, yang dengannya aku rasakan…(Saman, 115-116)

Aku menari sebab aku merayakan tubuhku. (Saman, 126)
Tokoh Ayah memasung Shakuntala setiap matahari tenggelam. Lalu, Shakuntala tidak kehilangan akal untuk menjadikan dirinya subyek. Bukan hanya Liyan.
Tapi, tanpa dia tahu, pada malam hari aku belajar menikmati rasa sakit. Pada pagi hari aku belajar menghayati tubuhku menggeliat…(Saman, 121)
Ketika tokoh Ayah yang menasihatinya tentang keperawanan, Shakuntala hanya menganggap persundalan yang hipokrit. Bahkan dengan sengaja merusak keperawanan-nya, yang ternyata cuma sarang laba-laba merah, dengan sendok teh. [4] Dia mengontraskan dua hal; antara perkawinan dan sendok teh. Pertama, dia menuturkan nasihat ayahnya tentang perkawinan yang disakralkan (?) itu mengharuskan (hanya) perempuan dalam keadaan suci/perawan, kedua, kemudian dia hancurkan simbol kesucian dengan merenggut keperawanannya dengan sebuah alat dapur yang sangat biasa, sendok teh.
                Sejak perempuan mulai berbicara, saat itu juga mereka diajarkan nama mereka yang berarti masuk ke tatanan, bahasa, kepemilikan diri—yaitu nama—yang berada dalam wacana patriarkal yang menggariskan struktur-struktur oposisi biner. Laki-laki/per-empuan, maskulin/feminin, aktif/pasif, bahasa/kebungkaman, kahadiran/ketakhadiran, baik/buruk; di mana perempuan selalu berada pada variabel kedua.
                Ketika mengurus visa di Kedutaan besar Nedeerland, Shakuntala menggagalkan rencananya pergi ke Negeri Raksasa itu. Dia marah pada petugas yang memaksanya menulis nama keluarga, yang selalu adalah nama ayah.
                Kenapa ayahku harus memiliki sebagian diriku? (Saman, 137)
Tetapi ketika ia mendapat beassiwa untuk mengeksplorasi tari, dengan terpaksa ia melakukan kompromi.
                First name: Shakun. Family name: Tala. (Saman, 138)
Dengan begitu, Shakuntala menghapus peniadaan dirinya (selfhood)/kesubjekan (subjecthood) sekaligus menilap bayang-bayang ‘ayah’, sebagai sebuah wacana patriarkal, dalam dirinya.
Ayu Utami, melalui Saman dan Shakuntala, mengukuhkan pendapat Cixous yang menolak anggapan yang difatwakan oleh Freud, bahwa kenikmatan perempuan secara pasif diisi oleh penis. Masih menurut Cixous, dengan menuliskan tubuh mereka dan dengan itu menjadi subyek bahasa, perempuan akan dapat menemukan jouisance[5] yang feminin yang tak terepresentasikan dalam tatanan Simbolik falogosentris[6].

Daftar Pustaka


Humm, Maggie. 2002. Ensiklopedia Feminisme. Yogyakarta: Fajar Pustaka.

Kornel edisi IV Oktober 2003, Dr. Mary Klages dalam Ihwal “Tawa Sang Medusa” Helena Cixous, terjemahan Indah Lestari.

Selden, Raman. 1993. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Yogyakarta: Gadjah Madah University Press.







[1] Selden, 1993: 138.
[2] tidak banyak batasan dan aturan, mengalir bebas
[3] banyak batasan dan aturan
[4] Saman, 125.
[5] Istilah dalam teori Perancis yang berarti suatu totalitas kesenangan—seksual, spiritual, fisik, dan konseptual. Jouissance ada di luar norma-norma linguistik dalam wilayah puitis.  (Humm, 227)
[6] Suatu konsep yang digunakan oleh J. Derrida untuk mendeskripsikan pertemuan antara phallosentris dengan logosentrisme. Phallogosentris adalah bagaimana patriarkhi membuat model pemikiran dan bahasanya. (Humm, 341)

No comments: